
Jadi aku memutuskan untuk membawa kedua anakku ke daerah dekat pasar Mangga, di sana aku berencana untuk mengontrak sebuah kamar kecil, lalu mencari pekerjaan yang bisa menyambung hidupku.
Entah bekerja di warung makan, jadi tukang bersihkan ikan, tukang es atau apa saja, yang bisa kulakukan di pasar nanti. Malam harinya aku akan menjajakan kopi jadi kurasa aku pasti bisa membiayai sekolah Naila dan Naina.
Sesampai di pasar setelah naik angkot, kami turun dan masuk ke pelataran pasar yang sepi, kududukkan kedua anakku di sana dan menyuruh mereka untuk menunggu.
"Bentar ya, Ibu cari pemilik kontrakannya, biasanya jual kopi di sekitar sini," ujarku pada kedua anakku.
"Ya, Ma, tapi jangan lama-lama ya," jawab mereka. Kuikuti jalan lurus lorong pasar lalu ke sebelah kiri, melewati peti peti barang yang berjejeran, sedikit ke belakang ada warung kopi yang cukup ramai dan aku bertemu Nyai Tima di sana.
Setelah duduk dan dipersilakan minum aku mulai bicara,
"Nyai, aku ingin mengontrak salah satu kamar nyai," ujarku.
Ia mengernyit, " kamu kan punya suami?"
"Saya dipoligami, saya gak tahan dan memutuskan pergi."
Wanita paruh baya itu mengisap batang rokoknya dengan kuat, meski pipinya yang tirus terlihat kompong ketika menghisap aroma tembakau namun asap pekat yang dia kepulkan lumayan membuatku terbatuk.
"Uhuk ... huk ...."
"Hahahah, kau memilih tinggal di tempat keras begini, memangnya kau bisa? malam hari di sini akan menjadi tempat yang penuh rimba kebuasan, kau berani?"
"Selama saya menjaga diri dan agama, insya allah tidak terjadi apa-apa, saya hanya ingin numpang beberapa bulan sampai bisa mengontrak rumah yang layak untuk anak-anak.
"Kamu bayar aja, setelah itu saya kasih kuncinya.
"Ini ada empat ratus ribu, sisanya akan saya tambah begitu dapat uang," jawabku sambil menyodorkan amplop.
Wanita itu menyeringai dengan sebelah bibir yang disunggingkan.
"Kau yakin?"
"Iya, Nyai."
"Saya ini orang jahat, saya tidak mau mendapat keterlambatan uang sewa," ujarnya setengah tertawa.
"Iya, tak mengapa, saya akan menahannya," ujarku sambil menitikkan air mata.
"Kamu mirip ibumu, dia tak pernah menyerah," gumamnya sambil berlalu.
__ADS_1
Agak berat hidup di rimba metropolitan tanpa mengenal seseorang atau memiliki modal. Nyai Tima dulu adalah kawan ibu, mereka mengontrak dan bertetangga, ibu menikah dan memilih berdagang menjajakan lauk dan sayur dari kampung ke kampung, sementara Nyai Tima, hidup dia keras dan penuh Lika-liku entah apa dan bagaimana ceritanya di masa lalu, pada akhirnya dia sukses, sukses menebar pengaruh dan menjadi kepala preman di pasar ini. Selain itu dia juga punya beberapa toko dan warung kopi.
Kuajak kedua anakku menuju belakang pasar dan mencari kontrakan yang sudah di tunjukkan Nyai tima.
"Bunda, ini tempat apa," tanya Naila dengan gemetar setelah di sepanjang lorong sempit ini mendengar bunyi-bunyian, teriakan pemuda mabuk, rayuan wanita malam, suara gitar dan nyanyian anak jalanan yang berkumpul di warung kopi, kawasan ini cukup padat penduduk.
"Ini kampung orang, kita akan numpang sementara di sini" jawabku.
"Tapi ... Nai, takut Ma, " ujarnya sambil melirik kiri dan kanan.
"Gak usah takut, tidak ada yang akan mengganggumu," jawabku sambil mengajaknya masuk.
Baru saja kami duduk dan menghela napas, tiba tiba pintu diketuk. Dengan gencar dan Kecak seolahnointu itu akan patah jadi dua.
Ketika kubuka seorang preman sangar diikutindua pemuda di belakangnya.
Kamu penghuni baru?" Ujarnya sambil tersenyum jahat, kedua anakku bangkit lalu bersembunyi di belakangku.
"Iya, saya mengontrak bedeng, Nyai, " kataku.
"Oh, kamu harus kasih uang harian ke kami,", ujarnya.
"Anggap aja yang keamanan," jawabnya sambik tertawa terbahak-bahak.
"Saya tidak pegang uang, lagi pula saya baru datang."
"Oh ya? coba geledah dompet dan tasya," suruhnya dan dua orang pemuda tadi datang dan mengobrak abrik barang-barangku.
"Tolong, jangan, Bang, saya baru dapat musibah," jeritku melihat pakaian kami ditumpahi.
"Kamu mau bayar apa gak?"
"Besok saya bayar, saya cari uang dulu," jawabku sedih.
"Awas ya, kalo kamu gak bayar, kita siksa kamu setiap hari," ancamnya sambil berlalu.
Sepeninggal mereka aku segera bangkit dan menutup pintu rumah, kupeluk kedua anakku dan mencoba menenangkan mereka.
"Astaghfirullah ... Jangan nangis Nak, kita akan baik-baik saja," ucapku sambil mengelus punggung mereka.
"Kita kembali ke rumah nenek, yuk, Ma, adek takut," ucap si adik dengan sedih.
__ADS_1
"Kita pasti bisa menjalani ini, kita pasti kuat, Mama gak bisa bertahan jika Papa kamu terus membela keluarga dan istri barunya.
"Jadi hanya Tante adelia istri Papa sekarang? Kita ga dianggap lagi."
"Gak tahu ...." Aku hanya menghela napas.
"Iya, kalo papa punya anak lagi, kita gak bisa sama mereka lagi," kata Naila sambil mengusap air mata.
"Sudah sayang, kita gak usah mikir itu, kita bobo aja ya," ajakku sambil membentangkan selimut lalu mengajak kedua anakku meringkuk. Lampu dengan cahaya temaram, suara keramaian di luar dan celotehan tetangga, mengiringi rasa penatku memejamkan mata.
Tadi siang Mas Haris begitu romantis, sore tadi kami masih bersama dalam keceriaan, kini aku meringkuk dalam kamar sempit empat kali tiga meter, memeluk air mata dan sepinya hati. Ya, bukankah Allah bisa membolak-balikkan takdir manusia sekehandakNya? Dan itu terjadi padaku hari ini, Adelia istri muda Mas Haris pasti sedang merayakan keberhasilannya menyingkirkanku dengan cara memanasi hati mertua, tapi tunggu keadaan berbalik.
Keesokan hari setelah kuantar anakku ke sekolah mereka, aku segera mohon pamit ke ibu pemilik laundry dan mengatakan jika tak memungkinkan lagi bekerja karena kininjarak tempat tinggalku ke tempatnya sangat jauh.
Sekembalinya di sana aku menemui Nyai Tima, preman wanita yang punya warung dan memohon izin untuk jadi tukang cuci di warungnya.
Memang awalnya Nyai agak ragu denganku, namun kuyakinkan bahwa aku gak keberatan mencuci piring dan mengantarkan kopi, meski resiko digoda pria centil jadi lebih banyak tapi ah tak akan memperdulikannya.
"Ya, baiklah, tapi gajinya pas pasan, kau mau?"
"Seratus ribu sehari penuh adalah berkah Nyai, asalkan Nyai izinkan saya menjemput anak setiap kali mereka pulang sekolah," balasku.
"Ya, baik kalo begitu, setidaknya kalo kamu denganku aku tahu sejauh mana melindungimu, bagaimana pun kau anak temanku," balasnya.
"Iya, terima kasih, Nyai."
"Oh ya, suami dan mertuamu tak akan mencarimu?"
"Saya tidak tahu nyai, tapi kemungkinannya kecil, sebab Mas Haris sudah beristri lagi."
Wanita bertubuh sedikit gemuk dengan rambut dicepol dan tindikan di telinga itu tertawa kepadaku.
"Kasihan kamu, tapi kamu harus kuat, santai dan bawa bebas pikiranmu biar gak stress," ujarnya.
"Baik, Nyai, saya kerja dulu, kalo begitu," balasku.
"Aku jamin perlindungan padamu, jadi bekerjalah yang benar, dan ya, kalo si Haris mencarimu kemari, akan kupatahkan lehernya."
Aku mengangguk sambil tersenyum dan mulai mengerjakan tugasku.
Lagipula siapa yang berani melawan Nyai dan anak buahnya?
__ADS_1