
Sepupu-sepupu kami masuk ke sekolah swasta Kristen atau dikirim ke luar negeri, sementara kami dicemplungkan ke sekolah negeri sejak SD. Mereka kerap dihujani angpau karena kebolehannya menyanyi lagu Mandarin, dan selama
itu aku dan Watti duduk di sudut, ngiler melihat amplop-amplop kecil di tangan para orang tua, tetapi tak bisa berbuat apa-apa. Nyanyi “Manuk Dadali” tentu tak akan menghasilkan uang Hidupku dan Watti seolah-olah berada di dua alam. Kami adalah amfibi yang menjadi aneh di tengah hewan darat dan dicibiri ikan-ikan kalau nyemplung ke air. Menjadi China di sekolah negeri sama sekali bukan hal simpel. Masa sekolah merupakan masa perjuanganku menetralkan indra pendengaran supaya hati ini tak perlu nyelekit ketika anekdot-anekdot yang menyangkut ras China sampai ke kuping.
Seringnya, kami semua lupa soal kami ini China atau pribumi. Namun, ketika temanku di jalan mengumpat,
“China loleng!" ke segerombolan anak China yang tak dikenalnya, aku pun berjuang setengah mati agar tidak tersinggung. Ketika anak-anak kelas 3 yang menongkrong di warung bertukar cerita tentang pengalaman mabuk pertama mereka dengan alkohol murah lalu berkomentar, "gila rasanya!
seperti digebuk China nggak ngalawan!" Ketika seseorang menceletuk iseng sambil menunjuk anak China kecil, "Kasihan, ya.
Kecil-kecil sudah China." Ketika kami lulus dan corat-coret seragam, mataku terpentok pada sebaris tulisan, "Bandung Anti-China". Dan, di dunia tempatku meleburkan
diri, semua itu terdengar normal. Padahal tidak. Tidak ketika kulitmu berwarna kuning dan susah gosong sekalipun
dijemur seharian di lapangan dan matamu tetap sipit padahal engkau sedang melotot lebar-lebar. Semua usahaku tak pernah berhasil. Hatiku tetap tertusuk-tusuk.
Sebaliknya, ketika kami pindah dunia, fisik kami yang China justru tidak membantu. Akibat sama-sama berkulit
kuning dan bermata sipit, kami lantas dicap ketinggalan zaman gara-gara tidak nge-fans sama Aaron Kwok. Dan, akupun berbisik kepada Watti, “Siapa, sih, Aaron Kwok?" Hatiku miris dan bertanya-tanya ketika sepupu-sepupu bergosip
dalam bahasa Mandarin, lalu cekikikan melihat kami berdua. Hatiku berontak saat para orang tua mengkritik pedas
__ADS_1
yang ketahuan
pacaran dengan cowok pribumi. Jangan
Watti salahkan kakakku. Apa yang ia lihat setiap hari, apa yang ia
gunjingkan dengan teman-teman ceweknya di sekolah adalah
cowok-cowok berkulit cokelat, bermata besar, dan tak punya
dua nama. Dan, ketahuilah, hanya saat acara arisan keluarga, aku dan Watti bisa menjadi tim kompak yang melindungi satu sama lain.
Untuk semua sikap Dedi dan konsekuensinya atas kami, jarang sekali aku mensyukuri. Namun, ketika melihat Dedi membela pendirian yang menjadi alas bagi kami tumbuh besar, aku justru mengagumi tembok yang melapisi kami selama ini. Oleh karena itulah, kuping Dedi seakan terbuat dari pinggan antipanas yang tak meleleh oleh semua omongan saudara kami. Ia juga dengan tegas menentukan sikapnya
cuma satu dan uang sekolah anak-anaknya di bawah sepuluh ribu perak, tetapi belum tentu paman-pamanku itu kuat disetrum. Sebut aku sinting, tetapi rasanya tercipta satu hubungan transparan antara kami berdua. Bukan bapak-anak, melainkan lebih seperti teman sejawat. Ada Elektra II dalam diriku yang kontak-kontakan dengan Wijaya II dalam dirinya, lalu mereka berdua bercakap-cakap seperti dua sahabat sebaya. Setelah sekian lama meyakini keberadaan Elektra II dan Wijaya II, aku memberanikan diri bicara dengan Dedi. Berharap pada tatapan pertama nanti kami tak perlu berkata-kata, tetapi tinggal angguk-angguk kepala karena kami
berdua sudah mengerti. Percakapan tingkat tinggi yang tak didengar manusia biasa.
"Ded..."
"Hmmm?"
__ADS_1
"Mmm. Ded...."
"Hmmm?"
"Kenapa, sh, Dedi jadi tukang listrik?"
Aku pun mengamati ayahku lekat-lekat. Mempelajari reaksinya. Kepalanya yang tadi nyaris menempel pada rangkalan perlahan bergerak naik. Alisnya mengangkat-angkat,
tanda ia sedang mencerna pertanyaanku. Kepalanya bergerak miring sedikit. Bahunya naik. Lalu Dedi menghela napas.
Aku menanti tegang. Ini dia, pikirku. Jawaban bagi semua misteri. Katakan saja, Ded. Aku ini memang anak ajaib, kan? Kamu bukan ayahku. Kita makhluk-makhluk luar
angkasa, datang dari salah satu planet bernama aneh dalam film Star Trek. Kamu itu semacam mentorku. Kasihan Watti.
la tak akan sanggup menghadapi kenyataan ini. Oh, ya, Ded, izinkan aku memanggilmu Superwija. Dan, kamu
boleh memanggil nama asliku: Superetra.
"Soalnya," Dedi berhenti sebentar, menoleh kepadaku, "Dedi nggak mengerti mesin mobil. Kalau mengerti, mungkin jadi montir." Usai menjawab, Dedi kembali bekerja.
Begitulah. Selamat tinggal Superwija, Superetra. Dalam kehidupan nyata, memang tak ada yang berubah.
__ADS_1
Aku, si Bungsu Pemalas yang jarang punya aksi. Watti, siSulung Hiperaktif yang selalu beraksi. Dan, Dedi menatap
kami berdua dengan tatapan yang sama. Baginya, hidup memang bukan siapa yang unggul di atas siapa. Bagiku, hidup adalah duduk di bangku bioskop yang gelap menontoni kakakku bergulung dengan ombak zaman.