Pertukaran Kontrak dengan CEO Gila

Pertukaran Kontrak dengan CEO Gila
Salah


__ADS_3

Ben terdiam. Ia membatu saat melihat Ran mencium paksa si wanita penguntit. Tangannya ia kepalkan, ia seharusnya melakukan sesuatu. Tapi apa yang bisa ia lakukan?


Ben marah pada dirinya sendiri saat melihat tangisan Anela yang semakin keras.


Apa kau akan diam saja Ben? Hanya kerena pria itu atasanmu? Hanya karena pria itu banyak berjasa padamu? Apa kau akan tunduk karena itu semua?


Ben menggeleng, ia sudah tidak memikirkan resiko apa yang akan ia dapatkan ke depannya. Saat ini tekadnya sudah bulat, ia memilih mendekat untuk menghentikan aksi tercela atasannya.


Sesaat Ben mendekat, suara pintu terbuka membuat Ben menoleh dan menemukan seseorang yang amat penting berdiri di lawang sana.


Pria itu terlihat kaget dengan apa yang Ran lakukan. Ia berlari mendekat bersama Ben, “Apa yang kau lakukan Ran Mahawira?!” Suara tegasnya menggema membuat Ran menjauhkan wajahnya dari Anela.


Pria itu menarik kemeja Ran lalu melempar tubuh Ran menjauh dari Anela. Ben yang melihat Ran sudah menjauh dari Anela, mendekat untuk menutupi tubuh Anela dengan jasnya.


“Maaf-maafkan aku!” Ben tidak berani menyentuh Anela, tapi ia bersumpah rasa bersalahnya begitu besar saat ia telat bertindak.


“Jawab Ran Mahawira! Apa yang kau lakukan?!” Amarah pria itu membuncah pada Ran.


“Ben!”


Ben berdiri, ia membungkuk.


Bugh


Ben terjatuh saat pria ini memukul keras wajah Ben, “Jangan kau ulangi! Meski pun dia anakku, kau tidak bisa hanya menonton lelaki bajingan ini melakukan hal gila seperti tadi.”


Ben membenarkan posisi membungkuknya, “Maafkan aku, ketua! Aku sangat menyesal.”


“Pergi! Bawa dan tenangkan wanita ini! Biar aku menghajar bajingan yang bertingkah seenak jidatnya ini.”


Ben mengerti dengan hati-hati ia merangkul Anela yang terduduk lemas. Ben bersumpah, ia merasa sangat bersalah melihat keadaan Anela saat ini.


“Baj*ng*n! Dari mana kau belajar ini semua?” Pria tua itu berjongkok di hadapan Ran yang terdiam di atas lantai kantornya.


“A-ayah ini tidak seperti yang kau lihat!” Ran mundur dari tempatnya.


“Tidak apa? Dasar b*j*ng*n! Entah dari mana kau belajar hal seperti ini yang pasti aku akan memberimu pelajaran\, Ran Mahawira.”


…..


“Kau sudah baik-baik saja?” Pria tua itu bertanya saat Ben membawa Anela kembali ke ruangan Ran.


Si puan sudah berganti pakaian karena pakaian yang sebelumnya basah oleh siraman air.


Anela mendongak, matanya membengkak. Ia sedikit tersenyum dan mengangguk. Ben mengarahkan Anela duduk di hadapan pria tua itu. Anela menunduk, ia tidak berani menatap Ran yang terduduk di sebelah pria tua itu.


“Kau baik-baik saja Ben?” Tanya pria tua itu saat melihat pipi Ben yang membiru.


“Perasaan aku tidak begitu keras memukulmu.”

__ADS_1


Ben menggeleng, “Tentu tidak ketua! Ini tidak sakit sama sekali.”


Bohong! Terima kasih karena ketua aku tidak bisa makan dengan tenang.


Pria itu mengangguk, lalu tangannya ia arahkan untuk menggeplak kepala Ran.


Plakk


“Tidak bisakah kau duduk dengan sopan?” Pria itu memarahi pose duduk seenaknya ala Ran Mahawira.


Ben terdiam, ia melirik keadaan Ran yang hidung dan bibirnya berdarah. Kedua pipinya juga lebam. Ben pastikan setidaknya sepuluh pukulan sudah ketua layangkan pada anaknya.


Ran mendecih, ia membenarkan posisi duduknya, “Lepaskan tisu di hidungmu itu!”


“Tidak bisa ayah! Terima kasih padamu, darahku tidak bisa berhenti keluar.” Ucap Ran saat pria tua itu meminta Ran melepaskan tisu yang tersumbat di hidung Ran.


Pria itu kembali menatap Anela, “Aku membawamu kembali ke sini untuk meminta maaf atas nama anakku.”


Anela terdiam, ia mendongak menatap pria tua itu, “Aku sudah mendengar ceritanya dari Ben tadi.”


“Dan di sini Ran anakku salah sepenuhnya. Sekali lagi maafkan aku!”


“Ayah kenapa kau meminta maaf padanya?!”


“Ran Mahawira! Berapa umurmu? Kenapa kau masih bertingkah kekanakkan seperti ini?!”


Anela menggeleng, “Tuan aku juga salah. Maafkan aku.”


Anela menggeleng, “Tidak lagi Tuan. Terima kasih. Aku hanya ingin kembali pulang.”


Ran menatap Anela remeh, ia mendelik memalingkan wajahnya dari Anela.


Pria tua itu menatap Anela dalam diam. Ia menghela napas, “Minta maaf!”


Ran menoleh saat ayahnya menatap penuh penekanan, “Ayah juga tahu kan? Dia orang yang menguntitku?!”


Ayahnya tidak menjawab ucapan Ran, “Aku mengerti maksudmu menguntit anakku. Dan aku juga mengerti kenapa kau melakukannya. Di umurmu, aku sangat mengerti saat kau merasa lelah dan bingung pada karirmu sendiri. Apa yang kau lakukan memang salah, tapi aku ingin mengapresiasi tekad besarmu. Aku sudah melihat ceritamu dan aku cukup tertarik. Jika kau mau membuat ceritamu menjadi novel aku akan mengarahkanmu ke anak perusahaanku.”


“Lalu jika kau tetap ingin membuatnya menjadi komik, aku akan mendukung sepenuhnya. Bukan karena aku merasa bersalah atas apa yang anakku lakukan padamu, aku melakukan ini karena menyukai tekadmu. Tidak ada kata terlambat, selama kau masih bernapas lakukan apa yang kau inginkan.”


Akhirnya, ada seseorang yang mengerti perasaanku.


Anela mendongak menatap wajah tulus pria tua yang baru ia ketahui adalah pemilik dari Mahawira corp. Mata si puan terasa amat perih, ia terharu saat ada satu orang yang mengerti dirinya. Semua fitur wajah Anela tersenyum bersamaan air matanya yang turun kembali, “Tuan…. Terima kasih! Terima kasih! Terima kasih karena telah mengatakan ini!”


Anela menunduk menghapus air matanya yang bercucuran, “Jangan menangis nak! Semuanya akan baik-baik saja! Bernapaslah dengan baik, ada banyak hal baik di dunia ini. Kau telah melakukan yang terbaik.”


“Ayah kenapa kau memberi harapan yang sia-sia padanya?” Seru Ran tidak terima.


“Keluar! Kalau kau mau banyak bicara, sana di luar!”

__ADS_1


Ben terkikik saat melihat atasannya diusir keluar oleh pemilik perusahaan sekaligus ayah dari seorang alphanya para alpha.


Pria tua itu kembali menatap Anela, ia tersenyum. Tangannya ia julurkan ke hadapan Anela, “Perkenalkan namaku Rakha Mahawira. Aku belum tahu nama lengkapmu nak.”


Anela membalas uluran tangan pria tua itu dengan kedua tangannya, “Anela Nirmala Putri, Tuan.”


“Panggil Pak Rakha saja.”


Anela mengangguk, “Baik Pak Rakha.”


“Ben!”


Ben menoleh pada Pak Rakha, “Panggil supirku untuk mengantarnya pulang! Dan jangan biarkan Ran mendekati dia bagaimana pun caranya!”


Pak Rakha menoleh pada Anela, “Jangan khawatir, kau bebas mengeksplorasi bakatmu. Saat komikmu sudah siap, kau bisa hubungi editor yang Ben pilihkan untukmu. Dan jangan khawatir, aku akan memblokir semua akses Ran untuk menemuimu, jadi jangan khawatir tentang keamananmu kalau pria cabul ini akan berulah.”


Tubuh Anela menegak, menerima kebaikan sebegini banyaknya membuat Anela tersenyum haru, “Pak Rakha terima kasih banyak!”


Pak Rakha mengangguk, ia tersenyum saat Anela pergi dari ruangan bersama Ben. Dalam hati, ia merasa iba karena wanita itu mendapatkan perlakuan tidak pantas dari anaknya. Terlebih mendengar apa yang menimpanya sampai berbuat nekat untuk menguntit Ran membuat hatinya tercubit.


“Kau tidak seharusnya melakukan ini Ran Mahawira!” Suara Pak Rakha berubah menjadi dingin.


“Aku akui apa yang aku lakukan salah. Tapi, dia duluan yang mengusikku. Dan aku tidak menyukainya.”


“Umurmu sudah 29 tahun. Dan kau bertingkah kekanakan?”


“Apa hubungannya dengan umurku Ayah?”


“Melihat apa yang terjadi tadi, kau semakin bertingkah tidak wajar Ran! Berhenti bermain di club malam! Dan berhenti bermain wanita setiap malam! Apa kau tidak takut terjangkit penyakit? Perbaiki pola keaktifan seksualmu. Menikahlah jadi kau tidak akan bergonta-ganti pasangan! Dan akan lebih menghargai para wanita.”


“Menikah itu tidak mudah Ayah!”


“Kau sudah dewasa. Kau harus berani bertanggung jawab dan membuat komitmen. Ini bukan hanya tentang aktivitas seksualmu saja. Pikirkan apa dampak ke depannya. Kau harus segera menikah! Aku akan mencari pasangan untukmu!”


Ran berdiri dari tempat duduknya, “Aku yang akan menikah. Kenapa ayah yang ribut mencari pasangan untukku?”


“Duduk!” Suara Pak Rakha terdengar dingin.


“Aku tidak akan menyerahkan perusahaan utama padamu kalau kau belum memiliki istri dan pewaris perusahaan.”


Ran kembali duduk, ia menatap ayahnya tidak terima, “Selama ini aku telah melakukan yang terbaik untuk mengurus anak perusahaan Ayah! Apa itu tidak cukup?!”


Pak Rakha berdiri, “Menikah dan beri Ayah cucu!”


“Itu syarat terakhir untukmu mengambil alih perusahaan utama dari tanganku.”


Pak Rakha jalan keluar ruangan, “Pulang! Ibumu rindu padamu!” ucap Pak Rakha sebelum menutup pintunya.


Si Pria itu menghela napas kesal. Ia menendang kesal meja di hadapannya.

__ADS_1


Padahal sebentar lagi. Sebentar lagi tujuannya tercapai. Sial! Semua ini karena wanita penguntit itu!


__ADS_2