
Sementara Watti sibuk menyeka air mata dan membuang ingus, aku menatap ke luar jendela. Mataku tertumbuk pada pohon asam kurus di pojok pekarangan. Pohon yang sudah berdiri sejak entah kapan tahu. Tak ada yang menyadari keberadaannya. Mungkin pohon itu tak pernah punya ambisi
jadi bonsai yang dipamer dan disayang-sayang, atau menjadi tanaman lain yang bisa ditumpangi ego manusia karena
mencerminkan keahlian pemiliknya. Ia cukup dipelihara oleh alam.
Tak pernah kurenungi ini sebelumnya, tetapi rasanya aku dan Dedi memang sama untuk masalah satu itu. Ketidakhadiran kami di gereja atau persekutuan doa bukan karena
tak percaya Tuhan ada, melainkan kami menikmatinya dengan cara lain. Seperti pohon asam di pojok pekarangan
Berdiri di tempat. Bahagia. Cukup.
Akibat persamaan itu, aku pun sama tidak ambisiusnya dengan pohon asam tadi. Aku enggan meninggalkan kota ini.
Dulu, waktu kecil, Dedi sering mengajak kami ke luar kota. Ke Jakarta, Surabaya, Malang, Yogyakarta, Madiun, magelang, dan aku kecewa. Aku tidak berhasil menemukan
cilok di semua tempat itu. Aci dicolok. Bola mungil bergerendil gajih sapi dengan saus sambal dan kecap tidak jelas keluaran pabrik mana, yang mungkin nomor izin Depkes-nya
pun dikarang sendiri. Gabungan tanggal lahir anak-anaknya pemilik pabrik
Kecanduan cilok merupakan penyakit yang kuderita sejak kecil. Aku ini konsumen setia, dari harga 25 perak dua sampai 100 perak satu. Manalah mungkin kutinggalkan kota
dengan cilok terbanyak dan terenak di dunia. Di dunia! Tidak percaya? Sayang, aku tidak bisa membuktikannya, tetapi aku yakin sekali.
Sekarang aku memang jarang makan cilok. Namun, bola aci itu berhasil mengubur dalam-dalam keinginanku untuk merantau. Aku terlalu cinta kota ini, rumah eks Wijaya
Elektronik ini. Atau, mungkin aku terlalu takut tempat asing. Bagaimanapun sepi dan lengang rumah kami, aku bertekad untuk mengurusnya. Andai Dedi di alam roh sana bisa mengecek ke bumi, ia pasti terkejut. Mana ia menyangka kalau anak bungsunyalah yang akhirnya mengambil alih semua tanggung jawab di rumah ini. Jauh di lubuk hati, aku selalu menganggap
Wattilah anak kesayangan Dedi. Barangkali karena sifat keibuan
(baca: cerewet) dan cah kangkung buatannya yang enak. Sementara aku kebanyakan melamun dan tidur siang. Namun,
pada hari ketujuh belas setelah engkau meninggal, Ded, Watti-lah yang pertama memutuskan untuk keluar. Bahkan, lebih
__ADS_1
cepat dari semua karyawan Wijaya Elektronik. Meninggalkan aku dengan setumpuk masalah piutang dan urusan administrasi
yang sumpah tidak kurang sekali.
Saking ingin keluar dari rumah, Watti dan Atammen percepat upacara ijab kabul mereka. Keluarga besar Sunda sampai harus merelakan acara itu berlangang sederhana
masjid tok. Pembalasan dendamn akan dilakukan sebulan tengah lagi, resepsi mewah di gedung kawin paling top &
Bandung Begitu pesan mereka kepada semua tame. Ketidakhadiran Dedi sciragai wali menjadi topik serta yang menjadikan acara itu terzsa tražis seperti pemakamas
Bahu kami diremas, badan kami dibekap, dan papi kami tempeli air mata. "Kasihan Pak Wijaya, tidak sempat melihat anaknya menikah, "Kenapa begitu cepat, ya? - "Rencana Yang di Atas memang tidak ada yang taha, "Padahal Pak Wijaya sampai rela anaknya ikut agama suami, "Kalias
harus tabah, ya, - "Etra, sok atuh, cepat-cepat cari sala supaya ada yang gantiin Papah, blablabla. Kalau yang lain melewati acara ijab kabul dengan linangan air mata, aku melewatinya dengan berpikir. Memikirkan
surat-surat tagihan Wijaya Elektronik yang usianya bahkan ada yang mencapai dua puluh tahun. Bagaimana menagih
nya, ya? Sementara Watti dan Atam berbulan madu ke tanah suci sembari menjalankan ibadah umrah, kakiku diikat urusas
Sebagai sarjana ekonomi yang membenci setiap hari perkuliahan, aku mati-matian berusaha memecahkan puzzle
status keuangan Wijaya Elektronik berdasarkan 21 buku tulis tebal bersampul batik yang isinya semua ditulis tangan. Kc-
banyakan tulisan Dedi, tentunya, walau aku dan Watti kadang-kadang ikut berpartisipasi. Contohnya, dalam buku "Untung-Rugi"- Dedi memakai istilah "untung" dan bukan
"laba”-tahun 1982–1983, aku menggambar makhluk yang maunya kambing, yang dulu merupakan hewan paling kugila-gilai. Kugambar pakai spidol merah pada setiap halaman. Sementara Watti, yang selalu merasa dirinya bidadari atau malaikat, selalu menggambar cewek bersayap dan ber-
halo, bersebelahan dengan kambingku supaya ada tokoh antagonis. Pada buku tahun 1984-1986---karena volume transaksi menyusut jadi cukup digabungkan dalam satu buku-aku menghujani setiap halaman dengan stempel Hello Kitty dengan ekstra tanduk dan ekor kambing buatan sen-
diri. Watti dengan stempel Little Twin Stars.
Pada akhir perhitungan, kutemukanlah bahwa hampir 50% dari piutang Wijaya Elektronik tidak tertagih setiap tahunnya. Dan, dengan perhitungan inflasi, devaluasi, plus
disimulasi dengan bunga bank maka kekayaan Dedi seharusnya mencapai: 2.756,304.005,889 rupiah! Lama aku tercenung. Lama sekali. Mengingat menu ma
__ADS_1
kan kami sehari-hari yang didominasi telur ceplok selama puluhan tahun, bajuku yang hampir semua lungsuran dari Watti dan baju Watti kebanyakan hasil sumbangan dari
tante-tante kami, mobil Kijang "buaya" pick-up yang merupakan mobil tunggal kami untuk berbagai acara, dari mulai angkat barang sampai ke kondangan. Kuingat juga uang ja-
janku yang selalu di bawah rata-rata murid satu sekolahan dan bagaimana aku telah jadi ekonom sejak kecil karena harus pintar-pintar membagi sekeping 100 perak untuk dua
kali istirahat; cilok dan limun saat istirahat pertama; bala-bala dan es teh manis untuk istirahat kedua. Lama aku termenung. Lama sekali. Sampai akhirnya, kututup semua buku-buku batik tadi dan kurapikan ke da-
lam dus, membuang semua perhitunganku ke tempat sampah. Kuputuskan untuk mengubur fantasi 2,7 miliar dan kembali menghadapi zaman baru ini tanpa sesal. Begitu
banyak yang harus dilakukan.
Aku lalu bangkit dari tempat dudukku, berdiri tegak di depan cermin. Berpikir. Apa yang bisa dilakukan seseorang yang tak
punya keahlian, tak punya modal, tak punya pengalaman? Mataku memicing. Segaris sinar terang seolah menembus kabut pekat di otak, mencerahkan pikiranku yang buntu. Aku pun manggut-manggut sendiri. Hmmm. Ya, ya, ya. Tentu saja: jual diri!
Apa lagi? Maka, kujalankanlah sebuah falsafah sederhana. Berhenti
berpikir ke luar, tetapi bereskanlah dulu ke dalam. Lihatlah
rumah ini. Rumah yang berharga miliaran ini. Betapa busuknya, bau, pengap, sumpck. Padahal, inilah modal yang
bisa kujual sekaligus kubanggakan. Betapa kerennya konsep ini nanti: Elektra, si gadis sebatang kara, mandiri dan tabah
mengarungi hidup, tinggal di rumah besar dan cantik berlokasi strategis. Dan, karena mempercantik Eleanor lebih mudah ketimbang mempercantik si Elektra, kuputuskan untuk melakukan pembersihan besar-besaran. Dari seluruh proses itu, aku paling menikmati ketika menyingkirkan rongsokan elektronik. Bayangkan apa rasanya
hidup bertahun-tahun dengan tumpukan televisi 70-an yang tidak pernah ditebus. Belum lagi radio, kulkas, AC, aku muak dengan benda elektronik. Ketika semua terangkat, aku baru sadar bahwa memang
tidak ada perabot. Selama ini aku menduduki televisi atau boks-boks karton yang padat dipenuhi kabel. Justru kursi- kursilah yang mengalah, tersingkirkan ke luar berhubung
Dedi butuh banyak ruang untuk menyimpan barang-barang kliennya. Di luar sana, benda-benda malang itu dijemur, di-
sembur hujan, dihuni tungau. Bagai bangun dari amnesia panjang, suatu pagi kepalaku tergetok: he, Elektra, sadarlah.Selama ini kalian tinggal di gudang raksasa.
__ADS_1