Petualangan Sang Pendekar Cantik

Petualangan Sang Pendekar Cantik
Mimpi sebagai Pertanda#2


__ADS_3

Gadis itu menyadari bahwa dirinya yang lain telah menguasai kesadarannya. Dia pun menghela nafas panjang dan melanjutkan sayembara tersebut.


"Huh... Sudahlah, daripada aku termenung di sini, lebih baik aku melanjutkan urusan ini dulu," gumamnya.


Tidak lama setelah itu, sang gadis berjalan, tiba-tiba terdengar suara raungan hewan buas.


"Goar!!! Grrr!!..." terdengar raungan si hewan.


"Hmph... Sepertinya aku memiliki mangsa lain!" kata sang gadis.


Dia mengeluarkan pedangnya dan menyelimuti pedang tersebut dengan aura spiritual miliknya. Sang gadis telah siap untuk menyerang dan seketika hewan buas itu datang ke arahnya. Hewan itu ternyata salah satu hewan yang paling kuat di dalam dimensi sayembara itu.


"Wah... Tidak aku sangka, ternyata aku bertemu denganmu. Sekarang saatnya kau tunduk dibawah pedangku!" teriaknya kepada si hewan.


Sang gadis menyerang si hewan, dia melepaskan serangan yang cukup kuat ke arah si hewan, sehingga menyebabkan luka serius di bagian kepala si hewan. Tanduk hewan itu pun patah karena serangan tersebut. Namun, si hewan tampak sangat marah karena luka yang dideritanya.


"Goarrr!! Beraninya manusia sepertimu mematahkan tandukku. Karena kau berani menyerangku, aku akan membunuhmu!" kata si hewan.


Sang gadis tersenyum seolah meremehkan si hewan.


"Oh.. benarkah? Kalau begitu, cepatlah serang aku! Jika kau tidak segera menyerangku, aku yang akan membunuhmu," jawab sang gadis.


Hewan itu sudah tak bisa menahan amarahnya, dia menyerang sang gadis dengan kekuatan penuh. Namun, sang gadis dengan mudah dapat menangkis serangan si hewan.

__ADS_1


"Hmph, apakah itu saja tenagamu? Sepertinya kau adalah sapi yang sangat lemah," kata sang gadis kepada si hewan.


Sang hewan menyadari bahwa serangannya dapat ditangani oleh sang gadis. Lalu, sang hewan mundur beberapa langkah seolah sedang mempersiapkan serangan selanjutnya.


"Siapa yang kau sebut sapi ini!! Aku bukanlah sapi, melainkan jenis siluman banteng api! Dasar manusia rendahan, terimalah serangan spiritualku!" teriak si hewan sambil melancarkan serangan spiritual.


Namun, serangan itu pun bisa ditangkis oleh sang gadis dengan sangat cakap, bahkan seketika serangan itu dipantulkan kembali ke arah si hewan.


Boom!! Duar!!... Serangan itu tepat mengenai si hewan sehingga hewan itu terpental jauh ke belakang dan terlihat terluka parah.


"Uhuk uhuk uhuk... Sial! Kenapa kau selalu bisa menangani serangan dariku. Siapa kau sebenarnya!" keluh si hewan sambil merintih kesakitan.


Sang gadis menyimpan pedangnya kembali dan berjalan ke arah si hewan. Dia menyentuh bagian kepala si hewan dengan lembut.


"Sudahlah, aku bisa menangani seranganmu karena aku kuat, namun aku tidak bisa mengatakan pada kamu siapa diriku sebenarnya. Aku hanya bisa mengatakan nama saja," kata sang gadis.


"Uhuk... hah... Alangkah beruntungnya aku bisa bertemu dengan seorang pendekar yang bisa mengalahkan diriku. Aku ingin tahu siapa namamu, aku ingin mengingat dirimu dan akan aku jadikan kau sebagai pondasi kekuatanku di kehidupan selanjutnya," kata si hewan.


Aura spiritual kehidupan si hewan perlahan-lahan menghilang. Hewan itu semakin lemas dan tak berdaya. Sang gadis dengan nada lembut menjawab,


"Namaku Zora, aku tidak keberatan jika kau menjadikan diriku sebagai pondasi kehidupanmu. Namun, perlu kau tahu bahwa di dunia ini, aku bukanlah yang terkuat," jawab sang gadis.


"Hah... Aku benar-benar tidak menyangka ada manusia sepertimu, aku hanya tahu kalau manusia itu serakah dan hanya memperdulikan diri sendiri," kata si hewan.

__ADS_1


Mendengar perkataan itu, sang gadis menggelengkan kepalanya dan mengatakan bahwa tidak semua manusia seperti yang dikatakan oleh si hewan.


"Hmmm, sekarang aku bisa pergi dengan tenang. Tapi, sebelum aku pergi, aku ingin kau menerima kristal ini," kata si hewan pada sang gadis.


Lalu, si hewan itu tiba-tiba mengeluarkan kristal dari kepalanya. Sang gadis mengambil kristal tersebut dan bertanya kepada si hewan,


"Kristal apa ini? Mengapa kau memberikannya padaku?" tanyanya sambil memperlihatkan benda yang diterimanya itu.


Dengan tenaga terakhirnya, si hewan menjawab pertanyaan sang gadis,


"Itu adalah kristal iblis. Dengan kristal itu di tanganmu, kau bisa mengendalikan seluruh klan siluman banteng api. Aku mempercayakan hal ini padamu," kata si hewan.


Sang gadis mengerutkan keningnya dan menggenggam kristal itu di tangannya. Dia berdiri dan menanyakan satu hal terakhir sebelum pergi,


"Kenapa kau mempercayakan hal ini padaku?" tanyanya.


Sambil terkekeh dan menahan rasa sakit, si hewan menjawab,


"Sebelumnya, aku bertemu dengan seseorang. Dia berkata bahwa aku ditakdirkan untuk berakhir di bawah pedang seorang pendekar dan saat aku sudah mati, aku harus menyerahkan kekuasaan siluman banteng api pada si pendekar. Aku sudah menemui setiap pendekar yang ada di dimensi ini dan tidak ada yang mampu membunuhku. Saat melihatmu, aku langsung tahu bahwa kau adalah pendekar terakhir yang aku temui. Aku tak menyangka perkataan orang itu benar dan aku sekarang sudah sangat bahagia." kata si hewan.


Sang gadis menggertakkan giginya dan berkata, "Kenapa kau bisa merasa bahagia saat kau mati!! Siapa orang itu sebenarnya!" kata sang gadis geram.


Si hewan menggelengkan kepalanya tidak bisa menjelaskan siapa orang yang ditemuinya itu, tapi dia mengatakan,

__ADS_1


"Wahai pendekar, semua makhluk hidup di dunia ini memiliki takdir masing-masing. Semuanya juga menempuh perjalanan yang berbeda. Aku senang bisa mati di tanganmu karena memang inilah takdirku. Namun, harus kau ingat, pendekar, bahwa kita hidup di muka bumi yang sama, tapi berdiri dalam takdir yang berbeda," kata si hewan sebelum akhirnya menghilang.


Setelah kepergian hewan itu, sang gadis melanjutkan perjalanannya.


__ADS_2