Petaka Madu Baru

Petaka Madu Baru
sesekali


__ADS_3

Ya, sesekali aku akan membuat sebuah pelajaran bagus untuk Ibu mertua. Aku tahu ayah mertua selalu pergi ke suatu tempat selama beberapa bulan terakhir, aku curiga ia malah sudah beristri lagi mengikuti jejak putranya.


Ah, bukankah di mana mana laki-laki itu sama? Maka, jika benar apa yang kuduga, aku yakin setelah mengetahuinya Ibu mertua akan mati berdiri atau pingsan seketika.


Jadi, biarlah sesekali aku akan


mengikuti jejaknya, sehari saja.


Benar saja, setelah seharian mengikutinya ternyata Ayah mertua menemui seorang wanita, entah apa hubungan mereka, namun aku akan menggorengnya menjadi sesuatu yang pantas disuguhkan pada ibu mertua dan seketika membuatnya sakit jantung dan kejang kejang. Hahahah.


"Ayah dari mana?" tanyaku ketika mobil ayah mertua berpapasan denganku.


"Kamu sendiri dari mana?"


"Kebetulan lewat sini, kalo boleh tahu, siapa yang baru saja ayah temui?"


Ayah mertua terlihat terkejut dan gugup, ia mungkin tida menduga bahwa aku menyaksikan aksi mencium tangan mesra mereka di gerbang tadi.


"Bu-bukan siapa siapa, aku hanya menemui, ma-maksudku, itu hanya saudara," jawabnya gagap.


"Tapi aku melihat ayah dan wanita itu berci ...."


"Diam, sssstt ..." Ayah membekap mulutku seketika dari dalam mobilnya.


"Lho kenapa?" tanyaku pura pura polos.


"Sebenarnya ibumu tidak tahu, aku juga tak enak memberitahunya, oleh karena itu mohon simpan rahasia ayah," bisiknya.


"Tentu, tapi dengan catatan ayah mau memberiku sebuah ...." Aku menjentikkan ujung jari, dan bermaksud mendapat uang.


Aku akan memeras orang yang telah membuatku dipoligami, andai tanpa izin dia, mungkin aku masih bersama dengan Mas Haris, sepanjang waktu.


"A-apa maksudmu?" tanyanya kian gagap.


"Aku butuh jaminan ayah," bisisku.


"Aduh," gumamnya sambil menepuk kening.


"Berapa?"


"Dua juta, Ayah, aku hendak bayar kontrakan," bisikku degan hati bersorak riang.


"Tapi aku tak punya sebanyak itu," balasnya.


"Kalo ibu pasti punya, ya ayah?" gertakku.


"Ah, tidak-tidak, aku akan memberikannya." Ia menggerutu sambil mengeluarkan dompet dan langsung menyerahkan uang sejumlah yang kuinginkan.


Ah, gembira rasanya.


"Ibu ... Akhirnya kita bernasib sama," gumamku sambil tersenyum sendiri.


"Ngapa kamu senyum-senyum?" tanya Ayah menyentakku.


"A-anu, salut aja sama Ayah, ternyata Ayah lebih hebat dari Mas Haris."


"Halah, kamu, minggir sana, aku mau pulang," ujarnya.


"Oh, maaf, terima kasih ya, Ayah," ujarku sambil tersenyum dan melambai kecil.


Aku melompat riang dan tersenyum puas, aku bisa merasa semuanya tenang sekarang, setidaknya aku tak akan memusingkan uang belanja, karena kini, ayah mertuaku yang perhitungan dan super hemat itu akan menanggung semuanya. Hahaha.


Dan Ibu mertua, yang judes dan kejam itu, entah aku mengasihaninya atau menertawakannya, yang jelas saat ini aku bisa menyaksikan pembalasan Tuhan atas keputusan tak adiknya padaku.


**


Kutenteng keranjang dengan hati senang, kbali ke rumah sambil bersenandung riang dan alangkah jengkelnya diri ini, karena Ibu medtua sudah menunggu sambil berkacak pinggang di depan pintu.

__ADS_1


"Dari mana kamu?" tanyanya dengan ekspresi kanjeng Mami.


"Dari kerja, di pasar."


"Kamu gak tahu, kalo ini sudah sore, anak anak gelisah nyariin kamu!" tudingnya.


"Mereka tahu kok, aku kerja," jawabku melengos santai.


"Harusnya kamu jagain mereka," ujarnya sinis.


"Maaf, Bu, aku terpaksa, akunharus cari nafkah, untuk menyambung hidup mereka."


"Lho, bukannya Haris ngasih duit?" tanya dengan bibir mengerucut.


"Sekadang jatah belanja kami dibagi dua, jadi ya, begitulah, gak cukup," gumamku.


"Itulah kalo jadi manusia gak bisa bersyukur, jadi yang ada pada menghilang, hmm." ia masih nyinyir saja dengan hidup orang lain.


"Ibu ... Kalo boleh tahu, ibu ke sini cari apa?"


"Cari cucuku."


"Ini kan, udah sore, ibu sebaiknya kembali, kasihan belum ada yang masak," ujarku.


"Ngapain ... yang masak Adelia atau anak perempuanku," jawabnya yang sukses membuatku tertawa, menyadari bahwa orang yang disebutkan ibu tidak bisa memasak sekali, bahkan menggoreng telur pun gosong.


"Ada apa kamu tertawa?"


"Gak ada, Bu, kalo gitu aku masuk dulu, ya," kataku sambil melambaikan tangan.


"Kurang ajar, bukannya ngajak orang masuk, malah melengos begitu aja," ujar Ibu merutuk lalu pergi.


Bukannya aku mau bersikap kurang ajar, aku tak tahan ocehannya andai ia juga ikut masuk ke dalam rumah, ia akan berkomentar tentang semua isi dan sudut rumah, aku tak akan tahan dengan itu, karenanya, aku lebih memilih untuk diam saja.


*


Sore hari,


"Tumben langsung mampir Mas," ujarku sambil meletakkan segelas air di atas meja.


"Iya, kangen dengan anak dan kamu," balasnya.


"Oh ya, wah, menyenangkan dikangennin suami," balasku.


"Oh ya, Sayang, kamu masak apa? Aku lapar."


Sayang lagi ....


Aku paling tak suka disebut dengan berlebihan seperti itu. Aku lebih suka dipanggil apa adanya dengan sebutan Ma, atau Dik.


"Sayang, sayang, aku bukan Adelia, Mas. Kalo Mas memanggil seperti itu, aku akan merasa bahwa Mas sedang memanggil Adelia."


"Oh, maaf, aku laper, Ma, kamu masak apa?"


"Ada pindang ikan dan tumis kangkung, makanlah, aku akan siapkan di meja," jawabku.


"Kalo begitu ayo makan," serunya dengan antusias dan langsung menuju meja makan.


*


"Aku tak tahu, apa yang membuatmu memutuskan untuk menyusahkan diri bekerja," ujarnya sambil menyendokkan nasi ke mulutnya.


"Kenapa memangnya, Mas?"


"Kamu capek, sedangkan gajinya gak seberapa," balasnya.


"Ya, ga apa apa buat tambahan, Mas, lagian sekarang Mas kan gak sepenuhnya sama kami," gumamku pelan.

__ADS_1


"Ayolah, jangan terus menerus mengungkit soal itu, aku jadi tambah merasa bersalah." Mas Haris menghentikan makannya.


"Mau bagaimana lagi, mulai sekarang aku harus menata hidup mandiri," jawabku pelan.


"Aku tetap akan menjaga dan menjamin kalian, aku berkomitmen untuk bersikap adil dan menjadi suami terbaik, percayalah."


"Baik, Mas, tapi aku pun harus berhati-hati."


"Jangan khawatir tentang apapun, aku tetap akan mementingkanku," jawabnya sambil menggenggam tanganku.


"Lalu bagaimana jika Adelia cemburu?"


"Dia adik madumu, aku yakin dia segan dan tak berani berbuat jauh lagipula jika ia berani memgusikmu aku tak akan membiarkannya."


"Ah, kamu hanya berusaha membuatku terhibur, Mas."


"Gak, kok, demi Tuhan, aku berkomitmen untuk menebus kesalahanku, aku tahu kamu banyak menangis karenanya, aku akan membuatmu lebih bahagia saat ini."


"Aku ragu jika hubungan kita adalah poligami," desahku pelan.


"Banyak kok, keluarga berpoligami tapi damai dan bahagia," gumamnya.


"Tapi ini beda, Mas, Aku dan Adel gak akur, ditambah Ibu yang kerap mengatur dan harus dituruti kata katanya, duh," aku menepuk puncak kepala.


Dia terdiam, dan tak sanggup membalas perkataanku tadi.


**


Hari ini aku sengaja mengintai Ayah mertua untuk memeras dan mengerjainya lagi. Sesuai dugaanku, ia pergi lagi ke rumah janda bohay di ujung komplek yang tak jauh dari rumahku.


Kutunggu ia berkencan dengan sabar di ujung gang, hingga satu jam kemudian, mobil hijau milik ayah datang.


"Ada apa lagi, kau di sini, kau menungguku ya?" tanya ayah mertua.


"Iya, ayah, aku menunggu ayah," jawabku.


"Sejak kapan?"


"Sejak ayah datang tadi," balasku.


"Ngapain kamu nunggu?"


"Sebenarnya, aku mau minta sesuatu yang kecil ayah, aku mohon sekali," ujarku.


Ia mendengkus kesal lalu turun dari mobilnya.


"Apa?"


"Aku ingin minta dibelikan motor," jawabku.


"Apa?!"


Ia terbelalak kaget.


"Ya, aku kan harus cari nafkah, Ayah, aku mau jualan, aku akan jamin ayah bisa leluasa bertemu janda itu, tanpa kebocoran," ujarku.


"Mana uang tunai buat beli motor!" bentaknya kesan.


"Kalo begitu aku minta di Ibu saja," balasku sambil membalikkan badan.


"Janga sampai aku kesal, Laila!"


"Bagaimana mungkin ayah mertua yang baik ini akan menghajarku, kalo aku beritahu masalah ini pada Ibu, ayah akan sangat malu dan hancur," balasku pelan.


"Ya, ampun, baiklah, aku akan belikan, tali ini yang terakhir," ujarnyas sembari berlalu.


"Aku tunggu alam minggu ini ya, ayah," balasku sambil melambai kecil.

__ADS_1


Hiahahaha.


Ibu mertua, aku akan balik menertawakanmu mulai sekarang, hahaha.


__ADS_2