
Kabar yang kudengar bahwa kondisi rumah Ibu mertua amat berantakan dan tidak terkendali, dari tetangganya yang sempat berpapasan denganku di pasar, dia menceritakan bahwa akhir akhir ini ibu sering marah-marah di rumah. Bahkan teriakannya bisa terdengar sampai ke rumah pak RT.
Aku yakin, ia sudah kesal dengan menantu dan anaknya yang tidak bisa mengambil alih tugas-tugas yang dulu kulakukan.
"Rasakan sekarang," gumamku tersenyum puas.
Percuma Adelia cantik jika tanpa kemampuan memasak atau membersihkan rumah, lama-kelamaan Mas Haris akan bosan dengan tipikal manusia seperti ini. Aku tahu persis bagimana sikap suamiku yang amatencintai kebersihan dan makanan lezat. Tanpa kedua hal itu, kenyamanan hidup Mas Haris seolah terenggut.
*
Baru saja aku kembali dari pasar ketika kudapati Ibu mertua sudah berdiri di belakangku dan berkacak pinggang.
"Ibu ....apa yang ibu lakukan di situ, mengapa ibu ga masuk?"
"Ga usah sok baik, aku datang melihat kamu yang katanya udah beli motor baru," jawabnya sambil menelisik body motorku.
"Iya, benar, tapi tepatnya itu dibelikan, Alhamdulillah."
"Pasti Haris amat terbebani ketika kamu meminta motor, kamu tahu bahwa ia harus memberi ibu uang, membiayai dua istri dan dua anak," gumamnya sambil mencebik kesal.
"Aku sih, ga ada urusan Bu, itu sudah resiko karena dia yang memutuskan untuk menikah lagi, padahal sebenarnya, tanpa menikah lagi dia sudah bahagia."
"Halah kamu ...." Ibu jelas kehabisan kata kata.
"Lho, iya kan Bu, buat apa dia nikah, dia sudah punya istri dan anak yang mengurusinya, jika ibu menikahkan merekahaya karena melihat harta ayahnya sudah berapa Ibu mendapatkan uang dari mereka?"
Pertanyaanku nampaknya langsung menohok hati Ibu. Dia ternganga dan terdiam tanpa bicara.
"Kanu kok ngomong gitu, sih?" tanya ibu dengan wajah tak suka.
"Ibu tahu sendiri kalau kami sudah bahagia, Kenapa Ibu harus menghadirkan Adelia diantara kami? Itu sudah merusak kebahagiaan kami, termasuk kebahagiaan anak-anak kami," jawabku sambil menerawang jauh.
"Baiklah, aku minta maaf untuk itu, tapi sebesar apapun kesalahanku, kau tidak pantas untuk menghakimi bahwa Adelia tidak pantas berada di antara kamu. Dia gadis yang baik dan lembut dan ibu menyayanginya."
"Iya tentu dengan terang-terangan ibu menunjukkan bahwa Ibu menyayanginya. Jadinya aku tidak berdaya untuk mengharap lebih banyak dari ini."
"Kau sudah dapat kan motor dan rumah, kau sudah bebas dari tugas untuk mengurusiku dan rumahku, jadi kau pasti bahagia sekarang."
__ADS_1
"Alhamdulillah, Bu. Setidaknya aku merasa ringan."
Mendengar itu ia hanya mendesis sambil mengangkat sebelah bibirnya, terlihat jelas bahwa dia tidak suka dengan jawabanku, mungkin dia akan lebih tidak suka lagi bahkan sesak napas jika aku mengatakan bahwa ayah mertua yang telah memberikan motor itu kepadaku dan dibayar dengan kontan.
"Berapa harga motor itu?" Tanya ibu sambil memperhatikan motor N-max yang terparkir dan terlihat masih baru.
"Aku kurang tahu Bu, Ayah yang telah menghadiahkanku."
"A-ayah?" tanyanya dengan ekspresi terkejut dan membulatkan mata.
"Iya ayah mertua yang telah membelikanku, Dia memberikan motor itu sebagai hadiah untuk kedua cucunya, agar aku bisa mengantar jemput mereka dan mengajaknya jalan-jalan."
"Berani sekali dia mengambil keputusan, tanpa bertanya atau memberitahuku," desis Ibu dengan kesal.
"Kenapa Bu, Ibu terlihat tidak suka, ada apa?"
"Apakah kamu yang meminta ini kepada ayah?"
"Enggak juga."
"Jangan-jangan apanya Bu? Ayah sudah memberikan motor lalu pergi, aku berterima kasih untuk itu."
"Tapi seharusnya kamu tidak perlu meminta hal-hal yang berat seperti ini, kamu tahu kondisi keluarga kita."
"Aku tidak pernah memaksa Ayah atau memintanya. Dia memberikanku dengan sukarela dan siapa yang mau menolak rezeki?"
"Aku tahu persis bagaimana sifatmu, bagaimana sifat suamiku. Dia tidak akan mau membelanjakan uang dengan sembarangan kecuali terpaksa," jawabnya dengan tatapan tajam.
"Sesekali kadang manusia bisa berubah, Bu. Mungkin Ayah turun iba kepadaku karena melihat aku harus berjuang sendiri untuk kedua cucunya," balasku.
"Oh, bukankah Harris masih menafkahi kalian? Jangan bersikap seolah-olah bahwa kau sudah janda," desisnya cemberut.
"Dia memberiku uang namun uang yang diberikan sangat terbatas Bu, Ibu tahu sendiri bahwa penghasilan Mas Haris tidak begitu besar dan ia harus membagi empat, jatahku, Adelia, ibu dan untuk dirinya sendiri, kurang lebih sama Haris tidak cukup untuk menutupi pengeluaran kami sebulan."
"Memangnya kamu belanjanya seberapa banyak sih? Kok kamu jadi boros gini?" Iya bangkit sambil berkacak pinggang dan terlihat murka sekali.
"Loh ibu, Kenapa Ibu bersikap seolah-olah Ibu tidak pernah mengatur pengeluaran rumah tangga. Beras satu karung kecil saja sudah sangat mahal, belum lagi sembako, belanja anak, lauk pauk, hingga uang jajan mereka ke sekolah, Apakah ibu tidak mentotalkan itu untuk pengeluaran satu bulan?"
__ADS_1
"Tetap saja ...!" Dia tidak melanjutkan kata-katanya.
"Kenapa Ibu tiba-tiba marah? Apakah ibu tidak suka jika matahari dan ayah menafkahiku? Lagipula posisiku adalah sebagai anak dan menantu, Aku tidak pernah memaksa mereka melainkan mereka sendiri yang memberikannya dengan sukarela."
"Dan kau lancang menerimanya!" tudingnya sambil menunjuk wajahku dengan jari telunjuk.
"Berhentilah bersikap keterlaluan ibu, Aku lelah diperlakukan dengan tidak manusiawi dan kasar," ujarku sambil menurunkan tangan ibu yang menunjukkan.
"Oh, berani kamu ya?" Nafas dan dada Ibu terlihat turun naik menahan emosinya.
"Aku nggak mau melawan ibu, tapi Ibu pun jangan keterlaluan kepadaku. Aku juga manusia yang punya perasaan dan hati. Aku lelah diperlakukan dengan kasar," jawabku keras.
"Kamu memang kurang ajar dari dulu! Aku sangat membencimu dan itulah sebabnya aku menyuruh hari untuk segera menikah lagi!" teriaknya dengan maksud untuk menarik perhatian tetangga dan orang-orang yang lewat di sekitar rumah.
"Tolong berhentilah mempermalukanku, Aku sudah lelah dirundung oleh ibu setiap waktu, seharusnya seseorang memperlakukan menantunya seperti seorang anak, Tapi selama ini ibu selalu memperlakukanku dengan tidak adil. Mana ada seorang wanita yang suaminya direbut, harus duduk dan merelakan dengan lapang dada, terlebih lagi dia harus menyingkir dari kamarnya sendiri, dan tidur di gudang memeluk anak-anaknya," jawabku yang sukses membuat Ibu terbelalak karena balik merasa malu.
"Diam dan jangan mempermalukanku!"
"Maka, berhentilah menggangguku, Ibu tidak berhak melakukan ini karena seperti apapun aku adalah menantu ibu dan aku juga anak dari seseorang. Aku tidak bisa menerima ini lebih jauh lagi," jawabku sengit sambil masuk ke dalam rumah dan menutup pintu dengan keras.
"Dasar nggak tahu malu, kalau bukan aku yang menerimamu yang miskin itu sebagai menantu, Aku yakin tidak akan ada yang mau memungut mudah memasukkanmu ke dalam keluarga mereka."
"Aku juga tahu diri dan tidak mengambil kesempatan untuk memanjakan diriku sebagai menantu, sebaliknya aku lebih terlihat seperti pembantu daripada istri dari anak seseorang!" teriakku dengan kesal dari dalam rumah.
"Dasar gak tahu malu, dasar miskin gak tahu diri, kau sudah memeras anak dan suamiku!" teriaknya yang mengalihkan beberapa perhatian orang dari jalan.
"Bukan salahku jika aku dengan dicintai oleh suami dan mertuaku, Apakah kamu tidak suka ibu? Jika memang begitu jujur saja bahwa Ibu sangat iri. Iri, bilang bos ...."
Ibu menggeram, menghentak kakinya ke tanah dengan kesal, ia mengambil sebongkah batu lalu melemparkannya ke arah pintu rumahku.
Meski suara batu berdebum aku tidak memperdulikannya.
"Lihat Apa yang bisa kulakukan," ancamnya.
"Jangan datang lagi ke rumah ini aku tidak sudi lagi bertemu dengan ibu!"
Ingin sekali kukatakan di depan wajahnya, bahwa Ayah sudah punya wanita baru dalam hidupnya, Aku yakin dia akan mati berdiri karena terkena serangan jantung.
__ADS_1