PETIR

PETIR
bab 10


__ADS_3

Siangnya, aku langsung pergi ke Jalan Cikapundung, membeli majalah-majalah interior bekas dan mulai menata


ulang rumah kami. Seluruh dinding serta langit-langit kucat ulang. Ubin ka-


mi yang abu-abu itu kugosok dengan ampas kelapa dicampur bubuk karbon sampai kembali gelap dan mengilap. Membeli


beberapa helai permadani dan satu set sofa rotan sederhana. Belanja ke Jalan Alkateri, lalu mengganti tirai-tirai kusam kami dengan yang baru. Memborong pot-pot tanaman dan


menjajarkannya di halaman sampai rimbun. Mencopoti puluhan kalender beraneka tahun yang tanpa alasan jelas selalu dipajang Dedi. Membenarkan letak foto-foto keluarga kami


yang tak banyak dan tak pernah terpasang dengan simetris. Mengganti lampu-lampu TL yang membuat rumah kami tampak seperti warung pinggir jalan karena dipasang secara


vertikal di dinding. Kini aku menggunakan lampu yang bersinar kekuningan, membeli beberapa lampu duduk, dan untuk kali pertama rumah kami terlihat seperti... rumah.


Kulkasku sekarang tinggal satu, tetapi tidak rusak. Selain itu, aku hanya mempertahankan sebuah televisi 21 inci yang kuletakkan di ruang tengah, kunyalakan sekali-sekali saja


karena aku masih muak dengan benda elektronik. Aku ingin menikmati kekosongan.


"Etra," kata Watti lagi suatu hari, "okelah kamu sudah membereskan rumah, tapi terus apa? Kuliah kamu selesai dari setengah tahun yang lalu, tapi kamu tidak pernah cari kerja yang benar. Memangnya kamu mau buka usaha sendiri, apa?"


Kalimatnya disambut jeda kosong. Pertanda aku sedang memikirkan sebuah jawaban atau tipuan.


"Buka usaha? Memang mau! Kenapa nggak?" aku membalas mantap


Itu tipuan. Aku cuma tidak ingin ia menjodohkanku dengan ko-as temannya Kang Atam yang kemungkinan besar


juga bakal direkrut Freeport, lalu kami semua berbondong-bondong pindah ke Tembagapura, hanya untuk menemani


Watti memilih warna benang dan menghitung kotak-kotak pola kristik. Maaf-maaf saja. Aku juga tidak ingin ia menyudutkanku karena aku sarjana pengangguran, tidak punya


pacar, dan tidak pernah kelihatan punya bakat apa-apa selain kemampuanku untuk tidur dari siang sampai siang lagi.


Aku memang tidak pernah merasa punya bakat bisnis, yang konon


biarpun keluarga kami turunan Tionghoa murni sudah terdaulat menjadi pedagang semenjak masih di dalam kandungan.


Watti pernah mengonfirmasi keraguanku. Suatu hari ia membawa bukti-bukti bahwa kami masih ada darah Sundanya. Entah generasi yang ke berapa, tetapi ada, cetusnya

__ADS_1


yakin. Tadinya kupikir ia hanya inferiority complex berhubung akan menikah dengan Kang Atam yang juga berkulit kuning


seperti orang China, tetapi katanya orang Sunda asli. Dan, Watti seolah-olah berusaha membuktikan bahwa mereka tidak terlalu berbeda. Aku tidak suka itu. Kenapa bukan Kang Atam yang


membuktikan diri bahwa ternyata nenek mo-


yangnya juga keturunan Tionghoa? Supaya kulit kuning dan mata sipitnya lebih memiliki sebab musabab yang jelas? Na-


mun, sudahlah, Watti mungkin saja benar. Kami hanya China “aspal” karena buktinya karier bisnisku selalu kandas.


Karier pertamaku adalah menjadi kaki-kaki dari seorang tante yang juga kaki-kaki dari seorang pemuda yang mungkin juga masih seorang kaki-kaki dari si X, yang sebenarnya


tidak terlampau masalah karena kami semua satu saudara dalam perusahaan multilevel. Namun, setelah gagal menjaring kaki-kaki untuk diriku sendiri, aku memutuskan untuk


mengamputasi karierku di sana.


Karierku berikutnya diawali oleh seorang perempuan seumuranku


yang tiada hujan tiada angin tahu-tahu mengajak ngobrol di supermarket. Dengan penuh perhatian ia ikut memilihkan mangga harum manis dari rak buah, sangat


ramah, sampai-sampai menawariku pekerjaan segala. Pergilah aku ke rumahnya, calon sahabat baruku itu. Ruang tamunya lengang, ada banyak tumpukan dus di sana sini. Pe-


Lama-kelamaan nada ramahnya mulai berubah. Ia kelihatan terfokus, setiap katanya memiliki tujuan. Ia pun mengeluarkan secarik kertas kosong, kemudian mencoret-coretkan lincah gambar piramida-piramida. Istilahnya kali ini downline. Lebih keren, memang. Cukup untuk menyumpal


mulut Watti sementara waktu. Ia selalu tergila-gila istilah


Inggris.


Tak lama kemudian, aku mulai menjajakan produk obat-obatan, suplemen diet, kadang-kadang kosmetik. Sudah ba-


nyak contoh sukses, dalam satu tahun mungkin aku bisa mendapat KKSM. Kredit Kepemilikan Sepeda Motor. Tambah empat tahun, siapa tahu aku bisa mendapat KKMM dan KKRM. Mobil mewah, rumah mewah. Dan, umurku bahkan masih di bawah 30 tahun! Ha-ha-ha. Watti bisa terkencing-kencing Awalnya, memang lumayan. Ada dua orang yang bisa


kujaring. Yayah dan Mimin. Yang pertama adalah mantan pembantuku sendiri, yang kedua mantan pembantu tetangga.


Namun, sesudahnya, aku tak bisa berkembang lagi. Akhirnya, kuserahkan piramida mungilku kepada mereka. Aku


menyerah. Semenjak itu kucamkan keras-keras: Etra, multilevel tidak cocok buatmu. Dan, tolong, jauh-jauhlah dari

__ADS_1


piramida, kaki-kaki, juga downline.


Suatu hari aku menyadari Yayah dan Mimin hampir tidak pernah kelihatan. Mereka terus-menerus menongkrong di kantor distributor, sibuk ke sana kemari, sampai tiba pada satu titik tolak. Mereka menjelma menjadi wanita-wanita karier sukses, pergi menghadap tuan-tuannya, lalu memecat


diri jadi pembantu. Minggu lalu aku bertemu dengan Yayah, naik motor China yang masih kinclong, bibirnya bersaput gincu merah darah, melambaikan tangan anggun kepadak


yang baru turun dari angkot. Mantan domine-ku itu. Rupanya ia berhasil mendapatkan KKSM.


Seluruh kemampuanku rasa-rasanya sudah habis tergali. Namun, aku belum putus asa. Selagi Warti sibuk dengan kegilaannya akan Tembagapura, aku terus menjajaki kemung-


kinan teori genetika dagang tadi. Siapa tahu? China asli atau China palsu, yang jelas Elektra tidak mudah menyerah. Bukankah itu yang konon jadi rahasia kesuksesan ras kami?


Ulet. Gigih. Tekun. Ayo, Elektra! Maju terus! Aku masih punya jurus pamungkas. Senjata nuklir. Tenkuken Ball, kalau di serial Voltus. Pukulan Sinar Matahari, kalau di Wiro


Sableng. Ini dia jurusku, Eleanor Gempur Nusantara! Calon mitraku pertama bernama Ibu Siska, agen baju sisa


ekspor yang langsung jatuh cinta pada rumah kami. "Ini lokasi yang sempurna," katanya berseri-seri. Tampaknya ia sudah melihat uang-uangnya di segala sudut. "Kita


akan buka toko baju bayi dan anak, Dik Etra. Itu pilihan yang paling menguntungkan untuk sekarang ini, lho," tuturnya lagi bersemangat.


Belum apa-apa ia menggunakan kata "kita".Konsumen yang paling enak buat diporotin itu ibu-ibu hamil, belum lagi kalau belanja sama mami atau mertuanya,


wah, bisa segala dibeli." Matanya mengerjap-ngerjap (uang uang - uang!).


Aku diam dan membayangkan. Entah kenapa, aku tidak suka idenya. Aku belum pernah jadi seorang ibu, tetapi tidak adil rasanya menyerang titik lemah naluri keibuan yang bertetangga akrab dengan naluri pemborosan. Bukankah anak


lebih butuh ASI dan dikeloni? Ibu Siska tidak pernah kuhubungi lagi.


Calon berikutnya tampil lebih meyakinkan. Datang dengan mobil BMW merah, pria itu tidak banyak bicara. Ia ditemani asistennya yang sibuk menanyaiku macam-macam.


Pak Hendrawan namanya. Yang paling mengesankan darinya adalah ia mampu terus bicara dengan mulut tertawa lebar.


Aku mengamatinya hati-hati, takut beliau tersinggung Ukuran mulutnya memang ekstra luas. Kalau jadi kolam renang, ini dia standar Olimpiade. Si Bos hanya lirik kiri kanan, membuka-buka ruangan,lirik atas bawah. Berjalan dengan tangan terpaut di belakang


pinggang, terakhir ia berbalik, menatap Pak Hendrawan, lalu mengangguk sedikit


"Kami akan memberikan penawaran yang sangat menarik," Pak Hendrawan dengan cepat berkata. Sementara aku

__ADS_1


masih mengagumi bahasa sandi mereka berdua."Berapa harga kontrak rumah ini setahun?"


__ADS_2