
Flashback
Sudah tiga hari lamanya, Ran menghela napas kala ia mendapati lagi presensi wanita yang selalu memakai pakaian serba hitam itu. Ia bertanya lelah, “Apa yang ia inginkan?”
Ben yang sedang berjalan di sebelahnya menoleh, sedikit berpikir apa maksud atasannya ini, “Oh aku tidak tahu Tuan, tapi abaikan saja. Dia tidak berbahaya. Satpam sudah memastikannya.” Ucap Ben saat ikut mendapati presensi Anela yang bersembunyi dalam semak-semak.
“Lantas kalau ia tak berbahaya, ia bisa bebas bermain di kantorku?”
Ben berdehem, sepertinya ia salah membuat alasan, “Maaf Tuan Ran.”
“Cari tahu nama dan tujuannya. Sekali pun dia tidak berbahaya. Pasti ada alasan besar dibalik kegigihan dia mengintaiku selama tiga hari ini.”
Ben mengangguk mengerti.
Keesokan harinya Ben memberikan beberapa lembar pada atasannya Ran.
“Ini yang kau minta Tuan.”
Ran mengangkat alisnya, “Hanya tiga lembar?”
Ben mengangguk, “Itu yang aku dapatkan.”
“Ben.”
Ben yang akan kembali pada mejanya mematung di tempat, ia perlahan berbalik menghadap atasannya.
“Aku Ran Mahawira. Kau tahu betul, kan?”
“Iya lalu?” jawab Ben dalam batinnya.
Seperti tahu apa yang Ben ucapkan dalam hatinya, Ran menatap tajam ke arahnya. Ben meneguk ludah, ia mengangguk, “Cari sampai kau mengetahui apa yang ibunya idamkan sampai-sampai melahirkan seorang penguntit.”
Ben terdiam, ia sweatdrop, “Ben? Kau keberatan?”
Ben segera menggeleng, “Tidak kok Tuan! Aku akan memberikan informasinya besok jangan khawatir!”
“Meski aku tidak tidur semalaman. Tidak apa! Semuanya akan aku lakukan demi dirimu.” Gumam Ben sekecil mungkin sampai Ran tidak mendengarnya.
Keesokan harinya lagi, Ben datang dengan kantung mata yang menghitam.
“T-Tuan ini informasi tentang wanita itu.” Ben menyodorkan setumpuk kertas di meja Ran.
“Jelaskan saja ringkasannya padaku.” Ran berucap tanpa repot mengalihkan pandangannya dari pekerjaan di komputernya.
Ben mengepalkan tangannya.
__ADS_1
“Ya Tuhan!” Keluh Ben dalam hati.
Ran menatap jahil Ben, “Dalam tiga lembar.”
Ben melebarkan matanya, “Tuan!!!” Kali ini ia merajuk kesal.
“Bodoh!” Ran tertawa lepas.
“Duduklah! Ceritakan wanita itu! Aku akan mendengar.” Ucap Ran yang kini kembali fokus pada pekerjaan di komputernya.
Ben mendudukan dirinya di kursi depan meja kerja milik atasannya ini. Ia menahan begitu banyak kekesalan dalam dirinya dan saat ini ia harus mendongengkan biografi tentang wanita random di depan kantor. Apa tidak ada pekerjaan yang lebih layak lagi baginya? Ia lulusan sekolah bisnis di universitas top negara ini dan lulus dengan gelar cumlaude, tetapi kenapa setelah lulus ia menjadi kacung Ran Mahawira begini? Bahkan ia harus menjalankan kegiatan mengintai orang yang sedang mengintai atasannya ini. Ben Alderic adalah seorang penguntit dari penguntit atasannya. Sebelumnya, Ben harus mengucapkan terima kasih pada Ran Mahawira atas gelas barunya.
Benar kata orang, hidup itu lelucon.
“Kau menunggu apa? Aku mau mendengarnya!” Ran menatap Ben dingin.
“Sebentar Tuan, aku mencoba menjelaskannya seringkas mungkin.” Ben menggerutu di tempatnya.
“Lakukan dengan cepat!”
Ben berdehem, “Namanya Anela Nirmala Putri. Ia berasal dari desa dan merantau untuk kuliah di kota. Menariknya, ia satu alamamater denganku. Ia lulusan sarjana teknik fisika dan rata-rata IP-nya 2.5. Setelah lulus, ia banyak melamar pekerjaan, tapi dari 56 perusahaan, hanya satu perusahaan yang mau menerimanya. Perusahaan itu perusahaan penerbitan web novel dan web komik yang baru didirikan setahun yang lalu. Ia bekerja sebagai CS dan digaji pas dengan upah minimum.”
“Apa nama perusahaannya?”
“Arttasi Tuan. Selain menjadi CS, wanita itu seringkali diberi pekerjaan di luar pekerjaannya. Seperti membatu tim web developer dan sayangnya ia membantu tanpa dibayar sedikit pun.”
“Kedua orang tuanya di desa, saat mendengar anaknya sudah lulus dari universitas unggulan memutuskan untuk mengambil pensiun. Ayahnya bekerja sebagai guru sekolah dasar dan ibunya memiliki sebuah toko di pasar. Karena yakin anaknya akan mendapatkan penghasilan besar, mereka mengajukan pinjaman dalam jumlah besar dengan tujuan untuk merenovasi dan melegakan rumah mereka. Selain itu, kudengar ayahnya mencalonkan diri sebagai ketua RW dan membutuhkan banyak modal. Karena itu, aku pikir ia bertanggung jawab atas pinjaman yang kedua orang tuanya lakukan.”
“Melihatnya hidup susah di kota, tanpa tempat tinggal dan makanan yang cukup. Aku asumsikan kalau kedua orang tuanya juga menuntut uang bulanan padanya.”
“Tapi, aku mendapatkan laporan kalau kinerjanya di Artasi akhir-akhir ini memburuk. Dan seiring dengan itu dalam tiga bulan ini, anehnya ia selalu mengirimkan pengajuan komik miliknya untuk dikontrak oleh perusahaan ini. Saat aku menggali lebih dalam,” Ben memberikan tabletnya pada Ran.
“Ini komik miliknya. Alasan para editor tidak ada yang mau mengambilnya karena gambarannya. Terlebih ia menuntut untuk mendapatkan uang kontrak terlebih dahulu.”
Ran mengerutkan keningnya saat melihat gambaran wanita itu, “Dalam segi cerita para editor cukup tertarik, tapi gambarannya sangat jauh dari standar penerbitan. Ia masih menggunakan gambar tradisional, sedangkan Tuan tahu kalau web komik adalah komik digital berwarna berbeda dengan manga yang berasal dari jepang.”
“Alasan dia men-stalking-ku?”
“Ia sepertinya berniat untuk mengajukan kontrak langsung padamu. Entah apa yang membuatnya nekat seperti ini dengan keterampilan gambar yang bisa dibilang tidak baik ini.”
Ran terkekeh, “Ia cukup menarik!”
Ben hanya mengangguk mengiyakan ucapan atasannya, “Jadi apa yang harus kulakukan untuk mengatasi wanita itu Tuan.”
Ran tersenyum, “Biarkan dia, aku akan menunggunya sampai ia berani muncul dihadapanku.”
__ADS_1
Dua hari pun berlalu, Ran melirik pada kaca spionnya yang menampilkan si penguntit dengan skuter listrik berwarna pink. Ia mencoba mengejar mobilnya.
“Ben santai saja! Pelankan kecepatan mobilnya!”
Ben yang berada di kemudi mengangguk, ia perlahan mengurangi kecepatan pada mobilnya.
“Kau terlihat menikmatinya Tuan.” Ben berkomentar saat atasannya ini terlihat semangat menonton wanita yang dengan segenap jiwa raga mengejar seorang Ran Mahawira.
“Ini menghibur. Tapi sampai kapan ia akan menguntitku? Kapan ia akan berhadapan denganku?”
Ben mengangkat bahunya, “Kurasa ia sangat berhati-hati. Terlebih, ia sudah mengamati bagaimana kebiasaanmu Tuan.”
Dahinya mengkerut, “Maksudmu?”
Ben gelagapan, “I-iya, kau tahu kan orang biasa tidak akan berkunjung ke club malam setiap hari. Terlebih, membawa wanita yang berbeda tiap kali ia pulang. Mungkin wanita biasa sepertinya akan berpikir Tuan lelaki mesum yang harus dijauhi sejauh mungkin kalau bertemu.” Ben tertawa di ujung kalimat. Ia mencoba menyindir kebiasaan buruk atasannya yang seringkali bermain bersama wanita tiap malam.
“Ben… mau mati?”
Ben menggeleng, “Tentu tidak Tuan! Aku menjaga keaktifanku dengan satu partner saja. Melakukannya terus menerus dengan wanita yang berbeda malah membawa banyak kerugian untukku, bahkan mungkin kematian karena penyakit yang tidak bisa disembuhkan? Hih aku merinding membayangkannya.”
Ran yang merasa tersindir membuang mukanya, “Hentikan sindiran bodohmu ini. Aku tahu kepada siapa ucapanmu kau tujukan.”
“Baguslah kalau Tuan tahu.”
Ran menatap kesal Ben, “Ben…..”
Ben menatap polos Ran dari spion dalam mobil, “Ya Tuan?”
“Tck. Lupakan!”
Ben tersenyum ia memajukan badannya pada kemudi, “Kenapa Tuan? Kau terlihat marah?!”
“Naikkan saja kecepatan mobilnya. Aku ingin segera sampai.”
Ben tidak menjawab juga menaikkan kecepatan mobilnya. Ia hanya tersenyum lebar karena telah berhasil menyindir atasannya ini.
Setelah beberapa menit berkendara, mobil Ran Mahawira yang dikendari oleh sekretarisnya Ben Alderic sampai tepat di depan club malam termewah di kota ini. Ben memarkirkan mobilnya berjejeran dengan mobil-mobil mahal para penghuni tempat laknat ini.
“Baik Tuan selamat bersenang-senang!” Ucap Ben saat Ran turun dari mobil.
Tok tok
Ran mengetuk pintu kaca mobil. Ben menurunkan kacanya, “Kenapa Tuan kau membutuhkan sesuatu?”
“Turun.”
__ADS_1
Alis Ben menyatu, “Kau harus membuktikan ucapanmu, ‘aku menjaga keaktifanku dengan satu partner saja’. Kita lihat apa kau bisa mempertahankan prinsip satu partnermu itu.”