
Beberapa saat kemudian, perawat pria yang biasa ditugaskan untuk mengurus semua keperluan pribadi Biantara datang dan mengatakan bahwa sang tuan sudah waktunya istirahat siang. Dibalik anggukan Risa, bersemanyam tanya akan semua orang di vila terutama perawat itu. Mungkinkah mereka semua bersandiwara?
Mengetahui kekeknya akan masuk ke kamar, Monic pun pamit pulang dengan berucap, “Kapan-kapan Monic datang lagi ya, Opa. Jangan lupa hadiah ulang tahunnya.”
Monic berjalan menuju pintu tanpa menghiraukan Risa yang menatapnya bingung. Tak lama kemudian, Risa juga pamit dan tentunya masih dengan tanya di dalam benaknya.
**
Mobil yang dikemudikan Risa memasuki halaman rumah Renaldi. Kedatangan Risa disambut seruan Monic yang memanggilnya. Risa berjalan menghampiri Monic yang sedang bersama Ajeng di ruang tv.
“Tuh, Ma. Bilang sama dia jangan caper (cari perhatian) di depan Opa, sekalian juga bilang kalau kemana-mana itu jangan pakai mobil mama. Bisa besar kepala nanti dia, ngerasa jadi orang kaya. Suruh naik angkot atau ojol juga banyak,” delik Monic dengan mimik mengejek.
“Udah dong Monic, mama pusing dengerin ocehan kamu dari tadi. Risa pakai mobil mama ya karena mau ke vila. Kalau enggak juga dia pakai ojek online. Udah ah!” Ajeng yang kesal pun beranjak dan berjalan menjauhi sofa menuju ruang makan.
“Gimana keadaan kakek?” tanya Ajeng pada Risa.
“Keadaan beliau baik.”
“Senin jadwal kontrol ‘kan?” tanya Ajeng lagi.
“Kurang tau, Bu. Saya lupa nanyain,” sahut Risa sembari tersenyum masam.
“Ya udah lah. Seingatku Senin itu jadwal kontrol papa,” ujar Ajeng pelan.
Monic mendelik mengetahui diam-diam sang ibu perhatian terhadap kakeknya. Meskipun di depan Renaldi, Ajeng seakan bersikap tak acuh jika suaminya sedang membahas pria berumur itu. Di sisi lain, Risa justru merasa senang. Setidaknya dalam keluarga itu ada Ajeng yang masih perhatian pada Biantara.
“Papa kemana, Ma?” tanya Monic sembari berjalan menuju tangga.
“Pergi sama Endra. Nggak tau kemana,” sahut Ajeng malas.
“Monic mau istirahat ya, Ma. Makan siangnya nanti aja.”
“Kenapa nanti? Mama makan sendiri dong, Sayang.”
__ADS_1
“’Kan ada si babu kesayangan mama. Makan aja sama dia,” cetus Monica tanpa menoleh. Mendengar ucapan Monica, Ajeng menghela napas dalam. Benar saja, tak lama kemudian terdengar suara Ajeng mengajak Risa makan siang bersama, dan tentu saja hal itu membuat Monica merasa sangat kesal karena sang ibu menanggapi ucapannya dengan serius.
Di tempat lain …
Mahendra mendengarkan obrolan Renaldi dan dua orang pria yang mereka temui sambil menghisap rokok. Sesekali ia menajamkan pendengaran, dan terlihat mengerutkan kening mendengar ayahnya yang sedang merencanakan sesuatu itu.
“Jadi eksekusinya mau di tikungan yang mana? Ada 'kan tikungan yang di sebelah kanannya itu jurang? Di sana sepi tuh. Buat aja seakan-akan itu kecelakaan tunggal, dan di tikungan itu nggak ada orang jualan,” ujar Renaldi.
“Iya, Bos. Di sana memang sepi. Rame itu kalau lagi weekend aja.”
“Oke. Baguslah. Dengan begitu kerjaan kalian cepat selesai. Nggak usah ngikutin dia lagi, dan pastinya semua harta pak tua itu akan jatuh ke tanganku,” seringai Renaldi. “Kalian boleh pergi. Aku akan bayar sisanya setelah semua selesai,” imbuhnya.
“Siap, Bos. Terima kasih.”
Mahendra menatap kepergian dua pria berbadan tegap itu dengan tanda tanya besar di benaknya. Ia sempat terkejut saat mendengar ucapan ayahnya barusan. Setelah memastikan kedua pria itu jauh dari mereka, Mahendra cepat-cepat bertanya pada Renaldi.
“Pa. Maksud papa apa? Siapa yang akan dieksekusi hari Senin? Papa nggak mungkin berencana akan mencelakakan Opa, kan?” tanya Mahendra menyelidik.
“Kalau iya memangnya kenapa?” Renaldi balik bertanya dengan santainya.
“Justru karena Opa kamu itu lagi sakit, makanya kita habisi aja sekalian. Biar nggak ngerepotin. Memangnya kamu nggak mau duduk di kursi CEO Biantara Group? Ya terserah. Kalau Opa kamu meninggal, perusahaan itu akan jatuh ke tangan papa. Kalau kamu nggak mau duduk di kursi CEO pusat, ya udah. Papa angkat aja Monic, gampang ‘kan?” delik Renaldi.
“Bukan gitu, Pa. Maksud Endra-.”
“Papa perhatikan, sejak kamu menyukai si Risa, mental kamu tuh jadi mental orang kere. Papa nggak lihat ada ambisi di mata kamu, selain ambisi mendapatkan Risa. Kalau kamu punya ambisi yang seharusnya, deketin tuh putri pemilik Trimarga Group, atau siapa aja yang masuk daftar putri keluarga konglomerat di negeri ini. Bukan malah pembantu di rumah,” tegur Renaldi yang terdengar sarkas.
“Risa bukan pembantu, Pa. Dia itu kan udah kaya saudara Endra, saudara angkat.”
“Orang tuanya siapa? Pembantu bukan? Dia di sekolahkan sama keluarga kita bukan berarti derajatnya juga naik, tetap aja anak mantan pembantu. Dengar Endra, papa memutuskan mempercepat semua ini karena ada alasannya. Kau mau tahu? Alasannya adalah karena anak itu sudah keluar dari penjara. Jangan sampai kita kecolongan. Apalagi kalau opa kamu tau kalau dia punya keturunan dari Mahesa, bisa-bisa kita end. Nggak ada gunanya muter otak juga, karena pasti semua ini akan jatuh ke tangan anak itu,” jelas Renaldi.
“Maksud papa, anak yang katanya dipungut orang itu?”
“Iya. Memangnya siapa lagi?”
__ADS_1
Mahendra terdiam sesaat. Cerita tentang anak laki-laki yang ternyata selamat dari kecelakaan dan dipungut orang lain sempat ia dengar, tapi sudah sangat lama.
Saat itu Renaldi seperti ‘kebakaran jenggot’. Pria yang sudah merasa tenang bertahun-tahun dan menganggap tak akan ada yang mengganggu posisinya itu tiba-tiba melihat seorang anak yang parasnya mirip dengan Mahesa.
Renaldi memerintahkan oraang suruhannya untuk mencari tahu tentang anak itu. Setelah menyelidiki beberapa orang di tempat terjadinya kecelakaan yang pernah menimpa Salma—istri Mahesa, diketahui wanita yang sedang hamil besar saat kejadian itu sempat melahirkan dan bayinya dibawa pasangan suami-istri yang sudah lama belum dikaruniai anak.
Anak Salma diberinama Dafi. Keyakinan Renaldi saat itu semakin kuat ketika mengetahui orang tuan Dafi berasal dari desa dimana Salma mengalami kecelakaan lima belas tahun lalu
Sejak saat itu, Renaldi tak pernah bisa tidur nyenyak. Ia memikirkan cara ampuh menyingkirkan anak itu. Ketika membicarakannya dengan Bima, pria itu tak mendukung rencananya menghilangkan nyawa Dafi. Bima justru menyarankan Renaldi untuk menjebak anak itu dan membuatnya mendekam di penjara.
"Tapi, Pa. Mencelakai kakek, papa yakin nggak akan nyesel?"
"Menyesal? Satu-satunya penyesalan papa adalah mengikuti saran si Bima. Kalau saja waktu itu papa nggak dengar saran Bima, udah mati tuh anak. Selamanya papa akan tenang. Tapi sekarang, semua sudah terlanjur. Salah satu dari mereka harus mati. Opamu, atau anak itu. Tapi karena papa nggak bisa nemuin Dafi, jadi papa putuskan mengakhiri satunya lagi," tutur Renaldi dengan sorot matanya yang bengis.
Mahendra membisu mendengar semua itu. Pria berumur dua puluh delapan tahun itu memang tak dekat dengan Biantara, akan tetapi ia juga tak sepenuhnya mendukung keputusan ayahnya tersebut. Namun Mahendra tak punya pilihan. Ia tak punya keberanian untuk menentang jika ayahnya sudah membuat keputusan.
_bersambung_
__ADS_1