
"Mau apa datang kemari?", Tanyaku kepada gadis yang telah merebut suamiku itu.
"Kumohon Laila Aku ingin kalian berdamai dan bisa kompak bernama," pinta Mas Haris kepadaku sembari melindungi wanita itu di belakangnya.
"Mas Haris hanya karena aku mau dibawa olehmu kembali, bukan berarti aku akan membuka hati untuk istri barumu itu," jawabku mendelik.
"Aku ingin kamu berdamai dengannya sebagai bentuk bahwa kamu masih mencintaiku sebagai suami," sambungnya.
Apa dia bilang? Dia ingin aku membuktikan baktiku dengan menerima Adelia dan membuktikan penghormatan kepadanya?
"Jangan konyol Mas, aku bahkan rela minggat kedua kalinya jika kamu memaksa aku," ancamku.
"Laila, aku telah membujuk Adelia untuk mengalah kepadamu sebagai kakak madu, aku mohon kau bisa membuka hati, Sayang," bujuknya.
"Ya ampun haruskah aku termakan bujukanmu." Aku mendengkus dan masuk ke dalan rumah.
Tak disangka mereka menyusul dan duduk di kursi ruang tamu yang memang telah disediakan oleh pemilik rumah.
"Kenapa kalian masuk?"
Aku berkacak pinggang.
"Tak ingin terkesan arogan dan sombong, tali kumohon, aku ingin kalian pergi saja."
"Justru kami ke sini untuk perbaiki kenyataan," ujar Adelia.
"Adelia, sebaik apapun kamu, aku mohon aku tak ingin melihatmu, semulia apapun hatimu, lantaran kamu masuk ke dalam rumah tanggaku sebagai orang ketiga, sampai hari ini aku masih sakit hati."
Aku membalikkan badan.
"Meski tidak berniat menyakiti aku tetap dilabeli pelakor, iya kan?"
Ah, playing victim lagi, dasar kurang kerjaan.
"Terserah kamu bilang apa, yag jelas saat ini di rumah mertua hanya kamu mantu satu-satunya, aku ucapkan selamat," ujarku sambil menangkupkan kedua belah tangan.
"Begini istriku, kumohon, aku ingin kamu tenang dan duduklah," bujuk Mas Haris lembut sambil menyentuh bahuku.
"Dengar Haris Saputra, aku tidak berdaya ketika ibumu mengancamku dengan perceraian untuk meluluskan pernikahan keduamu, tapi yang jelas saat itu aku tak ikhlas. Tidak ikhlas sama sekali! dengar kamu Adelia?!" Aku menjauhkan tangannya dari bahuku.
Mereka terpana tanpa kata.
__ADS_1
"Aku diusir dari kamar sendiri, disuruh meringkuk di gudang sempit bersama kedua anak dan diperlakukan seperti pembantu, hati siapa yang tidak terluka? Ditambah aku harus melihat kalian mesra," ujarku sambil menahan lelehan panas yang mengaburkan mata.
"Maaf ...."
"Di rumah mertua aku tidak bisa berbicara lantang seperti ini, tapi karena ini terhitung rumah sendiri, maka aku akan melampiaskan semua kesedihan dan sakit hatiku, kalo kalian tidak suka silakan pergi," kataku sambil menyeka air mata.
"Aku kemari mau minta maaf, Laila ..." Mas Haris mendekat dan bersimpuh di depanku.
"Seharusnya jangan fokuskan dulu aku untuk berdamai dengannya, seharusnya kita yang berdamai dengan diri sendiri, kamu egois Mas!"
"Aku melakukan ini, mencoba menanggalkan ego Adelia dan mengajaknya untuk minta maaf, itu karena aku mencintaimu," bujuknya sambil menggenggam tanganku.
"Tanyakan pada istrimu, apakah saat melihat kita sedekat ini dia tidak sakit hati?" tanyaku dingin sedang Mas Haris menoleh ke istrinya.
"Aku yakin dia terluka, dan kamu ssbagai suami yang tidak bisa memperlakukan kami dengan benar, dan harusnya seorang suami ketika berpoligami sudah siap mental, spritual, dan keuangan, ini ... bahkan rumah pun masih numpang dengan mertua," sungutku kesal.
"Setidaknya aku sudah mengontrakkan untukmu," balasnya pelan.
"Menyewa saja kau bangga, Mas," kataku kesal. "Seandainya tidak terjadi kekacauan, aku mungkin masih jadi babu kalian, maaf ya, aku tidak sudi lagi!"
"Jadi apa maumu?!"
"Mustahil aku menceraikan istriku," gumam Mas Haris.
"Kalo begitu ceraikan saja aku," balasku lantang. Kedua anak-anak yang mendengar perdebatan orang tuanya terlihat keluar dari kamar dengan wajah sedih.
"Kamu juga istriku," ujar Mas Haris.
"Kalau begitu kamu sungguh serakah, Mas."
"Aku tidak tahu harus bicara apa lagi." Ia bangkit lalu membalikkan badan dan mengajak Adelia pergi.
Biar! Biar saja mereka pergi.
**
Keesokan hari mertuaku datang datang dan langsung melenggang masuk ke dalam rumah tanpa salam atau memanggil terlebih dahulu.
"Aku datang ke sini untuk memberitahumu hal penting," ujarnya sambil duduk dengan sombong.
"Katakan saja Bu, aku sudah sering diberi tahu hal yang penting, dan aku tidak kaget lagi," balasku.
__ADS_1
"Mulai saat ini uang belanjamu, Ibu yang akan mengaturnya langsung, Haris tidak akan ikut campur lagi dengan pembagian kalian," katanya sambil menyodorkan amplop.
Aku heran sesibuknya dia masih sempat untuk datang dan mengantarkanku uang, haruskah aku menghargainya dengan senyuman atau malah sedih karena rumah tanggaku akan semakin kacau dengan campur tangannya yang tidak lepas lepasnya.
"Tidak usah repot-repot, Bu, kalau Adelia merasa uang belanjanya kurang berikan saja uang belanja itu," jawabku sarkas.
"Kamu tetap aja gak sopan," gerutunya.
"Bagaimana pun ini salah ibu," jawabku.
"Kalau tidak karena sayang cucu dan anakku, tentu kamu sudah tidak kupedulikan," ujarnya sambil mendelik.
"Jangan memperdulikanku dengan terpaksa, Bu, yang pasti aku tidak akan kembali kepada Ibu lagi," balasku.
Terserahlah, dia mau menyebutku apa, dan pasti aku sudah lelah dengan semua permainannya, aku sudah bosan dan kalau berpisah adalah jalan satu-satunya untuk hidup tenang, maka biarlah itu terjadi.
"Kamu jangan bersikap angkuh, padahal kamu dan kedua anakmu memerlukan fasilitas dan sekolah yang bagus," balasnya.
"Termasuk cinta dari suamiku, aku masih memerlukannya ibu, tapi belakangan ini dia sulit sekali untuk membagi fokusnya untuk kedua istrinya, aku bosan."
"Kamu mau apa sih?".
"Mari berpikir dan membayangkan, jika kejadian ini terjadi kepada anak perempuan Ibu, suaminya direbut Dan Dia diintimidasi kira-kira apa yang akan ibu lakukan, karena aku miskin anak yatim sehingga Ibu tidak semena-mena?"
"Tidak juga, aku menganggap kalian sama," balasnya cuek.
"Aku merasakan Bu, Ibu sudah tidak menghargaiku lagi."
"Kamu pikir semua sikapmu selama ini sudah sebagai bentuk menghargai mertua, malah sikapmu makin kurang ajar makin hari,aku ulang sekali lagi kalau tidak demi Haris dan kedua cucuku mana mau aku datang ke rumahmu," gumamnya tetap mendelik.
"Jelas bahwa ibu membenciku."
"Bukan benci, ibu hanya sebal saja karena kau tidak bisa dikondisikan," jawabnya sambil memutar bola mata.
"Dikondisikan supaya diam dan sabar saja dalam kondisi apapun, meski aku sakit hati? Tidak mau, Bu!"
"Ah, tidak ada gunanya berbicara denganmu lebih baik aku pulang saja," ujarnya sambil berdiri.
*
Aku menyaksikan sambil menghela nafas saja kepergian ibu mertua yang meninggalkan pekarangan rumah. Entah mengapa sikap Mas Haris dan ibunya hampir sama dan herannya lagi kenapa suamiku tidak bisa lebih dewasa untuk mengambil keputusan sendiri dalam rumah tangganya. Ah, aku lelah.
__ADS_1