Pewaris Sebenarnya

Pewaris Sebenarnya
masa lalu Dafi


__ADS_3

13 tahun yang lalu ….


“Tuan, tolong lihat ini. Cepatlah,” pinta Andi yang sedang memegang remot tv dan memperbesar volumenya.


Brata yang baru saja tiba di ujung tangga berjalan cepat menghampiri Andi, salah satu orang kepercayaannya. Tak terlihat raut marah di wajah Brata meski yang memintanya itu seorang bawahan. 


Dengan suara yang terdengar tenang, Brata bertanya, “Ada apa?”


Tatapan Brata pun tertuju pada televisi yang sedang menayangkan sebuah berita keputusan hakim yang jatuh pada seorang remaja dengan kasus pengedar narkoba. Awalnya Brata tak terlalu serius menanggapi berita itu, akan tetapi raut wajahnya menegang saat sekilas memperlihatkan wajah terdakwa yang sedang tertunduk.


Deg.


“Mahesa,” batinnya.


“Tuan, anak itu … menurut saya sangat mirip dengan Tuan Mahesa,” ujar Andi. 


Sebelum bekerja pada Brata, Andi merupakan supir keluarga Mahesa. Karena satu dan lain hal, Brata yang tak lain sepupu Mahesa pun mempekerjakannya.


“Apa itu berita hari ini?” tanya Brata.


“Iya, Tuan.”


“Pengadilan mana? Pergilah ke sana sekarang juga. Cari tau siapa orang tuanya.”


Beberapa hari kemudian, Andi membawa Brata bertemu seorang wanita yang nampak lusuh dengan wajahnya yang terlihat sangat sedih. Dia adalah Ayu, ibu dari remaja yang baru saja divonis penjara itu.


“Maaf jika ini sedikit menyinggung, tapi aku ingin tahu, apakah benar anak itu anak kandungmu?” tanya Brata.


“Iya, Tuan,” angguk Ayu dengan wajah tertunduk.


“Kau yakin tidak sedang berbohong?”


Ayu menggeleng pelan.


“Kalau begitu aku telah salah. Aku mengenali wajah anak itu sebagai mendiang sepupuku sewaktu seusianya. Karena itu aku memanggilmu ke sini. Maaf sudah mengganggu waktumu. Aku akan minta supir mengantarmu pulang.”


Brata hendak memanggil Andi, tapi kemudian urung saat Ayu bersuara.


“Tu-tuan. Apa Anda sepupu wanita itu? Maksud saya-.” Ayu terlihat ragu mengatakannya.


“Wanita yang mana?” Brata menatap lekat pada wajah Ayu yang nampak ketakutan. Sikap Ayu mengundang tanya besar dalam benak pria itu.


“Ada apa? Kalau kau ada masalah, bicaralah. Mungkin aku bisa membantu. Apa ini karena kasus yang dialami putramu? Apa benar selama ini dia jadi kurir narkoba?” tanya Brata setengah mendesak.


“Tidak, Tuan. Dafi hanya ngamen, kadang bantuin markir. Dia juga bilang kalau dia telah dijebak. Anak saya tidak tau kalau kotak itu isinya barang haram, Tuan. Sungguh ….” Ayu terisak dengan kepala yang tertunduk.


Brata terkesiap mendengarnya. 


“Saya, saya takut, Tuan. Sebelumnya kata tetangga, ada yang nanyain asal keluarga kami dari mana, nanyain umur Dafi juga. Nggak lama setelah itu, Dafi ditangkap polisi.”

__ADS_1


Brata masih diam, dan mencerna ucapan Ayu. Keningnya berkerut dengan tatapan tertuju lurus pada wanita itu.


“Saya bisa pastikan, saya tidak pernah mencari tahu tentang anak itu pada siapapun. Baru sekarang, dan itu langsung sama kamu. Jawab dulu pertanyaanku, apa Dafi anak kandungmu?”


Ayu terdiam sesaat, kemudian menggeleng pelan.


“Siapa tadi wanita yang kau maksud?” selidik Brata.


“Ibunya Dafi,” sahut Ayu pelan.


“Salma,” batin Brata.


“Ceritakan padaku bagaimana kronologi kejadiannya,” pinta Braga dengan raut wajah serius.


Ayu pun bercerita, tentang dirinya dan suami yang dikejutkan oleh suara benturan keras ketika sedang di kebun. Pasangan suami istri itupun kembali dikejutkan oleh suara seperti ada yang terperosok.


“Mungkin ada yang buang sesuatu dari jalan,” ucap Toto saat itu. 


Mereka tinggal di daerah pegunungan, dan kebun itu letaknya di bawah jalan. Karena penasaran, keduanya mencari sumber suara dan sempat melihat beberapa orang pria di atas, di tepi jalan.


“Udahlah. Paling juga mati.” Kalimat itu terdengar samar oleh Ayu dan Toto. Setelah dirasa sepi, mereka saling menatap horor sambil berkata dengan suara pelan, “Mati?”


“Pak, jangan-jangan yang dibuang itu mayat,” bisik Ayu.


“Tolong ….”


Keduanya terperanjat mendengar suara lirih yang sangat samar.


Dengan perasaan takut, Toto dan Ayu mendekati sumber suara. Alangkah terkejutnya mereka ketika dihadapkan pada seorang wanita hamil yang terkulai tak berdaya penuh luka karena terperosok dari atas sana. Selain itu, mereka juga dikejutkan oleh darah yang mengucur dari pangkal kaki wanita itu.


“Pak, cari bantuan. Cepetan, Pak,” titah Ayu yang mulai merasa panik.


Toto mencari bantuan dengan menunggu kendaraan lewat di jalan yang menuju ke kampung mereka. Jalan itu cukup sepi karena bukan jalan utama yang sering dilalui warga.


Kebetulan sekali saat itu mobil seorang bidan desa melintas. Toto meminta bantuan dan setelah melihat kondisinya, mereka sepakat membawa wanita itu ke puskesmas.


“Tolong selamatkan anak saya. To-tolong, saya mau dibunuh. Tolong anak saya, se-sembunyikan anak saya. Me-mereka mau bunuh anak saya,” ucap wanita itu lirih dan terbata. “Sa-saya mohon,” imbuhnya.


Tiga orang itu nampak kebingungan, sedangkan kondisi wanita itu sudah sangat mengkhawatirkan.


“Bu Ayu, kita bawa dulu ke saung. Ayo, Pak. Bopong ibu ini.”


Mereka membawa wanita malang itu ke saung di kebun Toto. Karena benturan dan guncangan yang keras, bidan mengkhawatirkan kondisi janin di dalam perut si Ibu.


Benar saja. Baru dibaringkan sebentar, wanita itu mengejan. Dengan sisa tenaga yang ada, wanita itu melahirkan seorang anak laki-laki yang dikemudian diberi nama Dafi.



“Maafkan saya, Tuan. Saat itu kami tidak berfikir panjang. Kebetulan saya belum punya anak, karenanya senang sekali saat ibu Dafi menitipkannya pada kami. Bu Bidan dan suami saya membawanya ke rumah sakit dan ternyata sudah meninggal di perjalanan. Karena takut ada polisi, kami membawa Dafi ke Jakarta,” pungkas Ayu.

__ADS_1


***


Dafi mendengarkan dengan seksama cerita masa lalunya dari pria di hadapannya yang tak lain adalah Brata. Tatapan pria itu terlihat teduh sekaligus sendu ketika kembali berkata-kata.


“Maafkan aku. Dengan banyaknya pertimbangan, aku sengaja tidak membebaskanmu dari penjara. Aku yakin kau dijebak, dan aku sudah mencurigai seseorang. Sayangnya sulit sekali menemukan bukti kalau dialah yang telah menjebakmu. Sampai sepuluh tahun kemudian, Andi datang membawa serta adiknya yang bernama Pendi ke hadapanku.”



“Tuan, dugaan Anda tidak meleset. Adik saya sendiri yang mengantarkan Tuan Rendi memberikan paket itu pada Tuan Muda.”


“Kau yakin?” tanya Brata pada Pendi.


“Yakin, Tuan. Maaf, saya tidak tahu kalau itu anak majikan kakak saya. Saya tidak sengaja melihat foto beliau saat berkunjung ke rumah Andi di desa. Saya ingat wajah anak itu, karena setelah mengetahui dia di penjara, saya merasa sangat bersalah, Tuan. Saya benar-benar tidak tau kalau paket yang Tuan Rendi berikan itu isinya narkoba. Maafkan saya, Tuan. Ampuni saya,” sesal Pendi.



“Pendi,” ucap Dafi pelan.


“Kau ingat dia?”


“Tentu. Dia pernah mengunjungiku untuk meminta maaf.”


Ceklek.


Keduanya sontak menoleh ke arah pintu yang mana seorang dokter, perawat, dan seorang pria paruh baya berbadan tegap masuk ke dalam ruangan itu hampir bersamaan. Dokter itu menyapa Dafi dan Brata. setelahnya ia memberitahukan bahwasanya operasi berjalan lancar dan perban akan dibuka sebentar lagi.


Dafi terdiam. Ia tak bisa berpikir baik karena perasaan dan pikirannya dipenuhi cerita masa lalu yang baru saja ia dengar. 


Benarkah semua itu? Orang tua yang begitu menyayanginya meski dalam keterbatasan ekonomi ternyata bukanlah orang tua kandungnya. 


Siapa yang ingin membunuh ibunya? 


Dan Rendi … benarkah dia dibalik semua ini? 


“Kalau benar orang yang bernama Rendi itu adalah orang yang menjebakku, apa dia juga yang ingin membunuh ibuku? B 4L DI, plat mobil itu ….”


“Bisa tutup matanya sebentar? Saya akan melepas perban yang menutup wajah Anda, dan kita akan lihat hasilnya,” ucapan Dokter membuyarkan lamunan Dafi.


Dafi memejamkan mata, dan kembali meneruskan lamunannya.


Sampai kemudian ….


“Silahkan buka mata Anda.”


Dafi membuka matanya. Tepat di hadapannya ada cermin yang sengaja dipegang oleh perawat di sana.


Dafi tertegun menatap pantulan wajah dalam cermin. Ia kemudian meraba wajahnya, dan saat melihat pantulan tangannya di cermin, Dafi pun yakin orang yang di cermin itu adalah dirinya.


“Inilah kau yang sekarang, Damian,” ucap Brata.

__ADS_1


“Apa, Damian?” Dafi terperanjat mendengar nama yang sangat asing baginya tersebut.


_bersambung_ 


__ADS_2