Pertukaran Kontrak dengan CEO Gila

Pertukaran Kontrak dengan CEO Gila
Lebih Baik Tiada


__ADS_3

Cklek


Ran keluar dari pintu apartemen penthouse miliknya yang terletak di lantai teratas apartemen yang ditempati oleh Anela. Sepertinya ia baru saja menyelesaikan urusannya yang tertunda tadi.


Drrrt drrrrt


Ponsel Ran bergetar. Ia menatap malas nama Alex yang muncul di layar ponselnya.


“Baj*ng*n gila! Apa kau telah selesai dengan urusanmu itu? Tidakkah kau melihat jam? Bukannya kau bilang jam 12 siang telah selesai? Kenapa sampai jam 2 kau belum menelponku. Aku terpaksa memasukan obat tidur pada minuman sekretarismu.” Gerutu Alex dalam telepon.


Ran memelototkan matanya. Ia menatap jam di pergelangan tangannya, “Sial! Aku tak sadar.”


“Hei?! Sebenarnya apa yang kau lakukan? Bukankah ini sudah 6 jam berlalu? Kau akan kembali kan?!”


“Kau banyak bicara Alex!”


Ran berjalan menuju lift, “Tuan ini yang kau minta!” Seorang lelaki berjas hitam memberikan Ran memori kecil.


Ran mengangguk lalu memasuki lift dengan pria berjas itu, “Wanita itu sudah pergi?” Tanya Ran.


“Wanita apa maksudmu?!” Tanya Alex bingung.


“Aku tidak bicara padamu sudah matikan sialan! Aku akan ke sana menjemput Ben.”


“Aku tidak yakin Tuan. Barangnya ada di sana, tapi saat kuperiksa tadi sepertinya ia sedang menggunakan kamar mandi.” Ucap pria itu yang menyamar sebagai room boy sejam lalu ke apartemen Anela.


Ran menoleh cepat, ia memelototkan matanya kaget, “Apa maksudmu? Jadi dia masih ada dalam kamar mandi?!”


Ran langsung menekan lantai 15, “Panggil dokter cepat!” Ucapnya pada pria berjas.


Pria berjas itu mengangguk lalu segera menelepon seseorang.


Sementara Ran Mahawira mengigit bibirnya gelisah, “Sial cepat lift s*alan!”


Ting


Setelah sampai pada lantai 15 Ran segera berlari menuju unit apartemen Anela, “Bukankah aku bilang aku masih membutuhkanmu? Sial Anela!”


Brak Brak


“HEI KAU MENDENGARKU? APA YANG KAU LAKUKAN DI KAMAR MANDI?? INI HAMPIR 6 JAM? AKU SERIUS TENTANG MATI KEDINGINAN.”


“…….”


Ran mengusap kasar wajahnya. Ia benar-benar khawatir saat ini, “Aku akan membuka paksa ini.”


Dukk Dukk Brak


“Hah….” Hanya dengan 3 kali dobrakan dari Ran, pintu terbuka.


“S**t Anela apa yang kau lakukan?!” Ran mendekat pada tubuh Anela.


Ia menegang saat melihat Anela merendam tubuhnya sendiri di air yang berwarna merah. Wajahnya pucat dan parahnya kepalanya berdarah, “A-apa yang kau lakukan Anela?!” Mata Ran memerah.


Ia mendekap Anela yang memeriksa napas dan denyut nadinya lalu mengangkat tubuh Anela dari dalam air dan memindahkannya ke kasur. Denyut nadinya melemah dan suhu tubuh Anela dibawah normal.


Ran menggenggam tangan Anela, “Aku tidak bercanda saat bilang kau bisa saja mati kedinginan di sana? Lalu apa yang kau lakukan dengan kepalamu. Oh Tuhan…..”


Ran lagi-lagi mengusap kasar wajahnya, dokter tak kunjung mencampakan hidungnya, “Maafkan aku…” Ucap Ran sebelum melepas pakaian basah Anela.

__ADS_1


Setelah itu, Ran menyelimuti Anela dengan selimut besar. Ia menggosokkan tangannya pada tangan Anela yang dingin.


Satu tangan lainnya ia gunakan untuk mengusap darah yang telah mengering dari jidat Anela, “Kau benar-benar mau mati ya?!”


Ran terdiam. Ia masih mengamati wajah pucat milik Anela. Ia tidak mengerti kenapa hatinya sakit melihat kondisi Anela, “Aku benar-benar membutuhkanmu untuk Mahawira group. Kumohon jangan mati!”


“Ran Mahawira apa yang baru saja kau lakukan sialan!” Ran memukul wajahnya sendiri.


Cklek


“Tuan ini dokternya.”


Ran berdiri dari tempat tidur dan membiarkan dokter wanita bermasker itu memeriksa keadaan Anela. Ran mundur menjauh, “Keluar!” Ucap Ran pada pria berjas ketika dokter muda itu sedikit menyibak selimut yang menutupi Anela.


Ran ikut berjalan keluar. Ia menyandarkan dirinya di dinding, “Tuan maaf saat aku menelepon rumah sakit, dokter Are sedang tidak ada di negara ini. Meskipun begitu, Dokter Are meminta kenalannya untuk kemari.”


Ran mengangguk, ia tidak peduli pada obrolan pria itu. Dokter mana saja terserah asalkan wanita itu bisa selamat, “Pergilah dan jemput Ben di tempat Alex!” Pria itu mengangguk lalu membungkuk sebelum pergi dari hadapan Ran Mahawira.


Ran menutup wajahnya, dalam benaknya ia terus bertanya-tanya. Apa Anela akan baik-baik saja? Ran tahu ia masih membenci Anela, tapi jika sesuatu terjadi pada Anela ia jelas tidak akan memaafkannya.


Cklek


“Kenapa kau tidak menunggu di dalam?”


Ran mengangkat kepalanya, ia menatap dokter wanita itu bingung.


Wanita itu menurunkan maskernya seraya tersenyum manis pada Ran.


Deg


“Ly-Lylaianna??” Ran menegang. Sial! Dari sekaian banyaknya dokter, kenapa harus Lyla?


Ran membeku. Di hadapannya kini ada Lylaianna, dokter wanita berparas cantik. Wanita itu cinta pertamanya seorang Ran Mahawira. Ia adalah alasan terbesar kenapa Ran berambisi mengambil alih Mahawira Group secepatnya. Lalu wanita itu jugalah yang menjadi alasan kenapa Ran tidak mau menikah dan memilih bermain dengan banyak wanita setiap malamnya.


Saat Ran berumur 22 tahun, mereka berdua sama-sama lulus dari sebuah universitas di Amerika. Ran dengan gelar bisnisnya dan Lyla dengan gelar dokternya. Hubungan mereka berdua semasa kuliah dapat dibilang sangat dekat. Banyak yang mengira mereka berdua adalah sepasang kekasih, walau kenyataannya mereka memiliki hubungan tanpa status yang jelas. Mereka akan pulang-pergi, belajar, dan makan bersama layaknya seorang kekasih.


Namun, tepat saat wisuda, Ran mengutarakan isi hatinya dan berniat mengajak Lyla ke jenjang yang lebih serius, yaitu pernikahan. Ia bahkan rela menemani Lyla coass meski Ayahnya sudah meminta Ran untuk kembali ke negara asalnya. Namun, bukannya mendapat jawaban iya atau tidak, Ran harus dipermalukan di depan umum oleh kekasih Lyla saat itu. Ia bersumpah Lyla tidak pernah mengatakan bahwa ia memiliki kekasih selama mereka bersama.


Usut punya usut, saat Ran meminta penjelasan pada Lyla, kedua orang tua Lylaianna yang bekerja sebagai dokter di rumah sakit milik pria itu melakukan perjodohan dengan anak pemilik rumah sakit. Kekasih yang telah menjadi suami Lylaianna saat ini telah menjabat sebagai direktur utama rumah sakit besar di beberapa kota.


Ran dengan dendamnya itu berniat menghancurkan Carson, suami Lylaianna. Beberapa tahun setelah penolakan, Ran baru mengetahui kalau Mahawira Group diam-diam menyimpan saham yang cukup besar di rumah sakit itu atas nama direktur utama. Artinya, jika ia menjadi direktur utama menggantikan Ayahnya yang akan pensiun, ia akan dengan mudah menghancurkan Carson dan mengambil Lylaianna kembali padanya.


Begitu rencananya sebelum ayah tercintanya menambah syarat pernikahan untuk mengambil alih Mahawira Group.


“Ran?!” Lylaianna melambaikan tangannya di depan wajah Ran.


“Hng?” Ran tersadar dari lamunannya.


“Kau baik-baik saja?” Tanyanya khawatir.


Ran tersenyum, “Ya.. Aku baik-baik saja.” Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Sudah lama kita tidak bertemu. Mau makan atau meminum kopi bersama?”


Ran mengangkat wajahnya kaget, ini belum waktunya. Ran belum mengambil alih Mahawira Group jadi ia belum bisa menggapai Lylaianna dalam genggamannya.


Ran menggeleng, “Maafkan aku tapi…” Ran melirik pada pintu apartemen yang terbuka.


“Ah dia kekasihmu ya?” Tanya Lylaianna datar.

__ADS_1


Ran mengangkat alisnya, ini hanya perasaannya saja atau Lylaianna terlihat tidak suka dengan fakta bahwa Ran mengencani seorang wanita saat ini. Ran tersenyum, “Aku harus melihat keadaannya. Bicara lagi nanti ya.” Ran melambai tanpa menunggu Lylaianna pergi.


Ia menutup pintunya dan menyenderkan tubuhnya di balik pintu. Ia menutup wajahnya yang memerah, “Kenapa aku harus bertemu dengannya sekarang!”


Ran menggeleng, ia memukul pelan kedua pipinya. Tubuhnya menegak, ia melihat Anela yang terbaring di atas kasur dengan tangannya yang diinfus. Ran mendekat. Dengan perlahan, ia menduduki dirinya di sebelah Anela.


Tangannya menjulur untuk menyentuh pipi Anela. Ia menghela napas saat tubuh Anela kembali menghangat.


Tangan Ran menyentuh perban di dahi Anela, “Kau penyebab wanita itu belum ada di genggamanku sampai aku harus menikah. Kau memang pembuat onar. Kau juga menyebalkan.”


Ran menyapu anak rambut yang menutupi perban di kepalanya Anela, “Kau juga membenciku. Sampai-sampai memilih mati dibandingkan tidur denganku.”


“Wanita aneh!” Tatapan Ran meneduh.


“Maaf kali ini aku berlebihan.”


Wajah Ran mendatar, “Dan maaf juga, aku punya sesuatu yang membuatmu mau tidak mau menikahiku.” Ran mengeluarkan memori kecil dari sakunya.


Ran mengelus rambut Anela, “Eng?” Mata Anela perlahan terbuka.


Ran menatapnya datar, bagai ia tak berbuat sesuatu yang salah pada Anela, “Sudah kukatakan kau bisa mati. Sepertinya kau memang benar mau mati.”


Mata Anela melebar saat melihat Ran dengan santai menyentuh rambutnya, “Jauhkan tanganmu!”


Mata Anela kembali memerah saat tahu ia hanya menggunakan pakaian dalam di balik selimut, “Apa yang kau lakukan?!” Tanyanya penuh tekanan.


“Menyelamatkanmu dari hipotermia?” Jawab Ran santai.


“Aku baru menyelamatkanmu dari kematian. Dan ini responsmu?”


Anela mengusap wajahnya, “Keluar!”


“Terserah. Tapi satu hal Anela.” Ran mendekatkan wajahnya.


“Kau tidak bisa menghindari kontrak pernikahan ini. “


Anela menatap Ran, ia terdiam membiarkan Ran meneruskan ucapannya.


“Aku punya bukti kalau kau bukan menguntit untuk komik S*alanmu itu. Kau menguntit karena kau terobsesi padaku. Kau bahkan menyerangku terlebih dahulu di video ini. Ingat waktu kau memohon padaku tadi?”


Mata Anela melebar, air matanya kembali keluar, “Dengan bukti ini, aku bisa mengarang cerita sesukaku pada ayahku. Bayangkan bagaimana reaksi ayahku saat melihat orang yang telah dibantunya melakukan hal seperti ini.”


Greep


Anela mencengkram kerah kemeja Ran, “Kenapa tidak sekalian membunuhku saja Tuan Ran Mahawira??”


Ran tersenyum, ia menghapus air mata Anela, “Itu karena aku membutuhkanmu gadis penguntit.”


“Aku minta maaf untuk hari ini. Tapi tidak ada yang bisa kulakukan, harga dirimu begitu tinggi hingga aku pun sulit menggapainya jika bukan dengan cara begini.”


Ran melepaskan tangan Anela dari kerahnya, “Kita akan menikah dua bulan dari sekarang. Dan aku akan membuat scenario kalau kita sama-sama jatuh cinta sehingga ayah tidak curiga pada pernikahan ini.”


Ran menyentuh pipi Anela, “Santai saja. Di sini bukan dirimu saja yang membenciku. Aku juga sama. Kita saling membenci jadi kejadian sampah seperti ini pasti tidak akan terulang. Kau urus urusanmu sendiri dan begitupun sebaliknya.”


Ran berdiri, “Sampai jumpa! Temui aku kalau kau sudah sehat dan mau menerima kenyataan kalau pernikahan kontrak di antara kita akan tetap terjadi.”


Ran keluar dari unit apartemen Anela dengan wajah datarnya meninggalkan Anela yang menutup wajahnya yang sedang menangis.


Malam itu Anela menangis dengan sangat keras di tengah ketidakberdayaan tubuhnya. Ran Mahawira dengan segala rencana kejinya tidak akan membiarkan Anela lepas. Dan Anela dengan segala rasa terima kasihnya tidak akan membiarkan tuan Rakha Mahawira merasa kecewa pada dirinya. Dengan demikian, tanpa tanda tangan resmi di atas kertas, baik Anela maupun Ran Mahawira akan melakukan pernikahan kontrak sampai empat bulan Ran Mahawira resmi menjadi direktur utama Mahawira Group.

__ADS_1


__ADS_2