
suaranya besar menggelegar dan matanya hampir selalu tertutup. tampak sedang memikul
beban dunia. Kening berkerat-kerut seperti mau meledakkan yang tahu. Tangan
tangis. Kapan dan di mana saja. Tak ada
kanannya, yang memegang Alkitab, gemetaran seolah sedang angkat barbel 30 kilo.
Kalau tadi kubilang penjiwaan Watti luar biasa, aku salah. Kakakku tidak ada apa-apanya dibandingkan yang satu
ini. Tekanan tinggi yang membungkus semua kata-katanya membuat Bang Nelson berlogat aneh. "Oh, Yesus”-yang
menjadi kata pembuka pada ujung dan awal setiap kalimatnya-terdengar menjadi “O Yeso”. “Roh Kudus" menjadi “Oh
Kodos”. “Tuhan" menjadi "Tuk Han". Tambahkan lagi getar
tenggorokan macam geraman ninja. Jantung ini seketika
mengkeret begitu nama "Elek-thrrra" tahu-tahu disebut.
Bang Nelson memintaku bangkit berdiri.
Sebuah nats lantas dibacakan, aku tak ingat apa dan ayat berapa. Intinya, aku tak bisa lahir baru kalau kuasa gelap itu tidak dibuang terlebih dulu. Dan, saat-saat penebusan pun
dimulai. Bang Nelson menumpangkan tangannya di atas kepalaku yang terduduk di atas lutut. Ia berteriak dan berteriak. Menyerukan, "Tuk Han”, “O Yeso", "Oh Kodos”. Yang
lain menimpali dengan gumaman, “cas cus" dan letupan,
"oh!". Keteganganku kian memuncak. Ruangan itu berubah
menjadi sarang lebah. Dengung, desis, dan gumam, menguap naik dan menyesaki atmosfer.
Bang Nelson tiba-tiba merepetkan kata-kata yang sama
sekali tidak dimengerti. Bukan bahasa Indonesia, atau
Inggris, atau Sunda, atau Batak. Bukan bahasa negara mana
pun. Saking asing dan rumitnya, aku bahkan tak mampu
__ADS_1
mengulang satu kata pun. Terdengar seperti bebunyian bu-
rung hutan rimba saat musim kawin. Lama. Lamaaa... sekali.
Kakiku mulai pegal dan agaknya Bang Nelson tahu. Ia pun
memberi kejutan, sebuah teriakan keras.
"Dalam nama Tuk Han Yeso, segala iblis di tubuh ini...
KELUAR!"
Suara itu, buset, keras amat! Badanku tersentak. Tak cuma itu, kesadaranku ikut terguncang. Semua mendadak gelap. Aku tak sadarkan diri.
Bangun-bangun, aku sudah di rumah. Di tempat tidur Dedi.
Badan ini lemas sekali rasanya, rahangku pegal seperti baru mengunyah segoni amplang. Pintu kamar terbuka setengah,
telingaku yang mulai siaga perlahan menangkap pembicaraan
orang-orang di luar sana. Ada Dedi, Watti, dan Bang Nelson.
Kenangan masa kecilku tentangnya otomatis tidak banyak sekalipun beliau praktis satu-satunya orangtua yang kupunya.
Oleh karena itulah, kejadian ini sangat melekat di memori. Kali pertama aku mendengar Dedi marah-marah. Ayahku, yang
seumur hidupnya irit-irit pita suara itu, mendadak berkata-kata
banyak dengan nada relatif tinggi. Ia mengomeli Watti.
“Kamu gimana, sih! Kenapa malah didiamkan lama, nggak cepetan ditolong?"
Watti, dengan suara setengah merengek, membela diri.
"Ya, habis, Watti, kan, lupa, Ded."
"Adik sendiri, kok, bisa lupa!" sentak Dedi lagi.
Bang Nelson mencoba menengahi. “Sebentar dulu, Om.
__ADS_1
Pelepasan kuasa gelap memang bukannya tanpa risiko. Barangkali iblis yang membuat Etra sakit juga ikut lepas—"
"Dia itu punya epilepsi!" potong Dedi keras. “Lha, ini,
kakaknya yang tahu, kok, malah nggak cepat nolongin. Itu dia yang saya heran! Orang yang ayannya kambuh itu harus cepat dibantu, untung lidah si Etra nggak kegigit. Sampai
mulutnya berbusa kalian juga masih nggak melakukan apa-apa! Kalian apain, sih, dia? Lima tahun dia nggak pernah
kena serangan. Kok, bisa tiba-tiba kena lagi?”
"Ya, itulah, Om. Iblis epilepsi yang—"
"Itu penyakit! PENYAKIT! Kalau mau sembuh, ya, ke
dokter!"
Hari itu, Dedi menemukan kembali rasa percaya diri atas
perihal keimanannya. Bukan lagi urusan siapa yang unggul di atas siapa. Dedi menerima bahwa ia dan Nelson cs, memang berdiri di tataran yang berbeda. Bagi Dedi, hidup
adalah sirkuit listrik yang bisa diurai dan dirangkai. Rusak atau tidak hanyalah masalah teknis tanpa harus mempersalahkan siapa-siapa. Bagi Bang Nelson, hidup adalah masalah perimbangan dua kuasa. Gelap dan terang. Semua fenomena
positif berarti Tuhan dan semua yang negatif menjadi kerjaannya Jenderal Lucifer. Penyakitku, tak terkecuali. Hingga
ia ciptakanlah yang namanya "iblis epilepsi".
Dan, aku mendapatkan gambaran baru tentang ayahku. Pria di balik kaus singlet Swan ini memiliki kekuatan dalam kesederhanaan sikapnya.
Pekerjaan yang tak membuatnya kaya-kaya itu melapisi keluarga kami dengan sebuah tembok pemisah. Sejak kecil
aku tahu, keluarga Wijaya tidak termasuk dalam jajaran favorit keluarga besar Huang.
Dedi melakukan pekerjaan yang sama puluhan tahun tanpa penambahan keuntungan. Paman-pamanku melakukan
pekerjaan yang sama puluhan tahun, tetapi hasilnya berpuluh
kali lipat. Mobil Dedi satu, jelek, dan tak ganti-ganti, sementara paman-paman kami setiap dua tahun gonta-ganti
mobil dan jumlahnya terus bertambah. Dedi juga dipersalahkan A-Pak karena aku dan Watti tidak memanggil jiejie dan meimei ke satu sama lain, tidak memanggil A-Kbiu dan
__ADS_1
gugu ke paman dan bibi kami.