
Emak mertuaku pasti akan kelabakan setelah ini. Bagaimana tidak kelabakan jika uang suaminya kukuras. Minggu pagi sekali motor kiriman dari dealer sampai dan aku menerimanya dengan hati senang.
Entah dengan cara apa ayah mertua membujuk ibu, yang pasti ia berhasil mengeluarkan satu unit motor yang akan kujadikan alat untuk mencari nafkah, mungkin berjualan makanan atau apa saja.
"Setelah ini jangan paksa Ayah lagi, Ayah gak punya uang dan letih dicurigai Ibumu," ujarnya.
"Baik, Ayah. Alhamdulillah terima kasih ya," jawabku senang.
"Hmm," jawabnya setengah cemberut.
"Kalo begitu ayah pulang dulu, ingat rahasia ini tolong hanya kita yang tahu," lanjutnya.
"Aman Ayah selama ayah terus membantuku aku akan memastikan bahwa semuanya aman-aman saja," balasku sambil mengacungkan jempol.
Ia lantas menarik gas dan berlalu dari depan rumahku. Melihat motor yang terparkir di depan rumah kedua anakku sangat gembira, mereka bersorak dan tertawa riang serta ingin segera mengajakku berjalan-jalan.
"Ayo, Ma, kita jalan-jalan," ujar Nayla.
"Iya, aku juga mau jalan-jalan," balas Naina.
"Iya, Nak nanti dulu, ya, Mama ganti baju dulu, jawabku.
"Siap, Mama," jawab kedua anakku serempak.
*
Sore hari,
Entah kenapa pintu diketuk ketika kami asyik menonton tayangan televisi. Aku bergegas bangun untuk melihat siapa yang datang di depan sana.
Baru saja kubuka pintu ketika Adelia masuk dan menghambur dnegan air mata di hadapanku.
"Mbak ...aku minta tolong sekali, aku minta pengertiannya," ujarnya memelas.
"Apa?" tanyaku heran.
Wanita itu melirikku dan motor yang terparkir di teras rumah, ia menyeka sudut matanya pelan lalu berkata,
"Mbak beli motor ya?"
"Iya, kenapa?" tanyaku sedikit songong padanya.
"Aku hanya ... apakah Mas Haris yang belikan?" tanyanya pelan.
"Iya, siapa lagi kalo bukan suamiku," jawabku menohok.
"Mengapa dia tidak memberitahuku," gumamnya sendiri.
"Mengapa harus memberitahumu Dia adalah seorang pria yang bisa mengambil keputusan apapun tanpa harus bertanya pada siapapun. Apa kau keberatan?"
"Tidak aku hanya ...."
"Mengapa kau datang ke rumahku sambil menangis, apa yang kau harapkan?"
__ADS_1
"Aku ingin meminta restu agar Mas Haris bisa bersamaku untuk beberapa waktu sampai aku punya bayi," balasnya.
"Maksudmu ... kau tidak mengizinkan suamiku mendatangiku?"
"Bu-bukam begitu, akuu hanya ingin dia lebih sering bersamaku," jawabnya, " orang tuaku sudah lama merindukan cucu, aku ingin segera hamil untuk melegakan hati mereka."
"Oh, begitu rupanya. Silakan lakukan yang kau mau, tapi seperti yang aku katakan tadi bahwa Haris adalah pria dewasa yang tidak bisa diatur-atur sesuka hati. Lagi pulang aku juga adalah istrinya dan anak-anakku adalah anak kandungnya, tadi dia bebas mendatangi kami kapanpun dia mau," jawabku.
"Maksudku ... Izinkan dia tetap bersamaku hingga beberapa waktu," balasnya pelan sambil menatap mataku.
"Aku tidak pernah melarangnya sedikitpun, malah aku memilih untuk pergi dari rumah itu demi membahagiakan kalian berdua, tapi ... Masa Haris mencariku dan ingin aku kembali."
"Aku minta izin sekali kepadamu," ucapnya dengan nada rendah.
"Silakan, tapi ada syaratnya."
"Kau harus mengganti setiap waktu yang dihabiskan suamiku denganmu yang merupakan jatahku dengan sedikit kompensasi darimu," balasku.
"Maksud Mbak bagaimana?" tanyanya dengan wajah yang dipasang sepolos mungkin.
"Kau tidak cukup bodoh untuk bertanya secara detail apa maksudku," jawabku.
"Apakah Mbak ingin menjual Mas Haris dengan uang?"
"Tidak. Namun aku harus realistis. Jujur aku tersakiti, sejak awal suamiku menikahimu, namun aku tidak bisa terus-menerus memeras air mata, karenanya, kau harus membayar untuk semua itu Adelia."
"Berapa?" tanyanya dengan suara tercekat.
"Lima ratus ribu perhari, hari yang merupakan jatahku, jika kau tidak mampu membayar ku maka aku akan memberi Mas tahu Mas Haris semuanya," ancamku.
"Terserah, andai kau merasakan jadi aku mungkin kau akan depresi hingga bunuh diri karena harus melihat kemesraan suami sendiri dengan wanita baru. Dan sialnya wanita baru itu meminta izin istri pertama untuk tidak menemui lagi suaminya demi hasrat wanita serakah itu memiliki bayi," sindirku.
Merasa tersindir oleh ucapanku, wajah wanita itu seketika merah padam. Ia terlihat tidak terima dengan sindiran yang begitu menusuk hatinya.
Iya bangkit dengan wajah yang kesal dan pamit tanpa menatapku lagi.
"Aku pulang," ujarnya sambil berlalu.
Dasar tidak tahu sopan santun!
***
Malam hari,
Aku dan kedua anakku sedang menikmati makan malam di meja makan ketika pintu utama terbuka dan Mas Haris muncul dari sana. Nayla dan Nayla menatap kepada ayahnya dan langsung berlari kearah ayah mereka dan memeluknya.
"Ayah, ayah sudah datang, ayo kita makan," ajak Nayla.
"Iya, Sayang. Ayah akan makan." Mas Haris melangkah digandeng oleh kedua anaknya menuju meja makan.
"Apa kabar Sayang?" Tanya Mas Haris sambil mengecup pucuk kepalaku.
"Baik," jawabku pelan.
__ADS_1
"Kamu kok kelihatan sedih sih?"
"Gak juga, Mas, aku hanya merasa gaknenak dengan Adelia," jawabku.
"Kenapa?" tanya Mas Haris sambil mengernyit.
"Tadi siang dia datang untuk meminta izin agar kamu lebih banyak menghabiskan waktu dengannya," balasku dengan wajah sedih. Tentu saja aku berpura-pura untuk itu.
"Masa sih?" tanya Mas Haris dengan wajah heran.
"Iya, Mas. dia bahkan rela membayarku untuk agar bisa menghabiskan lebih banyak waktu dan segera mengandung," jawabku berdusta.
aku berencana untuk menciptakan petaka bagi wanita yang sudah memberi jarak antara aku dan ayah Nayla.
"Membayarmu?"
"Iya, bukankah wanita itu adalah anak orang kaya? Dia bisa melakukan apapun dengan uang ayahnya." Aku menggeleng-geleng pelan sambil menyendokkan nasi ke dalam piring Mas Haris.
"Aku gak nyangka, kok bisa dia begitu? di depanku ia begitu lembut dan bijaksana," keluh Mas Haris.
"Manusia bisa melakukan apapun demi menuruti hasratnya Mas," balasku.
"Oh ya, kamu punya motor? Siapa yang belikan?"
"Ayah mertua."
"Kok tumben? Biasanya ayah akan sangat berhati hati dengan uang."
"Bahkan cenderung pelit," ungkapku melanjutkan kalimat suamiku.
"Mungkin ... ayah merasa bersalah karena telah membuat menantunya dimadu," lanjutku.
"Sungguhkah, kau serius tentang ini?"
Ia pasti merasa curiga karena selama ini Mertua laki-laki adalah pria yang selalu memasrahkan uangnya kepada istri. Ayah mertua nyaris tidak pernah memberikan apa-apa kepada kami anak-anak atau menantunya tanpa izin ibu mertua, jadi wajar jika suamiku merasa heran.
"Iya, serius," jawabku.
"Aku harus pulang sekarang untuk berbicara dengan Adelia, aku akan memberinya pengertian." Mas Haris segera menyudahi makan dan meneguk air minumnya.
"Jangan Mas justru jika kau menegurnya itu akan menciptakan jarak di antara kami dan kami akan semakin bermusuhan," cegahku setengah memelas.
"Kenapa?"
"Aku sudah lelah untuk marah dan menciptakan kebencian di dalam dadaku, sekarang Aku hanya ingin pasrah dan menjalani hidupku dengan kedua anakku.Andai Kau tidak bisa lagi menemuiku atau memberikan nafkah maka aku akan ikhlas dengan semua itu," jawabku sambil mengusap sudut mata.
"Jangan begitu, Laila, aku sangat mencintaimu yang tidak mau berpisah denganmu. Bagaimanapun kau istri pertamaku dan orang yang akan selalu aku utamakan, aku akan memberi Adelia pengertian bahwa aku tidak akan pernah mengabaikanmu," ujarnya sambil menggenggam tanganku.
"Makasih, Mas, namun aku ragu akan respon ibu mertua," ratapku sedih.
"Aku pun akan berbicara dengan ibu, jika Ibu tidak setuju maka aku pun akan mengambil keputusan sendiri."
Ia pergi dari rumahku dengan langkah cepat, aku tahu persis Apa yang akan terjadi di rumah ibu mertuaku yang cerewet itu. Ah, kini aku harus bergembira membayangkannya.
__ADS_1
Andai pun rencanaku ketahuan dan gagal, aku masih punya 1001 cara untuk berkelit dan membela diri sendiri.