Pertukaran Kontrak dengan CEO Gila

Pertukaran Kontrak dengan CEO Gila
Mempermalukan Diri


__ADS_3

Ben menggaruk tengkuknya saat melihat si penguntit datang ke ruangan milik Ran Mahawira dengan pakaian formal. Mata si puan sedikit bengkak membuat Ben bertanya-tanya apa yang telah terjadi Jumat lalu?


“Ehm- saya permisi Tuan.” Ben akan pergi dari ruangan Ran.


Ran yang terduduk di kursi kerjanya membuat tanda mengusir pada Ben.


“Tuan! Tidak bisakah Tuan Ben berada di sini?” Ucap Anela.


Ran menatap Anela. Si puan terlihat sangat berantakan, “Terserah pada Ben.”


Melihat Anela yang menampilkan wajah memelas membuat Ben tidak tega untuk meninggalkan ruangan, “Baik nona aku akan tetap di sini.”


Ran berdiri dari kursinya, ia duduk di sofa depan Anela yang kini terduduk dengan sangat gugup. Tangan Anela mengepal.


“Jadi?” Tanya Ran, ia menyilangkan kakinya.


Anela takut-takut menatap Ran, “Aku minta maaf. Benar-benar minta maaf, aku sadar apa yang kulakukan semuanya salah. Menguntitmu adalah kesalahan terbesar yang pernah kubuat.”


Ben terdiam, apa yang ia lewatkan?


Ran tidak menjawab, ia masih membiarkan Anela melanjutkan ucapannya, “Aku melakukan ini semua agar kau mau menerbitkan komik buatanku. Kumohon tolong aku! Aku mempertaruhkan segalanya pada komik buatanku!”


Ran menatap datar Anela, “Bagaimana bisa kau mempertaruhkan hidupmu pada gambar jelek ini?” Ran melempar tablet ke hadapan Anela.


Anela menunduk, ia sendiri lebih tahu bagaimana kualitas dan skil gambarnya, “Apa? Apa yang harus aku lakukan agar kau mau menandatangani kontraknya? Hanya dari kontrak itu aku bisa membeli peralatan menggambar digital dan hanya dari itu juga aku bisa bertahan hidup.”


Ran menurunkan kakinya, ia memajukan badannya mendekat ke arah Anela, “Apa bedanya kau dengan seorang pengemis, Nona Anela? Kami menerima semua artis yang berbakat. Sedangkan saat ini, kau memohon agar aku memberi uang padamu dan berharap aku akan percaya bahwa kau memang berbakat dalam seni? Nona yang aku butuhkan bukti bukan hanya harapan yang tidak jelas.”


Anela mendongak, menatap Ran dengan serius, “Aku punya keinginan dan motivasi yang besar untuk menjadi komik artis!”


Ran tertawa meremehkan, “Kau pikir itu cukup? Bagaimana dengan waktu? Kau pikir berapa lama para artis yang berbakat terus melatih gambaran mereka?! Dan berapa lama aku harus menunggumu?”


Anela tidak berkedip, ia meremas rok hitamnya, “Kau bukan seorang anak remaja yang masih bingung dengan pilihan sekolahmu. Bukan juga bingung memilih antara saintek atau soshum.”


“Kau seorang wanita berumur 20 tahun lebih. Wanita yang punya tanggung jawab untuk dirinya sendiri. Bukankah sedari awal manusia tidak mampu sepertimu ini dituntut untuk berpikir realistis?”


Ran mengambil gelas berisi air putih di depannya.


“Tuan!”


Byurrr


Ben tidak bisa menghentikan Ran menyiram air putih ke wajah Anela, “Bagaimana? Sekarang kau sadar?”


Ben berdiri mendekati Anela, “Tuan! Ini berlebihan!”


“Kalau kau ingin mengganggu, lebih baik kau keluar Ben!” Ucap Ran dingin.

__ADS_1


Anela menahan tangan Ben, ia mendongak dan menggeleng, “Terima kasih, tapi aku tidak apa-apa.”


Anela menyapu bersih wajahnya yang basah karena siraman air, “Aku…”


Ran menatap Anela datar, “Merasa…. sangat… amat….. sadar, Tuan.”


Anela menatap mata Ran dengan mata merahnya. Ia sekuat tenaga menahan tangisnya, “Aku selalu berpikir dengan realistis sejak kecil. Dan aku pun tidak pernah menuntut hal lebih dari orang tuaku karena aku tahu, aku tidak mampu.”


Kelopak mata Anela tidak lagi mampu menahan air mata yang tergenang, “Sejauh ini pun aku selalu berusaha dengan keras untuk bertanggung jawab pada diriku sendiri. Kau tidak akan pernah mengerti keadaanku. Mengatakan sesuatu memang terlihat lebih mudah daripada mengalaminya.”


Ran mengangkat alisnya, ia tidak terima dengan ucapan Anela, “Apa saat ini kau akan membalikkan perkataanku? Apa kau ingin menjual penderitaanmu itu?”


“Kau tau apa memangnya, Tuan Ran Mahawira terhormat?” Ucap Anela marah.


“Apa kau pernah merasa takut akan pilihanmu? Apa kau pernah merasa seperti selalu dikejar sesuatu, tapi kau tak tahu itu apa? Tidak, kan? Kalau kau gagal mungkin kau tak akan memikirkan kerugian yang kau alami dan berkata ‘toh hanya segitu.’. Lalu dalam waktu yang dekat kau melupakan kegagalan dan kerugianmu itu. Manusia bersendok emas sepertimu tidak tahu derita apa yang aku rasakan.”


Ran menatap Anela remeh, “Bukankah kau ke mari untuk meminta maaf? Apa kau sekarang mau merasa menjadi korban yang tersakiti?”


“Tuan nona-“ Ben mencoba menghentikan mereka berdua.


“AKU MEMANG SALAH!” Anela berdiri.


“AKU MEMANG BODOH TELAH MENGUNTITMU! DAN BERPIKIR JIKA AKU BERBICARA LANGSUNG PADAMU KAU MAU MENGERTI KEADAANKU. TAPI TUAN TAHU APA YANG LEBIH BODOH?”


Anela menunjuk dadanya, “AKU YANG MENARUH HARAPAN PADAMU!!”


Ran berdiri, “Empati? Apa perlu aku berempati padamu. Aku sudah menyadarkanmu dari halusinasimu. Menjadi komik artis itu tidak mudah dan latar belakangmu tidak cukup meyakinkanku menerima komik buatanmu itu. Kau tahu sendiri bagaimana kejamnya dunia pekerjaan ini. Hentikan pikiran naifmu, tidak semua orang sebaik yang kau kira.”


“Keluar! Aku tidak mau berbicara lagi dengan pecundang sepertimu!” Ran menunjuk pintu keluar.


Anela menangis, ia sadar harga dirinya begitu tinggi di hadapan seorang Ran Mahawira yang terkenal dengan kearoganannya. Pada saat itu, Anela membuang harga dirinya, rasa malunya, bahkan logikanya. Si puan menebalkan wajahnya setebal mungkin, ia berjalan ke area yang lebih lega.


Kaki si puan melipat ke inti bumi, bersamaan dengan tangisnya ia bersujud memohon di hadapan Ran Mahawira.


“Kumohon hanya kau harapanku!”


“Nona apa yang kau lakukan?!” Ben mencoba mendekati si puan yang tengah bersujud.


“Ben!” Satu panggilan dari Ran Mahawira mampu menghentikan langkah Ben.


“Wah kau benar-benar tidak tahu malu. Seperti yang kukatakan\, j*l*ng di sana\, bahkan lebih baik darimu.”


Anela tidak menjawab. Ran melipat kedua tangannya, “Kau butuh uang kontraknya kan?”


“Ben berapa uang kontrak awal?”


“50 juta, Tuan!”

__ADS_1


Ran berjalan mendekati Anela. Ia berjongkok di hadapan si puan, “Aku akan memberikannya secara percuma. Tapi boleh aku minta satu hal?” Ucap Ran melembut.


Anela mengangkat kepalanya menatap Ran. Si pria lagi-lagi menyelipkan anak rambut milik Anela, “Aku ingin melihatmu mempermalukan dirimu lebih dari sekarang!”


Deg


Kelopak mata Ben dan Anela melebar. Anela menangis dan menggeleng, “Kenapa? Bukankah kau akan melakukan apapun untuk mendapatkan uang perjanjian kontrak.”


“Tuan ini berlebihan. Kumohon hentikan.”


“Ben sudah kubilang kan? Kalau kau mau menggangguku, lebih baik kau keluar.”


Anela masih menatap Ran. Pupilnya bergetar, air matanya sudah menumpuk di kelopak matanya. Si puan tersenyum miris. Nyatanya hidup itu benar-benar keras, ia tidak bisa hanya menjual omongannya. Dalam kota besar, tidak sedikit wanita yang memilih menjual harga dirinya demi bertahan hidup. Selama ini, Anela selalu berusaha untuk menjaga harga diri dan tubuhnya, ia selalu menjaganya untuk suaminya nanti, pria yang akan benar-benar mencintainya.


Tapi namanya kota besar, harapan dan janji saja tidak cukup. Si puan menggeleng, air matanya jatuh, “Kau tahu? Motto perusahaan yang terpampang jelas di depan kantormu? Aku sangat menyukainya sejak aku bekerja di Arttasi. Setiap pulang kerja aku akan berhenti sejenak untuk melihat motto perusahaanmu.”


Ran mengangkat alisnya, “Aku sangat menyukai kalimat ‘Kemauanmu membawamu pada kemampuanmu.’. Saat itu aku percaya jika kemauanku besar aku bisa menjadi komik artis di perusahaan ini.”


“Terlepas dari aku yang baru-baru saja mendalami bidang ini. Aku yakin tidak ada kata terlambat, selama aku mendedikasikan hidupku pada ini.”


Ran mendekatkan kepalanya pada wajah Anela, “Kau terlalu banyak bicara!”


Anela tidak menutup matanya, ia menatap Ran tanpa rasa takut. Ran tersenyum sinis, “Aku tidak mengerti sedikit pun ucapanmu. Kau tidak berpikir secara realistis. Mau dan kemauan itu tidak cukup bagiku. Aku tidak akan menerima orang yang menjual omongannya.”


Tangan Ran meremas bahu Anela, “Sudah kubilang kan? Para wanita di club lebih baik jika dibandingkan dengan kau. Karena mereka tidak bermulut besar sepertimu, mereka menjual tubuhnya bukan omongannya. Dan aku akan merasa sangat senang kalau kau mau menuruti permintaanku tadi.”


Hidung si puan sudah bertemu dengan hidung mancung milik Ran, “Permalukan dirimu sekarang! Aku tidak akan melakukan apapun selain menontonmu tanpa sehelai kain pun.”


Anela memalingkan wajahnya. Ran menatap marah Anela, “Sebenarnya apa maumu?” Ran mencengkram dagu Anela, dan membawanya untuk menatapnya.


“Bagaimana bisa aku mempermalukan diriku di hadapanmu Tuan?”


Tangan kiri Ran beralih untuk mencengkram tengkuk si puan. Anela meringis kesakitan atas kerasnya cengkraman tangan Ran, “Kau tidak mau?”


Anela menggeleng. Ran tersenyum kesal, “Kalau tidak mau biar aku yang lakukan.”


Detik itu, si puan membuka matanya lebar-lebar saat bibir milik Ran memaut kasar bibirnya. Ran saat ini mencium paksa Anela di hadapan Ben yang membatu.


“Hmmmp,,,” Anela mencoba melepas pautan Ran dengan memukul dada Ran.


Dalam keheningan, si puan hanya bisa menangis ketika diperlakukan seperti ini. Ia menatap Ben yang terdiam di tempatnya.


Pada akhirnya, apa si tidak mampu pantas mendapat perlakuan seperti ini? Aku lebih memilih disidak para pria berseragam karena perilaku penguntitku dibandingkan diperlakukan hina seperti ini. Harapanku telah pupus dan semua yang kugantungkan juga sudah hilang terbawa angin. Aku akan hancur, bukan hanya aku, tapi kedua orang tuaku dengan utang-utang mereka. Ayah, Ibu, maaf aku tidak memenuhi harapanmu. Sebenarnya aku tidak sepintar orang lain, aku juga tidak seberuntung orang lain. Menyedihkan ya? Aku minta maaf.


Cklek


Suara pintu terbuka membuat Anela sedikit kembali pada kesadarannya saat Ran Mahawira berhasil meloloskan dua kancingnya. Mata si puan melihat Ben berlari mendekat dengan orang asing.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan Ran Mahawira?!”


__ADS_2