PETIR

PETIR
bab 8


__ADS_3

Sementara, kalau kulihat-lihat, lingkar pinggang dan


pinggulku tak jauh beda. Dadaku timbul seada-adanya. Mau


bagaimana masa depanku, coba?


Mami meninggal karena usus buntu. Apendiksnya pecah


sebelum sempat ditangani dokter. Dedi-lah orang yang paling menyesal dari semua. Ia menebusnya dengan hidup selibat selama sisa hidup. Dalam sunyi. Aku ingin ketemu


Mami karena kupikir hidup kami akan lebih menyenangkan. Dedi bisa lebih banyak bicara, Watti akan lebih banyak diam, dan aku? Aku bisa lebih keluar dari kepalaku yang


pengap. Aku juga ingin ketemu Mami agar kami bisa becermin berdua, mencari kemiripanku dengan wajah cantiknya.


Sungguh. Aku tak merasa buruk-buruk amat, tetapi tak terurus. Itulah ungkapan yang tepat.


Tercatat semenjak kakakku pacaran dengan Anggatama Subagja, yang dipanggilnya Kang Atam, dokter lulusan Universitas Padjadjaran yang kini bekerja di Freeport dengan rumah dinas cantik yang berperabot seragam di Kota Tembagapura, Watti


pun menasihatiku setiap hari. Pada setiap


kesempatan. "Etra," katanya, "kita jual saja rumah Dedi." Rumah kami yang besar tanpa cita rasa itu ditaksir sampai em-em-an. Lokasinya memang strategis, dekat perumah


an jenderal. Tidak banyak orang China lama yang tinggal di daerah ini, kecuali beberapa orang kaya baru yang lantas merombak rumah Belanda mereka jadi miniatur gedung mal. Kata


Dedi, kami turunan China pejuang. Ketika Belanda angkat kaki, dengan percaya diri dan gagah berani mereka ikut mengklaim rumah-rumah yang ditinggalkan. Turun-temu-


run, keluarga kami menempati rumah ini. Salah satu rumah warisan kompeni yang punya nama, seperti Vincent, Anthony, Heidi, Lcony, dan seterusnya. Misteri yang belum


bisa kupecahkan sampai sekarang. Atas dasar apa rumah-rumah itu dinamai, lalu nama siapakah yang dipakai? Nama


sendiri, ibu, bapak, pacar, anak, atau siapa?


Nama rumah kami Eleanor. Siapa pun ia dulu. Tiga perempat bangunan masih asli arsitektur Belanda. Sayang

__ADS_1


beribu sayang, kecantikan Eleanor tertutup lapuk dan jamur, lalu masih dinodai lagi oleh seperempat bagian dirinya yang


dibangun acak dari bahan tripleks dan asbes. Ruang-ruang darurat Dedi untuk beragam keperluan: gudang, kamar pegawai, tempat meja pingpong. "Uang yang ditinggalkan Dedi, kan, nggak banyak. Kamu mau pakai untuk apa? Kalau aku, sih, ada Kang Atam, cetus Watti. Berusaha untuk tidak terdengar bangga. Kalau saja licik, aku pasti sudah bersorak-sorai. Watti merupakan wanita produk negeri dongeng yang ketika sudahan. Sementara, kalau kulihat-lihat, lingkar pinggang dan pinggulku tak jauh beda. Dadaku timbul scada-adanya. Mau


bagaimana masa depanku, coba?


Mari meninggal karena usus buntu. Apendiksnya pecahsebelum sempat ditangani dokter. Dedi-lah orang yang paling menyesal dari semua. Ia menebusnya dengan hidup selibat selama sisa hidup. Dalam sunyi. Aku ingin ketemu Mami karena kupikir hidup kami akan lebih menyenangkan.


Dedi bisa lebih banyak bicara, Watti akan lebih banyak diam, dan aku? Aku bisa lebih keluar dari kepalaku yang pengap. Aku juga ingin ketemu Mami agar kami bisa becermin berdua, mencari kemiripanku dengan wajah cantiknya. Sungguh. Aku tak merasa buruk-buruk amat, tetapi tak terurus. Itulah ungkapan yang tepat.


Tercatat semenjak kakakku pacaran dengan Anggatama Subagja, yang dipanggilnya Kang Atam, dokter lulusan Universitas Padjadjaran yang kini bekerja di Freeport dengan


rumah dinas cantik yang berperabot seragam di Kota Tembagapura, Watti pun menasihatiku setiap hari. Pada setiap kesempatan. "Etra," katanya, "kita jual saja rumah Dedi."


Rumah kami yang besar tanpa cita rasa itu ditaksir sampai em-em-an. Lokasinya memang strategis, dekat perumah"Ya, nggak tahu. Pokoknya Watti sudah berdoa," jawab


Watti sedikit kesal. Tidak siap dengan respons Dedi.


Aku tertegun. Juga tidak siap. "Hmmm," gumamku berpikirpikir. Versi superjujur: bawalah kakakku ini ke ujung dunia. Beri kami uang yang banyak. Atau, jadikan aku salah


satu pewaris harta keluarga Subagja. Oh, ya, bikin Watti sungkem ke kakiku yang belum lepas kaus kaki. Dedi apa-apaan, sih?" sahut Watti. "Si Etra ngapain ditanya?"


"Lha, kamu? Mau pindah agama izin ke Dedi. Ya, sekarang Dedi tanya saja ke Etra."


"Ded, pokoknya untuk pesta kawin segala macam, Dedi jangan keluar duit apa-apa. Jangan mau repot juga. Tahu


beres saja. Datang terus salam-salaman," kataku akhirnya Dedi mengangguk-angguk. "Bagus. Terus, apa lagi, ya?" tanyanya.


Aku mulai senang dengan pertanyaan ini. "Terus, mas kawinnya yang mahal-mahal, Ded. Watti, kan, cantik, jadi harus dibeli dengan harga mahal," sambungku sembari cengar-cengir. Kulirik Watti yang agak tersipu. Sejak kapan adikku memuji, mungkin begitu pikirnya. Ia masih belum sadar betapa lucunya ini semua. Perkawinan ini terdengar seperti perdagangan. Watti sebagai barang jualan harus ditebus dengan harga setinggi-tingginya.Nanti sebelum dibawa pergi, ia harus dilap-lap, dibersih-ber


shkan, dicemplungkan ke salon untuk mengambil lulur paket pengantin. Lebih dari itu, merekapun harus menyamakan tegangan terlebih dulu. Watti harus di-step up dari 110


V ke 220 V. Dari "Minggu" ke "Jumat", begitu istilah orang orang. Kalau tidak, korsleting,

__ADS_1


"Kamu betul siap, Watt?" Dedi bertanya sekali lagi."Insya Allah, Ded."


Aku dan Dedi pandang pandangan. Watti sungguh-sungguh siap rupanya


Beberapa hari kemudian, secara teratur Watti dijemput dengan mobil Mercy Tiger. Sebelum pergi, ia mengenakan kerudung dari kain tipis.


"Ngapain?" tanyaku. "Belajar mengaji." jawab Watti, "dikursusin sama Mamanya Atam."


Di atas cermin kamarnya, ditempel selembar kertas foto kopian, bergambar sketsa seorang pria bersarung dan berpeci


hasi dalam kotak-kotak bernomor. Gerakan shalat. Wattimen hafalnya seperti melatih gerak senam. Pakai hitungan satu,


du, tiga, empat, lima, lima, tujuh, delapun." Dan, aku berpikir, kenapa bukan enam, tetapi malah "lima" disebut dua kali.?


Gerakan shalat itu yang paling vital, begitu katanya. Kalau doa masih bisa di-lipsync, tetapi kalau salah gerak bakal memalukan. Untuk berwudu, Watti pun menciptakan rumus hafalan sendiri yang dibuat dalam format senandung gembira: bismillah – gosok-gosok tangan - kumuuur - hidung isap-isap muka dicuci – lengan kiri-kanan - rambut-but-but - kuping gosok-gosok - tengkuk-kuk-kuk - kaki kiri-kanan....


Tak jarang aku ketularan bersenandung. Menjadikannya soundtrack kalau lagi di kamar mandi. Akan tetapi, pernah satu kali aku menemukan Watti menangis di kamar. Sambil sesenggukan ia bercerita. Siang tadi


bertemulah Watti dengan Bang Nelson di jalan, yang kini jadi pendeta tingkat tinggi di salah satu gereja Pantekosta.


Setelah tahu Watti mau menikah dengan pria muslim dan akan masuk Islam, Bang Nelson memberikan satu nats, yang aku tak ingat apa dan ayat berapa, tetapi intinya jalan keselamatan hanya ada di jalan Kristus seorang. Di luar dari itu, bye-bye. Watti stres karena tak mau masuk neraka. Ia ingin


selamat di akhirat nanti, lalu jadi malaikat Tionghoa yang cantik.di"Etra, aku mesti gimana, dong?" rengeknya. Akupun menghela napas. “Watt," kataku dalam nada bijak, “radio dari Amerika bisa bunyi nggak kalau dipakai


sini?" Watti menatapku bingung.


"Kulkas dari Indonesia bisa dingin nggak di Amerika?"mencibir. "Eh, ****. Kamu nggak nyambung banget, sih," Watti "Dengar dulu," potongku. "Maksudnya gini, dua barang


itu sistemnya memang beda. Radionya Bang Nelson itu 220 volt. Mau katanya sekencang sound system Stadion Siliwangi, bakal bisik-bisik kalau dipakai di tegangan 110 volt. Kulkas nya Atam, mau katanya lebih dingin dari kutub, bakal hangat dan meledak kalau tegangannya 220. Jadi." Alis Watti bertemu. Bibirnya mengerut."Jadi," aku menepuk bahunya. Sejenak berpikir untuk


diriku sendiri dulu. Otakku berputar merangkai kata-kata. "Jadi, sebenarnya kamu itu cuma pindah tegangan. Dan, yang dulu neraka sekarang jadi surga, yang dulu surga


sekarang jadi neraka. Jadi...."Muka Watti tambah ruwet. "Jadi, sama-sama saja, Watt. Impas."Lama Watti menatapku, sampai satu-satu kerutan pada wajahnya mengendur. Ia tersenyum kecil. "Makasih, Tra,"katanya pelan. "Kamu nggak apa-apa, kan, kalau kita nggak seiman? Tapi, tiap Natal, aku sama Kang Atam pasti datang, bawain kue buat kalian." Aku ikut tersenyum. Kakakku sayang, adikmu ini tidak mungkin marah. Aku bukan barang elektronik seperti kalian yang bergantung pada tegangan. Aku ini cuma penonton. Aku ini batu baterai. Netral, 1,5 volt, kurus, dan cuma diam tak mengapa, yang penting tak berkonflik.

__ADS_1


__ADS_2