Pertukaran Kontrak dengan CEO Gila

Pertukaran Kontrak dengan CEO Gila
Kesalahan Terbesar Anela


__ADS_3

Seperti perkiraannya, Ran tersenyum kecil saat Anela membuka pintu toilet yang membuatnya menghentikan kegiatannya dengan wanita yang ia bawa dari bar tadi.


“Anela Nirmala Putri. Sudah main-mainnya?” Ran tersenyum sinis saat ia berhasil menahan Anela yang hendak kabur.


Anela mematung di tempatnya, “Bagaimana…. Kau….”


“Apa? Mengenalmu?” Ran mengangkat alisnya.


Anela menggeleng, ia terlihat bodoh saat ini, “Tidak Tuan! Kau salah orang.”


Anela mencoba pergi lagi dari toilet wanita, tapi Ran mendorongnya ke belakang. Ran menatap wanita yang ia bawa ke mari, “Apa kau masih mau di sini? Aku akan bermain dengan wanita kecil ini.” Tunjuk Ran pada Anela.


Wanita itu mendesis sebal. Meskipun begitu, ia tetap menuruti perintah Ran untuk pergi dari sana.


Grep


Tangan milik wanita penghibur itu ditahan oleh Anela. Anela menggeleng seakan memintanya untuk tidak mengikuti perintah Ran.


“Tidak jangan lakukan itu! Tetap bersamaku sekarang.”


“Lepaskan! Jangan libatkan aku!” Wanita itu mengertakkan giginya. Ia menepis tangan Anela dan pergi dari sana.


Anela menatap tidak rela kepergian wanita itu. Ia tidak mau ditinggalkan berdua dengan pria hipers**s dalam toilet wanita ini.


Set


Anela berjenggit kaget saat Ran menyelipkan anak rambut Anela. Ia mendekatkan diri pada telinga Anela, “Katakan padaku! Apa yang kau inginkan?”


Anela mundur, Ran terlalu dekat dan ia tidak menyukainya, “Tuan tolong jaga jarak aman.” Anela mencoba menahan Ran yang hendak mendekat dengan mendorongnya kecil.


Ran tersenyum. Dorongan Anela padanya tidak mampu menghentikan langkahnya untuk terus mendekat padanya, “Lihat? Apa selama ini kau mengikutiku karena mengincar tubuhku?”


Anela menjauhkan tangannya. Ia terus berjalan mundur sampai hanya dinding toilet yang mampu menghentikan langkah mundurnya, “Tuan ini tidak akan terjadi kalau kau menjaga jarakmu denganku.”


Ran menumpu kedua tangannya pada dinding toilet. Ia mengunci pergerakan Anela. Wanita itu hanya mampu melihat ke kanan dan ke kiri, “Apa yang kau lakukan?!”


Ran menulusuri kepala Anela dengan tangan kanannya. Ketika ia sampai pada wajah cantik milik Anela, Ran menatap dalam mata Anela yang terlihat kelopak matanya melebar karena ketakutan. Wanita yang tingginya hanya sebahu miliknya ini terlihat bergetar begitu hebat saat tangan kekar milik Ran menelusuri wajah cantiknya.

__ADS_1


“Kau…”


Anela menutup matanya saat Ran terus menghapus jarak di antara wajahnya, “t-tu-tuan a-aku h-harap k-kau tak,”


Ran menangkup rahang milik Anela, “Kau tak apa? Buka matamu, Anela Nirmala Putri.”


Anela membuka matanya. Kakinya terasa seperti jelly saat ia sudah merasakan hembusan napas milik Ran menyapu lembut pipinya. Ia menggeleng berharap Ran Mahawira mau melepaskannya.


Ran terdiam, ia sedikit merasa hilang saat menatap wanita penguntit dalam jarak sedekat ini. Mata sang puan rupanya cukup membuat Ran tidak fokus. Terlebih, Ran baru tahu kalau wanita yang selalu menggunakan masker hitam ini tampak elok saat rambutnya di kuncir dengan tahi lalat di bawah bibir kanannya.


Ran terlarut dengan wajah indah milik Anela. Dan Anela terlalu kalut karena ketakutan memikirkan apa yang pria hipers**s ini akan lakukan.


“Kau mau aku menciummu?” Tanya Ran penuh percaya diri.


Pupil Anela mengecil. Ia kaget dengan ucapan Ran, “Tuan tunggu sebentar.”


Ran tidak mendengar. Ia terus mendekatkan wajahnya sampai hidung keduanya bertemu satu sama lain. Anela menggeleng, ia terus menjauhkan wajahnya semaksimal mungkin. Ia mendorong dada Ran, tapi yang Anela dapatkan hanya Ran yang tertawa.


“Tuan sebentar! Jangan mendekat sedikit pun atau aku akan teriak. Bayangkan jika aku teriak, semua orang mulai berkumpul di sini. Dan dari banyaknya orang itu, setidaknya ada satu orang yang memanggil polisi. Kau akan ditangkap, lalu nama perusahaanmu ikut tercoreng karena seorang Ran Mahawira melakukan pelecehan pada seorang wanita di toilet wanita.” Seru Anela tanpa jeda.


Anela menatap Ran tidak percaya, “Tuan tahu? Sepintar-pintarnya kelinci melompat, ia pasti akan jatuh juga. Ungkapan itu berlaku pada Tuan. Jangan lakukan apapun padaku. Demi nama baik dirimu sendiri!”


Ran menunjuk dahi cantik milik Anela, “Apa ini ada isinya?”


Anela melotot tidak percaya, “Maksudmu?”


“Pertama itu bukan kelinci, tapi tupai. Kedua, ungkapanmu itu tidak ada hubungannya dengan keadaanku saat ini. Dan terakhir, coba saja kau berteriak.”


Ran mengikis jarak mereka. Ia mendekatkan wajah tegas dan tampan miliknya ke arah telinga milik si puan. Dalam keheningan toilet, si puan tahu Ran kini sedang menyeringai di samping telinganya. Ia harus menahan napasnya saat Ran menunjukkan sisi alpha si penguasa, “Kita lihat apa ada yang berani melawan Ran Mahawira.”


Anela sudah terpojok saat ini, baik fisik dan aksinya, “Bagaimana mau mencoba bibir yang selalu kau intai dalam seminggu ini.”


Anela mengepalkan tangannya. Ran membuatnya terlihat sebagai penguntit mes*m. Anela bersumpah tiada manusia semenyebalkan Ran Mahawira yang ia temui dalam hidupnya.


“Aku menguntitmu bukan untuk tubuhmu! Dan jangan lakukan apapun padaku!”


“Kenapa? Lalu untuk apa kau menguntitku? Jangan malu-malu untuk mengakuinya. Lagipula aku juga sedikit tertarik untuk ‘tidur’ denganmu.”

__ADS_1


Anela menggertakkan giginya, perkiraan tentang lelaki di hadapannya benar adanya. Ia seorang hipers**s. Ia tak mengira kalau lelaki ini akan datang menemuinya terlebih dahulu. Rancangan rencana yang sudah Anela buat susah payah telah gagal total hanya karena Anela yang harus buang air besar. Entah siapa yang harus disalahkan saat ini, yang jelas Anela harus ekstra hati-hati mengahadapi Ran Mahawira. Salah satu langkah saja Anela bisa mati di tangan Ran Mahawira.


Walau terus gagal, Anela mendorong tubuh Ran sekali lagi, “Lupakan soal menguntit kalau kau mau berbicara baik-baik dan tentu dengan jarak yang tidak sedekat ini aku akan meminta maaf secara resmi lalu aku juga akan menjabarkan alasanku menguntitmu.”


“Apa kau pernah melihat maling yang berdiskusi setelah memaling barang? Dan apa para orang yang mengejar maling itu mau mendengarkan saat ia ingin menjabarkan alasan ia memaling?”


“Tapi kan aku bukan maling!” Kesal Anela.


“Maling adalah orang yang mengambil milik orang lain secara sembunyi-sembunyi. Kau bukan maling itu benar. Tapi coba dengar korelasinya, maling mengambil milik orang lain secara diam-diam dan kau juga mangambil sesuatu milikku diam-diam.”


“Aku tak mengambil apapun!”


“Asal kau tahu wajahku juga aset paling penting bagiku. Seseorang yang tanpa hak melakukan pengambilan gambar dapatku samakan dengan maling.”


“Apa maksudmu?”


“Consent. Kau butuh itu, tanpa izin dariku kau mengambil hak milikku. Mengambil gambar wajahku juga termasuk. Apa kau merasa tidak mengambil hakku sedikitpun dari perilaku menguntitmu ini?”


“Hak apa yang aku ambil darimu? Aku hanya bersenang-senang mengikutimu, mengagumi dari jauh, bukankah itu wajar?”


Ran menggeleng, “Apa kau akan terus keras kepala saat ini? Oke, coba keadaannya dibalik, aku yang menjadi penguntitmu. Kau mungkin akan berteriak sepanjang jalanmu ke kantor polisi dengan meneriakiku lelaki mesum.”


Ran melonggarkan dasinya, “Lalu ketika wanita yang melakukannya kau akan mengatakan mereka melakukannya untuk bersenang-senang? Mengagumi dari jauh? Wah sulit dipercaya.”


Anela terdiam, ia setuju dengan poin yang disampaikan oleh Ran, “Baik aku mengaku menguntitmu dan ya itu termasuk kriminalitas. Aku benar-benar minta maaf, tapi ada alasan besar di baliknya. Kalau Tuan berkenan, bisakah kita bicara dengan keadaan yang lebih baik dari ini?”


“Aku tidak suka saat maaf dan tapi terucap dalam satu kalimat.” Ran Mahawira menatap tajam Anela, Ran tidak bercanda saat ini.


Ran menjauh dari tubuh Anela\, “Pada awalnya aku tertarik untuk berbicara padamu\, entah itu berbicara tentang alasanmu menguntit atau hal lainnya. Tapi setelah berbicara padamu\, aku benar-benar kehilangan rasa ketertarikanku. Caramu berpikir membuatku jijik. Bagaimana seorang pecundang sepertimu ini bisa hidup? Lalu bagaimana orang semenyedihkanmu ini begitu percaya diri menguntit seorang Ran Mahawira? Kau keras kepala\, tidak tahu malu\, dan terlebih seorang kriminal. Bahkan jika dibandingkan dengan para j*l*ng di sini\, aku yakin mereka lebih baik darimu.”


Anela tidak bereaksi, “Aku punya banyak bukti untuk menjebloskanmu ke penjara. Pada akhirnya yang merusak hidupmu yang susah ini, kau sendiri bukan?”


Anela terdiam, bukan karena menahan emosinya. Ia menangis karena sadar betul semua yang dikatakan Ran Mahawira adalah kebenaran yang selalu ia sangkal. Matanya terasa amat perih. Tanpa ia sadari, air mata sudah berlinang. Si puan menangis karena perkataan seorang Ran Mahawira.


“Temui aku senin di kantor. Dengan pakaian sopanmu, bukan pakaian serba hitam seperti pencuri ini. Pastikan kau membuatku tertarik kenapa aku harus memaafkan perbuatan menguntitmu ini.” Ran berbalik meninggalkan Anela yang terjatuh.


Anela sadar betul kalau ia tidak bisa menang melawan Ran Mahawira. Dan mengusiknya adalah kesalahan terbesar yang Anela buat.

__ADS_1


__ADS_2