
Bukannya orang justru minum kopi agar melek. Namun,
mekanisme terbalik itu terpelihara baik oleh waktu, seba-
gaimana rutinitas yang membelenggu kehidupan mereka
lebih terasa seperti pil melatonin yang membuai.
Dimas membuka dompet, mengeluarkan sebuah kartu
keanggotaan, dan menyerahkannya kepada pelayan di kafe
toko buku itu dengan ekspresi sama selama tiga tahun ter-
akhir. Bibir melengkungkan senyum yang disinkronkan de-
ngan anggukan kepala yang dalam. Sebuah kode, dimapan-
kan oleh rutinitas juga waktu, yang artinya: satu complimen-
tary iced tea, es sedikit, dan saya akan memakai fasilitas internet
gratis di kafe ini selama mungkin.
Tempat inilah suaka sekaligus surga Dimas. Toko buku
internasional di tengah kota dengan kafe mungil yang ke-
anggotaannya berarti dapat diskon, komplemen teh atau ko-
pi, gratis pemakaian internet. Semua yang ia butuhkan untuk
menciptakan nirwana pribadi. Dan, untuk mencapai itu,
Dimas tidak perlu kembali ke Washington, D.C., bernasib
seperti ayam potong yang cuma dikurung dan diberi makan
selama dua puluhan jam dalam pesawat. Ia cukup menge-
mudi tiga menit dari rumah, atau kalau sedang malas, men-
cegat bajaj. Bajaj-distance heaven, begitu Reuben mengistilah-
kan tempat ini. Spiritualitas bertemu efisiensi. Tubrukan
__ADS_1
yang sempurna.
Es tehnya datang bersamaan dengan situs free mail-nya
terbuka. Dimas merogoh kocek ekstra untuk memperbesar
volume kotak surelnya. Bukan cuma untuk berkorespondensi,
ia pun mengirimkan semua dokumen pentingnya ke sana,
Alternatif back-up kala CD, harddisk eksternal, tak bisa lagi
membantu. Kehilangan dokumen merupakan mimpi paling
buruk yang bisa dibayangkan Dimas. Seperti kehilangan
kepala rasanya. Dan, kita semua tahu betapa seramnya
makhluk tanpa kepala.
Matanya menyapu kilat surat-surat yang masuk. Tangan-
nya bergerak mengeklik tetikus dari atas ke bawah, menan-
dai mana-mana yang akan dihapus. Penawaran viagra. Pena-
lihai saja, nama pengirimnya semakin manusiawi hingga ter-
kadang mengelabui seolah kita dapat teman baru. Mike
Smith, Lorraine Andrews, dan ini... Gio Alvarado. Nama
macho. Cocok untuk sales alat pembesar *****. Judul surelnya:
"Very important. Pls read. Re: Diva Anastasia."
Dimas mendengus, apa itu Diva Anastasia? Sex doll? Ti-
dak tahukah orang ini kalau sex doll yang menarik baginya
justru yang bernama seperti, ya, Gio Alvarado? Namun, arah
tetikusnya justru terpeleset ke judul surel, bukan ke boks
kecil di depannya. Surel tak diharapkan itu membuka.
__ADS_1
To whom it may concern.
Nama saya Gio, dari Jakarta. Kita belum saling kenal.
Tapi, Anda kenal dengan sahabat saya, Diva Anastasia. Saat Diva dinyatakan hilang saat mengikuti ekspedisi ke Rio
Tambopata. Saya ikut dalam tim SAR yang mencarinya.
Alamat surel Anda tercantum dalam emergency contact list
yang ditinggalkannya kali terakhir di Cusco. Kalau Anda
ingin mengecek perkembangan usaha pencarian Diva atau
informasi apa pun juga, silakan menghubungi saya di alamat
surel ini.
Regards,
Gio.
PS. Diva menuliskan spesifik agar mencantumkan
"Supernova" di judul surel untuk Anda. Tapi, saya pikir Diva
Anastasia lebih mudah dikenal. Semoga surel ini sampai
dengan sama baiknya.
Baru pada bagian akhir Dimas tersadar, surel itu tidak
salah kirim. Buru-buru ia merogoh tas, mencari ponsel yang
terlalu kecil sehingga pencarian itu terasa menyulitkan.
Akhirnya, ia dapatkan alasan kuat untuk menghubungi
Reuben di sela jam kerjanya. Akhirnya, ia dapatkan sebuah
stimulus baru yang
akan memacu adrenalin dan sejenak me-
redam melatonin mereka. Sebuah kado hari jadi yang ter-
__ADS_1
lambat datang sehari.