
Setelah Ibu mertua meninggalkan rumah giliran Adelia dan Mas Haris juga ikut beranjak tanpa berkata-kata.
"Ah, biarlah, aku lelah dengan drama, andai esok atau lusa mereka menggugat perceraian maka biarlah."
Akan kujalani hidup ini sendiri dan bahagia bersama kedua anakku, akan kucari pekerjaan yang layak dan sebuah rumah mungiljauh agar aku dan keluarga kecilku bisa tenang dan tidak diganggu oleh siapapun lagi.
*
Dua hari berlalu tanpa kedatangan Mas Haris ke rumah, entah kenapa dia tidak memberi kabar atau mengirimkan pesan, apakah dia marah kepadaku ataukah ibu yang melarangnya untuk menghubungi kami, aku tidak mengerti.
Anak-anak mulai bertanya dimana ayah mereka dan aku hanya menjawab seperlunya saja jika Mas Haris sedang ada urusan dan tidak bisa datang dalam waktu dekat.
"Mama apa yang terjadi, kenapa Papa tidak datang dan kit diabaikan?" tanya Naila.
"Mungkin sibuk di rumah nenek, berdo saja semoga Papa segera datang," jawabku.
"Tapi apakah Nenak akan mengizinkan? bukannya kemarin nenek marah pad Mama?'
"Tidak nenek marahnya hanya sebentar, jangan khawatir,ya, Sayang,' bujukku.
*
Siang hari,
Sebelum anak-anak pulang sekolah, aku telah selesai memasak dan menyiapkan hidangan makan siang untuk kami, ketika hendak merebahkan diri dan beristirahat di depaan TV, tiba-tiba pintu rumah diketuk, belum sampai diri ini di ambang pintu, Mas Haris masuk dan langsung menghambur kepadaku.
"Laila, maafkan aku yang sudah membuatmu susah karena aku tidak memberimu kabar," ujarnya sambil mendekapku erat.
"Aku tidak susah kok Mas, biasa aja, aku paham keadaaan tak lagi sama," jawabku.
"Tapi sungguh, demi Tuhan, aku memikirkan kalian aku bahkan gelisah dan tidak bisa tidur karena masalah ini, maafkan karena pergi tanpa mengatakan apa-apa," bisiknya.
"Tidak perlu mengatakan apapun,Mas, aku pun sudah tak mau banyak mendengar omong kosong dan bagaimana kamu membujukku, aku lelah, biarlah semuannya terjadi seperti ini."
__ADS_1
'Aku khawatir pada thap lelahnya kamu, kamu malah memutuskan untuk menyerah dari hubungan ini," ujarnya dengan nada sedih.
"Benar, aku mempertimbangkan untuk berpisah saja darimu,aku lelah, Mas. Sejatinya, hubungan dijalin untuk saling melengkapi dan membahagiakan, bukan saling mengabaikan macam ini, hidupku seolah tidak bersuami." Aku melepaskan pelukannya dan menjauh dari dia.
"Jangan, jangan lakukan ini Laila, akutidak bisa kehilngan kamu," katanya sambil mengggeleng cepat.
''Lalu aku harus bagaimana, Mas, aku bosan dengn gaya hubungan seperti ini, adakalanya aku merindukan untuk memelukmu tapi kau tak di sampingku, aku tertidur memeluk sepi seorang diri sementara kamu dan adila ...."
"Aku tak banyak melakukan apapun padanya semenjak kepergianmu," sanggahnya.
"Itu bukan urusaanku, aku juga tak mau tahu tentang itu," jawabku.
"Aku hanya ingin bersamamu sekarang, aku tidak peduli dengan apa yang terjadi setelah ini. aku ingin memprioritaskan kalian," balasnya.
"Seharusnya, kalo akhirnya kamu akan seperti ini, mestinya kamu tidak menikah lagi dengan Adelia, jika begini maka Adelia pun akan merasa disakiti, kamu gk nyadar, Mas?"
"Aku ... kemarin hanya menuruti desakan Ibu, dia ingin berbesan dengan pengusaha kaya yang mungkin bisa mendukung kita secara finansial," bisiknya pelan sambil menjatuhkan diri di kursi.
"Itulah karena kalian terlalu matrealistis, jatuhnya malah menyusahkan diri sendiri, aku sungguh menyesalkan itu."
"Aku kadang tak percaya bahwa kamu telah menduakanku,Mas."
"Karena itu aku ingin kita memulai semuanya dari awal dan memastikan setelah ini kita akan bahagia, kumohon beri kesempatan untuk hati kita untuk saling menerima."
"Bagaimana caranya, Mas?"
"Aku kembali padamu Laila. aku kembali untuk hanya menghabiskan waktu bersamamu saja, mulai saat ini, aku tak akan ke mana-mana, aku hanya milikmu saja," katanya sambil membingkai wajahku dengan kedua tangannya.
Tentu, aku heran dengan keputusan kekanak-kanakan seperti ini, apakah dia mengira pernikahan adalah permainan yng ketika bosan atau lelah kita akan mengakhirinya begitu saja? apakah Mas Haris sudah gila? meski aku menginginkan dia, tapi tak seperti ini juga kejadiannya. Bagaimana dengan Adelia? setelah dipinang dan nikahi, ia lantas dicampakkan? ini tak akan adil.
"Sungguhkah menurutmu ini adalah keputusan terbaik, kau sama sekali tidak memikirkan adelia? bagaimana dengan perasaannya mengetahui kau mencampakkan dia? aku tak menyangka jika kamu tidak sedewasa ini Mas," ucapku sambil menjauhkan tangannya dari wajahku.
"Aku menyadari dari rangkaian kebodohan yang telah kulakukan hanya kamu satun-satunya orang yang kucintai dan paling mengerti aku apa adanya."
__ADS_1
Tidak, ini tidak benar! mana mungkin aku akan menikmati kebahagiaan di atas penderitaan orang lain.
"Pergi dan temui Adelia, bicarakan jalan terbaik untuk kita semua pada kedua orang tuamu, aku ingin sebuah solusi yang tidak akan menyakiti siapapun setelah ini. Sampaikan juga harapanku hanya satu, aku sudah tak mau urusan rumah tanggaku dicampuri orang lain, dan itupun jika kalian masih ingin mengangapku bagian dari keluarga."
"Itu akan menjadi tantangan terbesar untukku, Laila, tapi demi kalian aku akan melakukan segalanya," jawabnya.
"Kuharap semuanya berjalan sesuai dengan harapan kita, Mas," balasku.
Demikianlah setelah percakapan itu berakhir, suamiku memutuskan untuk kembali ke rumah ibunya dan meluruskan apa yang sebenarnya menjadi harapan dia sebagai suami yang berpoligami. Aku tahu, tak akan mudah mengambil sebuah keputusan terlebih jika ibu Mas Haris memintannya untuk memilih satu di antara kami, pasti akan jadi hal yang sangat memberatkan.
Malam ini akan jadi malam yang berlalu panjang, menghitung detik dan menunggu hingga esok, menanti kabar akan keputusan Mas Haris dan Ibu mertua, di mana ia adalah tetua yang merasa paling berhak mengambil keputusan.
*
Ketika sinar mentari menyapa dan memberi kehangatan, aku tengah sibuk menyiram bunga dan menyapu halaman ketika tepat di saat bersamaan ibu mertua datang dan berdiri tepat di belakangku.
"I-ibu? Kenapa ibu mengejutkanku?" tanyaku heran melihat wajahnya yang masam.
"Kamu terkejut? apa yang kamu kejutkan? bukankah ini yang kamu harapkan dari semua hal yang kamu lakukan, mulai dari melawan hingga nekat kabur dari rumah!" ujarnya berkacak pinggang.
"Apa maksud ibu?"
"Kamu sengaja kan, membuat Haris ingin meninggalkan Adelia dan membangkang perintah orag tuanya yang melahirka dia?" tanyanya sinis sambil menudingku.
"Enggak Bu."
"Halah, jangan munafik! Kamu sungguh wanita serakah yang tidak tahu diuntung. Kamu gak ingat aku membuang ego dan prinsip demi menerimamu sebagai menantu? Kau tahu aku dari kalangan terhormat, terpaksa menggadaikan martabat demi menikahkan anakku dengan wanita yang bahkan levelnya jauh di bawah kami."
"Teganya Ibu berkata begitu, kenapa dari awal Ibu tidak menolakku jika pada akhirnya ibu akan memperlakukanku seperti ini?"
"Itulah ... Karena ketidak berdayaanku menyayangi anak, andai aku tahu kau wanita pembangkang, mana mau aku menjadikanmu bagian keluargaku."
"Dan sekarang itu terjadi, Bu," balasku lirih.
__ADS_1
"Kau jangan mimpi ingin memisahkan anak dan mantuku yang kusayang sesuai kehendakmu! jangan mimpi aku akan membiarkan itu, dan jangan pula berharap untuk kembali menjadi mantuku lagi!" jeritnya sambil meninggalkan halaman rumahku.
pembaca tersayang please baca cerita aku yang ada di *** app ya, banyak cerita menarik seperti tiba-tiba dimadu dan ku permalukan di akad nikahnya yang tidak kalah seru dari cerita ini. kalau tidak percaya please cek akun ria_abdullah