PETIR

PETIR
bab 7


__ADS_3

Apabila zaman Dinosaurus ditutup dengan hujan meteor maka zaman Persekutuan Doa, atau lebih populer disebut zaman Nelsonsaurus, ditutup dengan hujan air mata. Watti patah hati gara-gara Bang Nelson sang pujaan ternyata baik kepadanya karena menyayangi dalam kasih Kristus, bukan


kasihnya Maria dan Yusuf.


Namun, tak lama, zaman baru dimulai. Watti menemukan sosok baru untuk disembah sujud. Lima orang jumlahnya. Dibilang nyata, ya, nyata. Dibilang tidak, juga bisa


karena Watti tidak pernah bertemu langsung. Cuma dari lihat poster dan nonton televisi. Namun, kalau sedang dipuncak kasmaran, tak jarang Watti bercucuran air mata.


Tiada satu hari pun lewat tanpa menulisi diary tentang persahabatan khayalnya dengan mereka: Joey McIntyre, Donnie


Wahlberg, Jordan Knight, Jonathan Knight, dan Danny Wood. Waktu lagi kumat-kumatnya, Watti mencuri pakai


piloks punya Dedi dan mencoreti dinding tempat sampah kami di depan: N KOT B. New Kids on the Block-Watti


Knight Hidup semakin menghibur. Diberinya aku tontonan Watti sedang lipsync lagu "Please Don't Go, Girl" di depan


cermin. Kakakku itu, hanya berhanduk dan berbeha kegedean, menyanyi penuh perasaan sambil memegang sisir bulat Menurutku, belum saatnya Watti pakai beha. Ditutup singletpun masih tidak apa-apa, belum ada yang perlu ditopang disana. Namun, tampaknya Watti mulai memahami modal


seksualitas perempuan. Apalagi untuk persaingan ketat di SMP, saat cowok-cowok mulai rajin onani dan cewek-cewek


mulai mencari-cari perbedaan antara satu sama lain. Yang bertumbuh paling cepat biasanya jadi ngetop. Zaman NKOTB-saurus ditutup begitu Watti punya sosok nyata untuk dijadikan pacar pertama. Ia kelas 2 SMA waktu itu dan aku 2 SMP. Nama cowoknya Andre. Jadilah ia matahari baru bagi orbit hidup Watti. Semuanya berporos kepada Andre seorang. Andre yang semifinalis Cover Boy, Andre yang mobilnya Civic "setrikaan" ceper, Andre yang suka menongkrong di Dunkin Donuts--tongkrongan yang


trendi pada masanya, Andre yang sudah jago pacaran, blablabla Kadang-kadang hidup membuatku khawatir. Diberinya


aku tontonan yang tak diharapkan.


Suatu sore pada Minggu yang sepi, aku pulang dan melihat mobil Andre terparkir. Dedi sedang pergi ke rumah Tante Yu Lien, jadi bisa dipastikan di rumah tidak ada


siapa-siapa. Harap maklum, kami tidak biasa terima tamu, jadi yang ada di kepalaku secara otomatis adalah mengecek keadaan Watti. Bukannya sok perhatian, tetapi begitulah


adat istiadat di sini. Kalau orang yang dicari tidak kelihatan wujudnya di mana-mana, kami akan membuka pintu kamarnya sambil bilang "hoi" pendek. Lalu ditutup lagi.


Watti tidak kelihatan. Tanpa berpikir, aku membuka pintu kamarnya, bersiap ngomong, "ho..". Tak ada suara yang keluar dari mulutku. Hanya udara tertahan.


Kakakku di atas tempat tidur, bercelana pendek, behanya di lantai. Catatan: Watti sudah pakai beha betulan karena

__ADS_1


ada yang harus ditopang. Andre ada di sebelahnya, telanjang dada, dengan muka sama kaget. Bahkan, ia tak sempat


mengangkat mulutnya dari dada kakakku.


"Hoi." Kutuntaskan misiku. Aku masuk kamar dan mengunci pintu. Tidak keluar lagi sampai besok. Masalah itu tidak pernah kubahas dengan Watti. Namun, semenjak itu ia memperlakukanku dengan sedikit segan. Bc-


gitu juga Andre. Mereka pikir aku memegang kartu As yang sewaktu-waktu bisa dijadikan senjata untuk mengakhiri permainan kucing-kucingan mereka dengan Dedi, dan hilanglah kebebasan berasyik-masyuk-kelyuwar di kamar Watti tanpa gangguan. Gobloknya, waktu pertengahan kelas 3 SMA,


mereka bubaran. Aku melihat Andre menggandeng cewek yang lebih bahenol, anak baru dari Medan, yang sekalipun


berlogat aneh, tetapi katanya ia anak orang kaya penguasa hotel dan tempat hiburan di Sumatra Utara sana.


Aku sungguh tak percaya zamanAndresaurus akan memiliki akhir. Kupikir Andre dan Watti bakalan jadi suami istri betulan. Membentuk keluarga berencana seperti gambar


pada koin sepuluh perak. Terkagum-kagum aku memuji ketabahan Watti. Suatu hari ia akan berpapasan dengan Andre di pasar, kek, atau di jalan, ia akan selalu telanjang Seorang


cowok di luar sana pernah melihatnya tanpa beha. Betul-betul tak terbayangkan. Dunia sudah tak aman lagi bagi Watti.


Bagi Elektra, dunia senantiasa tempat yang aman serta full hiburan. Selalu ada tingkah orang yang bisa kutertawa kan dalam hati. Selalu ada sesuatu yang bisa kukomentari.


gelapku. Akan tetapi, kursi itu berguncang hebat pada akhirnya. Ternyata hidup tidak membiarkan satu orang pun lolos untuk


cuma jadi penonton. Semua harus mencicipi ombak.


Zaman keemasanku sebagai penonton bioskop kehidupan ditutup ketika Dedi meninggal. Aku memasuki era baru yang


serbasing, tak pasti. Dunia tak lagi aman bagi Elektra Ketika Dedi roboh akibat stroke dan lewat seketika, aku orang yang paling terpukul. Bagaimana mungkin sese-


orang yang selamat dari setruman beribu-ribu volt, orang yang seharusnya paling tahan guncangan dan lonjakan tepangan, serta-merta jatuh karena serangan yang kurang dari tiga puluh detik dan tak kelihatan itu? Aku pun berpikir,listrik macam apa lagi ini. Kalau memang ada jenis lain,


Kalau memang ada drakula pengisap nyawa yang lebih dahsyat lagi


Bukannya Dedi tidak pernah mengeluh sebelum-sebelumnya. Beliau sudah cukup tua. Lima puluh sembilan tahun.


Mengurus dua anak perempuan tanpa istri selama dua puluh tahun lebih. Kalau Mami masih hidup, mungkin Dedi tidak

__ADS_1


akan sakit-sakitan karena bisa lebih cerewet, lebih ekspresif. Selama hidupnya, Dedi lebih banyak bicara dengan orang dewasa daripada kami. Bahkan, ketika kami berdua sudah


jadi dewasa betulan sekalipun, ia lebih suka diam. Rupanya tidak mudah mengubah sebuah pelarian yang sudah jadi ke-


biasaan. Aku baru tersadar bahwa kata-kata yang tersimpan dapat membusuk hingga kawanan belatung menggerogotimu dari dalam. Dedi bilang kadang-kadang ia suka sakit dada. Ada yang nyelekit. Watti langsung menyuruhnya check-up, tetapi sama


seperti aku, Dedi overestimate kekuatannya sendiri. "Ditempeli test-pen saja nyala! Penyakit mana yang mau datang?" Itulah slogan favorit Dedi dan kami pun tertawa-


tawa. Aku dan Dedi. Watti tidak.


"Etra, Dedi bisa masuk acara televisi 'Believe It Or Not, lho. Nanti kita bisa kaya." Dedi memandangku dari kedua rongga matanya yang menyipit jadi satu garis kalau sedang


berseri-seri. Watti menimpali, galak, “Dedi, acara itu nggak ada dari


aku SMP, tauk. Pembawa acaranya, Jack Palance, juga sudah mati. Sakit jantung, kali."


Kami berdua tahu Watti khawatir, tetapi kami diam saja. Kalau listrik mengirimkan vampir yang menyedot arwahmu, diemut-**** seperti memburu sumsum dalamsop kaki


kambing, stroke melakukannya seperti copet di alun-alun. Cepat. Tak tersadari. Dan, ketika sadar, kau sudah tidak ada. Meraba-raba kantong celana, kantong dada... nyawamu


lenyap. Apa yang terjadi? Halo? Siapa di situ? Hanny (nama kecil ibuku]? Lho, kok, ada kamu? Copet rakus tidak menyisakan SIM atau KTP. Karena kalau hanya uangnya yang direnggut, barangkali ayahku cuma lumpuh sebelah. Namun, copet yang menyerangnya pastilah copet super-rakus. Tak ada yang disisakan. Mengingatkanku pada kentut bisu. Tak ada jejak suara hingga sulit


menuduh siapa-siapa. Lewat tanpa embusan angin yang terdeteksi saraf kulit. Kau benar-benar cuma bisa menikmati


busuknya. Tak lupa kuselipkan test-pen di dalam peti matinya. Dedi, menyalalah sekali lagi, aku memohon. Kembalilah seperti robot-


robot yang berhasil kau sulap sampai bergerak. Engkau harusnya bisa bertahan, seperti mainan-mainan kami yang hidup abadi ditanganmu. Dedi, please, sekali lagi si Peti itu ditutup. Beberapa tetes air mataku turut menyelinap serta Sejujurnya, aku merasa Dedi lebih beruntung ketimbang


kami yang ditinggalkan. Olch karena itu, aku menangis. Kematian bagiku ibarat tiket terusan bioskop kehidupan. bayangkan betapa menyenangkannya itu. Menontoni drama miliaran manusia tanpa harus terlibat konflik apa pun. Lalu, Dedi akan bertemu Mami. Karena itu juga aku menangis. Aku iri. Bagi anak yang hanya mampu mengingat


wajah ibunya samar-samar, bercampur-campur dengan hidung, mata, dan rambut orang lain, tersimpanlah rasa penasaran besar di dalam hati. Bisa jadi aku bukannya kangen karena jejak kehadirannya belum sempat melekat dalam ingatan, melainkan penasaran tok. Aku kepingin melihat Mami. Live.


Kata pamanku, Mami-lah yang paling cantik sekeluarga. Badannya kecil singset, biarpun hamil dua kali, tetapi tak jadi melar. Kulitnya seperti bangsawan China, jernih dan licin mirip pualam. Namun, ada yang berpendapat lain. Si Hanny mati muda, terang saja selalu jadi yang tercantik, kata saudara-saudaranya yang sirik karena mereka tetap hidup lalu


jadi tua dan jelek. Wajah Mami turun ke Watti, kata mereka lagi. Kalau aku hanya kebagian kecil singsetnya, sementara mukanya condong ke Dedi. Sialan. Sori, Ded, tetapi itu namanya penghinaan. Apalagi kecil singset untuk zaman sekarang ini tak laku lagi. Orang-orang suka cewek-cewek

__ADS_1


tinggi 165 cm ke atas. Dan, konon, pria mana pun akan ngiler lihat cewek bokong besar karena itu lambang kesuburan.


__ADS_2