Petaka Madu Baru

Petaka Madu Baru
semakin


__ADS_3

Semakin hari tingkah Ibu semakin keterlaluan, dia sengaja mengobarkan kebencian kepada maduku dan membuat Adelia terus-menerus datang dan memprotes bahwa Mas Haris lebih banyak bersamaku.


Mas Haris sampai kewalahan tidak tahu harus berbuat apa pada sikap dan tindakan Ibu mertua. Karena di sisi lain Adelia juga mulai menangis dan menunjukkan protesnya.


"Apa yang harus aku lakukan Laila? Kalau ingin memilih jujur aku tidak bisa memilih antara kalian karena bagiku kalian memiliki porsi dan derajat yang sama di dalam hati,' keluh suamiku malam ini. Dia memang menginap bersamaku.


"Meski begitu kecemburuan tetap ada Mas, aku pun juga merasa cemburu ketika kau berkata dengan dia, lama-kelamaan hatiku menjadi terbiasa dan sekarang aku sudah tidak perduli."


"Apa kau kehilangan cinta?"


"Tidak, cintaku tetap sama, mungkin karena kau juga sering datang kemari aku tidak merasakan kata lagi."


"Aku resah, Laila Aku ingin sekali kalian berdua bisa dengerin ikut itu juga Ibu bisa menyayangi kalian dengan porsi yang sama. Namun ternyata sulit sekali untuk bisa mengkondisikan sebuah keadilan."


"Aku akan selalu mendukungmu Mas, tapi hanya satu harapan yang aku mau, kuharap ibu dan Adelia tidak terus-menerus datang dan protes bahkan mengajakku bertengkar, aku malu pada diri sendiri dan orang-orang di sekitarku."


"Aku akan bicara pada ibu agar dia tidak melakukannya lagi," imbuh Mas Haris sambil memelukku dan mengajakku merebahkan diri.


**


Aku sudah pulang dari mengantarkan dagangan ke pelanggan ketika ayah mertua datang untuk menemui anak-anakku.


"Assalamualaikum," siapa pria yang di usia tuanya masih terlihat cukup tampan dan rapi.


"Waalaikumsalam, Ayah," jawabku sambil menyambut uluran tangannya dan menyalaminya.


"Ayah ingin bicara sesuatu kepadamu," ucapnya sambil mendudukkan diri di kursi tamu milikku.


"Iya silakan ayah ada apa?"


"Saya memutuskan untuk menikahi janda itu, bukan Karena kecantikannya saja tapi lebih kepada rasa ingin melindunginya."


Dalam hati aku menggumam, "Bagaimana mungkin dia tidak tergoda karena fisiknya, di mana-mana pria juga sama ketika melihat wanita yang menggoda."


"Oh ya benarkah ayah? Lalu apa yang harus aku lakukan?"


"Aku ingin kau membantuku untuk persiapan pernikahan dan berdiri disampingku sebagai keluarga dari pihakku."


Kurasa itu tugas yang cukup berat karena ibu akan semakin memusuhiku jika tahu. Namun di sisi lain ini adalah kesempatan untuk membalas perbuatan yang telah menikahi suamiku dengan paksa. Maksudku dia telah menekanku untuk setuju Mas Haris menikahi anak orang kaya.


"Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan ayah," jawabku.


"Lakukanlah Itu demi permintaan ayahmu ini," bujuknya.


"Tapi ayah, Aku hanya takut dengan reaksi ibu," jawabku pelan.

__ADS_1


"Dia tidak akan pernah tahu, jika kita tidak memberitahunya, lagi pula lokasi dari pernikahan itu akan jauh dari tempat ini," ujarnya sambil membenarkan kacamatanya.


Tua-tua masih memikirkan kenikmatan duniawi, ah.


"Kayaknya aku nggak bisa, Ayah, terlalu berisiko, jika Ibu tahu ibu akan semakin memusuhiku."


"Dia tidak memusuhimu kok, dia hanya punya sedikit sentimen saja, Aku harap kau memakluminya Laila."


.


"Iya, sentimen itu adalah ketidak-sukaan ayah, dan aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya mengambil hati ibu. Terkadang kekesalanku juga mencuat dan membuatku tanpa sengaja menjawab dan melawannya."


"Iya, aku paham, aku mengharap kau maklum saja kepada sikap ibu mertuamu."


"Iya, ayah."


"Tolong bantulah Ayah pergilah bersama ayah ke hari pernikahan nanti, aku akan memberikanmu tambahan modal."


Di mana-mana jika hal menyangkut uang pasti sangat menarik, jadi aku memutuskan untuk menyiapkan keinginan mertuaku itu. Aku juga ingin sekali melihat bagaimana ekspresi Ibu ketika tahu suami yang sangat dia cintai tiba-tiba menikah lagi, ah, amazing.


*


Hari pernikahan pun tiba, tanpa memberitahu siapapun aku aku bersiap-siap pergi bersama kedua anakku untuk mendampingi Ayah sebagai pihak keluarga beliau disebuah ballroom hotel yang cukup terkenal di kota ini.


Gerah habis pikir juga kenapa harus dilaksanakan di sebuah hotel padahal mereka juga pasangan yang tidak muda lagi, mungkin Ayah harus menuruti hasrat calon istrinya, entahlah yang pasti aku tidak habis pikir sekaligus beli dengan tingkah orang tua zaman sekarang.


"Ya Ayah, aku sudah siap sedang menunggu taksi online yang akan membawa kami ke tempat itu."


"Aku merasa gugup menjelang akad nikah ku, kuharap semuanya berjalan lancar."


"Amin, Ayah tenang saja," ucapku sambil menatap telepon dan tersenyum puas melihat baju baru yang aku kenakan dan baru saja kubeli dari uang pemberian ayah.


Ya, Ayah memberiku uang yang cukup banyak untuk menutupi modal usaha dan belanja kami sehari-hari, jadi aku akan menyimpan sisanya dengan baik.


Menggunakan loker aku meluncur bersama kedua anakku, Kami sampai tepat di saat acara akan dimulai.


Banyak bertanya anak-anakku juga terlihat gembira dan manis sekali di hari pernikahan kakek mereka, praktis acara berjalan lancar hingga selesai. Sampaikan berpamitan dan Ayah hendak menghabiskan bulan madunya dengan istri baru di hotel tersebut.


"Ayah aku pulang dulu, nikmatilah bulan madu ayah dan bergembiralah," ucapku saat itu sambil menyalami dia dan istri barunya yang terlihat cukup cantik di umur 40 tahun.


"Diana terima kasih sudah datang dan menemaniku."


"Nikmatilah hari bahagia ayah dan jangan lupa untuk segera pulang sebelum Ibu curiga," ucapku setengah berbisik ditelinga ayah.


"Baik terima kasih."

__ADS_1


Aku tidak habis pikir seorang bisa melangsungkan pernikahan lagi tanpa izin istri tua, Apa mungkin Ayah memalsukan statusnya menjadi seorang duda? Entahlah aku tidak mau memikirkannya karena itu bukan urusanku. Yang aku tahu aku hanya mendapatkan uang dan itu saja.


Hidup zaman sekarang harus lebih realistis dan memanfaatkan peluang apapun peluangnya, lagipula secara langsung aku tidak merugikan siapapun, kurasa fair saja, toh, ayah yang akan menjalani dan mengatasi masalahnya sendiri.


**


Di hari berikutnya, ibu tiba-tiba datang lagi masih dengan ekspresi dan wajah yang sama, bengis dan murka.


Tanpa salam atau banyak bicara dia masuk ke dalam rumah dan langsung menjatuhkan dirinya di kursi.


"Ada apa Bu?" tanyaku.


"Aku ingin mulai sekarang kau menceraikan Harris, Aku ingin kau meninggalkan aku karena sekarang Adelia sudah hamil." Dia mengatakan itu tanpa ekspresi dan basa basi, benar-benar Wanita berhati dingin.


Jujur dadaku sakit mendengar itu, entah benar atau tidak secara tidak langsung hal demikian akan menciptakan jarak antara Mas Haris, aku dan kedua anakku.


"Oh ya, selamat kalau begitu."


"Aku tidak mencari ucapan selamat, yang aku inginkan adalah kau segera menceraikan anakku, karena aku ingin dia fokus kepada keluarga barunya sekaligus ini adalah permintaan dari orang tua Adelia."


Jadi benarlah jika pengaruh uang sangat penting dalam kehidupan manusia, Ibu bahkan rela menyuruhku berpisah dengan suamiku demi bisa mendekati keluarga kaya, benar-benar matrealistis.


"Jadi ibu ingin memisahkan aku dengan suamiku demi kepentingan besan ibu yang kaya itu?"


"Bagaimanapun aku ingin membuat menantuku nyaman?"


"Jika dia menantu lalu aku apa? Membantu ibu? Atau orang yang kebetulan dinikahi hari lalu melahirkan dua orang putri?"


"Diam, kamu, Aku akan memberimu sejumlah uang tapi bercerailah dengan anakku," ujarnya sambil melempar sebuah amplop yang ku yakin itu adalah uang isinya.


Selagi kami saling menatap dalam diam untuk beberapa saat, tiba-tiba anakku datang dan membawa ponsel lalu memperlihatkannya kepada ibu.


"Nenek lihat deh, ini adalah hari pernikahan kakek, aku juga datang dan acaranya sangat ramai," ujar Naina putriku yang bungsu dengan antusias menunjukkan rekaman video pernikahan ayah kepada neneknya.


Astaga!


"Nayna, masuklah ke dalam," pintaku mencegahnya.


"Biar, aku mau lihat," ujar Ibu sambil meraih cucunya dan memeluknya lalu memperhatikan rekaman ponsel tersebut.


"Ini rekaman apa?" tanya ibu yang masih belum percaya dengan apa yang diucapkan cucunya.


"Rekaman pernikahan kakek, lihat deh ini Kakek ini pengantin dan ini mamaku," ucapan aku sambil menunjuk orang-orang yang berada di dalam video.


Kali ini raut wajah Ibu terlihat sangat terkejut, mulutnya membulat matanya juga melotot nanar, ia melihatku dan ponsel itu bergantian, lalu tiba-tiba dia terlihat lemas sambil memukul-mukul dadanya.

__ADS_1


Apakah dia akan terkena serangan jantung seketika?


yuk dibaca di *** app dan *******


__ADS_2