Petaka Madu Baru

Petaka Madu Baru
dijemput


__ADS_3

Pagi yang damai ketika aku sedang sibuk di dapur Nyai, sebuah mobil berhenti di depan warung kopi yang sudah berdiri sejak 15 tahun itu.


Ketika si pengemudi turun hatiku langsung berdebar dan jantungku seolah berhenti berdetak karena di sana ada Mas Haris dan ibu mertua yang terlihat menatap bingung dan seolah mencari-cari keberadaanku, untuk apa mereka datang dan meluangkan waktu untuk mencariku, apakah mereka akan melempar surat cerai ke hadapanku sekarang?


'Permisi, adakah saya boleh bertanya?" tanya Mas Haris pada Nyai yang kebetulan duduk di meja depan.


"Iya, ada apa," tanya Nyai sambil menyulut batang rokoknya.


"Apakah saya boleh bertemu Laila?"


"Tahu dari mana kalo wanita itu ada di sini?"


"Kami bertanya pada orang yang berjaga di pos depn pasar," jawab Mas Haris.


"Bagaimana kalo aku menolak mempertemukanmu?" aku mencuri dengar percakapan mereka dari dapr warung kopi.


"Sungguh, saya mohon kesempatan, saya mohon," pinta Mas Haris.


"Atas dasar apa aku akan menyetujuinya? kamu pria brengsek yang menelantarkan istri setelah mendapat mainan baru, sana! kembali ke ketek ibumu!"


"Hai, apa yang kamu katakan anak saya datang baik-baik mencari istrinya, kamu ada hak apa melarang mereka berjumpa?" Ibu mertua menuding Nyai dengan jari telunjuknya.


Tentu saja mendapat sikap tidak sopan seperti itu Nyai seketika naik pitam, ia langsung berdiri dan menggapai jari tulunjuk ibuyang lancang menunjuk wajahnya.


"Beraninya kamu? kamu pikir kamu siapa, enyah dari warungku!" ujarnya pada ibu sambil menghempas tangan ibu Mas Haris. .


"Memangnya kamu siapa, hah?" ibu tak kalah kalapnya.


"Aku adalah pemegang pasar ini, kamu ingin menjajal kemampuanku?" tanya Nyai


"Siapa takut," balasnya sengit.


"Tolong hentikan, saya mohon maaf, Ibu, saya ingin mencari isri saya, mohon izinkan saya berjumpa," pinta ayah


Naila dan naina.


"Itu tergantung dia mau menemuim atau tidak, aku tidak mau ikut campur," jawab Nyai.


Nyai kemudian memanggilku dengan suara lantangnya, aku yang setengah malas dan sungkan mau tak mau, muncul dari belakang dan menemui mereka.


"Laila ... kamu apa kabar, aku khawatir sekali, dan mencarimu berhari-hari," ujarnya sambil meraih kedua tanganku.


Ibu mertua terlihat mengerucutkan bibirnya dan sangat tidak suka.


"Aku di sini sekarang, Mas, aku dan anak-anak baik-baik saja, Mas gak perlu khawatir," balasku.


"Kita pulang yuk," ajaknya.


"Gak usah, Mas, aku baik-baik aja, biar di rumah ibu gak harus ada dua kursi yang memperebutkan perhatian dan berujung keributan," balasku.


"Gak, gak akan kayak gitu lagi,aku janji, malah untuk menebus semua itu, aku sudah menyewa rumah untukmu," ujarnya dengan tatapan penuh harap.

__ADS_1


"Iya, padahal gak seharusnya Haris memboroskan uang semacam itu, benar-benar gak masuk akal," gumam ibu mertua yang langsung membuat Nyai ikut sewot.


"Lho ini rumah tangga mereka, biar mereka yang menentukan sendiri, ini ... begini model orang yang bikin rumah tangga anak mantunya gak nyaman," timpal Nyai.


"Kamu juga gak usah ikut campur ...." Ibu mertua mendelik tak suka.


"Lho, kamu pikir kalo bukan aku yang nampung mantu dan cucumu, kamu pikir mereka akan aman sekarang?"


"Saya mohon, Ibu, mohon tenang, saya sedang membujuk istri saya," pinta Mas Haris.


"Kumohon ya, kita pulang, kasihan anak-anak harus terlunta-lunta begini," ajaknya sambil menggenggam tanganku.


"Kamu cuma peduli anakmu? kamu tahu kalo dia terus menangis dan meratap? kamu gak peka!" Nyai kian sewot.


Wajar dia seperti itu, Nyai adalah sahabat orang tuaku yang ketika aku masih kecil ia juga turut menjagaku, jadi, ia pasti peduli dengan keadaanku.


meninggalkan tempat ini, lama-lama Ibu sesak kalau ada di sini," ujar Ibu sombong.


"Hei kau pikir aku suka kau ada di sini, menjauhlah dari warungku."


"Ayo kemasi barangmu, kita pergi," ajak Mas Haris.


"Kamu yakin kita akan menyewa rumah baru?"


"Iya, demi kamu."


*


"Mulai sekarang kamu akan tinggal disini dan aku akan datang menjenguk 4 kali seminggu," kata mas Haris.


"Kata siapa aku sudah setuju dengan idemu Mas?"


"Ya ... kalau kamu setuju pulang denganku Aku sudah bisa menyimpulkan bahwa kamu memberi kesempatan, iya kan?" tanyanya.


"Halah, lebay banget sih dari tadi, buruan aja selesaikan ibu mau pulang," ujar Ibu mertua sambil mengipasi dirinya.


"Iya, Bu, sabar, sebentar," ujar Mas Haris sambil menurunkan koperku.


"Aku sudah meminta seseorang untuk mengantar logistik dan keperluanmu, jadi kuharap, kamu puas."


"Tidak akan ada yang puas,ini terus berlarut tanpa ada penyelesaian."


"Kamu ini maunya apa ya? Kayak serakah banget!" Ibu makin mendelik.


"Aku sudah gagal serakah untuk memiliki cinta suamiku, Jadi mungkin aku bisa menggantinya dengan hal yang lain Bu," jawabku.


"Laila ... Aku tidak ingin kita berdosa,Sayang," ujarnya sambil menyentuh bahuku.


"Baiklah, pergilah Mas, aku akan baik-baik saja di rumah," ujarku.


"Iya, nanti sore aku datang," balas suamiku.

__ADS_1


"Eh, kamu kan harus nganter Adelia kuliah," sergah Ibu.


"Sekembali dari sana Bu ...."


"Tetap aja kamu harus sempatkan waktu ..." Nada ibu merendah namun marah.


"Aku akan mencoba bersikap adil pada kedua istriku, Bu. Jadi mohon ibu mendukungku."


"Selalu, tentu, tapi sebaiknya Dari awal kamu nggak usah mengontrak rumah rumah kita masih luas untuk menampung dia dan anak-anaknya."


"Ibu perlu pembantu ya?" Ejekku halus.


"Siapa bilang? Kamu pikir Ibu sudah renta untuk mengerjakan tugas sendiri dan mengurus rumah? Gak tahu diri kamu!"


"Kalo begitu, Ibu nggak akan keberatan kalau misalkan aku terpisah 'kan?"


Ibu tidak menjawab namun hanya mendengkus sambil menghentakkan kakinya ke lantai paving. Ia geram pastinya.


"Ayo, Haris kita pulang," ajaknya menarik lengan suamiku dengan


Mas Haris terseret, meski begitu ia tetap tersenyum dan melambai padaku.


"Semoga aku bisa mengatasi ini, demi anakku," batinku sendiri.


**


Kelihatannya Nayla dan Naina sangat bahagia ketika aku mengajak mereka pindah dari kos-kosan pengap yang sempit di dekat pasar itu, buktinya mereka bermain riang, sambil melihat bunga-bunga Krisan yang tumbuh bebas di depan rumah.


"Nayla senang karena papa udah jemput kita lagi," ungkap anakku sambil menari gembira.


"Iya aku juga senang," timpal adiknya.


"Baguslah kalo kalian suka, kalo begitu, mama masuk dulu, mau beberes sekalian masak," ujarku sambil membenahi koper pakaian kami.


Kuedarkan pandangan pada rumah berlantai semen sederhana yang sejuk itu, ada dua kamar dan dapur serta satunkamar mandi, dan itu cukup bagiku, kurasa tempat ini lebih damai daripada rumah mertua yang selalu


ramai dan ribut dengan celotehannya.


"Dengan begini aku tak akan terlalu terluka melihat suamiku bersama istri barunya, ah, bodohnya aku, mengapa aku tak minta cerai saja darinya? Apakah begitu besar rasa cinta ini hingga mengalahkan emosiku tempo hari?"


Menatap mata coklat dan senyumnya membuatku luluh, lagipula sulit sekali melupakan atau mengalihkan pikiran dari cinta pertamaku itu. Pernah, dulu sempat berdoa semoga dia menjadi jodohku selamanya, dan itu terwujud, namun aku lupa memastikan pada Tuhan, berdoa agar dia tidak pernah menikah lagi, ah, aku telat, semunyq terjadi.


Soreku ceria dengan tiupan angin dan pemandangan hijau dari lahan kosong yang penuh ilalang, daunnya bergoyang searah tiupan angin menciptakan ombak ombak kecil yang menenangkan mata ketika aku memandangnya.


Hatiku tentram hingga tiba tiba Mas Haris datang, tidak sendiri tapi bersama istri barunya.


Ya ampun, mestikah lagi ...? Duhhhhh.


kalau kalian penasaran silakan lanjutkan cerita dan temukan puluhan karya saya yang sudah tamat dan tidak kalah serunya dari cerita ini di *** app


atas nama akun ria_abdullah

__ADS_1


__ADS_2