Pewaris Sebenarnya

Pewaris Sebenarnya
teringat masa lalu


__ADS_3

Damian Cyrilo, sosok tampan yang sejak memasuki ruang rapat sudah mengalihkan perhatian Monica. Perpaduan alis tebal, bulu mata lentik, dan gaya rambut spike dengan taper fade membuat pemilik wajah bermata belo itu tidak hanya mempesona, tapi juga berwibawa. Meskipun hanya duduk diam, pria itu terlihat cool dengan tatapan yang tertuju pada Endra.


Berbeda dengan Monica, Risa terlihat tak acuh. Wanita itu duduk di bagian ujung meja dengan tatapan lurus tertuju pada Endra yang sedang mempresentasikan materi rapat.


Damian mengarahkan tatapan datarnya sesaat ke sekitar ruangan. Ketika tatapannya tertangkap Monica, wanita itu refleks tersenyuman manis. Sedangkan ketika mengarah pada Risa, wanita itu melirik sekilas dengan ekspresi datar. Damian kembali menatap Endra sambil mengingat pertemuan pertama mereka di proyek menara kembar Biantara.


“Untuk luas lahan yang kami miliki, berapa cluster yang bisa dibangun di atasnya? Kami menginginkan ada beberapa cluster yang mengacu pada tingkat kepemilikan. Tidak hanya sebatas cluster dengan hunian yang diperuntukkan bagi kalangan atas, tapi juga ada untuk menengah ke bawah. Lahan seluas delapan hektar bisa dibagi ke dalam tiga golongan. Perkiraan saya satu hektar bisa dibuat kurang lebih enam puluh unit rumah tipe empat puluh meter persegi. Satu hektar lagi gunakan untuk hunian tipe yang lebih besar dari itu. Untuk cluster khusus cukupkan dengan lima hektar. Sisa satu hektar gunakan untuk ruang publik. Pastikan area perumahan nyaman bagi para penghuninya,” tutur Damian.


Dalam proyek ini, Cyrilo Pte Ltd merupakan owner dan Biantara Construction sebagai kontraktornya. 


“Tentu. Sesuai keinginan Anda, Tuan Cyrilo. Saya akan sampaikan keinginan Anda pada arsitek kami. Akan tetapi kami sudah ada beberapa konsep yang bisa Anda pertimbangkan,” ujar Endra.


“Kirimkan saja filenya pada Olivia,” ujar Damian datar yang diangguki cepat oleh Endra.


“Risa, kemarilah. Kirimkan file desain rancangan pada Nona Olivia,” pinta Endra sambil tersenyum ramah pada Olivia.


Risa menghampiri Endra yang kemudian menggeser laptopnya ke samping. Risa mengambil laptop dan duduk tak jauh dari Monica yang menyadari tatapan Damian tertuju pada wanita itu.


“Nona Olivia, boleh aku tahu emailmu?” tanya Risa ramah.


“Tentu,” sahut Olivia singkat, lalu menyebutkan alamat surelnya.


“Tuan Cyrilo, bagaimana perjalanan Anda? Saya harap Anda tidak terkejut dengan jalanan kota Jakarta yang macet,” tanya Monica yang mencoba untuk mengalihkan perhatian Damian. Monica mengira kedatangan Damian yang terlambat disebabkan oleh kemacetan. Wanita itu tidak tahu bahwa sesampainya di Jakarta, Damian dan Olivia langsung menuju kantor hukum Nugraha SH and Partner.


“Panggil saja aku Damian. Jangan khawatir, aku mudah beradaptasi,” ujarnya.


Damian terkesan dingin dan hal itu justru membuat Monica ingin lebih mengenalnya. 


“Tuan Damian, bagaimana kalau nanti malam kita duduk bersama sambil menikmati udara malam kota Jakarta?” tanya Monica yang seketika membuat Endra menoleh padanya.


“Maksudku, dengan kakakku juga.” Monica tersenyum masam pada Endra.


“Kakak?” Damian menatap keduanya, dan itu membuat Monica menjelaskan statusnya di perusahaan itu dengan bangga.


Bukan Damian tidak tahu. Ia hanya ingin melihat kecongkakan putra-putri Renaldi.


“Bagaimana, Anda ada waktu?” tanya Monica lagi.


“Baiklah. Kabari Olivia di mana kita akan bertemu. Karena aku akan membawanya bersamaku. Dia yang paling mengerti aku kalau sedang mabuk,” sahut Damian santai, dan itu membuat Olivia mengerutkan keningnya.


Ujung mata Damian menangkap cebikan bibir Risa. Pria itu menyeringai tipis kemudian berkata, “Jangan lupa ajak dia juga.”

__ADS_1


Monica menoleh pada Risa dengan raut wajah masam. “Tentu. Pelayan akan dibutuhkan dimanapun tuannya berada,” ujar Monica sinis.


Beragam ekspresi dilihat Damian setelah Monica berucap seperti itu. Mulai dari Endra yang terlihat senang, Olivia yang kemungkinan besar tidak menyukai gaya bicara Monica, sampai Risa yang dilihatnya bersikap tak acuh seakan wanita itu menulikan pendengarannya.


“Selain wajahnya mirip Ica, kepribadiannya juga menarik,” batin Damian yang sedang menatap lurus pada Risa sambil. Risa yang menyadari pria itu menatapnya menyempatkan untuk membalas tatapan itu sembari memaksakan senyuman.


Beberapa menit kemudian pertemuan itu diakhiri. Monica dan Endra mengantar Damian sampai ke lobi perusahaan. Sedangkan Risa, setelah merapikan bekas rapat wanita itu berlalu ke meja kerjanya.


“Ris. Risa!” 


Risa menoleh ke belakang. Ditatapnya Arin yang berjalan cepat menghampirinya.


“Risa. Sorry ya, tadi aku nggak-.” Arin terlihat bingung bagaimana menjelaskannya. Melihat hal itu, Risa tersenyum tipis.


“Nggak pa-pa, aku ngerti kok. Maaf ya udah ngerepotin,” ujarnya.


“Sekali lagi maaf ya, Ris,” sesal Arin. Risa mengangguk, kemudian berpamitan.


 Sementara itu di sisi lain gedung itu ….


“Apa maksudmu, Monic? Kau berniat mendekatinya?” tanya Endra datar dengan tatapan tertuju pada mobil Damian yang baru saja berlalu.


“Kenapa tidak? Kakak tentu tahu Damian punya semua yang kuinginkan. Tampan, kaya, dan sikapnya itu … membuatku semakin ingin mendapatkannya,” ucap Monica dengan senyuman devil.


Di sisi lain ….


Flashback on 


“Ica. Ayo pulang! Ngapain berdiri di situ lama-lama?” Dafi menatap sendu pada Marisa yang selalu saja menghentikan langkahnya di depan toko gulali. Berkali-kali Dafi menasehati, akan tetapi selalu dianggap angin lalu oleh anak perempuan yang usianya terpaut lima tahun dengannya itu.


“Siapa tahu hari ini yang punya toko lagi baik mau ngasih Ica gulali satu.” Selalu seperti itu jawabannya. Dafi merasa kasihan, akan tetapi ia tak pernah punya uang lebih untuk membelikan Marisa walau hanya satu gulali saja.


“Nanti kalau Kak Dafi punya uang, kakak janji akan membelikan satu buat kamu,” janji Dafi saat itu.


“Ica mau yang besar ya, Kak. Mau yang ada warna ungu sama pink-nya. Eh tapi yang ijo-oren juga nggak pa-pa. Kalau sama gula kapas boleh nggak, Kak?” 


“Boleh. Tapi kalau uang Kak Dafi cukup ya.” 


“Yeah! Kapan itu, Kak?”


“Ya kapan-kapan lagi. Kak Dafi bilangnya ‘kan ‘kalau’.”

__ADS_1


“Yaa ….” Marisa terlihat kecewa. Bibirnya dimajukan dengan wajah yang ditekuk. Dafi bisa apa, jika mampu ia pun ingin mengabulkan keinginan sahabatnya itu.


Flashback off


“Tuan. Kita sudah sampai,” ujar Olivia yang sekaligus membuyarkan lamunan Damian.


Damian memperhatikan sekitar. Benar saja, mobil itu berhenti tak jauh dari gapura yang merupakan pintu masuk TPU Rawa Gede.


“Oliv. Tolong belikan bunga di kios itu. Temuilah Pak Aman, minta dia menunjukkan makam kedua orang tuaku. Selain itu, berikan ini padanya.” Damian merogoh sesuatu dari tas yang ada di dekatnya. Sebuah amplop berwarna coklat yang berisi sejumlah uang diberikan Damian pada Olivia untuk Aman.


“Apa yang harus saya katakan pada beliau, Tuan?” 


“Katakan saja bunga itu titipan Dafi.”


“Baik, Tuan.”


Olivia berjalan menuju ke toko bunga. Tak lama kemudian wanita itu berjalan memasuki area pemakaman. 


Dari dalam mobil Damian memperhatikan gerak-gerik asistennya tersebut. Ditatapnya nanar tempat itu dengan perasaan rindu.


“Pak, Bu … maafkan Dafi belum bisa langsung mengunjungi makam kalian. Dafi janji beberapa hari lagi akan kembali ke sini,” batinnya.


Beberapa saat kemudian, Olivia kembali ke mobil dengan diiringi tatapan Aman dari dekat gapura. Damian hanya bisa menatap pria berumur itu dari dalam mobil. Senyum yang terukir di wajah Aman membuatnya merasa senang.


“Tuan, pria itu mengucapkan terima kasih untuk Anda,” ucap Olivia.


Damian mengangguk samar, dan meminta supir membawanya pulang.


Sebuah penthouse telah disediakan Brata untuk Damian. Selain menjadi tempat tinggal, dari penthouse itu juga Damian akan bekerja. Tak hanya Olivia, Andi dan beberapa anak buahnya juga ada di sana.


“Oliv. Kau lihat asisten Endra tadi?”


“Iya, Tuan.”


“Cari tahu tentang dia. Semuanya,” pinta Damian sembari melihat ke luar.


“Baik, Tuan. Saya akan menghubungi Pak Nugraha. Kemungkinan besar beliau bisa membantu.”


Damian terdiam. Entah mengapa ia merasakan dadanya tiba-tiba saja berdebar kencang.


Bersambung ….

__ADS_1


 


__ADS_2