PETIR

PETIR
bab 3 petir


__ADS_3

2001


Bandung


M


AAF, siapa namanya tadi, Kak?"


"Elektra."


"Seperti gadis James Bond? The World Is


Not Enough" la tersenyum cerdik. Berusaha menarik simpa-


tiku dan menunjukkan bahwa di balik dasi mencolok dan


kemeja yang tidak serasi, di balik jidatnya yang berkilap


karena minyak dan cucuran keringat pada siang bolong, di


balik variasi dagangannya yang aneh itu, ia masih mengikuti


perkembangan film Hollywood. Tak ketinggalan Agen 007.


"Ya." Aku mengangguk dan kubiarkan salesman itu baha-


gia dengan idenya karena harinya pasti sudah sangat susah.


Elektra. Jarang ada yang tahu alasan sebenarnya. Ayahku


seorang tukang listrik, atau, chm, ahli elektronik, bernama


Wijaya. Tertuliskan besar-besar di plang depan rumah kami


dulu: Wijaya Elektronik - Servis dan Reparasi.


Tinggal di Bandung membuat namaku tidak indah. Aku


berharap pengucapan "Elektra" dapat bergulir anggun bagai


kaki jenjang pemain ski di atas sungai beku, dengan huruf


"a" yang menganga sempurna seperti kita mengucap "angsa".


Namun, namaku terucapkan segaring keripik emping mentah


dengan huruf "k" yang tergantung malu-malu di ujung.


Elektra. Seperti "kakak".


Kalau namaku Elektra dan ayahku tukang listrik, bisakah


kalian tebak siapa nama kakakku? Watti. Ya. Dengan dua "t".


Tak ada yang lebih membahagiakan seorang tukang lis-


trik ketika anaknya datang menangis karena mainan elektro-


niknya rusak. "Daddy, musiknya nggak mau jalan," rengek


Watti sembari menyetorkan mainan plastik berbentuk radio


dengan kenop oranye yang apabila diputar akan menden-


dangkan lagu tunggal "Hickory, Dickory, Dock". Maka,


Daddy-atau lebih sesuainya "Dedi karena ada juga huruf

__ADS_1


"k" yang terdengar samar di ujung kata-akan segera teng-


gelam dalam perkakasnya. Kemudian, timbul lagi seperti


tukang sulap yang bangkit dari peti dibelah dua. Simsalabim.


Mainan kami kembali baru.


Begitulah seterusnya hingga kami sadar bahwa tak pernah


ada mainan baru. Dedi selalu berhasil memperbaiki segalanya. Yang kami miliki hanyalah manula-manula berjiwa


muda. Kabel baru, IC baru, baterai baru. Gambarnya sendiri


pudar. Warna oranye menghilang, berganti menjadi krem


pucat dalam waktu dua puluh tahun, tetapi lagu itu terus


berdendang... bickory, dickory, dock, the mouse ran up the clock,


the clock strucked one, the mouse ran down... sampai hari ini.


Oleh-oleh dari Tante Yu Lien, kerabat kami yang paling ka-


ya raya, dari Amerika, 1981.


Aku sering kangen Dedi. Masih terbayang gerak geriknya


dalam kaus singlet putih dan celana tenis, suara gesekan san-


dal jepitnya pada ubin. Dan, masih bisa kubaui aroma solder


campur debu


yang selalu bertumpuk akibat diundang medan


Semenjak Dedi meninggal dunia karena stroke, tidak ada


yang sanggup atau bahkan berminat meneruskan tempat ini.


Kedua anak perempuannya tak suka listrik, ogah mengatur


para karyawan, apalagi mengurus pembukuan.


Watti lebih suka ikut suaminya yang bertugas jadi staf


medis di Freeport. Ia selalu bicara soal Tembagapura. Tem-


bagapura memang tempat ideal bagi wanita domestik seperti


Watti


yang


masih menunggui suami pulang sambil merajut


baju hangat di sofa ruang keluarga. Kota Amerika kecil ber-


ketinggian 2000-an meter di atas laut itu menyediakan ke-


giatan, dari mulai kursus bahasa asing sampai fitness club.


Persembahan dari perusahaan bagi ibu-ibu rumah tangga


supaya mereka tidak merepotkan suaminya dengan ketidak seimbang hormon atau waktu yang terlalu luang. Waktu


adalah uang, tetapi waktu yang terlalu luang merupakan

__ADS_1


bentuk lain dari kemiskinan. Dan, orang miskin dapat be


rontak


tаnра


takut kehilangan apa-apa.


Aku sendiri punya masalah pribadi dengan listrik. Umur


ku belum genap delapan tahun waktu itu, sedang asyik bel


ajar mengikat tall sepatu. Bukan berarti aku anak terbela


kang, umur delapan tahun baru bisa menalikan sepatu,


melainkan itulah saat pertama aku punya sepatu bertali. Ha


sil jerih payah bertahun-tahun merengek kepada Dedi. Se


belumnya, sepatuku konstan sama: Big Boss hitam yang


dikancing satu. Semua benda yang mirip benang atau tali


kuanggap sarana berlatih, termasuk kabel listrik yang ber-


juntai-juntai menghiasi rumahku seperti akar pohon di hu-


tannya Mowgli. Pada siang yang sial itu, aku memilih kabe!


yang salah, dan seketika tubuhku menggelepar.


Tak ada cara untuk menggambarkannya dengan tepat.


Namun, coba bayangkan ada sepuluh ribu ikan piranha yang


menyergapmu langsung. Kau tak mungkin berpikir. Tak


mungkin mengucapkan kalimat perpisahan apalagi memba-


cakan wasiat. Lupakan untuk berpisah dengan manis dan


mesra seperti dalam film-film. Listrik membunuhmu dalam


sensasi. Begitu dahsyatnya, engkau hanya mampu terkulai


lemas. Engkau mati tergoda.


Sementara Dedi-o-ho!---Dedi telah menjalin ikatan sud


dengan listrik. Pernah ia menyuruh aku menyentuhkan testpen ke tubuhnya, dan percaya atau tidak, test-pen itu menyala! Meski hanya berkelip-kelip lemah, ada aliran listrik


yang menyorot dari tubuhnya.


Perkawinan elektrisnya itu terjadi ketika Dedi sedang


mengerjakan instalasi listrik untuk proyek gedung bank terbesar di Bandung. Dengan nahasnya ia terlibas kabel telanjang yang jatuh mengayun. Kontan Dedi tersengat listrik


tiga fasa yang jauh lebih dahsyat daripada sekadar kesetrum


stopkontak di rumah. Ia kejang-kejang hebat, pingsan, dan selamat seperti tak pernah terjadi apa-apa! Semenjak itu,


dengan wajah datar sambil bersenandung "Di Bawah Sinar Bulan Purnama", ia bahkan tidak mematikan sakelar saat memindahkan titik listrik di plafon. Seperti memegang


cangkir teh panas, ia menjentikkan jari-jarinya dulu, seolah-olah menyapa, "hai, Sayang" atau "hoi, anak anak". Setelah aliran listrik menyapanya balik dengan memberikan setruman-setruman kecil, mereka pun mulai bercengkerama, dan


tidak ada masalah di antara keduanya.

__ADS_1


Menyaksikan keakraban Dedi dengan listrik sering membuatku tergoda, tetapi ngeri mencoba. Barangkali listrik juga mengawiniku


__ADS_2