PETIR

PETIR
bab 1 kado hari jadi


__ADS_3

MAWAR. Aster. krisan.anggrek.pria itu menggeleng. bank. kekasihnya hanya tertarik pada buunga bank. bukan karena gila harta, melainkan semata mata tak suka tanaman. main ke ski ke swiss. coklat swiss. jam tangan swiss. pria itu menggeleng lagi. pisau. kekasihnya berpendapat pisau swiss termasuk salah satu temuan tergenius seapnjang peradaban manusia dan ia sudah punya sedikitnya dua belas. tak ada gunanya menambahkan lagi satu. sepercuma buang garam ke laut. sesalah buang gula ke teh hijau."tambah ocha-nya lagi, pak dimas?"


pria itu mendongak. ada ribuan pilihan tempat untuk makan siang di kota jakarta, tetapi ia selalu memilih makan sushi si tempat sana, hampir empat kali seminggu, dan pelayan ini sudah dikenalnyanlima tahun lebih, tetapi masih memanggilnya dengn sebutan "pak". tiap kali tanpa jera dimas mengingatkan, panggil "mas", jangan "pak". dan semakin di ingatkan semakin ia melanggar.


"heru,kalau kamu sudah berpacaran dengan orang dua belas tahun, kamu masih mau kasih kado apa?" dimas bertanya.


pelayan bernama heru memandang langit-langit, berusaha lari dari pertanyaan aneh itu "dua belas tahun pak,?"


"dan jangn panggil saya 'pak'."


"saya belum pernah pacaran sampai selama itu, pa... maaf"


"dikira-kira saja."


heru mengernyitkan kening.pertanyaan ini terlampau pelik pukul 12 siang. "mmm. klau sudah dua belas tahu, harusnya semuanya sudah dikasih ya."


"jadi, nggak perlu kasih apa apa lagi?"


heru menganguk kilat. malas membahas.


"ocha satu pot lagi."


"baik, pak."


dimas memandangi heru berlalu sambil berpikir , mungkin sudah saatnya ia menyerah. berhenti mengoreksi. namun ia belum mau menyerah untuk yang satu ini. Semestinya ada yang bisa dipersembahkan, atau dilakukan, sekalipun


telah ia kenali Reuben sebaik dirinya sendiri, dan dirinya


tidak butuh apa-apa. Hanya cinta.


Dua belas tahun bukan waktu yang singkat. Tidak untuk


pasangan gay. Akan lebih mudah bagi mereka jika punya


cincin emas tanda pengikat, yang merangkap fungsi sebagai


stiker "Awas Anjing Galak!" karena apabila ada apa-apa dengan ikatan keduanya maka keluarga, negara, bahkan


mungkin Tuhan siap merangsak mengamuk. Namun, jendela hidup mereka polos tanpa stiker. Barangkali cuma cinta. Dan,


Cinta tak butuh aksara.


Dimas meraih ponsel. Hanya satu tombol untuk menghubungkannya dengan Reuben. Hanya satu nada panggil,


telepon itu diangkat


ya!"


"Halo, Reuben- tapi, kan, saya sudah bilang, kalau mau memakai pen-


dekatan kualitatif, Anda tidak bisa menganalisisnya dengan


cara begini, dong!"


"Reuben-"


"Bubarkan saja ini penelitian! Ngapain saya ikut susah!"

__ADS_1


"Ben!"


"Ya?"


"Kamu ngomong sama siapa, sih?"


“Silakan Anda bawa pulang ini semua! Buang ke fakultas


lain!"


"Ya, sudah, deh. Nanti aku telepon lag—”


Klik. Atau, lebih tepat lagi “tut”. Terputus. Dimas meng-


hela


napas. Perlahan meletakkan teleponnya dan meraih poci


ocha sebagai ganti. Kekasihnya tidak butuh apa-apa. Hanya


sedikit terapi jiwa. Mungkin sudah saatnya ia menyerah.


Melewatkan satu lagi hari jadi tanpa cendera mata.


Dengan langkah beringas, Reuben memasuki pelataran rumah Dimas di bilangan Menteng yang senyap. Napasnya


tersengal-sengal. Pintu yang diketahuinya tak terkunci langsung diterobos masuk.


“Am I late? Am I late?" seru Reuben panik.


Dimas menyambutnya dalam kaus oblong dan celana basket. Segelas susu panas di tangan kanan. Mukanya putih


“Katanya, kamu bikin dinner.” Reuben memelorotkan tu-


buh besarnya di sofa sambil memegangi dada, berusaha menenangkan jantungnya yang mau meletus. Bulir keringat


bermunculan di dahi, beberapa tergantung di alisnya yang


tebal. “Gila, aku harus olahraga, nih.”


“Dan, men-defrag otak sekalian," timpal Dimas ketus,


"dinner-nya besok."


Reuben terdiam. Begitu juga Dimas. Lama keduanya membisu, menunggu sengalan napas itu reda. Ada segelombang


badai bening yang mereka rasakan. Dan, sampai napas Reuben


kembali tenang pun, gelombang itu tak kunjung susut.


Perlahan, Dimas bangkit berdiri. Tanpa suara.


Reuben mengatupkan mata, frustrasi. Kenapa ia selalu


lupa? Kenapa tidak pernah bisa ingat? Bukan hari ini saja.


Sudah puluhan janji tak tertampung oleh memorinya. Dimas

__ADS_1


patut diberi medali karena masih belum meledak mengamuk


sampai hari ini. Padahal, Dimas pantas marah. Amat sangat


pantas. Namun, ia selalu memilih diam.


“Dimas... sori," pelan, Reuben berkata. Ia tahu kalimat


itu percuma. Dimas akan berjalan masuk ke kamarnya, menutup pintu. Tidak keluar sampai pagi, kecuali kalau ada


kebakaran.


Begitu pintu itu tertutup, Reuben pun pasrah. Mencopot sepatu dan menyelonjorkan kaki. Berusaha menyatu dengan


sofa yang akan jadi alas tidurnya sampai esok hari. Namun, tiba-tiba, matanya menemukan sesuatu. Bantal bulu angsa


kesayangan Dimas, tertinggal di salah satu kursi. Kalau situasi sudah begini, pasti ia tidak akan dijemput pemiliknya.


Reuben beranjak, meraih bantal kesepian itu, lalu mendekapnya. Aroma yang ia hafal. Campuran bau sampo, keringat,


dan sisa parfum.


Kepada sang bantal, Reuben membisikkan rahasia bahwa


sebulan belakangan ini, ada satu ide yang konstan mondar-


mandir di benaknya. Ide gila yang selama dua belas tahun


tak pernah hinggap satu kali pun. Ia ingin mengajak Dimas


tinggal serumah


Kepada sang bantal, Reuben seketika merutuk-rutuk. Be-


tapa sintingnya ia bisa berpikir begitu. Dimas akan tertawa


berguling-guling di lantai dan wibawanya bakal runtuh un-


tuk selama-lamanya di mata dunia. Tapi..., Reuben menghela


napas, barangkali itu ide baik. Mengurangi bebannya untuk


mengingat janji-janji seperti malam ini. Dan, mungkin saja,


memang sudah saatnya.


Perlahan, Reuben merapatkan rengkuhan tangannya. Aroma yang ia hafal. Dua belas tahun memang tidaklah sebentar walaupun terkadang terasa sesingkat percik bara.


Dinner itu tidak terjadi. Cendera mata itu tidak ada. Kali


pertama dalam dua belas tahun, hari jadi mereka berlalu seperti es batu yang menggelincir di tangan, terlalu licin dan


dingin untuk ditangkap. Biarkan saja, pikir Dimas, anggap


ini variasi. Ia sadar akan sikap eskapisme yang dipilihnya,


tetapi terlalu malas untuk peduli. Tiga kali seminggu seperti

__ADS_1


orang kursus bahasa, Reuben pasti datang, melempar tubuh ke sofa, kelelahan, dibuatkan kopi, lalu tertidur. Aneh.


__ADS_2