
Aku tak menegurnya, tidak ingin membuang waktuku aku tak mau banyak bicara, ia masuk dua jam setelah kejadian tadi ke kamar dan berdiri di depanku namun dia membisu.
Aku mengacuhkannya dengan tetap sibuk membimbing anakku belajar sedang dia membisu, mungkin tak menemukan cara memulai kata kata.
"Apa yang kamu lakukan berdiri di situ?"
"mencari baju," ujarnya.
"Mana mungkin baju di dalam lemari akan keluar sendiri kalau tidak dikeluarkan," sindirku.
"Kalau begitu kamu saja yang mengeluarkannya," pintanya.
" Maaf aku sedang daring dengan anak-anak sehingga tidak bisa bangun sembarangan meninggalkan video call mereka."
"Besok kamu mau pergi kerja lagi ya?"
"Yah tentu aku tidak akan menyerah di hari pertama," jawabku.
"aku masih berharap bahwa kamu akan menjadi ibu rumah tangga yang baik untukku tidak perlu merepotkan diri bekerja. Aku masih sanggup menafkahi kalian semua."
"Kamu punya istri sekarang Mas, tanggung jawab mu dua kali lipat dari sebelumnya, jika kami makan maka dia pun harus makan. Jika kami dibelikan pakaian maka dia pun harus begitu," ucapku.
"Sebenarnya yang ingin aku ketahui adalah, masihkah kamu mencintaiku Laila?"
Mendengar pertanyaannya yang aneh aku agak sedikit bingung jawabnya.
"Tentu masih Mas, namun ada beberapa hal yang membuatku memutuskan untuk tidak terlalu mendekatimu sekarang," ucapku sambil tetap membantu anak-anak mengerjakan tugasnya.
,"Kamu ingin memberi jarak ke hubungan ini?"
"Biarkan aku berpikir dan memutuskan ...."
"Aku hanya tidak ingin keputusanmu merugikan kita semua, intinya aku tidak ingin bercerai," balasnya dengan tatapan mata yang begitu dalam.
"Bagaimana caraku untuk membahagiakanmu Laila?"
"Kamu sudah merenggut kebahagiaan dan senyumku bagaimana kamu bertanya kalau aku masih bisa bahagia? Itu mustahil."
"Tidak adakah cara untuk memberiku sebuah kesempatan untuk dimaafkan,aku sungguh mohon," pintanya.
"Bangun dan pergilah kekamar istrimu aku tidak bisa mengajakmu tidur di sini karena kami akan belajar online."
"Aku ingin menebus maaf darimu, Laila," ujarnya tiba tiba menjatuhkan diri di kakiku.
"Jangan begini, Mas, aku gak mau, kamu sudah bahagia dengan si Adelia, jangan mengemis cinta padamu." Aku mendorongnya dan menyuruhnya bangkit.
"Tapi kau istri pertamaku, kau orang pertama yang kucintai."
"Kini cintamu sudah terbagi Mas, tak lagi utuh untukku, apa yang bisa kuharapkan mengandalkan setengah cintamu, Mas?"
,Maafkan aku ...." Pria itu mendekat lalu memelukku, tubuhnya bergetar seolah membahasakan sebuah penyesalan.
"Ampuni aku, Laila, maafkan aku, aku sungguh tak ingin karena cemburu dengan Adel kamu lantas menyerah, aku sungguh takut."
"Maka, bergantianlah, Mas, perjuangkan aku sebagai istri yang pantas kamu perjuangkan, jangan sampai aku bosan dan lari,". Jawabku dingin.
"Jangan ... Jangan Laila, aku tak sanggup kau begini," ujarnya.
__ADS_1
"Dengar Mas, ...." Posisi kami saling berhadapan.
"Aku tak pernah suka dan setuju dari lubuk hati terdalam, aku tak ingin membagi perasaan dan cintaku pada wanita lain, entah kenapa kamu dan ibu tak menghiraukan penolakanku."
"Aku juga tak berdaya dengan perintah Ibu ...."
"Apa yang ibu inginkan? Dia ingin uang dari keluarga gadis itu kan? Itulah sebabnya ia sangat memuliakan Adelia sedang aku dianggap sampah."
"Tidak juga Laila, kami juga sayang padamu," ujarnya sambil membingkai wajahku dan menatap mata ini, berusaha menyakinkan.
"Enggak, Mas, kalo kamu mau bukti, lihat saja kondiri kami saat ini, dulunya tidur di springbed sekarang hanya beralas karpet, dulu aku menggunakan perhiasan, namun sekarang malah perhiasan itu dipinjam untuk menikahkanmu dengan wanita baru, hatiku hancur. Kalo mau, aku akan lari saja, Mas, tapi aku kasihan pada anakku," jawabku pelan.
"Jangan menyerah, jangan menyerah untuk mencintaiku, Laila, adelia belum tentu sebaik kamu, sayang," ujarnya sambil mengecup keningku.
"Pergilah ke kamar Adel, kami akan tidur."
"Tidak, malam ini aku akan tidur denganmu," balasnya sambil merebahkan diri.
"Kenapa?"
"Aku merindukanmu."
*
Keesokan harinya,
Pagi-pagi sekali, ketika kubuka pintu kamar mertua dan adik-adik iparku sedang beghibah ria di ruang tivi yang tak jauh dari arah pintu kamarku, tak lama kemudian Adelia turun dan membuat drama kehilangan suami.
"Bu, Mas Haris semalam kemana ya?" tanyanya.
"Kurang yakin sih, Bu, tapi ...." dia memberi isyarat dengan anggukan dagu ke arah kamarku dan sialnya dia langsung bersitatap denganku, tentu reaksinya gugup dan salah tingkah.
"Eh, Embak, aku ...."
"Kenapa?" tanyaku dingin.
Hari ini, pertama kali dalam hidupku, bangun kesiangan. Kuedarkan pandangan dan aku hanya manpu menghela napas pelan.
Rumah masih berantakan, sarapan belum terhidang dan jangan tanyakan kondiri dapur yang sudah tak terarah lagi bentuknya.
Cucian piring memenuhi wastafel, tumpukan lap, makanan sisa di panci dan kuali yang kotor dan dikerubungi lalat.
Aku hanya mendesah pelan sambil mengucapkan istighfar. Kuraih gelas lalu mengarahkan ke dispenser dan meneguknya segera.
"Lihat kondiri rumah tanpa kamu," gumam ibu yang datang menghampiri.
"Iya, Bu, mau bagaimana lagi," ujarku sambil membuka lemari dapur dan mengeluarkan dua bungkus Indomie, lantas mengambil panci untuk menjerang air.
"Kamu gak masak sarapan?"
"Aku lelah Bu," ujarku tanpa dosa. Sesekali aku juga mau jadi menantu manja yang apa-apa tinggal beres dan dilayani.
"Apa?!" Ia melotot dan aku mengernyit, ia hendak marah dan bersiap mengangapkan mulutnya namun urung, hanya bisa mengurut dada dan tersenyum.
"Lho, kenapa?"
"Aku akan masak sarapan untuk anak, Mas Haris akan dibikinin Adelia dan aku berangkat kerja sekalian nganter anak," jawabku.
__ADS_1
"Kamu gak mikirin ibu lagi yang sudah tua dan tidak bisa mengerjakan semua ini,. Haruskah ibu menjadi pembantu di rumah sendiri?"
"Apa ibu selama ini menganggapku ... atau, haruskah aku jadi pembantu di rumah mertuaku sendiri?" jawabku membalik ucapannya.
"Aku tak pernah menganggapmu demikian," jawabnya.
"Baiklah, karena ada Adel juga, ibu bisa panggil dan suruh dia membereskan ini semua, sekalian bikinin ibu sarapan."
Aku berlalu.
"Ta-tapi dia gak bisa ...."
"Kapan mau bisa kalo gak diajar, Bu?"
Aku tertawa kecil lalu memanggil kedua anakku untuk sarapan.
Ibu mertua kembali ke ruang keluarga dan terduduk lemas di sofa, sementara dua adik Mas Haris menatap tanpa kata, Adelia ... Dia hanya berdiri dengan kondiri bingung dan masa bodoh dengannya.
*
Mas Haris sudah berpakaian rapi, dan tumben hari ini ia bersikap sangat manis, tanpa menyusahkan dia hanya minta dibuatkan mie instan dan langsung duduk menikmati sarapannya, ibu mertua terbelakang tahu anaknya makan makanan yang menurutnya tak sehat.
"Haris ... kamu makan mie?"
"Iya, Bu, gak apa kan? Aku gak mau nyusahin Laila," ujarnya yang membuat ibu mertua makin menelan ludah.
"Ta-tapi kamu jarang lho makan makanan ginian," ujar ibu keberatan.
"Gak apa-apa Ibu."
*
"Mas, kamu anterin aku kuliah kan?" ujar wanita muda itu sambil cemberut dan setengah menghempas tas beriri buku ke depan suami kami.
"Oh, kamu bareng Salwa aja, aku mau nganter Nayla dan Naina ke sekolah," jawabnya.
"Ya, sekalian aja, Mas," lanjutnya.
"Tapi kan berlawanan arah, kalo harus nganter salah satu yang lain terlambat mana suka macet lagi ...."
Wanita itu membuang muka dan seperti biasa ia menggunakan senjata khas seorang wanita, air mata.
Namun sepertinya itu tak mempan pada Mas Haris terbukti ia tersenyum saja sambil membujuk nanti sore dia akan menjemputnya, tapi kelihatannya hal itu tak cukup membuatnya terhibur.
Aku yang memperhatikan sambil memakaikan anak sepatu, tak jauh dari mereka hanya tertawa jahat.
Mungkin saat ini dia digelayuti rasa cemburu, ya, supaya tahu inilah rasanya bersuamikan suami orang. Welcome to the reality, Babe.
Ha ha ha.
Kami berangkat naik mobil Mas Haris sedang dia berdiri menatap nanar sembari menunggu adik iparku mengeluarkan motornya.
"Da ... daaah,Tante," ujar anakku sambil tertawa dan ia hanya menggigit bibirnya sebelah.
Sepertinya dia harus menyiapkan cadangan bibir karena mulai sekarang ia akan lebih sering melampiaskan kekesalan di sana.
Hahaha.
__ADS_1