
“Kau harus membuktikan ucapanmu, ‘aku menjaga keaktifanku dengan satu partner saja’. Kita lihat apa kau bisa mempertahankan prinsip satu partnermu itu.”
Tanpa babibu Ran menarik kerah Ben masuk ke dalam club malam.
Ben melebarkan matanya saat melihat banyak pria dan wanita yang tidak malu melakukan hal mes*m di depan umum.
“Gila ini gila.” Ucap Ben dalam hati.
“Tuan aku mau pulang~” Ben merengek minta dilepaskan.
Ran tersenyum sinis. Ia mendorong Ben pada perkumpulan wanita berpakaian dan berakhlak minim itu.
Ben menggeleng, “Tuan tidak! Jangan lakukan ini!”
Ran tersenyum, ia melambaikan tangannya santai, “Selamat bersenang-senang.”
Ran melangkahkan kakinya pada perkumpulan laki-laki yang sedang asik mengobrol dan meminum alkohol.
“Tumben sekali kau membawa sekretarismu yang polos itu kemari.” Ucap seorang lelaki yang sedari tadi menatap Ran dan Ben.
Ran terlihat terganggu dengan ucapan pria ini. Ia tahu kemana arah pembicaraan lelaki ini, “Sekretarisku mempunyai kekasih dan ia tak tertarik pada pria.”
“Siapa tahu kan? Ia belum mencobanya.” Lelaki itu tersenyum jahil.
“Eric hentikan! Jangan membuat Ran marah jika kau ingin bermain banyak pria yang bisa kau bayar di sini. Bermainlah bersama mereka.” Ucap Dheo saat melihat keributan yang akan Eric dan Ran buat.
“Aku tertarik pada sekretarisnya memangnya itu salah?”
Brakk
Ran menggebrak meja kesal, “Sudah kubilang ia punya kekasih, seorang wanita yang ia cintai. Aku tak masalah jika Dheo yang menyukainya, tapi kau seorang penjahat kelas kakap yang melakukan segala hal demi apa yang kau inginkan. Lupakan soal pertemanan dan bisnis kita kalau kau berani menyentuhnya! Aku bahkan tak akan segan membunuhmu jika kau menyentuh Ben.”
“Wow santai! It’s not that deep.” Seorang pria yang sedang digandeng dua wanita seksi di sisinya berujar untuk mencairkan suasana.
“It’s deep. Aku tidak akan membiarkan orang sepertinya menyakiti Ben.” Ran berujar dingin menatap Alex yang baru saja bersuara.
Dheo menghela napasnya, ia tahu setiap malam selalu saja timbul pertengkaran antara Ran dan Eric. Di mana Julian? Ia membutuhkan Julian sekarang.
Ran tak berbicara lagi ia mengalihkan pandangannya menatap Ben yang saat ini jiwanya sudah tersedot setengahnya, ia seperti zombie saat ini. Ben terlihat sangat lemas saat dua orang wanita mendekatkan tubuhnya ke arah tubuh Ben. Ran yakin kini Ben sedang menangis dan berdoa agar kekasihnya, Alica, mau mengampuni dirinya dan segala dosanya saat ini.
Ran terkikik meski dalam hati ia merasa sangat bersalah dan bersikap berlebihan atas ucapan Ben di mobil tadi.
Setelah lama mengobrol dan meminum segalas whiskey, Ran mengecek ponselnya. Ia tetap membagi fokusnya antara ponselnya, obrolan teman-temannya, dan juga menjaga Ben dari jauh untuk memastikan tidak ada seorang pun yang berbuat lebih dari menggandengnya.
“Ke mana Julian?” Tanya Alex dengan wanita di pangkuannya.
Ran mendongak, ia tidak menyadari satu temannya lagi tidak ada di mejanya.
__ADS_1
Dheo mengendikkan bahunya, “On my way, I guess on my way to bathroom.”
Alex tertawa, Ran kembali lagi melihat ponselnya.
“Aku duluan!” Eric berseru dengan dua wanita yang ia gandeng.
“Hari ini wanita?” Alex bertanya.
“Sesuai jadwal.” Ucap Eric tak acuh. Ia membawa kedua wanita itu lalu menghilang di lorong sana di mana tempat para penghuni bisa menyewa kamar mewah untuk melepas nafsu mereka.
Ran menyimpan ponselnya, ia menyenderkan tubuhnya di sofa. Setidaknya ia akan menurunkan kewaspadaannya saat Eric sudah pergi.
“Kau tidak mau bermain?” Dheo bertanya saat Ran tidak kunjung membawa wanita di sampingnya.
Ran menggeleng, ia masih tidak terima dan sedikit takut dengan ucapan Ben tadi.
Ran Mahawira itu seperti alphanya para alpha. Ia paling disegani di sini. Tidak ada perempuan yang berani menggodanya jika ia sendiri tidak mengizinkannya. Sehingga sampai saat ini, ketika Ran tidak menarik satu wanita pun untuk duduk di sampingnya maka tidak ada satu pun wanita yang berani dengan lancang menduduki tempat di samping seorang Ran Mahawira.
“Lihat pemeran utama pria baru sampai.” Dheo berseru saat mendapati presensi Julian yang memasuki club bersama seorang wanita di sampingnya.
Alex mengalihkan pandangannya, “Wow! Kejadian cukup langka. Aku tak percaya Julian menggandeng seorang wanita.”
Ran yang sedari tadi memperhatikan Ben dari jauh mengalihkan pandangannya untuk menatap Julian yang menjadi topik pembicaraan kedua temannya.
“Hm?” Ran menatap penuh tanya saat wanita yang digandeng Julian adalah si wanita penguntit.
Sesudahnya ia tertawa yang membuat perhatian Alex dan Dheo tertuju padanya, “Kau baik-baik saja?”
Ran tersenyum, “Sangat baik.”
Ran kembali menonton wanita penguntit itu. Ia sedikit menyatukan alisnya bingung saat wanita itu melepaskan tangan Julian dari pinggangnya. Kemudian, ia berlari meninggalkan Julian ke arah staf. Ia berbincang sebentar lalu seorang staf menunjuk ke arah lorong diikuti wanita itu yang berlari sesuai arahan staf.
Ran menegakkan tubuhnya. Ia bertanya pada Julian sesampainya pada meja mereka, “Kenapa ia pergi?”
Ran menunjuk wanita itu, “Ia bukan wanitamu?”
Julian menatap Ran bingung, “Kenapa kau ingin tahu?”
“Serius? Dia menggodamu untuk masuk ke mari kan?”
Alex dan Dheo menatap Ran yang tidak biasanya banyak bertanya, “Hah? Apa maksudmu?”
“Wanita itu! Kau tidak tahu siapa dia?”
Julian menggeleng ia menduduki dirinya di sebelah Dheo, “Kenapa? Kau kenal dia?”
Ran menggeleng tangannya mengepal, “Bukan itu. Dia seorang penguntit, kau tahu?”
__ADS_1
Julian mengedikkan bahunya, “Yang kutahu dia butuh toilet sekarang. Kebetulan saat aku sampai ia sedang ribut dengan kedua penjaga di depan. Dari wajahnya ia benar-benar terlihat membutuhkan toilet karena itu aku membawanya masuk.”
Julian mengambil segelas whiskey, “Darimana kau tahu ia seorang penguntit?”
Ran menggeleng, “Lupakan.” Ia salah mengira rencana wanita penguntit itu. Ia kira wanita itu menggoda Julian untuk memudahkan masuk club lalu melancarkan aksinya, yaitu mendekati seorang Ran Mahawira.
Mengetahui fakta kalau wanita itu tidak masuk club demi menemui dirinya membuat Ran sedikit merasa kesal. Ia bertanya-tanya dalam benaknya, sampai kapan wanita itu akan berdiam diri di tempatnya? Melihat Anela yang tidak segera melancarkan aksinya membuat Ran mulai kehilangan ketertarikan pada wanita penguntit itu.
Ran berdiri dari tempatnya. Ia melangkah pergi dari mejanya, “Kau sudah mau pergi? Aku baru datang.” Ucap Julian.
Ran menatap malas Julian, “Itu salahmu yang terlambat, bahkan bajingan sialan itu sudah membawa dua wanita.”
Julian menatap ke sekitar, ia mengerti siapa bajingan yang Ran maksud. “Baiklah selamat bersenang-senang!” Ucap Julian melambaikan tangannya.
Ran tidak menjawabnya, ia berjalan ke arah Ben yang masih bersusah payah melepas rangkulan para wanita.
......
“Kumohon biarkan aku pergi! Kekasihku tidak akan memaafkan kalian jika tahu kalian menyentuhku seperti ini!”
Para wanita itu tertawa, semakin berani untuk menyentuh Ben, “Benarkah? Siapa kekasihmu itu? Seorang pria atau wanita?”
“Oh Tuhan kalian adalah aib dari Tuhan.”
Mendengar ucapan Ben bukannya tersinggung, mereka malah terus tertawa puas. Satu wanita menyentuh dada bidang milik Ben, “Mari kita lihat apakah kau akan menyebut nama Tuhan saat kau menikmati waktu bersama kami.”
“Kalian benar-benar telah dimasuki iblis berbahaya. Tuhan tidak akan senang. Aku tidak akan berdoa keburukan, tapi untukmu aku harap kau terjatuh dengan memalukan karena telah mempermalukanku seperti ini. Lepaskan tanganmu!” Ben mencoba melepaskan rangkulan wanita-wanita ini.
“Lebih dari yang kubayangkan, ternyata kau menikmati ini.” Ran menggeleng menatap Ben tidak percaya.
“Oh ayolah? Kau bilang aku menikmati waktu bersama wanita jelmaan iblis ini, Tuan?”
Para wanita itu menjauh, ada Ran Mahawira di sana. Tanpa persetujuan Ran tidak ada wanita yang boleh mendekatinya.
“Pulanglah! Kau mengambil hikmah dari ucapanmu.”
Ben berdiri dari kursi bar, “Apanya yang kau sebut hikmah, Tuan? Jangan menggunakan kata-kata suci di tempat laknat seperti ini.”
Ran tersenyum kesal, “Kau baru menyebut nama Tuhanmu berkali-kali. Apa Ia akan senang namanya disebut di sini?”
Ben tidak menjawab, “Pergilah dan semoga beruntung menghadapi Alica.” Ran mengangkat tangannya untuk melambai ke arah Ben.
Ia bergerak menarik wanita yang tadi menyentuh Ben berlebihan, “Kau sepertinya bersenang-senang menyentuh Ben sesuka hatimu. Bagaimana sekarang gantian? Aku yang akan memperlakukanmu sesuka hatiku?” Bisik Ran tepat di telinganya.
Wanita itu tertawa kecil, “Lakukan Tuan! Aku milik Tuan Ran Mahawira malam ini.”
Ran membawa wanita itu ke arah lorong di mana Anela menghilang dari penglihatan Ran. Sesampainya Ran di depan pintu masuk toilet wanita, Ran mulain mencium wanita itu.
__ADS_1
Sudah cukup bermain-mainnya Anela Nirmala Putri. Aku yang akan menghadapimu terlebih dahulu.