Pertukaran Kontrak dengan CEO Gila

Pertukaran Kontrak dengan CEO Gila
Menahan


__ADS_3

“Tu-Tuan kumohon! P-akh pu-pulanglah!” Anela mengepalkan tangannya. Rasa aneh ditubuhnya ini perlahan mengambil kendali tubuh miliknya.


Wajahnya sudah merah padam dan kepalanya sudah terasa amat sakit. Ia benar-benar menginginkan Ran Mahawira sekarang. Anela bersumpah, seumur hidupnya ia tidak pernah merasakan gairah sebesar ini sampai rasanya menyiksa tubuhnya.


Byurrr


Anela meraih segelas air di hadapannya dan menyiram tubuhnya sendiri dengan itu. Ia harus mengendalikan dirinya sendiri saat ini.


“Oh wow… Untuk apa yang satu itu?” Tanya Ran sembari tersenyum


Anela memberanikan diri menatap Ran dengan mata sayunya.


Deg


Ada beberapa kupu-kupu yang terbang di perut Ran Mahawira saat melihat wajah penuh nafsu Anela. Di tambah, wanita itu baru saja membasahi kepalanya dengan segelas air. Ya, Ran sedikit mengakui kalau Anela sedikit panas kali ini.


Anela menggeleng, ia memukul pelan kepalanya. Otak kecilnya mengatakan ada yang janggal dengan ini semua.


“A-apa yang kau rencanakan Ran Mahawira?” Tanya Anela dengan emosi di wajahnya. Tangannya terus mengepal sebagai pelampiasan perasaan aneh yang ia rasakan.


Meskipun kalut dalam gairahnya, Anela memiliki pengontrolan diri yang cukup baik. Apalagi ini kali pertamanya Anela merasakan hal tidak wajar seperti ini. Ia sedikitnya sadar dengan apa yang Ran lakukan saat ini.


“Wow aku tidak menyangka pengontrolan dirimu sebaik ini.“ Ran tertawa.


“Coba tebak apa yang aku rencanakan padamu! Apa kau merasa sesuatu yang aneh setelah meminum jus yang diberikan pria tadi?” Anela memelototkan matanya, Jangan-jangan….


Ran tersenyum melihat reaksi Anela, “Pintar! Kau sudah tahu rupanya. Jangan khawatir obat ini tidak akan membahayakan hidupmu. Aku hanya perlu ini untuk memancingmu. Tapi Aneh, padahal dokter bilang ini efeknya cukup bagus. Apalagi seiring berjalannya waktu, nafsumu itu akan terus bertambah. Tapi, mari kita lihat sampai kapan kau bisa menahannya.”


Anela tidak menjawab, ia menghindari suara-suara laknat yang mungkin akan muncul jika ia membuka mulutnya.


“Apa karena kau anak baik gadis penguntit? Kau tidak pernah melihat film dewasa ya? Apa jangan-jangan kau tidak pernah melakukannya? Bagaimana bisa kau menahan obat itu sebaik ini?”


Ran tersenyum seperti psychopath, “Banyak sekali pertanyaan yang hinggap di kepalaku. Tapi kalau kau belum pernah melakukannya, baguslah artinya aku yang pertama bagimu. Maaf ya dunia ini memang tidak adil, kau menjaganya dengan baik selama ini, tapi sebentar lagi aku akan mengambilnya.”


Ran memajukan tubuhnya, ia menyeringai, “Dan maaf juga kalau aku bukan yang pertama untukmu.”


“Kemari!” Ran menepuk pahanya dengan tujuan agar Anela duduk di pangkuan Ran.


Anela menggeleng, ia memelototkan matanya.


“Sampai kapan kau mau menahan itu? Hanya melihatmu begitu nafsuku pun ikut menaik.”


Anela masih berusaha mengendalikan dirinya. Ini gila! Tubuhnya seakan memeberontak untuk lari kepangkuan Ran Mahawira saat ini juga.


“Baik,” Ucap Ran seraya terus membuka kancing kemejanya.


Anela menelan ludahnya saat dada bidang dan perut sixpack Ran perlahan terpampang jelas di hadapannya. Seakan matanya terhipnotis pada tubuh Ran, Anela tanpa sadar berdiri dari tempat duduknya.


“Benar nona penguntit! Kemarilah!”


Anela mendekat dan segera duduk di pangkuan Ran. Tanpa babibu, Anela menarik dan mencium Ran dengan ganas.


Ran tersenyum saat melihat Anela yang benar-benar payah dalam urusan cium-mencium, “Kau benar-benar anak baik, nona penguntit. Terapkan ini pada otak kecilmu, ya?” Ran menarik tengkuk Anela untuk memperdalam ciuman mereka. Ia bahkan turut membuka mulutnya untuk memudahkan Anela meraup bibirnya.

__ADS_1


“Hmmph-“


Anela mengerang saat tangan Ran menelusuri punggungnya. Ran membuka matanya, ia tersenyum dalam sesi ciumannya. Anela menutup matanya, tapi bibirnya menuntut Ran untuk merasakan apa yang ia rasakan dalam tubuhnya, yaitu gairah yang amat bergejolak.


Ran ikut terbawa suasana. Ia menaruh tangannya di paha Anela. Ia mengusap pahanya lembut.


“Hng-“ Anela kembali mengerang. Ia memukul pelan dada Ran untuk melepaskan tautan bibir mereka berdua. Gila! Ini kali pertama Anela merasa kehabisan napas seperti tenggelam dalam kolam renang.


“Huhh….” Setelah tautannya terlepas, Anela meraup udara sebanyak-banyaknya.


“Kau menyukainya?” Tanya Ran dengan mata sayunya.


Anela meraih kemeja Ran lalu menyimpan kepalanya di sana.


“L-la-lakukan sesuatu ini menyiksaku!” Ucap Anela terengah-engah.


“Akh-,“ Ran mengerang saat sesuatu terjadi pada intinya.


“Jangan bergerak!” Ucap Ran saat Anela terus bergerak gelisah di pangkuannya.


Anela mengabaikan ucapan Ran. Ia menyimpan kepalanya di ceruk leher jenjang milik Ran Mahawira. Ran menutup matanya saat hembusan napas Anela menyapu lehernya seakan meminta para bulu halus Ran untuk berdiri.


Ran tersenyum, Anela cukup unik dan Ran menyukai perasaan baru ini. Dalam hidupnya dan dalam kehidupan seksualnya Ran tidak pernah mersakan gejolak yang cukup tinggi seperti ini. Apa karena Anela ini penyebab stresnya akhir-akhir ini? Sehingga saat Anela bertingkah seperti ini membuat Ran bergairah dua kali lipat dari biasanya.


Ran membuka matanya, ia tersenyum, “Say please..” Ucap Ran tepat di telinga milik Anela. Ia menyentuh lengan Anela.


“P-please..”


Bukk


“God dmn it*.” Umpat Ran saat melihat wajah dan tubuh Anela yang terlentang tepat di hadapannya.


Deg


Anela sedikit mengerang saat otaknya sedikit kembali bekerja saat ini. Di hadapannya ada Ran Mahawira yang mengukung tubuhnya dengan senyum tampan di bibirnya.


“Karena ini pertama kali untukmu, aku akan memberikan yang terba-“


“AAAAAAAARRRGGGGHHH!” Anela berteriak lalu menendang perut Ran yang berada di atasnya.


Ia bangkit dari posisi terlentangnya, “Aku pasti sudah gila! Dan apa yang kau lakukan, Ran Mahawira?!” Ucapnya.


“AKH- TUNGGU BUKANNYA AKU YANG HARUS BERTANYA?! SEBENARNYA APA YANG KAU LAKUKAN?! KENAPA TIBA-TIBA MENENDANGKU?” Tanya Ran kesal.


Anela menggeleng, rasa aneh itu perlahan kembali menguasai tubuhnya.


“Tidak! Ini tidak boleh terjadi!”


Anela beranjak lalu berlari memasuki kamar mandi. Ia mengurung dirinya sendiri di sana.


Ran yang masih tersungkur di lantai menatap Anela bingung. Gila! Bagaimana bisa Anela mengontrol dirinya seperti itu? Bahkan, di saat dirinya juga telah ikut terbawa suasana?


Tok tok

__ADS_1


“Kau benar-benar gila! Bukankah kita menginginkan satu sama lain? Apa yang kau lakukan di dalam sana? Keluarlah dan tanggung jawab dengan apa yang kau lakukan padaku.” Marah Ran di hadapan pintu kamar mandi.


Currr


Tidak ada suara dari dalam sana kecuali suara air yang mengalir.


“Apa kau mencoba mengendalikan tubuhmu dengan air?!”


“Kau bisa mati kedinginan loh… Obat itu bertahan cukup lama.”


Anela tidak menjawab. Ia benar-benar membuat Ran kesal setengah mati, “Lihat saja sampai kapan kau mau menahannya. Aku akan tetap di sini jadi kau tidak bisa kabur, nona penguntit.”


1 jam kemudian.


Brak brak brak


Ran mengetok pintu dengan kasar.


“Kau pasti bercanda!” Seru Ran marah. Ia sudah menunggu Anela selama 1 jam. Bahkan hasrat untuk  bercintanya belum hilang sedikitpun. Ran saja begitu, lalu bagaimana dengan Anela yang meminum obat itu.


“Keluar!” ucap Ran tegas.


“KUBILANG KELUAR GADIS SIALAN!”


“Kenapa sssshh..” Untuk pertama kalinya sejak satu jam yang lalu, Anela bersuara.


Anela terdiam, tubuhnya bergetar. Sial! Ia harus mengendalikan dirinya. Anela menarik napasnya.


“KENAPA AKU HARUS KELUAR BAJINGAN?!”


Ran menggeleng tidak percaya. Bagaimana bisa Anela masih memiliki pengontrolan diri, sedangkan dirinya saja harus menahan rasa sakit dari inti tubuhnya.


“Keluar! Dengan begitu, permasalahan kita berdua selesai. Bukankah rasanya menyakitkan? Menahan hasrat sebesar itu.”


“Ak-aku..”


“Tunggu apa kau bermain sendirian?” Tanya Ran tidak percaya.


“APA KAU P-PIKIR AA-AKU A-AKAN MEMPERMALUKAN D-DIRIKU DI HADAPANMU BAJINGAN?!!” Teriak Anela marah dalam kamar mandi.


“Kau benar harga dirimu itu tidak mungkin bisa kubeli. Kau juga tidak mungkin melakukannya sendiri karena kau anak baik. Kau tidak punya pengalaman apa-apa. Aku akan membantu sekaligus mengajarimu. Jadi…”


“Keluarlah! Jangan takut! Melakukan ini sebelum menikah. Ini sudah menjadi hal lumrah bukan? Apa kau masih mau menerapkan tradisi kuno tentang perawan sampai menikah lalu menyiksa dirimu sendiri di dalam sana?”


“…….”


Ran menghela napas saat Anela tidak lagi menjawabnya, “Jika kau begini terus kau akan benar-benar mati kedinginan.” Ran berujar merasa sedikit kasihan dengan kondisi Anela.


“Aku akan menuntaskan urusanku sendiri dan berjanji tidak akan menyentuhmu.”


“Keluarlah! Aku akan pergi. Mau bagaimanapun aku masih membutuhkanmu untuk melakukan pernikahan kontrak.”


Ran mengambil jasnya di sofa dan berjalan keluar unit apartemen milik Anela. Kenapa ia juga jadi ikut tersiksa begini? Dan kenapa ia mengkhawatirkan keadaan wanita penguntit itu.

__ADS_1


“Sial! Ran Mahawira apa ini tidak berlebihan?” Gerutu Ran pada dirinya sendiri.


__ADS_2