
waktu itu karena sejak kesetrum, satu keanehan muncul: aku jadi senang menontoni kilatan petir. Kalau langit
mulai ditumpuki awan gelap, aku yang paling dulu berlari keluar. Cras! Ia muncul. Aku gembira. Lalu, langit seperti serdawa gede-gedean. Kaca jendela bergetar dan Watti memekik ngeri. Cras! Cras! Cras! Bentuknya seperti ameba. Aku makin bahagia. Angkasa pun terbahak. Geledek yang lebih besar da-
tang dan Watti menutup kupingnya. Beberapa saat kemudian, karyawan Dedi tergopoh-gopoh keluar menggiringku masuk
rumah. Sekujur tubuh ini basah kuyup. Menontoni petir sering bikin aku linglung. Air hujan lewat saja tanpa dirasa. Kejadian itu berulang terus, sampai-sampai mereka ber-
inisiatif mengurungku dalam kamar kalau musim hujan datang. Aku cuma bisa berdiri di tepi jendela, memejamkan mata nikmat setiap geledek besar menggetarkan kaca. Sementara, sayup-sayup terdengar pekikan kaget kakakku diruang tengah.
Watti yang senantiasa mendamba drama keluarga mulai mengangkat isu itu ke permukaan. Suatu malam di meja
makan-ralat, di setengah meja pingpong tanpa kaki kiri yang tidak mau dibuang Dedi hingga diganjallah oleh dus kulkas dan alakazam! Jadilah meja makan!—Watti membuka perkara, “Ded, Etra kena kuasa gelap." Aku tak mengerti maksudnya. Namun, kulihat alis Dedi mengangkat dan mulutnya membentuk bundaran kecil. "Kuasa gelap?" tanyanya, "Apaan itu?" Ya. Aku juga ingin tahu apa itu, Watti menegakkan tulang belakangnya, berdehem. “Watti
tahu dari persekutuan doa, Ded. Kuasa gelap itu artinya kuasa iblis. Dedi nggak tahu saja, si Etra kayak anak kesurupan tiap ada petir, suka ketawa sendiri, bengong kelamaan,
hujan-hujanan." "Masa?" Dedi menoleh
menatapku. Waktu itu umurku sembilan tahun lebih seminggu. Jangan salahkan aku kalau tidak mampu membela diri.“Jadi, harus diapain, dong?" Dedi bertanya lagi kepada
Watti
yang senyam-senyum kecil tanda puas.
Kalau bicara kuasa iblis, mau tidak mau kita harus bicara kuasa Tuhan, sebuah topik yang membuat Dedi kehilangan
rasa percaya dirinya. Bertahun-tahun, tepatnya setelah Mami
meninggal, Dedi berhenti ke gereja. Cuma dua kali setahun:Paskah dan Natal. Lain dengan Watti yang aktif mengikuti
persekutuan doa, bahkan sudah bisa menginjili dan mempromosikan kuasa Yesus ke orang-orang tak dikenal.
"Etra harus lahir baru.” Watti berkata mantap.
“Ha?" Dedi mengernyit. Matanya lenyap dari pandangan.
Dengan patriotik Watti menjelaskan misi mulianya. "Selasa besok, Watti mau bawa Etra ke persekutuan, nanti dia
__ADS_1
dibantu sama kakak-kakak di sana. Cuma dengan tangan
Tuhan, Ded, Etra bisa sembuh."
Aku menatap Dedi. Berharap akan ada satu argumentasi.
Namun, kata “Tuhan" betul-betul memegang kunci. Dedi menyumpal mulutnya sendiri dengan suapan telur ceplok
lalu manggut-manggut pasrah.
Pada Selasa yang dimaksud, aku dan Watti naik becak ke
tempat persekutuan. Tubuh kami wangi sabun sesudah mandi sore, muka cemong-cemong putih sebab bedak tak rata
Alkitab di tangan. Watti membawa yang besar dan komplet aku bawa yang kecil-yang isinya hanya Perjanjian Baru. Yang kukejar memang cuma kecilnya, percuma bawa berat-
berat, aku selalu kalah cepat dari semua orang dalam perkara buka firman. Rasanya seperti lomba lari. Peluit ditiup ketika
pemimpin kebaktian berkata, "Mari kita buka firman Tuhan dari... priiit!" Semua orang pun melesat lari ke garis finis.
yang dimaksud, seluruh jemaat sudah selesai membaca, ditutup dengan bunyi keresek-keresek kertas yang kuhasilkan.
Bunyi simbolis dari kakiku yang terseok-seok.
Hati ini menciut begitu melepas sandal dan memasuki
ruangan bergelar-gelar tikar itu. Aku teringat satu video
yang pernah diputar Dedi. Filmnya Ateng dan Iskak. Ceritanya, mereka itu dua tuyul yang tinggal di dalam televisi.
Ateng pakai baju putih, Iskak pakai baju hitam. Namun,
tentu keduanya tetap dianggap "hitam" karena mereka sebangsa tuyul. Pada akhir film, riwayat mereka tamat saat
siaran azan Magrib berkumandang. Ateng dan Iskak kepa-nasan dibakar ayat-ayat suci Al-Quran, tidak kuat, lalu mati
gosong. Kalau tidak salah, televisinya ikut meledak.
__ADS_1
Andai Watti benar, kalau betul-betul ada setan tinggal
dalam aku... gawat. Gawat.
Ketidaknyamanan ini dimulai. Rupanya Watti sudah menyiarkan berita tentangku jauh-jauh hari. Mereka menyambut
kami seperti bintang tamu istimewa atau pasien sakit keras
tinggal tunggu ajal. Tatapan iba dan simpatik kudapati setiap
beradu mata dengan para anggota persekutuan. Bukannya
lega, batin ini malah tambah tegang. Bayangan Ateng dan
Iskak dalam baju senam ketat putih hitam terus menyerang.
Acara dibuka dengan kebaktian panjang. Satu nyanyian
bisa diulang lima kali, sampai-sampai aku yang tadinya tak
tahu lagu bisa jadi hafal. Kulirik Watti, matanya merem melek, tangan melambai-lambai ke udara. Untuk menghilangkan rasa tegang, aku putuskan untuk ikut-ikutan. Namun,
tetap tidak bisa menyaingi penjiwaan Watti yang luar biasa.
Bukan cuma berkoreografi, mulutnya juga komat-kamit. Aku
mendekatkan kuping, berusaha menyontek. Betul-betul cuma
terdengar was-wes-wos. Pokoknya banyak huruf "s". Cang-
gung, aku mencoba. Ess... ess... mises... yeses... peres.....
Lewat hampir sejam, akhirnya kami bergerak ke puncak
acara. Pemimpin kebaktian, Bang Nelson, yang kurus berkacamata rambut tipis gejala kebotakan dini dengan kemeja
kain kotak-kotak yang dimasukkan ke dalam celana krem kegedean, bangkit berdiri.
__ADS_1