Pewaris Sebenarnya

Pewaris Sebenarnya
eksekusi


__ADS_3

Deringan ponsel Renaldi memecah kesunyian di dalam mobil yang dikemudikan Endra. Renaldi menerima panggilan itu sambil melihat ke luar kaca. Mobil yang membawanya itu kini tengah memasuki sebuah kawasan perumahan elit di ibukota.


“Ada apa?” tanya Renaldi datar.


Renaldi terdiam mendengarkan penuturan lawan bicaranya dengan seksama. Sesekali Endra melirik pada ayahnya dengan raut penuh tanya. Akan tetapi sampai panggilan itu berakhir, Renaldi tak berkata apapun lagi. Hanya garis wajahnya menegang yang disertai remasan jemari tertangkap ujung mata Endra.


Mobil itupun memasuki halaman rumah kediaman Renaldi. Ketika Renaldi hendak turun, ia menoleh pada Endra yang masih mengenakan seatbelt.


“Kau tidak turun?” tanyanya.


“Aku mau hangout sebentar, Pa.”


Renaldi tak bertanya lagi. Ia turun dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk, sementara Endra kembali memutar kemudi mobil meninggalkan rumahnya.


“Risa! Monic!” seru Renaldi sembari melangkah menuju ruang keluarga. Ketika pria itu memanggil untuk kedua kalinya, terlihat Risa enyembul dari pintu samping rumah itu. Renaldi duduk di sofa, kemudian menatap tajam pada Risa yang berdiri tak jauh dari lemari kaca yang ada di ruangan itu.


“Ngapain kamu ke vila? Saya ‘kan udah bilang, nggak boleh ada yang vila. Kamu ‘kan yang pakai mobil ibu buat ke sana?” tanya Renaldi dengan tatapan nyalang.


“Iya pak, saya. Tadi siang saya mengantarkan cake dan makan siang untuk Kakek,” sahut Risa dengan tatapan yang ditunjukkan. Risa tahu benar pria di hadapannya itu sedang kesal.


“Heh, memangnya pak tua itu nggak sanggup beli cake? Dia nggak punya pembantu yang bikinin makan siang? Sekali lagi kamu ke sana tanpa izin saya, kamu akan rasakan akibatnya. Jangan harap hidup kamu tenang kalau ada di luar rumah ini. Paham!” bentaknya.


“Heran deh, yang biayain sekolah kamu itu saya. Tapi kok perhatian banget sama dia sih?” delik Renaldi.


“Itu karena mama yang nyuruh,” ujar Ajeng yang kini sedang menuruni tangga. “Mas lupa ya, hari ini ulang tahun papa. Sekali-kali dikunjungi nggak pa-pa, ‘kan?” imbuh Ajeng. Wanita itu memberi isyarat pada Risa untuk meninggalkan mereka.


“Ck. Terserah kamu. Anggap aja itu perhatian terakhir dari keluarga ini. Terus Monic, ngapain ke sana? Ikut-ikutan mau ngerayain ulang tahun pak tua itu juga?” Renaldi bertanya dengan nada sinis.


“Seharusnya kita bangga loh, seenggaknya Monic masih punya perhatian, rasa sayang sama Opa-nya.  Semoga aja nanti kalau kita udah tua, dia masih tetap seperti itu.”


“Halah, ya jangan disamain. Udah jadi kewajiban Monic perhatian dan sayang sama kita. Ngomong kok nggak dipikir dulu,” dengus Renaldi yang kemudian beranjak dari sofa.


“Lalu kamu, Mas? Memangnya papa nggak berhak untuk mendapat perhatian dan kasih sayang dari kita?” tanya Ajeng datar.


Langkah Renaldi terhenti. Pria itu menoleh pada istrinya dengan tatapan nyalang sembari berkata, “Jangan menceramahiku. Aku lebih tau apa yang terbaik untuk keluarga ini.” Setelah mengucapkan itu, Renaldi meneruskan langkahnya, meninggalkan Ajeng yang menundukkan kepala.


Tak lama kemudian …


“Bi, Siapkan makan malam,” titah Ajeng dengan suara lantang.

__ADS_1


Risa yang sedari tadi berada di ruang makan tertegun mendengar obrolan Renaldi dan Ajeng yang notabene orang tua asuhnya. Ia semakin yakin bahwa hanya Ajeng yang masih menyayangi Biantara di rumah itu.


Risa membantu pelayan menyiapkan makan malam. Ketika Ajeng menghampiri untuk melihat menu yang tersaji, Risa merasa bimbang dan sesekali melirik pada Ajeng.


“Apa sebaiknya aku beritahu Bu Ajeng ya tentang kakek yang sebenarnya sehat. Dengan begitu, beliau akan merasa lebih baik dan tentunya tidak akan mengkhawatirkan kakek,” batin Risa.


“Kamu kenapa, Ris?” tanya Ajeng heran.


“Emm … itu, Bu. Saya mau … bilang sesuatu,” sahut Risa ragu.


“Ya bilang aja. Emang apa sih? Kok kayanya gitu banget.” Ajeng tersenyum tipis sembari menggeleng pelan. Wanita paruh baya yang memiliki aura keibuan itu berjalan menjauhi Risa untuk mencicipi menu masakan yang tersaji.


“Kok malah diam?” tanyanya disela kunyahan.


“Saya mau bilang kalau tadi … di vila, saya-.”


“Ma. Monic lapar!” pekik Monica dari lantai dua.


Risa dan Ajeng menoleh pada Monica yang sedang menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Raut wajah Monica seketika ditekuk ketika melihat Risa ada di sana.”


“Panggil papa dulu dong, Sayang. Masa iya makan duluan,” ujar Ajeng, namun tak ayal menyendok nasi dan diletakkan di atas piring untuk Monic.


“Ngapain masih di sini? Mau ikut makan juga? Diih, soryy ya. Gue nggak akan pernah mau satu meja sama lu. Sana panggil papa!” titahnya kasar. Risa pun berlalu menjauhi ruang makan dan pastinya urung menyampaikan ceritanya pada Ajeng.


“Apa sih, Ma? Udah deh, jangan bikin selera makan Monic hilang.” Monica terlihat sangat kesal melihat perlakuan ibunya terhadap Risa. Berbeda dengan sang kakak—Endra, bagi Monica, Risa tak ada bedanya dengan pelayan lain di rumah itu.


**


Nuansa alam pagi hari di vila selalu bisa memanjakan rasa. Suara burung yang saling bersahutan di atap vila seakan mengajak orang disekitarnya untuk keluar menikmati hangatnya sang surya.


Setidaknya itu yang terbersit dalam benak seorang Biantara. Pria berumur itu menikmati pagi dengan ditemani secangkir kopi kesukaannya.


“Tuan, hari ini Anda akan keluar?” tanya Very, seorang pria yang selama ini jadi perawat Biantara.


“Tentu. Lakukan saja seperti biasanya agar orang-orang itu tidak curiga,” sahut Biantara dengan tatapan menerawang.


Hari ini jadwal ia mengunjungi dokter, dan Biantara bukan tak tahu ada orang suruhan Renaldi yang mengamati gerak-geriknya di sekitar vila. Beruntung bagian belakang vila itu dihalangi tembok setinggi hampir empat meter juga pohon-pohon yang tingginya melebihi tembok itu sendiri. Karenanya ada batas tertentu yang mana jika melewati batas itu Biantara akan terlihat seperti orang tak berdaya.


“Kau sudah hubungi Dokter Theo?”

__ADS_1


“Sudah, Tuan.”


“Ada kabar dari Andi? Hubungkan aku dengannya,” pinta Biantara disela seruputan kopi hitam yang sudah tak lagi hangat. Tak lama kemudian, perawat yang merangkap orang kepercayaan Biantara itu memberikan ponsel pada sang tuan.


“Andi, bagaimana dengan anak itu? Apa hasil tes DNA-nya sudah keluar?” tanya Biantara dengan suara pelan namun terdengar berat.


“Belum, Tuan. Dokter meminta kami menunggu sampai nanti siang,” sahut lawan bicara Biantara yang merupakan salah satu kaki tangannya.”


“Kalau hasil tes DNA sudah mendukung, segera eksekusi plan B. Entah kenapa aku punya firasat buruk hari ini,” ucapnya yang terdengar cemas.


“Tuan, jika Anda merasa seperti itu, jalankan plan cadangan A. Jangan membahayakan nyawa Anda. Semua ini akan sia-sia jika tanpa Anda, Tuan,” saran Andi.


“Kurasa ini hanya perasaanku saja. Jangan berlebihan. Kabari aku secepatnya.”


“Baik, Tuan,” pungkasnya.


Tak berselang lama setelah pembicaraan itu diakhiri, ponsel Very berdering dan pria itupun menerima panggilan itu. Dari pembicaraan mereka, bisa dipastikan yang menelpon Very tak lain adalah Andi. Pria yang saat ini berada di Singapura bersama Dafi itu memberikan beberapa intruksi pada Very tentang apa yang harus dilakukannya saat ini.


Biantara menatap lekat pada layar ponselnya. Sorot matanya yang sendu seakan mengisyaratkan hatinya yang merindu pada sosok pria muda berpakain sederhana yang sedang berjalan sambil memperhatikan keramaian jalan raya.


“Mahesa. Lihatlah dia sudah besar. Putramu sudah besar, Nak. Wajahnya sangat mirip denganmu. Karenanya Aldi dapat dengan mudah mengenali anak itu,” batin Biantara dengan kedua mata berkaca-kaca.


Pukul sepuluh pagi, sebuah mobil Mercedes-Benz C-Class keluar dari pintu gerbang vila. Mobil itu melaju dengan tujuan sebuah rumah sakit swasta ternama di ibukota. Tak berselang lama, Very menyadari adanya penguntit yang menggunakan motor seperti pada hari-hari sebelumnya.


“Anda benar, Tuan. Saat ini mereka sedang mengikuti mobil ini.”


“Apa menurutmu mereka hanya akan mengikuti saja?”


“Sepertinya begitu,” sahut Very yang memang sudah hafal betul dengan motor yang selalu mengikuti setiap kali mobil itu keluar dari vila.


“Kalau tidak macam-macam, biarkan saja.”


“Baik, Tuan.”


Very mengemudi seperti biasanya seakan tak menaruh curiga ada yang mengikuti. Ia juga tak menambah kecepatan agar si penguntit tak menyadari kehadirannya diketahui. Kening Very berkerut menyadari motor itu coba menyalip setiap kali melewati tikungan tapi selalu urung. Akan tetapi ketika tiba di tikungan berikutnya, motor itu melaju kencang mendahului dan di saat yang bersamaan sebuah truk datang dari arah berlawanan.


Brakk! Tabrakan pun tak bisa dihindari.


_bersambung_

__ADS_1


 


 


__ADS_2