
Hari ini tanpa kusangka Mas Haris datang menjemput ke tempat kerja aku di laundry,bukan hanya datang sendiri tapi dia juga membawa anak-anakku yang ketika bertemu denganku mereka sangat gembira dan langsung memeluk seolah sudah lama tidak berjumpa.
"Kok tumben, Mas datang jemput aku?"
"Pengen aja jemput kamu," balasnya.
"Iya tapi jarak dari sini ke rumah kan dekat, apa nggak lebay?"
"Jemput istri sendiri kok lebay, sih?" Ia balik tertawa sambil menggelengkan kepala.
"Mama kita mau jalan-jalan," kata Nayla dengan bersemangat.
"Iya, Kita mau ke taman bermain," seru Naina bertepuj tangan dan setengah melompat.
"Tapi mama masih belum mandi yang belum ganti baju," ujarku ragu.
"Apa-apa, toh, orang lain tidak akan memperhatikan penampilanmu, yang memperhatikan kamu pastinya hanya aku," ucap Mas haris sambil mengerlingkan mata.
"Mas ... Kamu ada apa sih? tidakkah Adel akan cemburu kalau kamu seperti ini?"
"Aku sudah menghabiskan 3 minggu berbulan madu dengannya, kamu juga istriku dan berhak untuk waktuku," jawabnya.
"Apakah itu artinya kamu sudah bosan dengan Adelia?"
"Tidak bukan begitu, aku hanya mencoba untuk adil kepada kalian," jawabnya.
"Menurutmu ini definisi adil Mas?"
"Belum juga, aku berusaha saja," balasnya.
"Ayo dong Bunda Ayah nanti taman bermainnya tutup," ajak kedua anakku.
"Ayo," seru Papanya dan kami segera berangkat.
Apakah ini awal Yang baik bagiku Aku tidak tahu mungkinkah ini adalah titik balik dari hubungan kami yang sempat beberapa hari yang lalu terasa hambar? aku pun tidak tahu, sudah begitu berat hari-hari yang kulalui setelah pernikahannya, kesepianku, sikap anggota keluarganya,dan cibiran orang lain ketika aku keluar dari rumah.
"Lihat tuh suaminya kawin lagi," ujar sebuah nada sumbang.
"Pasti dia nggak beres melayani suaminya sampai dimadu, dan dikumpulkan dalam satu rumah," timpal yang lain.
Hati ini merasa sedih mendengarnya tapi apa daya hanya mampu memadamkan mata sambil menggenggam kan tangan berharap sebuah kesabaran tumbuh dan menguat di dalam dada.
Kini dia menjemputku dan mengajak kami ke taman hiburan, apakah dia tulus atau hanya sebuah modus untuk mengelabui perasaanku? aku sendiri tidak bisa menebaknya.
"Kok, kamu diam aja, Sayang?" Tanya Mas Haris ketika mobil perlahan meluncur membelah jalanan sore.
"Nggak ada Mas," jawabku menggeleng pelan.
"Aku merasa kalau kamu meragukanku," ujarnya sambil tersenyum.
"Iya jujur saja, bagaimana tidak Mas, kemarin kamu masih mengacuhkanku dan bermesraan dengan istrimu, bagaimana aku bisa menerima itu dengan mudah," ujarku pelan.
"Maafkan aku," ujarnya sambil menggenggam tanganku.
"Pernikahanmu yang kedua bukanlah hal yang bisa kuterima dengan lapang dada, setiap waktu aku berusaha bertahan dengan perasaan sedih dan air mata,kamu bisa bayangkan jika orang yang kamu cintai harus membagi cintanya kepada hati yang lain, itu sakit."
"Maafkan atas ketidak-pekaanku," bisiknya.
__ADS_1
"Seharusnya aku menggugat perceraian, tapi apa daya kedua anak itu akan jadi korban." Aku menerawang sembari melihat pantulan anakku dari kaca depan.
"Jangan lakukan itu, Laila," pintanya memelas.
"Aku belum melakukannya kan?" Aku tertawa getir.
"Aku memiliki tanggung jawab yang besar untuk menjagamu dan dia, tidak ingin membuat kalian terluka, Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk membuat kalian bahagia," ujarnya sambil membelokkan kemudi mobil.
"Pernahkah Mas merasa sepanjang hari adalah sebuah kepahitan, pernahkah Mas merasa hampa dan kehilangan harapan."
"Maaf jika aku telah membuatmu merasa demikian," ujarnya dengan tatapan yang penuh rasa bersalah.
Anakku bermain dengan ceria dan gembira di wahana taman bermain, mereka begitu menikmati kebersamaan dengan kedua orang tuanya, seolah tidak terjadi apa-apa, mereka tak menyadari bahwa mulai sekarang semunya sudah berbeda.
Dan jika Adelia punya anak, semunya makin berubah.
**
Kami kembali ke rumah, setelah puas di taman bermain menghibur anak anak.
Baru sampai di depan gerbang maduku terlihat berdiri dengan raut tak suka.
"Eh, Adelia, kamu di sini?" tanya Mas Haris ketika turun dari mobilnya.
"Mas dari mana?"
"Dari nganter anak-anak main," jawab Mas Haris sambil tersenyum.
"Oh," jawabnya singkat namun ia tak mampu menyembunyikan raut cemberutnya.
"Ayo masuk anak-anak," ajak Mas Haris dan kedua anakku yang menenteng balon dan mainan di kedua tangan mereka menurut dengan gembira.
"Kemana kalian sepanjang hari, baru oulang malam ini?" tanya Ibu.
"Ngajak anak main, Bu."
"Kamu tahu kan, kalo kami susah cemas nungguin kalian."
Hah, cemas? sejak kapan? apakah Mas Haris anak kecil yang pantas dicemaskan? apa karena dia bersamaku jadi mereka sekeluarga cemas? tapi Mas Haris suamiku, tidak bolehkah? aneh!
"Dan kau, sejak pagi tadi gak pulang, rupanya langsung sama Haris," tuding ibu padaku.
"Lho, memangnya kenapa, Bu, sesekali saya boleh kan keluar bersama suami dan anak," tanyaku.
"Iya, boleh sih boleh, tapi gak gini juga, gak ada kabar, rumah terbengkalai dan segalanya berantakan."
"Ibu, saya ini menantu atau pembantu? Andai saya dan Adelia setara mengapa ibu begitu tak suka kalo saya dan Mas Haris bersama?"
"Eh, jangan sembarangan, berani sekali kamu membandingkan diri, andai aku tak restu mustahil kamu punya anak!" teriaknya lantang.
"Ibu ... Aku tahu aku miskin, mohon, aku tidak minta apa-apa, setidaknya sekali saja, ber aku kesempatan bernapas ibu," ujarku sambil menahan air mata.
"Kamu jangan cari muka di depan Haris!"
"Untuk apa, Bu, hidup saya sudah sangat pahit, saya harus merelakan suami dengan lapang dada, bahkan mereka berdua bermesra di depan saya, saya menahannya, tapi bisakah ibu atau anak ibu merasakan posisi saya?"
"Enak aja," ujarnya.
__ADS_1
"Ibu tidak rela kan, begitu juga saya," ujarku dengan iar kata berderai.
"Gara-gara kamu, Adelia gak bisa dijemput dan telat pulang," teriakknya.
"Kenapa gak naik taksi online, selama ini saya gak diantar jemput kemana mana oleh mas Haris," jawabku.
"Kamu benar benar melawan, pergi kamu dari sini, menantu sialan!"
"Ih, baik, kalo ibu mengusir saya ga masalah, saya akan pergi," ujarku sambil merangsek masuk ke kamar dan mengemasi barang-barangku.
Aku keluar dengan emosi laku menyeret koper dan benda benda milik anak-anak.
"Kata siapa kamu boleh bawa cucuku?!"
"Aku berhak karena aku sudha bertaruh nyawa demi membawa mereka ke dunia, ibu ingin mencegahnya silakan, tapi bunuh saya dulu," teriakku.
"Laila tenangkan dirimu," ujar Bapak mertua yang timbul dari musallah.
"Tidak ayah, aku lelah, aku sudah capek aku akan pergi," balasku.
menghadangku.
"Kamu juga gak berhak, Mas! Seperti kamu gak bisa dicegah menikah lagi, aku pun tak bisa dicegah untuk pergi. Aku akan memperjuangkan hidupku dan anakku dengan layak, kalian semua ganbisa mencegah."
"Duh, Mbak Laila tenang dulu deh," ucap Rika adik Mas Haris ia berusaha menarik kedua anakku.
Namun untungnya Naila dan Naina langsung menolak dan beralih ke belakangku.
"Mama ... gak mauuu ...."
"Ayo kita pergi, Nak," ajakku sambil memegang tangan anakku.
"Tunggu kamu, lancang sekali kamu," ujar Ibu yang menarik bahuku dan berusaha memukulku.
Aku sigap menangkis pergelangannya.
"Cukup! Aku bukan menantu atau budakmu lagi, tidak lagi-lagi," teriakku sambil menghempas tangan itu.
"Kalo ibu berani mencegah atau mengusikku aku tak akan tinggal diam, taruhlah kalian keluarga kaya dan banyak koneksi, tapi aku tak akan lemah" teriakku dengan wajah memanas oleh amarah.
Tetangga keluar semua dari rumah mereka, menonton adegan yang cukup memalukan ini,
Ah, aku sudah tak peduli.
"Eh ada apa, ini?"
"Saya pamit, Bu, saya lelah jadi pembantu," jawabku sambil berlalu.
"Berani sekali kau iblis betina, enyah kamu! Pergi, setan alas!" Umpatnya namun aku tak ambil pusing. Kemana pun aku pergi sekarang, aku tak lagi mau terhubung.
"Laila tunggu ...." Mas Haris mengejarku.
"Izinkan aku berpikir, berikan aku jeda, pergi dan kembali ke rumah atau kau tak akan melihat kami lagi," ujarku dengan tatapan dingin.
Kubalikkan badan lalu pergi sedang suamiku tak sanggup mengatakan apapun selain bergeming di tempatnya.
Aku lelah, dan puncak semua ini, aku muak dengan mereka semua!
__ADS_1
"Jangan Laila," ujar Mas Haris berusaha