Pertukaran Kontrak dengan CEO Gila

Pertukaran Kontrak dengan CEO Gila
Kabar


__ADS_3

Tok tok


Anela yang sibuk menyapu kamar kos sepetaknya menoleh ke arah pintu. Ia menyandarkan sapunya pada dinding seraya berseru, “Iya sebentar!”


Anela membuka pintu dan menemukan Ben berdiri dengan baju kemejanya, “Hai, apa kabar?” Tanya Ben canggung.


Anela tersenyum kecil, ia mengerti kenapa sekretaris Ran Mahawira bersikap canggung seperti ini kepadanya. Sejak insiden dua hari yang lalu, Ben tidak pernah berhenti meminta maaf jika bertemu dengannya. Anela tidak pernah marah pada Ben, tapi tidak juga membenarkan perbuatan Ben. Ya setidaknya pada hari itu, Ben berusaha menghentikan perbuatan bejat Ran Mahawira padanya. Ia banyak berterima kasih padanya.


“Karenamu aku baik-baik saja. Terima kasih! Bagaimana kabarmu Tuan Ben?”


Ben tersenyum, “Aku baik-baik saja. Oh iya, aku ke mari karena ada yang ingin aku sampaikan padamu. Ini pesan dari pemilik perusahaan, Tuan Rakha.”


Anela melirik pada kamar kos kecilnya. Tidak ada sofa di dalam, semisalnya Ben bertamu sepertinya ia akan menyuguhkan lantai untuk diduduki. Anela menggaruk tengkuknya, “Tuan bagaimana jika kita bicara di taman depan?”


Ben melirik ke dalam kamar kos milik Anela. Ia melihat betapa kecilnya kamar Anela. Ben tersenyum maklum, ia tahu dari sebelumnya di mana dan bagaimana lingkungan yang Anela tinggali. Ben mengangguk, “Aku belum sarapan sebenarnya nona. Kalau tidak keberatan, apa kau mau ikut sarapan denganku? Aku yang traktir.”


Mata Anela terbuka lebar, ia mengangguk dengan semangat, “Apa Tuan tidak masalah menungguku berganti pakaian?”


Ben mengangguk, “Aku akan menunggu di mobil. Aku parkir di dekat pintu taman.”


Anela mengangguk, “Baik, terima kasih.”


Ben juga mengangguk dan tersenyum. Ia pergi dari sana menuju mobilnya.


………


Hening


Anela terdiam saat berbagai macam hidangan tersaji di depan matanya, “Tuan kau selalu makan sebanyak ini?” Tanya Anela pada Ben yang tersenyum di hadapannya.


Ben menggeleng, “Tidak. Ini semua untuk nona. Nona bilang ‘terserah padaku’, tapi aku tidak tahu apa yang nona inginkan. Jadi, aku memesan banyak.” Ben menggaruk tengkuknya.


Anela tersenyum merasa bersalah pada Ben, “Terima kasih akan aku habiskan semuanya. Aku suka semua makanan yang kau pesankan.”


Ben tersenyum, “Syukurlah kalau nona suka…”


Setelah menghabiskan semua makanan, Ben memulai obrolannya, “ada sesuatu yang ingin ketua sampaikan.”


Anela menelan minuman terakhirnya, ia menegakkan tubuhnya, “Apa yang ingin ketua sampaikan, Tuan?” Tanyanya dengan wajah penasaran.


Ben menyodorkan sebuah kartu, “Ketua sudah menyiapkan tempat tinggal untuk nona dan ya ini..”

__ADS_1


“Maaf sebelumnya, tapi tempat tinggal ini lebih layak dibandingkan tempat tinggal nona sekarang.”


“Ah tidak-tidak jangan minta maaf. Aku juga mengakui tempat tinggalku tidak layak untuk ditinggali.”


Anela menatap Ben ragu, “Maaf Tuan. Apa memberikan tempat tinggal padaku tidak berlebihan? Aku sudah sangat berterima kasih saat Pak Rakha memberikan uang kontrak padaku. Uang itu lebih dari cukup untuk membeli semua alat yang kubutuhkan.”


Ben menggeleng, “Nona tidak perlu membeli pen tablet atau semacamnya, Pak Rakha sudah menyiapkan semuanya di sana.”


Mata Anela melebar, “Oh Tuhan! Tuan Ben ini benar-benar berlebihan. Aku tidak seharusnya menerima itu semua.”


Ben menggaruk tengkuknya, “Ada sesuatu yang belum kukatakan padamu nona.”


Anela mengangkat alisnya bingung, “Sesuatu?”


“Sebenarnya…..” Ben terlihat ragu.


“Semua utang orang tua nona telah ketua lunasi.”


Anela berdiri dari tempatnya, “Jangan seperti ini, Tuan! Sungguh! Aku tidak pantas menerima ini semua setelah apa yang aku lakukan pada anaknya.”


Ben ikut berdiri, ia menyentuh bahu Anela agar kembali duduk, “Jangan khawatir nona! Bagi keluarga Mahawira uang ratusan juta itu bukan apa-apa. Jadi kalau berkenan, Nona dapat menerima semua pemberian Ketua sebagai permintaan maaf atas kelakuan Tuan Ran.”


Ben tersenyum sangsi, “Ketua bilang, ia akan menemui nona saat nona sukses dengan web komik buatanmu.”


Anela terdiam, “Ah..”


“Jangan salah paham! Saat Ketua mengatakan itu, aku yakin Ketua memiliki kepercayaan dan keyakinan kau akan sukses oleh karena itu ia menyiapkan semua itu untuk Nona. Ketua menyukai orang yang gigih, orang yang dapat membuktikan omongannya. Dan ini salah satu alasan, Ketua tidak akan menemui nona sampai saat waktunya tiba. Ketua pikir jika Nona bertemu dengannya, nona akan berterima kasih padanya. Ketua tak menyukai itu Nona, ia ingin kau berterima kasih pada dirimu sendiri atas segala usaha yang telah kau lakukan sampai kau berada di tempat itu.”


“Jadi sekali lagi Nona, jangan merasa terbebani. Ketua juga mengatakan Nona harus menikmati prosesnya. Karena Ketua pikir, karya seorang artis yang menikmati jalannya proses pembuatan adalah karya terbaik di dunia ini dan akan selalu Ketua hargai.”


Anela terdiam, ia menunduk, “Pak Rakha…. Aku bersyukur bisa bertemu dengannya.” Ucap Anela sembari tersenyum.


Ben juga tersenyum mendengar perkataan Anela.


……


Anela menggiring tasnya ke dalam unit apartemen. Ia menggeleng tidak percaya, “Bukankah apartemen ini terlalu mewah untukku?”


Anela menaruh tas berisi barang-barangnya di lantai yang dilapisi parket kayu meninggalkan kesan rumah yang hangat dan nyaman dalam sebuah apartemen yang berada di lantai 15 itu.


“Ya ampun!” Serunya saat melihat pen tablet display monitor yang ia ketahui harganya sekitar 40 juta.

__ADS_1


“Apa ini tidak berlebihan? Terlebih lihat komputer apel tergigit ini!” Anela menggerutu di tempatnya. Bagaimana bisa ia tidak merasa terbebani saat menerima barang dan tempat tinggal mahal seperti ini?


Ia merogoh saku untuk mengambil ponselnya. Ia harus menelpon Ben sekarang.


“Tuan? Bagaimana bisa aku menerima ini semua?”


“Kenapa tidak bisa? J*l*ng kecil.”


Mata Anela melebar. Suara ini…….


“Ran Mahawira…….” Ada penekanan kekesalan dalam ucapanku.


“Iya? Nona penguntit.”


Anela meniup kesal poninya, “Aku perlu bicara dengan Tuan Ben.”


“Apa ini?! Tidak berhasil menjilatku, kau menjilat ayahku. Lalu, sekarang apa? Kau mau menjilat Ben?”


Anela meremas ponselnya, “Kau harus menjaga mulutmu, Ran Mahawira.”


“Hahaha…. Luar biasa! Apa kau merasa menang karena ayahku berpihak padamu?”


Mendengar tawa Ran, Anela bergidik ngeri, “Urusanku denganmu telah selesai Tuan! Aku sudah meminta maaf atas kesalahanku.”


“Minta maaf?! Setelah kau melewati batasmu itu apa cukup hanya minta maaf? Kau benar-benar penguntit tidak tau malu!”


Mata Anela memerah, “PENGUNTIT INI PENGUNTIT ITU!!! KUMOHON TUAN RAN MAHAWIRA YANG TERHORMAT! AKU SUDAH MEMINTA MAAF ATAS PERBUATANKU.” Anela berteriak marah.


“Tidakkah kau mengerti keadaanku? Pilihan bodohku? Kau tahu meminta pertolongan padamu adalah ambang batasku, Tuan! Ambang di mana aku akan memilih tetap hidup atau mati… Aku bersumpah Tuan aku sudah lelah hidup. Ha! Tapi rasanya percuma mengatakan ini padamu kau tidak mau mengerti.”


“Lalu? Kalau kau mau mati, mati saja sana!”


Pupil mata si puan mengecil. Lagi dan lagi Anela menangis karena Ran Mahawira.


Cklek


Suara pintu terbuka membuat Anela menoleh.


“Matilah! Aku akan menonton dari sini!” Ucap pria tinggi itu sembari tersenyum sinis.


“Ran Mahawira?!”

__ADS_1


__ADS_2