
Kabar mengejutkan hari ini bertebaran di media. Kabar tentang mobil yang diketahui milik salah satu konglomerat di Indonesia terlibat dalam kecelakaan tunggal di sebuah tikungan tajam dan kendaraannya masuk ke jurang. Sempat terjadi ledakan, namun mayatnya belum ditemukan.
Seperti itulah berita yang beredar. Tanpa mereka tau semua telah direncanakan. Dan memang tidak akan ada yang menyangka, karena kesedihan itu nampak nyata pada raut wajah setiap anggota keluarga.
Meski mayatnya belum ditemukan, karangan bunga yang dikirim teman, kerabat, juga klien Biantara sudah terlihat berjejer rapi hingga di luar rumah Renaldi. Jika mereka hanya mengucapkan bela sungkawa dengan mengirim karangan bunga, lain halnya dengan Bima. Sepupu Ajeng yang juga sahabat Renaldi itu bertandang langsung untuk mengucapkan bela sungkawa.
“Aku turut berduka, Rendi. Kau seharusnya jadi pemenang aktor terbaik tahun ini,” bisik Bima yang baru datang
“Apa maksudmu?"
"Kau bisa mengelabui semua orang, tapi aku tidak. Haruskah aku mengucapkan selamat di sini? Hehehe. Selamat karena kau akhirnya jadi pemilik Biantara."
Renaldi tersenyum samar. Endra yang berdiri di sampingnya sekilas melirik namun kembali tertunduk. Selain Bima, diantara semua anggota keluarganya mungkin hanya ia yang tahu bahwasanya sang Ayah lah yang merencanakan kematian kakeknya.
Endra menoleh pada ibunya yang duduk agak jauh dari mereka. Ditatapnya nanar sang Ibu yang terlihat sangat kehilangan. Di samping ibunya, Risa tertegun seakan tak percaya Biantara telah tiada.
"Ya Tuhan, baru kemarin aku melihat kakek sehat, siapa yang akan menyangka hari ini beliau wafat," batin Risa.
Belum ada laporan resmi tentang penyelidikan di tempat kejadian perkara (TKP). Dugaan sementara adalah kecelakaan tunggal dikarenakan kesalahan supir hingga mobil hilang kendali, lalu menabrak pembatas jalan dan terpelanting masuk ke dalam jurang.
Tidak adanya CCTV di tempat kejadian menyulitkan petugas kepolisian dalam melakukan penyelidikan. Akan tetapi hal itu justru hal baik yang sudah dipertimbangkan oleh ‘dalang’ kejadian.
**
Tak perlu menunggu sampai berhari-hari. Apalagi sampai adanya laporan yang jelas tentang kecelakaan yang menimpa Biantara. Selain itu, hanya cukup satu hari untuk bersandiwara di depan media yang secara eksklusif datang ke rumah Renaldi untuk mewawancarainya.
Keesokan harinya, Renaldi meminta bertemu dengan kuasa hukum Biantara. Karena menolak datang ke rumah, mereka pun sepakat untuk bertemu di perusahaan. Seluruh keluarga Renaldi diminta berkumpul. Karenanya, mereka sekeluarga datang ke sana.
“Selamat pagi, semuanya. Saya, Nugraha SH. mewakili tim kuasa hukum dari Law Firm Nugraha and Partners. Seperti yang Tuan dan Nyonya ketahui, selama ini Tuan Biantara mempercayakan banyak hal pada kami, termasuk yang berhubungan dengan surat wasiat beliau. Dalam kesempatan ini, saya akan membacakan surat wasiat Tuan Biantara yang telah beliau persiapkan jauh-jauh hari, dan tentunya dengan beberapa perubahan. Untuk alasan dari perubahan tersebut, hanya beliau yang mengetahuinya. Kami tidak ikut campur apalagi memberikan masukan yang bukan ranah kami sebagai kuasa hukum beliau.”
“Basa-basinya bisa dipercepat nggak, Om?” tanya Monica datar.
“Monic,” tegur Ajeng.
Monica memutar bola mata malas sambil mendengus kesal.
__ADS_1
“Baiklah. Sepertinya ada yang sudah tidak sabar mendengar saya membacakan surat wasiat Tuan Biantara. Sebentar ya ….” Nugraha mengeluarkan sebuah kertas yang ditandatangani oleh Biantara.
“Saya akan bacakan dengan perlahan, mohon didengarkan sampai selesai. Jangan ada yang menyela.”
Saya, yang bertandatangan di bawah ini,
Nama: Biantara
Status: Pendiri, sekaligus pemilik semua aset yang berada di bawah naungan Biantara Group, yakni:
1. Biantara Corporation
2. Biantara Construction
3. Biantara Hotel, Resort & Villa
4. Biantara Market and Foods
Dengan ini menyatakan bahwasanya semua aset yang saya miliki akan jatuh pada putra saya–Mahesa Bintang Biantara dan atau putra-putri dari putra saya tersebut. Sedangkan untuk putra angkat saya–Renaldi, saya akan memberikan dua puluh persen keuntungan dari saham saya di Biantara Group sampai yang bersangkutan meninggal dunia. Istri dan dua anak Renaldi yakni Mahendra dan Monica akan mendapatkan rumah, tabungan dan fasilitas yang terlampir di halaman selanjutnya. Saya juga mempercayakan kepengurusan Biantara Group pada Renaldi jika ahli waris tidak atau belum mampu menjalankan perusahaan dengan baik.
Seandainya yang bersangkutan (Renaldi) menolak atau mengkhianati wasiat ini, maka semua yang saya sebutkan di awal akan ditarik kembali.
Biantara.
“Papa anak angkat Opa?” gumam Monica dan Endra hampir bersamaan. Kakak beradik itu saling menatap bingung, lalu menatap pada ayah mereka.
Selain Ajeng, di keluarga mereka memang tak ada yang tau kalau Renaldi adalah anak angkat Biantara. Selama ini Biantara pun tak pernah mengatakan hal itu pada orang luar, kecuali kuasa hukumnya.
Renaldi biasa dipanggil Aldi oleh Biantara. Ia merupakan anak di luar nikah dari seorang wanita yang datang ke rumahnya meminta pekerjaan sebagai pelayan dan meninggal sesaat setelah melahirkan. Karena iba dengan kondisinya yang sedang hamil, istri Biantara yang baru saja melahirkan itupun menerimanya bekerja di rumah mereka. Dua bulan setelah itu Renaldi lahir, dan ibunya meninggal tanpa memberitahu siapa ayah dari anak itu.
“Apa-apaan dia? Mahesa dan keturunannya? Heeh,” geram Renaldi sambil menyeringai sinis.
Sebelumnya, Biantara sudah mengatakan bahwa Renaldi memang tak memiliki hak atas hartanya, kecuali yang telah ia berikan semasa hidup dan pemberiannya kelak jika ia telah tiada itupun kalau ada. Dan rupanya Biantara masih berbelas kasih dengan memberikan dua puluh persen keuntungan dari sahamnya. Bahkan istri dan kedua anak Renaldi pun mendapatkan bagian.
Seharusnya itu lebih dari cukup. Tapi rupanya tidak bagi Renaldi.
__ADS_1
“Pak Nugraha, seperti yang anda ketahui, Mahesa sudah meninggal. Istrinya juga meninggal, bagaimana bisa ada keturunannya? Wasiat ini tidak sah. Dia membuat ini pasti sedang berhalusinasi kalau Mahesa itu masih hidup. Aku keberatan,” tegas Renaldi.
“Apa saya bisa memasukkan ucapan Anda barusan pada point penolakan atas wasiat Tuan Biantara?” tanya Nugraha.
“Mas.” Ajeng coba untuk menegur suaminya namun urung karena sepertinya saat ini Renaldi sedang gusar mendapat pertanyaan seperti itu Nugraha.
“Pa. Terima saja. Toh kenyataannya papa tetap akan duduk di kursi CEO Biantara Group. Karena ahli waris Opa nggak ada, otomatis papa akan duduk di kursi itu selamanya. Sama aja ‘kan?” ujar Endra.
“Kak Endra benar, Pa,” timpal Monica.
Renaldi tak ingin emosi mengalahkan pikirannya. Setelah mengatur napasnya, Renaldi pun berkata, “Baiklah. Aku terima keputusannya.”
Nugraha kembali menjelaskan beberapa hal yang harus dipatuhi Renaldi. Meski enggan, Renaldi mendengarkan dengan seksama.
Biantara Group memang tak sepenuhnya bisa dimiliki Renaldi. Akan tetapi dengan tidak adanya campur tangan Biantara dan terlebih memiliki hak kepengurusan perusahaan, Renaldi memiliki banyak peluang untuk mempertahankan posisinya. Ia merasa bangga karena semua usahanya selama ini tidaklah sia-sia.
“Dafi tidak akan tau siapa ia yang sebenarnya. Kalaupun ada yang mengkhianatiku dan memberitahunya, datanglah pada paman, Nak. Akan kukirim kau ke neraka agar bisa berkumpul dengan ayah dan ibu, juga kakekmu,” seringainya.
***
Dua bulan kemudian ….
Seorang pria yang tengah berbaring di ranjang pasien itu sepertinya kesulitan membuka kelopak mata. Seakan sudah terlalu lama ia tertidur, tak hanya kesulitan membuka mata, tapi juga merasa kaku di semua bagian kepala juga wajahnya.
“Di mana ini?” batinnya.
Kedua mata itu kembali tertutup ketika sorot matanya langsung mengarah pada lampu. Ia pun berniat mengucek matanya dengan mengarahkan satu tangan ke wajah. Akan tetapi, saat punggung telapak tangannya menyentuh pipi, pria itu sontak terlonjak dan langsung duduk sambil memegangi wajahnya.
“A-apa ini? Seperti perban,” gumamnya bingung. Tak ada kaca yang bisa dijadikan cermin. Akan tetapi ia sangat yakin telah terjadi sesuatu pada wajah atau kepalanya, karena seperti halnya mumi, seluruh bagian kepala dan wajahnya dibalut perban. Hanya menyisakan kedua mata dan juga lubang hidung.
“Siapa yang melakukan ini padaku? Si-siapa?” tanyanya bermonolog sembari meraba setiap bagian pada kepala dan wajahnya.
“Syukurlah kau sudah bangun.”
Deg.
__ADS_1
Pria itu menoleh ke asal suara. Ia tersentak menyadari ternyata ada seorang pria sedang berdiri membelakanginya dan menghadap kaca. Ia membalikkan badan dan menatap datar sambil berkata, “Senang bertemu denganmu, Dafi.”
_bersambung_