
"Kontrak?" aku bertanya heran. "Saya nggak berniat mengontrakkan rumah ini, tapi saya kepingin bermitra." "Kami berani bayar 25 juta setahun, mungkin lebih." Seringai mulutnya melebar di kata "mungkin lebih".
Aku tercenung, 25 juta setahun berarti sekitar 2 juta sebulan, aku bisa cari tempat indekon 100 ribu perak per buslan, mengantongi gaji 1,9 juta tanpa berbuat apa-apa. Dan,
mungkin lebih? Hmmm. Ini menarik.
"Memangnya buat dijadikan tempat usaha apa, Pakanntanyaku.“Kami ini perusahaan baru, importir barang-barang dari luar negeri. Semacam MLM-lah. Mbak sudah pernah dengar? Atau mungkin Mbak tertarik jadi downline kami?" la tertawa. Si Bos juga ikut tersenyum kecil.MLM - downline - kaki-kaki \= piramida. Aku menyesal
telah bertanya. "Maaf, Pak, tapi rumah ini tidak dikontrakkan," tandasku tegas.
"30 juta?" Untuk kali pertama si Bos bersuara.
Aku telah berhasil membuat patung hidup itu bicara, tetapi aku tetap menggeleng.
"357"
"37?”
"40?"
Mereka ganti-gantian kasih penawaran. Aku
tetap menolak. Piramida dan Elektra bagai minyak dan air. Kami tidak bisa bersatu.
Sesudah itu ada grup pengacara, bakery, restoran Sunda, salon, dan semuanya gagal. Akulah penyebabnya. Ternyata
bermitra tidak sekadar perkara bagi keuntungan, ada banyaknfaktor sentimen
yang bermain. Misalnya, restoran dan bakery
hanya indah di depan, tidak di dapur. Rumah kami pun akan ribut dan berbau-ancaman bagi tidur siangku yang mesti tenang seperti di dalam gua beruang. Grup pengacara
itu malah ingin aku hengkang dari rumah. Aku sebal melihat tampang-tampang mereka yang sok penting, sok banyak urusan.
Ketika Watti selesai pindahan, mulai tenang, dan kurang kerjaan, ia pun berangsur intensif meneleponku. "Kamu mau ngapain? Mau jadi apa kamu, Etra? Cari kerjalah! Katanya mau usaha? Bergerak, dong. Jangan di rumah saja. Tidur melulu!"
Baru setengah tahun aku mencoba, tetapi rasanya sudah berabad-abad. Seperti pendekar kehabisan jurus yang akhirnya kembali jadi orang biasa-biasa, aku pun sudah di ujungntanduk untuk kembali ke Elektra yang kecanduan tidur siang. Sungguh, aku tidak mau kembali, tetapi apa lagikah
__ADS_1
yang tersisa? Bahkan, rudal terakhirku pun tidak bisa kugunakan. Bukan rudalnya yang nggak tokcer, aku yang ****. Aku Kadang-kadang, kalau sedang letih dengan teror telepon Watti, sempat aku terpikir untuk menghubungi Pak Hendrawan dan si Bos ber-BMW merah itu lagi. Gaji butaku. Siapatahu masih ada kesempatan. Atau Ibu Siska, pemeras para calon ibu itu. Atau superstar-superstar hukum itu. Siapa pun.
tolong... tolooong!
Oke, aku akan jujur. Aku putus asa. Namun, ada satu prinsipnyang kupegang teguh sampai kapan pun, dalilku tertinggi, Elektra's golden rule: EBOTANG. Nggak Boleh Ngutang. Sekalipun terpaksa resmi mengumumkan bahwa aku telah
memasuki krisis ekonomi, tetap tak ada secuil pun niat untuk melanggar prinsip tadi.
Watti berkali-kali memancing-mancing. "Tra, kamu kalau butuh uang, ngomong! Aku bisa ngasih, kok. Cukup untuk biaya kamu sehari-hari." Kalau kalian kenal Watti seperti aku, tentu tahu bahwa niat baiknya itu seiring sejalan dengan niat pamernya kalau
sekarang ia punya duit. Tepatnya, punya akses penuh ke koceknya Kang Atam.
Tegas-tegas aku menolak. "Nggak usah, Watt. Aku bisa cari duit sendiri. Makasih."
Terdengar tawa kecil di ujung telepon. Lalu, Watti menimpali dengan suara lembutnya, "Oh, iya, lupa, kamu, kan,calon wanita karier. Nggak kayak aku. Ibu rumah tangga doangKupingku panas.
“Gimana, Tra? Uangnya Dedi sudah habis semua?" ia bertanya lagi.
Dalam kepalaku langsung tergambar seringai segede kolamnya Pak Hendrawan. Akan kukejar kau sampai ke ujungndunia, Pak! Sekalipun aku naik becak dan kau dalam mobil BMW! Tidak akan kubiarkan perempuan opera sabun ini tertawa lebih lama lagi!
Watti berkata di tengah tawa renyahnya. "Aneh, ya. Kamu yang sarjana, kok, jadi yang paling susah hidupnya. Tahu gitu mendingan D1 saja kayak aku. Masa mudanya puas,
karena ada orang-orang seperti kalian!
"Sudahlah, Tra. Cari pacar saja yang oke, yang baik, yang bisa menghidupi kamu. Beres."
Dengan dingin aku menimpal, “Dan, harus seiman. Biar nggak jadi roh penasaran."
"Maksudnya apa?” Watti dengan cepat bertanya balik. “Seminggu yang lalu saya
ketemu Bang Nelson, terus dia nanyain kamu. Saya bilang kamu sudah nikah terus pindah
ke Papua. Bang Nelson mukanya sedih gitu, soalnya dia may titip satu ayat untuk kamu. Tapi, terlambat sudah." "Ayat yang mana?" suara Watti langsung tegang. "Yohanes 22 ayat 5: Ketahuilah, barang siapa yang me
nukar kasih Yesus demi cinta kepada kekasih akan tersesat dan baginya pintu semua surga tertutup selama-lamanya." Aku berbicara tanpa diputus napas. Sejenak tak ada suara. Baru kemudian kudengar Watti terbata-bata, "T-tapi, kan, kamu bilang aku bakal impas.
Kalau pintu surga yang ini nutup, yang sana bakal kebuka." "Sori, Watt. Ternyata aku salah. Dalam ayat dari Bang Nelson, jelas-jelas ditulis semua'. SEMUA pintu surga. Jadi
__ADS_1
nggak ada yang terkecuali." Kuhela napas berat. Mengesankan keprihatinan yang dalam. Lama kembali tak ada suara.
"Haluuu?" panggilku. "Sudah dulu, ya, Tra. Nanti aku telepon lagi. Salam buat Bang Nelson kalau ketemu," ujarnya bergetar.
Tanpa perlu dibayangkan, aku tahu bentuk ekspresi Watti detik itu. Bibir gemetar. Air mata mengumpul di pelupuk mata, tinggal tunggu jatuh. Tangan tremor sedikit.
Seminggu berikutnya menjadi minggu yang terindah. Terhibur dengan membayangkan Watti pontang-panting kebakaran jenggot. Menontonimu bertahun-tahun membuatku
tahu persis, Kak. Obsesimu pada akhiratlah
yang membuat "Tuhan", "surga", “neraka” menjadi tombol panas yang siap
menyulutmu menjadi mercon tak terkendali.
Tepat seminggu, yakni pada Minggu malam, Watti meneleponku. Mengamuk-amuk. Lalu, memusuhiku sebulan lebih, yang merupakan sebulan nan lebih indah lagi karena
sejenak menghentikan segala teror teleponnya. Di Tembagapura sana, Watti rupanya panik berat karena tak lagi punya Alkitab. Minggu sore, Watti pun diam-diam
ke gereja untuk minta ampun, lalu berkonsultasi dengan pendeta setempat. Bersama-sama mereka membuka Alkitab de-
mi merenungi ayat yang dimaksud dan terkejutlah mereka, ya, Watti, ya, si pendeta karena sudah terlebih dulu mengamini semua yang kuomongkan. Kitab Yohanes cuma sampai pasal 21. Tidak ada pasal 22.
Aku juga tidak tahu itu. Apalagi Bang Nelson yang cuma kupinjam namanya.
Sayangnya, otakku tidak bisa sekreatif tadi menghadapi krisis keuangan ini. Aku menikmati hari-hari malasku dengan rasa
bersalah. Sadar bahwa harus melakukan sesuatu, cuma belum tahu apa. Sekarang masih bisa makan pakai dua butir
telur sehari, entah sampai kapan itu. Kalau begini terus, aku harus siap membagi satu butir untuk dua kali makan. Kembali bali ke masa-masa sekolah yang serbasusah dengan uang jajan tak sesuai UMR. Selama ini aku bertahan hidup dari tabunganku sendiri,
Namun, gara-gara mempercantik rumah, dengan cepat uangku menipis. Uang warisan Dedi sengaja kumasukkan depo sito. Jumlahnya memang tak seberapa, jauhnya dari 2,7 miliar seperti langit dan sumur, tetapi lumayan buat cadangan. Menabung merupakan satu dari sedikit hal yang kubang-
gakan. Bicara masalah persistensi, belum tentu ada yang sesabar aku dalam masalah menabung. Celengan pertama: ayam
jago warna-warni, bahan tanah liat. Celengan kedua: ayam betina warna pink, bahan sama. Celengan ketiga: wadah plastik bekas sabun colek B-29. Celengan keempat: gentong biru
raksasa, bahan plastik. Celengan kelima: sebuah buku bank yang merupakan gabungan keempat celenganku sebelumnya.
__ADS_1
Kali pertama menyetor ke bank menjadi hari paling menegangkan. Untuk memperkecil kemungkinan dijambret, aku diantar Dedi dan Mang Muslim, pegawai kepercayaannya.
Dikawal dua bapak besar itu, aku menjinjing berkresek-kresek uang receh seperti Paman Gober dengan pundi-pundi uangnya. Setiap orang yang mendekat kupandangi bengis. Sejak dulu, bagiku tabungan bukan sekadar uang, melainkan tugu prestasi. Bukti bahwa ada potensi sifat rajin dalam diriku Tak peduli itu dibuktikan dengan koleksi uang lima perakan Hobi menabung ini pun sepertinya sudah digariskan takdir Pasti bukan kebetulan. Coba kalau Watti bertukar posisi denganku