
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya mertua laki-laki.
"Ini Yah, dia mau memaksa masuk kerja," jawab lelaki yang selalu bersembunyi di balik ketiak orang tuanya itu.
"Aku hanya ingin bekarja, Ayah, aku ingin punya penghasilan," jawabku pelan.
"Kalo suami tidak mengizinkan, sebaiknya tidak usah," ujar Bapak mertua pelan.
"Aku harus mengalihkan pikiran dan menghasilkan uang sendiri ayah, lagipula di rumah ini bukan aku sendiri yang mengurusnya," balasku dengan air mata sakit hati.
Aku tahu saat ini di dapur sana, gadis sok lugu itu sedang tertawa jahat merayakan prahara yang sedang terjadi.
Aku tahu dia puas dan hasratnya ingin mengusirku akan segera terealisasi.
"Kalo suami dan orang tua keberatan lantas apa yang akan kamu lakukan?"
tanya ibu mertua sambil mendelik padaku.
"Aku tetap akan bekerja karena aku juga berhak untuk menjalani hidup seperti yang aku inginkan."
"Kok kamu jatuhnya jadi semaunya gitu?"
"Aku hanya melakukan apa yang kuanggap baik."
"Oh, jika memang begitu maumu, tidak apa, tapi jangan cari pertanggung jawaban keluarga ini atas kalian, sekali saja kamu ingin melenceng dari aturan maka aku akan membebaskanmh selamanya," ancam Ibu Mertuam
**
"Berangkat dulu, Bu," pamitku ketika hendak mengantarkan anak dan hendak pergi bekerja.
"Siapa bilang kamu boleh pergi, Emangnya haris sudah mengizinkan kamu?"
"Dia sepertinya terlalu sibuk dengan Adelia, maaf, aku akan terlambat," ujarku sambil meraih kunci motor.
"Tidak tahu sopan santun," sungutnya sambil mendelik.
Aku tahu yang dia inginkan, karenanya, aku membalikkan badan dan menyuruh anak anak untuk mencium tangan neneknya.
Sesudah Naila dan Naina berpamitan, aku pun mengulurkan tangan untuk menyalaminya tapi ia malah menepis dan mengibas tanganku dengan kasar sambil membuang mukanya.
"Astaghfirullah ...." Aku membatin dan merasa sangat sedih.
Aku tak tahu rasa tersinggung dalam diriku akan lebih besar dari sebelumnya sehingga aku tak kuasa membendung embun yang mengaburkan penglihatanku.
"Ya Allah, sakit sekali perasaan ini."
**
Sore hari,
Setelah hari pertama yang melelahkan dan penuh pengalaman baru, akhirnya aku bisa pulang dengan hati gembira. Meski pekerjaannya berat aku yakin bisa melalui semua dan gaji yang mereka tawarkan pun lumaya untuk menutupi kebutuhanku dan anak anak.
Kuparkirkan motor di garasi mertua dan masuk ke rumah lewat pinntu samping dan alangkah terkejutnya diri ini mendapati suamiku dan istri barunya sedang bermesraan di kebun belakang, mereka saling memeluk dan tertawa lalu saling mengecup dengan penuh cinta.
Sebenarnya hati ini tak kuasa melihat pemandangan menyakitkan itu tapi apa yang harus kulakukan?
Brak!
Kutendang ember sampah hingga jatuh dan mengagetkan pasangan lupa diri itu.
"Heh, kalo mau mesra pikirkan kondisi dan tempat ya," ujarku.
__ADS_1
"Kenapa? Mbak gak nyaman ya?" Dia sengaja memancing emosiku.
"Iya, aku tidak nyaman, memangnya kenapa?! Kamu puas? Kalo kamu bilang aku cemburu, wajar! Dia suamiku dan kau hanya orang ketiga di antara kami" ujarku sambil masuk dan membanting pintu.
"Laila ...." Kudengar Mas Haris ingin menengahi pertengkaran ini, tapi aku terburu masuk jadi kalimatnya hanya tertahan di udara.
*
"Masya Allah kamu baru pulang, jam segini?" Baru aja aku menutup pintu dapur, ibu mertua ternyata sudah menunggu sambil berkacak pinggang.
Ternyata selama aku tidak ada di rumah dapur ini sangat berantakan, cucian piring tertumpuk sejak pagi tadi dan aku tidak mencium aroma masakan sedikitpun, padahal ini sudah hampir malam.
"Apa ibu menungguku?"
"Kamu benar-benar meninggalkan tanggung jawab," tudingnya sambil menunjukku.
"Apa maksud Ibu? Aku baru pulanh kerja," ujarku sambil menahan diri.
"Rumah ini tidak terurus dan terbengkalai seperti pembuangan sampah," gumamnya kesal.
"Lho, itu menantumu ... dia sedang bermesraan di kebun dengan suaminya, kenapa Ibu tidak memanggil dan menyuruhnya untuk membereskan semua kekacauan ini?"
"Apa?! Adelia ...?"
"Kenapa? Ibu tidak ingin menyuruhnya? bukankah dia juga seorang istri dan menantu yang harus mengurus mertua dan rumahnya."
"Bukan begitu maksudku," katanya sambil menelan ludah.
"Jadi?"
"Anu ... Anak itu belum tahu apa-apa tentang mengurus rumah."
"Kalau begitu Ibu harus membimbing yang seperti Ibu membimbingku dulu, kenapa ibu malah diam saja?"
"Oh, jadi ibu mengkhawatirkan penilaian orang lain? Lalu bagaimana dengan orang tuaku, tidakkah mereka akan tersinggung jika Ibu memperlakukanku tidak adil seperti ini?"
Aku melepas jaket lalu menggantungnya.
Kubuka resleting tas lalu mengeluarkan dua bungkus makanan yang kubeli di perjalanan pulang.
"Naila ... Naina ... Ayo makan," panggilku.
kedua anakku datang dan memelukku dengan gembira.
"Ini makanannya Sayang, makanlah."
"Jadi, mulai sekarang kamu akan mengontrak dan beli makanan sendiri?" Ibu membeliak melihatku membongkar makanan di meja dapur.
"Ibu, mohon maaf, aku akan memberi anakku makan," ujarku sambil memberinya kode agar tak membuat keributan selagi kedua anakkku makan.
"Keterlaluan ...." Ia mendelik dan membuang muka.
*
Kulihat dari dapur ia menghampiru mertua laki-laki laku membisinya sesuatu, dan mereka dua orang yang masih asyik di kebun bielakang harus kuberi pelajaran.
"Adeliaaa ... Mas Haris, kalian sampai kapan mau di belakang situ."
Mereka terkesiap, dan langsung masuk ke dapur.
"Ada apa berteriak-teriak?"
__ADS_1
"Kenapa istrimu belum masak, aku baru pulang kerja disalahkan, apa istrimu hanya perhiasan yang boleh ditiduri saja, apa bedanya dia dengan seprai?"
"Laila!"
"Berani sekali Mas Membentakku!" Kuraih gelas dan kulempar ke arahnya, untuk hanya gelas melamine.
"Kamu ini kenapa?"
"Cukup, anak-anakku menyaksikan semua itu," ujarku sambil melotot.
"Memangnya kenapa kalo dia tidak masak?" tanya Mas Haris, "toh aku juga bisa membeli makanan jadi," ujarnya.
"Baiklah, ibuuu ...."
Ibu dan mertua laki-lali terkesiap, mereka makin nampak kesel dengan keributan petang ini.
"Ibu sudah dengar omongan Mas Haris? Mulai hari ini dia dia tidak akan memaksa siapapun untuk memasak, tanpa masak pun dia bisa membeli makanan jadi," ujarku.
"Oh ya Kau pikir rumah ini hotel? Kau pikir kami adalah orang kaya yang ketika menginginkan sesuatu hanya menjenntikkan jari?"
"Kalau Adelia saja dilarang oleh Mas Haris untuk masak, kenapa aku tidak?"
"Dia berbeda!" teriak ibu.
"Beda karena dia anak orang kaya dan aku miskin, begitu?"
"Kamu kok singing banget sih, semua orang bisa benci dan sebal padamu."
"Sudah kepalang tanggung, aku lelah," ujarku sambil membenahi makanan anak anak lalu memasukkannya ke wadah dan mengajak mereka beralih ke kamar.
"Jadi kau akan membeli makanan sendiri?" tanya Mas Haris.
"Mudah-mudahan aku dimampukan Allah untuk bisa berlepas dari kalian," jawabku dingin.
"Oh kamu ingin cerai?!"
"Itu tergantung kamu Mas, kalo kamu gak mau, sudah aku turuti maumu!"
Napasnya memburu dan tatapan matanya tajam, sementara gadis yang selalu bisa memanfaatkan keadaan itu, segera mengghampiri sambil menggenggam tangan Mas Haris seraya mengelus pundaknya dan membujuknya agar tidak terlalu emosi menanggapiku.
"Sudah, Mas, nannti kesehatan Mas bisa terganggu, turuti saja apa maunya Mbak Laila," pintanya.
"Hai ******, kau mengajari suamiku cara bersikap pada istrinya, kau siapa?"
"Jaga mulutmu, dia istriku!". Kini mas hadis Membentakku demi wanita itu.
Di detik itu luntur semua rasa cinta, hormat dan kasih sayang yang pernah kubangun untuknya saja. Aku kecewa, lukaku yang menganga seolah tergores kembali dan menimbulkan rasa perih yang demikian sakit.
"Kamu Membentakku, subhanallah, kamu Membentakku?" tanyaku terbelalak.
"Jagan keterlaluan, Laila, aku sudah berusaha sabar padamu?" desisnya.
"Sudah cukup, ribut-ribut, Laila masuklah kamu ke kamar, dan kamu Haris ajak istrimu ke kamar atas," perintah Ayahnya.
"Baiklah, kalo itu maumu, Mas, tapi jangan menyesalinya! Oh ya, ayah mertua, kalo buka karena menghormati ayah, tentu aku akan berbuat jauh dari ini, sayangnya aku masih menghargai kalian berdua," ucapku sambil mengambil barangku lalu beranjak ke kamar.
"Lihat betapa kurang ajarnya dia," gumam ibu mertua pada Ayah mertuaku.
"Sudah jangan ikut campur," ujar Ayah yang memang pembawaannya pendiam dan tenang.
"Aku akan melihat ke depannya, apa yang terjadi."
__ADS_1
"Si Laila itu makin kurang ajar. Kecemburuan susah merenggut akalnya."⁸
Apa, dia mengatakan aku gila! Lihat apa yang akan aku lakukan, dia akan membayarnya.