Pewaris Sebenarnya

Pewaris Sebenarnya
identitas baru


__ADS_3

Damian Cyrilo, nama yang tertera pada sebuah identitas yang saat ini sedang dipegang Dafi. Tak hanya kartu identitas, kartu kredit, dan buku tabungan juga ada. Selain itu dalam berkas yang disodorkan pada Dafi ada kartu nama sebuah perusahaan bernama Cyrilo Pte Ltd (Private Limited) yang mana di sana tertera bahwa dirinya sebagai CEO.


Tak hanya penampilan baru, Dafi juga memiliki identitas baru.


“Apa ini, Tuan?” tanya Dafi dengan raut bingung. 


Dafi yang bahkan tidak lulus sekolah menengah pertama itu benar-benar tak mengerti.


“Mulai sekarang, namamu Damian. Dan jangan memanggilku ‘tuan’, Nak. Aku ini pamanmu, sepupu mendiang ayahmu. Dan dia, Andi. Dia akan menjadi bayanganmu, juga orang kepercayaan kakekmu. Tapi tidak bisa mendampingimu terlalu dekat karena mereka akan mengenalinya,” jelas Brata.


Dafi menoleh pada pria bernama Andi yang sedari tadi mencuri pandang padanya.


“Saya Andi, Tuan Muda. Terima kasih sudah kembali. Saya akan berusaha sebisa mungkin untuk membantu Anda,” ujarnya.


“Tuan Muda? Panggil saja saya Dafi, Pak. Eh, maksud saya-.” Dafi bingung harus bagaimana. Semua ini terjadi sangat cepat dan membingungkan sekaligus mengejutkan bagi Dafi.


“Pelan-pelan saja, Nak. Nanti kau akan mengerti mengapa aku dan kakekmu melakukan ini. Seseorang telah mengambil hakmu. Tidak hanya itu, dia juga secara tidak langsung menjadi satu-satunya ‘dalang’ atas meninggalnya orang tuamu. Kuharap kau cepat mengerti apa yang akan kuajarkan nanti. Jangan khawatir, aku sendiri yang akan mengajarimu. Sekarang istirahatlah. Aku tinggal dulu. Kalau ada perlu apa-apa, katakan padanya,” ujar Brata sembari menunjuk pada Andi yang mengangguk samar.


“Baik, Paman,” angguk Dafi canggung.


Brata meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan Dafi bersama Andi.


Dafi tertegun dengan tatapan kosong. Setelah keluar dari penjara, entah skenario apalagi yang disiapkan Tuhan untuknya.


“Tuan, saya akan menunggu di luar. Jika ada yang Anda perlukan, panggil saja saya,” ucap Andi.

__ADS_1


Dafi tak merespon ucapan itu. Akan tetapi ketika Andi berjalan menuju pintu, Dafi menghentikan langkah pria itu dan bertanya, “Pak, siapa kakek saya? Dan, apakah orang yang dimaksud Paman tadi itu Renaldi?”


Andi berbalik dan kembali mendekati Dafi.


“Kakek Anda adalah Tuan Biantara. Beliau salah satu orang terkaya di Indonesia.”


“Saya tahu, dan pernah dengar itu. Lalu siapa Renaldi? Bukankah anaknya jadi bos di perusahaan Biantara?” tanya Dafi datar. Mendengar nama Biantara mengingatkannya pada tempat tinggalnya dulu yang kini di’sulap’ menjadi sebuah bangunan pencakar langit. 


“Anda benar. Saat ini yang menjadi CEO Biantara Group adalah Renaldi, atau biasa dipanggil Rendi.”


“Lalu apa artinya, penjahat itu masih ada hubungan denganku? Apa dia pamanku?” Tak terbayang oleh Dafi keluarga seperti apa mereka. Jika benar Renaldi itu pamannya, bagaimana bisa dia merencanakan pembunuhan terhadap kedua orang tua kandungnya, dan juga menjebaknya masuk penjara?


Andi pun menjelaskan status Renaldi di keluarga Biantara. Ia juga menceritakan apa yang terjadi sebelum kecelakaan menimpa Salma.


Suatu hari sepulangnya dari memeriksakan kandungan, Salma minta diantar ke perusahaan.


Karena khawatir dengan kondisi Salma yang terlihat lemah Andi meminta izin menemani. Entah kenapa saat itu Salma masuk ke ruangan Renaldi tanpa permisi. Wanita itu terlihat tertegun sesaat kemudian berjalan dengan cepat seakan mendengar sesuatu yang membuatnya sangat marah.


“Kau keterlaluan!” Pekikan Salma membuat Andi terkejut. Karena penasaran ingin mengetahui apa yang sedang diributkan, Andi mendekati pintu secara diam-diam.


“Kurang baik apa suamiku padamu, hah? Tega sekali kau. Beraninya kau, Pembunuh!” berang Salma sambil melemparkan sesuatu ke arah Renaldi.


“Apa maksudmu, Salma? Siapa yang pembunuh?”


“Kau! Kau dan dokter itu bersekongkol ‘kan? Tidak tau diri!” umpat Salma. 

__ADS_1


Karena kondisi Mahesa yang sakit, pria itu mempercayakan pengelolaan perusahaan pada Renaldi. Bukannya membaik, kondisi kesehatan Mahesa justru semakin buruk padahal sudah ditangani oleh dokter keluarga yang sangat mumpuni dan tentunya terpercaya. Akan tetapi setiap kali pihak keluarga menanyakan kondisi Mahesa, dokter selalu menyebutkan kondisinya mulai membaik. 


Keterangan dokter selalu disertai hasil pemeriksaan. Karenanya baik Salma ataupun Biantara mengira kalau kondisi Mahesa merupakan reaksi dari obat dan terapi yang diberikan. Sampai kemudian pihak keluarga dikejutkan oleh kondisi putra tunggal Biantara yang tiba-tiba anfal. Mahesa tidak tertolong, dan meninggal dunia.


Malam setelah kemarahannya di kantor Biantara, tepatnya dini hari Salma berkendara seorang diri entah kemana. Sepertinya ada firasat buruk yang membuatnya memutuskan untuk pergi diam-diam dari rumah itu. Sayangnya, Salma terlalu gegabah. Ia tak menyadari sejak keluar dari gedung perusahaan, seseorang sudah diperintahkan untuk membuntutinya. Keesokan harinya, Biantara mendapat kabar dari rumah sakit bahwa Salma meninggal dunia, dan kabar mengejutkan itu membuat Biantara mengalami stroke.


Beruntung stroke yang dialami Biantara merupakan stroke ringan yang sebenarnya sudah sembuh hanya dalam hitungan hari. Akan tetapi ia memutuskan berpura-pura selama bertahun-tahun karena yakin ada yang janggal dengan kecelakaan Salma. 


Melalui Brata, Biantara meminta bantuan Bima yang saat itu terbilang punya posisi cukup tinggi di kepolisian, selain itu Bima juga merupakan sepupu Ajeng, istri Renaldi. Karenanya pihak keluarga mempercayakan kasus itu pada Bima dan jajarannya. 


Sayangnya, mereka harus kecewa. Karena setelah dilakukan penyelidikan, terbukti kecelakaan yang menimpa Salma murni kecelakaan tunggal.


Flashback off


“Anda pewaris Biantara Group yang sebenarnya, Tuan. Anda harus bisa mengambil hak Anda, dan membalaskan semua kejahatan Renaldi. Tuan Besar sengaja ‘mengikat’ Renaldi di perusahaan agar Anda bisa dengan mudah melakukannya,” pungkas Andi.


“Caranya?” tanya Dafi cepat.


“Tuan Brata yang akan membantu Anda. Belajarlah padanya, Tuan. Demi Tuhan kedua orang tua Anda adalah orang yang sangat baik. Tidak seharusnya mereka dicurangi seperti itu. Begitu juga dengan Anda. Mereka tak segan menghancurkan masa depan Anda setelah menyadari siapa Anda sebenarnya. Karena itulah, Tuan Besar memutuskan melakukan operasi pada rahang Anda. Bentuk wajah Anda sangat mirip dengan mendiang Tuan Mahesa. Karenanya Anda sangat mudah dikenali. Akan tetapi dengan bentuk rahang seperti sekarang ini, setidaknya perlu kejelian mata dan tatapan yang cukup lama untuk menyadari Anda adalah putra Tuan Mahesa,” jelas Andi.


Dafi mengambil cermin yang tergeletak di atas naskas. Dafi memberanikan diri menatap lekat pada pantulan wajahnya sendiri. Dan memang benar, bentuk rahangnya yang sekarang membuat wajah Dafi berbentuk kotak dan terlihat lebih tegas bahkan terkesan angkuh. Sangat berbeda dengan bentuk rahang sebelumnya yang serupa hati dan memberi kesan baik, juga berkepribadian hangat.


“Jadi ini maksud penculikan tempo hari," gumam Dafi. "Ibu, maafkan aku. Untuk sementara, aku bukanlah Dafi, tapi Damian. Aku berjanji setelah semua ini selesai, aku akan kembali menjadi putramu meski dengan wajahku yang sekarang ini," batinnya.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2