Pertukaran Kontrak dengan CEO Gila

Pertukaran Kontrak dengan CEO Gila
Kontrak Pernikahan


__ADS_3

Ran menatap Ben yang baru saja duduk di kursi kerjanya, “Kau mau kupecat?” Tanya Ran.


Ben mendongak, ia mengedikkan bahunya, “Ketua memintaku melakukan sesuatu.”


Ran mendengus kesal, ia meraih kerah kemeja yang Ben gunakan, “Bosmu itu aku atau ayahku?”


“Hakikatnya Tuan adalah bosku. Tapi ketua adalah bosnya dari bosku, jadi Tuan mengerti kan kenapa aku lebih menuruti perintah ketua.”


Ran menggigit pipi bagian dalamnya, “Oh Tuhan kau membuatku kesal.”


“Syukurlah kau masih mengingat Tuhan, Tuan.”


Ran menatap Ben seakan-akan mau menerkamnya, “Belikan aku kopi!”


“Baik akan aku sampaikan pada OB.”


Ran menahan tangan Ben yang akan mengangkat telepon, “Aku ingin kau yang beli! Sekarang juga!”


Ben menghela napas, ia beranjak dari mejanya, “Ice Americano? Latte?”


“Americano triple shot.”


Sesaat Ben menghilang dari penglihatan Ran. Ia mulai menduduki kursi dan melancarkan aksinya untuk mengambil ponsel Ben. Selama ini, ketika Ben disibukkan oleh ayahnya mengurus si wanita penguntit itu, Ran tidak mau hanya menonton melihatnya senang-senang di atas penderitaan Ran. Selama itu pula, Ran telah menyiapkan sesuatu untuk membuat wanita itu menderita. Bukan itu saja, rencana kali ini juga akan membuat ayahnya mau tidak mau menyerahkan Mahawira Group pada dirinya.


“Sekarang waktunya kau mempertanggungjawabkan perbuatanmu Anela.”


Ia mengeluarkan ponselnya untuk menelepon sesorang.


“Sekarang!”


“Hei! Kenapa kau seenaknya begini sih? Memangnya apalagi yang harus kubicarakan dengan Ben sekretarismu? Bukannya bisnis kita tidak ada masalah?”


“Terserah. Hambatan produksi atau apapun itu yang penting kau harus bisa menahannya selama mungkin.”


Alex, orang yang Ran telepon, mengerutkan keningnya, “Aku membantu ini karena kau temanku. Sebenarnya apa sih yang kau rencanakan sampai-sampai menyembunyikannya dari sekretarismu.”


“Kau akan tahu nanti. Sekarang tolong ya!” Ucap Ran melembut.


“Iya-iya aku akan menahannya.”


…….


Ran berdiri di ujung lorong apartemen lantai 15 dengan kacamata hitamnya. Ia menyaksikan bagaimana Anela disambut oleh room boy. Ran tersenyum saat seorang pria menyodorkan nampan berisi minuman pada Anela sebelum ia memasuki unit apartemennya. Rencananya berjalan sempurna. Anela yang polos itu tanpa ragu meminum minuman yang pria itu berikan dengan iming-iming jus gratis untuk penghuni baru. Ran tidak heran, Anela yang super bodoh itu akan mudah percaya pada omongan si room boy itu.


Ran menegakkan tubuhnya, ia mengeluarkan sejumlah uang bersamaan dengan pria pemberi jus itu datang menghampirinya, “Kerja bagus!” Ia menaruh banyak lembaran uang di nampan.


Pria itu tersenyum, “Terima kasih Tuan Ran!” Lalu pergi dari hadapan Ran.


Ran melangkah ke hadapan pintu unit apartemen Anela dengan kartu akses apartemen di tangannya, “Tiga….”


Ran tersenyum, “Dua….”


“Satu…”


Drrrt drrrt


Ponsel Ben bergetar. Ran tersenyum saat melihat nama Anela terpampang di layar ponsel Ben. Sesuai perkiraannya, orang seperti Anela pasti akan menelepon Ben saat melihat apa saja yang baru Ayahnya berikan. Anela sangat mudah ditebak bagi Ran Mahawira.


“Tuan? Bagaimana bisa aku menerima ini semua?” Ucap Anela dalam telepon.


Ran menyeringai\, “Kenapa tidak bisa? J*l*ng kecil.”

__ADS_1


Ran tahu Anela terkaget mendengar suaranya, “Ran Mahawira…….”


“Iya? Nona penguntit.”


“Aku perlu bicara dengan Tuan Ben.”


Ran mengangkat satu alisnya, “Apa ini?! Tidak berhasil menjilatku, kau menjilat ayahku. Lalu, sekarang apa? Kau mau menjilat Ben?”


“Kau harus menjaga mulutmu, Ran Mahawira.”


Ran tertawa, “Hahaha…. Luar biasa! Apa kau merasa menang karena ayahku berpihak padamu?”


“Urusanku denganmu telah selesai Tuan! Aku sudah meminta maaf atas kesalahanku.”


“Minta maaf?! Setelah kau melewati batasmu itu apa cukup hanya minta maaf? Kau benar-benar penguntit tidak tau malu!”


“PENGUNTIT INI PENGUNTIT ITU!!! KUMOHON TUAN RAN MAHAWIRA YANG TERHORMAT! AKU SUDAH MEMINTA MAAF ATAS PERBUATANKU.” Anela berteriak marah.


“Tidakkah kau mengerti keadaanku? Pilihan bodohku? Kau tahu meminta pertolongan padamu adalah ambang batasku, Tuan! Ambang di mana aku akan memilih tetap hidup atau mati… Aku bersumpah Tuan aku sudah lelah hidup. Ha! Tapi rasanya percuma mengatakan ini padamu kau tidak mau mengerti.”


Wajah Ran mendatar, “Lalu? Kalau kau mau mati, mati saja sana!”


Ran lagi-lagi tersenyum saat mendengar isak tangis milik si puan. Ia berjalan untuk membuka pintu.


Cklek


Anela ada di hadapannya. Wanita itu menoleh dan menatap Ran kaget.


“Matilah! Aku akan menonton dari sini!” Ucap Ran sembari tersenyum.


“Ran Mahawira?!” Seru Anela kaget. Ia berjalan mundur menjauhi Ran.


“Bagaimana bisa kau masuk ke dalam?!” Tanya Anela dengan ketakutan.


“Lalu apa yang kau lakukan di sini? Sampai bisa masuk ke sini, lalu bagaimana dengan ponsel Tuan Ben?!” Tanya Anela.


“Wow tenang~” Ucap Ran seraya duduk di sofa meninggalkan Anela dalam posisi waspadanya.


Sesaat Ran terduduk, Anela akan melangkahkan kakinya keluar dari unit apartemennya, “Ada yang harus kubicarakan denganmu!”


“Apa masih ada yang harus kita bicarakan Tuan Ran?!”


“Tentu Ada.”


Anela menatap Ran tidak percaya, “Aku tidak mau bicara berdua denganmu. Apalagi jika kita hanya berdua di dalam ruangan ini.


“Apa kau pikir aku akan melakukan sesuatu padamu?”


Anela menatap Ran yang sepertinya serius akan membicarakan sesuatu, “Duduklah ini tentang orang tuamu.”


Anela menatap Ran penuh tanya, “Kenapa mereka?!”


“Duduk! Aku akan memberi tahu saat kau duduk di hadapanku. Aku tidak akan melakukan apapun padamu! Aku berjanji!”


Anela melunak, ia berjalan duduk di sofa berhadapan dengan Ran Mahawira.


“Orang tuaku kenapa?!”


“Aku bertanya-tanya apa mereka berdua benar orang tuamu? Maksudku orang tua mana yang menjual anaknya hanya untuk uang?!” Ran mengeluarkan berkas dokumen ke hadapan Anela.


Anela memelototkan matanya, “Apa maksudmu?!” Ia membuka dokumen yang Ran sodorkan dan melihat dokumen perjanjian pelepasan hak orang tua Anela pada Ran Mahawira yang ditandatangani di atas materai.

__ADS_1


“Apa ini?”


“Apalagi? Aku membelimu dari orang tuamu seharga 5 miliar. Jumlah yang kecil untuk orang-orang bodoh seperti mereka.”


“Ini tidak mungkin terjadi!”


“Kenapa? Memangnya kau tidak tahu ya ibumu itu sudah operasi pengangkatan rahim karena penyakitnya 24 tahun yang lalu. Artinya kau bukan anak kandung mereka. Tidak heran melihat bagaimana mereka memperlakukanmu seperti sapi perah begini.”


Mata Anela memerah, ia baru mengetahui fakta ini, “Lalu untuk apa kau melakukan ini?!” Tanya Anela marah.


“Menikahlah denganku sampai 4 bulan setelah Mahawira Group jadi milikku.”


“A-apa?”


“Selama itu kau akan menjalani pernikahan palsu denganku, bahkan kau juga harus mengandung palsu atau asli anakku. Yang ini terserah padamu. Aku tidak memaksa kau harus mengandung anakku. Kita bisa mengadopsi anak lalu kau berpura-pura hamil.”


Anela menggeleng, “Pernikahan bukan main-main Tuan!”


“Lalu? Bukankah kau bilang sudah berada di ambang batasmu itu? Antara hidup dan mati, benarkan kau bilang begitu?”


“Maksudmu?!”


“Ayahku itu orang yang tegas. Bayangkan jika ia sudah memberimu banyak bantuan tapi komikmu itu gagal. Apa bebanmu itu akan menghilang? Rasa bersalahmu? Kau tahu kan ayahku tidak mau menemuimu kalau kau belum sukses dengan komikmu itu.”


Anela mengepalkan tangannya, ia tidak menjawab ucapan Ran, “Oh atau kau yakin komikmu itu akan sukses besar?” Ada tawa meremehkan dari Ran di ujung kalimatnya.


“Meskipun begitu aku harus mencobanya. Maaf tuan! Tapi aku tidak bisa mempermainkan pernikahanku!”


Ran melipat kakinya, ia menyenderkan tubuhnya santai ke sofa lalu menatap jam tangannya, “Sebentar lagi!”


“Maksudmu?” Anela bertanya bingung.


Ran tersenyum, “Tidak~ Aku ada urusan setelah ini,”


Ran memperhatikan Anela di hadapannya. Obatnya sebentar lagi bekerja. Saat ini, Anela sudah merasa gelisah karena obat itu.


“Pikirkan penawaranku! Aku tidak salah saat berbicara tentang kesuksesan komik.”


“Ehm- ehm” Anela mencoba membersihkan tenggorokannya. Ia mulai bergerak tidak nyaman di tempatnya.


“Apa sesuatu terjadi? Apa kau baik-baik saja?” Tanya Ran saat melihat muka Anela yang memerah.


“Sebentar Tuan sepertinya aku butuh air mineral!” Ucap Anela seraya pergi ke arah dapur.


“Ke sini lagi! Masih banyak yang harus kita bicarakan.” Ucap Ran tersenyum melihat bagaimana Anela meraup air sebanyak-banyaknya.


Anela kembali duduk di hadapan Ran. Ia memeras celananya saat merasakan hal tidak wajar terjadi pada tubuhnya.


“Tuan-“ Ucap Anela terhenti saat Ran melonggarkan dasinya.


“Apa kau tidak menyalakan AC-nya? Di sini cukup panas.” Ucap Ran yang terus membuka ketiga kancing atasnya.


Anela menelan ludah. Ada rasa yang aneh dalam tubuhnya saat melihat tubuh Ran. Pakaian yang Ran gunakan saat ini terlihat sangat seksi di mata Anela.


Ia menginginkan sesuatu saat ini. Dan sesuatu itu terlihat jelas saat ia menatap Ran Mahawira. Anela pikir ini tidak mungkin akan terjadi dalam hidupnya, tapi saat ini ia benar-benar menginginkan Ran Mahawira. Ia menginginkan Ran Mahawira.


Anela menggeleng, “A-aku **-tidak dal-dalam kondisi y-yang baik T-Tuan.”


Ran tersenyum, ia salut pada pertahanan Anela. Ia menegakkan tubuhnya, “Kau sakit? Apa perlu aku panggilkan dokter?” Tanya Ran pura-pura khawatir pada Anela yang terus menunduk.


Anela mengangkat tangannya, mencoba mencegah Ran untuk mendekatinya apa menyentuhnya, “K-kumohon pergi lah!”

__ADS_1


Ran kembali terduduk, “Kalau begitu aku anggap kau baik-baik saja. Tidak ada gunanya kau berpura-pura tiba-tiba sakit di saat aku sedang membicarakan hal penting.”


“Aku akan di sini selama mungkin sampai kau mau setuju dengan pernikahan palsu yang kuajukan padamu.” Ucap Ran sembari tersenyum.


__ADS_2