Pertukaran Kontrak dengan CEO Gila

Pertukaran Kontrak dengan CEO Gila
Tertangkap


__ADS_3

Aku menengok melihat pria itu. Ia tersenyum manis padaku, “Kau dengar kan? Kekasihku mau masuk.”


Kedua pria penjaga itu langsung melepaskanku, “T-tuan!”


Mereka berdua ketakutan saat pria ini datang, “Kali ini kumaafkan, tapi sampai kau melakukan ini lagi pada kekasihku.”


Pria itu mendekat membisikkan sesuatu pada pria botak, “Kau yang akan mati.”


Pria itu menarik pinggangku mendekat, ia tersenyum, “Ayo masuk sayang!”


Sesampainya di dalam, aku bisa melihat lampu kerlap kerlip yang menerangi ruangan yang kuketahui sebagai club ini. Ternyata rupa club seperti ini, ruangan gelap yang disinari sedikit cahaya. Ada satu kotak di tengah ruangan yang megah, tempatnya cukup disinari cahaya. Aku menundukkan pandanganku saat melihat keliaran orang-orang di dalam ruangan ini.


Aku melihat dua orang yang kuketahui mereka adalah dj sedang asik memainkan musik di podium sana. Kotak di tengah ini mungkin namanya dance floor? Entahlah aku kurang yakin, tapi yang jelas mereka sedang asik menampilkan sisi liar mereka, ada yang menari brutal dan ada juga yang sedang melakukan hal tak senonoh.


Aku mengalihkan pandanganku pada meja dan sofa yang tersedia. Mereka memang tenang dibandingkan orang-orang yang berada di dance floor, mereka sedang asik mengobrol dengan segelas minuman keras di tangan mereka.


“Culture shock?” Ucap pria itu tepat di telingaku.


Aku terlonjak kaget. Baru mengingat kalau tangan pria yang menolongku masih bertengker cantik di pinggangku.


Aku menyentuh tangannya mencoba melepaskan genggamannya pada pinggangku.


“Tuan terima kasih sudah menolongku tadi, tapi saat ini aku harus pergi ke toilet!” Ucapku agak keras dengan harap pria ini mendengar ucapanku di tengah suara musik yang mendominasi.


“Kau benar-benar mau ke toilet?” Pria itu tertawa.


Alisku menyatu, “Iya, benar. Kenapa Tuan tertawa?”


Pria itu menggeleng, “Aku sudah menolongmu. Lain kali kau menolongku, ya?”


Ia tersenyum. Aku mengangguk, senyuman pria itu terlihat tampan di remangnya cahaya, “Aku permisi Tuan!”


“Namamu?” Pria itu bertaya.


Aku menengok ke belakang, sedikit ragu untuk menjawabnya, “Nirmala.”


Terlalu beresiko memberi namaku pada orang asing, terlebih manusia penghuni club malam  sepertinya. Terima kasih sudah menolongku, tapi maaf aku harus waspada.


Setelah menyelesaikan urusanku di toilet, aku mencuci tanganku dan menghela napas lega, “Huh tadi itu nyaris saja!”


Aku berjalan keluar, membuka pintu toilet dengan perasaan lega.


Bruuk


Sesaat aku membuka toilet, seorang wanita terjengkal ke hadapanku.


“Awww…” Ringis wanita berpakaian minim itu. Aku memelototkan mataku, bagaimana bisa wanita berpakaian minim ini terjengkal bersamaan denganku yang membuka pintu.


Aku mendongak menatap lawang pintu.

__ADS_1


Deg


Jantungku berpacu cepat. Sial! Kenapa dia di sini?


Aku menurunkan pandanganku saat mataku bertemu pria itu. Pria itu, ia orang yang kuincar selama seminggu ini, seorang CEO perusahaan penerbit web komik terlaris di negara ini. Ia adalah pria yang akan kuhasut untuk menandatangani kontrak. Ia pria yang akan mewujudkan impianku menjadi seorang komikus.


Ya benar komikus, aku mengincarnya dengan harap ia akan melihat karyaku. Sudah ribuan kali aku mengajukan karyaku pada perusahaan ini. Tapi entah mengapa mereka selalu menolaknya. Karena frustasi, aku nekat berencana untuk menemui CEO-nya langsung.


Karena aku tahu, dalam sebagian perusahaan perintah CEO itu mutlak. Terlebih, desas-desus yang tersebar mengatakan kalau CEO perusahaan ini sangat arogan dan keras kepala. Jadi menurutku, satu-satunya jalan agar aku dikontrak perusahaan ini adalah meluluhkan CEO yang super arogan itu.


Kembali ke kejadian wanita yang terjengkal di hadapanku.


Aku membatu di tempatku.


Canggung. Satu kata yang dapat mendeskripsikan keadaanku saat ini.


Aku melirik wanita yang baru kusadari baju sangat berantakan. Bagian dadanya bahkan hampir terekspos.


“Pengganggu!” Pria itu mendesis sebal.


“Dasar wanita si*lan!”


Aku menatap kedua orang itu bergantian. Pria itu menopang kedua tangannya di lawang pintu. Kancing kemejanya terbuka tiga biji.


Mencoba mengerti apa yang terjadi, aku memelototkan mataku saat mengerti sepertinya aku baru saja mengganggu kegiatan mes*m mereka.


“Mesra! Iya kegiatan mesra kalian berdua!” Ucapku sembari tersenyum.


Aku takut-takut menatap pria itu, kini ia merubah posisinya jadi menyender di lawang. Tangannya ia lipat di dadanya.


Aku mencoba membantu wanita ini berdiri, tapi ia dengan kasar menepis tanganku, “Minggir sialan!”


Aku mengangkat tanganku, takut-takut melirik pada pria incaranku.


“Tuan Ran maaf membuatmu menunggu, ayo lanjutkan apa yang tadi kita lakukan!”


Aku membuang muka, mencoba mengabaikan kedua insan yang sepertinya akan kembali melanjutkan kegiatan mes*m mereka.


“Aku sudah tidak mood.” Ucapnya malas.


Aku masih menunduk. Dengan hati-hati, aku mencoba keluar dari suasana yang masih canggung ini.


Pria itu masih bersender di lawang pintu toilet, sedangkan wanita itu mencoba merangkul si CEO arogan.


“Tuan kalau begitu ayo kita bermain hal lain? Lakukan sesukamu, aku milikmu malam ini!”


Wow… Pembicaraan ini cukup menjijikan untukku dengar. Lebih baik aku pergi dari sini.


Sesaat aku merasa berhasil keluar dari toilet. Tangan kekar menghalangi jalanku keluar. Tangan ini! Tangan kekar milik si CEO arogan, ia menumpu satu tangannya di sisi lawang lainnya.

__ADS_1


“Mau ke mana? Kau tidak akan bertanggung jawab?” Ucapnya mendekat pada wajahku.


Aku menahan napasku. Selain wajahnya yang terlalu dekat, ada aroma buah-buahan dan tembakau yang masuk dalam penciumanku. Aku tak menyukai perpaduan aroma ini.


Aku sedikit mundur, mencoba menjauh dari wajahnya, “Tuan sebentar! Saya tidak tahu di mana letak kesalahan saya.”


“Di mana?” Ia tertawa mengejek ucapanku.


Alisku menyatu. Masih tidak mengerti dimana letak kesalahanku, “Aku hanya membuka pintu. Ada yang salah dengan itu, Tuan?”


“Lagi pula aku sudah meminta maaf soal mengganggu kegiatan mesra kalian.” Jariku membuat gestur aneh.


“Apa kau pikir meminta maaf saja cukup?”


Aku menggertakkan gigiku kesal, “Ya… Kurasa itu SANGAT cukup.”


“Tapi bagiku, itu SANGAT tidak cukup!”


Wanita penghibur itu menatapku kesal, ia mencoba merangkul pria arogan ini, “Tuan sudah lupakan wanita pengganggu dan bodoh ini. Ada banyak hal menyenangkan yang bisa kita lakukan!”


Aku menoleh dengan semangat pada wanita penghibur di sebelahku.


Aneh! Baru kali ini aku tidak marah saat orang lain menghinaku. Kali ini, aku justru merasa berterima kasih pada wanita gila ini.


Aku mengangguk semangat dan menyeletuk, “Benar banyak yang bisa kalian lakukan untuk bersenang-senang.”


"....."


Ups aku seharusnya tak membuka mulutku....


Wanita itu menoleh kesal padaku. Menatapku seakan-akan ucapanku malah memperburuk suasana.


Pria itu tidak menghilaukanku, Ia menatap wanita di sebelahnya tidak suka, “Aku tidak mengizinkan kau berbicara apalagi menyentuhku!”


Wanita itu langsung melepaskan rangkulannya sesaat suara dingin pria arogan ini terdengar amat kesal.


Aku menghela napas kesal. Sebenarnya, apa yang ingin pria arogan ini lakukan?


“Anela Nirmala Putri.”


Pupilku mengecil dan mataku terbuka lebar.


“Sudah main-mainnya?”


Aku menatap wajah pria arogan ini yang tersenyum sinis padaku.


“Bagaimana… kau..” Aku mundur menjauh dari pria arogan ini.


Mati aku….

__ADS_1


__ADS_2