Pewaris Sebenarnya

Pewaris Sebenarnya
bertemu di club (1)


__ADS_3

Marisa Yahya, nama yang tertera pada biodata Risa. Meski tak mengetahui persis nama lengkap Ica, Damian sangat yakin asisten Endra itu teman masa kecilnya. Akan tetapi yang mengherankan, bagaimana bisa Ica tinggal di rumah Renaldi?


“Kau dapat kabar apa?” tanya Damian pada Olivia.


“Tuan Renaldi sedang mengincar proyek di pulau G, anak kepulauan seribu. Pemerintah kota Jakarta akan menjadikan pulau itu sebagai destinasi wisata baru di akhir tahun depan. Homestay, masjid, gerai pujasera (pusat jajanan serba ada), berbagai wahana permainan anak dan dewasa juga rencananya akan dibangun di sana,” jelas Olivia.


“Lalu?”


“Lima tahun ke belakang, lebih dari tujuh puluh persen proyek pemerintah daerah maupun swasta jatuh ke tangan Biantara Group. Banyak perusahaan yang mengeluhkan hal itu, dan mencurigai adanya mafia proyek. Terlebih Biantara Group tidak bersih dari masalah. Beberapa proyek di luar kota ada yang terbengkalai karena ditengarai adanya korupsi,” jelas Olivia.


“Mafia proyek? Apa itu bentuk kecurangan yang dilakukan Biantara Group?” Damian nampak antusias mendengarkan jawaban Olivia. Selain asisten pribadi, Damian juga banyak belajar dari Olivia. Karena bukan tanpa alasan Brata mempekerjakan Olivia untuk Damian. Wanita itu cerdas, dan asisten hanyalah kamuflase, karena nyatanya Olivia mendapatkan gaji lebih dari yang sewajarnya.


Damian mendengarkan dengan seksama penjelasan Olivia. Seulas seringaian tersungging di wajah Damian saat sebuah cara terlintas di benaknya.


“Kita lewat dulu masalah itu. Oh iya, bagaimana dengan nanti malam? Rasanya aku ingin sedikit bersenang-senang sebelum memulai semua ini,” kata Damian dengan tatapan menerawang.


“Saya akan menanyakannya pada Monica.” Olivia berjalan menjauhi Damian sambil mencari nama Monica pada kontak ponselnya.


“Jangan lupa pastikan Risa ikut,” ujar Damian dan diangguki Olivia.


Beberapa saat kemudian, terdengar Olivia mulia ngobrol dengan Monica.


“Apa maksudmu itu artinya harus?” Sepertinya Monica tak suka jika Risa diantara mereka. 


“Tuan Damian mungkin tidak akan hadir jika Risa tidak ada di sana. Itu tergantung pada keputusan Anda, Nona. Saya hanya menyampaikan pesan Tuan Damian. Keputusan Anda akan saya tunggu satu jam dari sekarang. Terima kasih,” tegas Olivia.


-Biantara Group-


Monica tertohok mendengar nada bicara Olivia yang hanya seorang asisten pribadi itu. Raut wajahnya yang tak enak dipandang membuat kedua alis Endra tertaut karena heran.


“Kenapa sih? Tuh muka suram banget, udah kayak masa depan lo aja,” seloroh Endra yang membuat Monica semakin kesal.

__ADS_1


“Si Oliv itu siapanya Damian? Aspri ‘kan? Kakak tau nggak, setingkat aspri berani banget begitu, emang nggak bisa lembut dikit apa?” cerocos Monica.


“Begitu gimana?”


“Ya udah kaya bos ngasih perintah, sebel deh,” imbuhnya menggerutu.


Anehnya bukannya ikut kesal, Endra justru menyeringai sambil menggelengkan kepala.


“Kamu sih gaulnya kurang jauh. Emang begitu kalau orang luar, Monic. Malahan banyak yang kalau ke bosnya cuma sebut nama. Udah kaya temen gitu. Jangan suka melebih-lebihkan, dia ngomongin apa emangnya?”


“Katanya harus bawa Risa. Kalau enggak, Damian nggak akan datang,” sahut Monica malas.


“Bagus tuh. Berarti Risa nggak akan bisa nolak dong,” timpal Endra dengan seringaian devil.


“Monic nggak mau tau ya, Kak Endra harus bisa mastiin si Risa nggak ganjen sama Damian,” tegas Monica.


“Ck. Paling juga Damian yang ganjen sama Risa. Buktinya Olivia bilang begitu. Heh, ternyata selera kami sama. Kamu tenang aja, Risa itu akan jadi milik Endra seorang.”


“Eh, Risa. Ntar malam lo ikut ke lounge. Kalau lo nggak ikut, Damian nggak bakal datang. Asal lo tau ya, Damian itu ‘player’. Cuma sekilas aja dia lihat lo, dia bisa tahu kalau lo itu perempuan kurang uang yang rela ngelakuin apa aja,” ucap Monica yang terdengar sarkas.


“Apa? Monic, kamu jangan sok tahu. Aku nggak ada urusan sama Tuan Cyrilo. Lagian aku juga nggak minat datang,” balas Risa sambil mendelik kesal. Risa hendak berlalu meninggalkan Monica, akan tetapi lengannya disambar Monica yang menarik kasar, kemudian melepaskannya.


“Awas aja kalau lo nggak datang. Lo tahu ‘kan apa yang bisa gue lakukan?” geram Monica sambil menatap tajam pada Risa.


Monica meneruskan langkahnya menjauhi Risa dan menuju lift. Risa hanya bisa menatap nanar sambil mendengus kesal.


**


Sepanjang perjalanan menuju tempat pertemuan, Risa menggerutu dalam hatinya. Bagaimana tidak, setelah mengubah jadwal rapat seenaknya pagi ini, Damian juga mengubah tempat bertemu mereka sebentar lagi. Bukan di lounge and bar seperti yang disepakati di awal, melainkan klub malam.


Membayangkan kebisingan tempat itu sudah membuat Risa enggan. Apalagi dengan hal lain, alkohol, orang mabuk. Huft.

__ADS_1


Lain Risa, lain lagi kakak beradik Endra dan Monica. Perubahan tempat bertemu justru membuat semangat keduanya semakin menggebu.


Monica sepertinya sengaja berpenampilan glamour dengan mini dress yang akan membuat siapapun mengagumi keindahan bentuk tubuhnya. Dan Endra yang entah kenapa sedari tadi sering sekali menoleh pada Risa dengan senyuman devil.


Mobil yang dikemudikan Endra menepi di depan sebuah klub malam yang terbilang eksekutif di Jakarta. Para pengunjungnya pun banyak dari kalangan atas, diantaranya pengusaha muda. 


“Cari siapa, Bos?” tanya seorang bartender pada Endra.


“Damian Cyrilo,” sahut Endra.


“Meja no. 19,” sahutnya. 


“Nggak pake ruangan VVIP?” tanya Monica yang ditanggapi gelengan kepala oleh Bartender itu dan kemudian menunjuk meja tempat Damian dan Olivia berada.


Sementara itu ….


“Tuan, mereka datang. Anda yakin tidak akan pindah ke ruangan?” tanya Olivia dengan tatapan tertuju pada tiga orang yang mereka tunggu.


“Di sini aja,” sahut Damian sembari menoleh, lalu menyeringai tipis melihat Risa celingukan. “Sepertinya dia masih polos,” gumam Damian sambil menyesap whisky.


Berbeda dengan Risa, senyum Monica nampak lebar. Wanita itu berlenggok mendahului Endra yang sengaja melambatkan langkahnya agar bisa berjalan bersama Risa.


“Santai aja, Risa. Ada aku di sini,” ujarnya.


“Justru karena ada kamu, aku jadi was-was,” timpal Risa datar, dan itu membuat Endra tersenyum lebar.


Endra hendak melingkarkan tangan di pinggang Risa yang refleks menjauh, bahkan sampai bersenggolan dengan orang lain. Endra menyeringai masam sambil melengoskan wajah. Pada akhirnya ia pun berjalan di depan Risa dan dengan sengaja menghalangi wanita itu dari pandangan Damian.


“Bisa-bisanya dia menolakku. Baiklah, aku hanya harus bersabar sebentar lagi. Kali ini aku tidak boleh gagal. Risa harus jadi milikku,” geram Endra dalam hatinya sambil tersenyum devil.


Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2