Pewaris Sebenarnya

Pewaris Sebenarnya
sandiwara Biantara


__ADS_3

Suasana sesaat hening. Panggilan telpon itu sudah diakhiri, dan Risa masih terpaku di tempat semula. Sampai kemudian ….


“Opa!” Suara Monica terdengar di luar bersamaan dengan derap langkah kaki menuju pintu utama.


Tak ingin Biantara menyadari kehadirannya, cepat-cepat Risa berjalan dengan menjinjitkan kakinya menuju ruang makan.


“Opa,” panggil Monica lagi.


Langkah Monica berhenti saat melihat Risa ada di ruang makan. Wanita itu mengurungkan langkahnya yang hendak menuju teras, dan memutuskan untuk menghampiri Risa.


“Siniin. Siapa lo SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) sama Opa gue? Inget ya, lo itu babu bukan cucu, jadi jangan sok perhatian deh,” delik Monica sinis seraya mengambil kue ulang tahun yang diletakkan di atas meja. 


Risa hanya diam dan membiarkan Monica membawa kue itu. Sedangkan dirinya mengikuti langkah Monica sambil membawa pisau kue, dua piring kecil dan juga sendoknya.


Langkah dua wanita itu tertuju ke teras, yang mana di sana Biantara sedang duduk menghadap taman dengan ekspresin lemah tak berdaya.


“Opa, happy birthday!” seru Monica sembari menyodorkan kue itu ke hadapan Biantara yang tak memberikan ekspresi apa-apa.


Monica tersenyum masam mendapati sang kakek yang hanya bisa mengedipkan mata. Monica yang mulai merasa jengah itupun meletakkan kue di atas meja, kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Monica mendelik pada sang Kakek dan memilih memainkan ponselnya.


Sementara itu, Risa menatap Biantara dengan raut bingung. Aura misterius mulai dirasa Risa ketika menatap wajah pria yang hari ini genap berusia tujuh puluh tahun. Namun begitu, Risa mencoba untuk tak menampakkan perasaannya tersebut. Risa menghampiri dan duduk di kursi yang letaknya di dekat Biantara.


“Kek, bagaimana kalau kita berdoa bersama?” tanya Risa yang kemudian memperbaiki posisi kursi roda yang diduduki Biantara agar menghadap padanya. Risa menengadahkan telapak tangan Biantara yang tak bertenaga itu untuk memulai doa.


Siapa yang akan percaya kalau ia mengatakan bahwa salah satu tangan itu tadi menggenggam ponsel seperti orang lain pada umumnya. Rasanya ia pun tak akan percaya begitu saja kalau tak melihat dan mendengarnya sendiri.


“Ya Allah, semoga kakek segera sembuh, sehat seperti sedia kala dan tentunya panjang umur. Aamiin. Kek, maaf ya Risa nggak bisa ngasih apa-apa. Sekarang kita potong kuenya, dan kakek harus makan,” bujuk Risa bernada lembut.


Monica mencebikkan bibir melihat cara Risa memperlakukan kakeknya. Sebuah senyuman kemudian tersungging di wajah Monica manakala sebuah ide muncul di pikirannya.

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain ….


Dafi merasakan tengkuknya benar-benar sakit. Kepalanya sangat berat dan pusing hingga merasa dirinya melayang di udara. Tapi kemudian Dafi menajamkan pendengarannya yang menangkap suara roda bergesekan dengan aspal terasa sangat dekat dengannya.


“Apa aku sedang bermimpi?” batinnya.


Perlahan Dafi membuka matanya. Pemuda itu terlihat seperti orang linglung memperhatikan sekitar melalui gerakan bola mata.


“Di mana aku? Dan, siapa mereka?” batin Dafi bertanya-tanya sembari melirik pada sosok yang berjalan di sampingnya. Dalam diamnya Dafi terperangah mengetahui dirinya yang saat ini terduduk di kursi roda sedang diarahkan menuju tangga pesawat.


“Pe-pesawat?” Dafi terhenyak karena tak bisa lagi menyembunyikan keterkejutannya. Ia pun mendorong pria di sampingnya dan hal itu membuat orang yang mendorong kursi rodanya terkejut.


Dafi berbalik dengan cepat dan mendorong orang di belakangnya. Ia langsung berdiri dan berlari dengan tenaganya yang tersisa. Akan tetapi karena rasa sakit di kepala yang teramat sangat, Dafi terpaksa berhenti dan memegangi kepalanya sambil memejamkan mata menahan sakit.


“Mau coba lari ya? Heh, percuma. Kau tidak akan bisa kemana-mana. Bawa dia,” ucap seorang pria di belakang Dafi.


“Suntikan obat bius. Bisa gawat kalau dia membuat masalah di dalam pesawat.”


Kalimat itu terdengar samar di ambang kesadaran Dafi. Ingin rasanya melawan, tapi tubuhnya benar-benar tak berdaya. Sampai kemudian Dafi merasakan sebuah jarum menusuk salah satu bagian tubuhnya.


“Apa aku diculik?” batinnya sebelum benar-benar tak sadarkan diri.


**


Dengan susah payah Risa membujuk Biantara untuk mau memakan kue ulang tahunnya walau hanya beberapa suap saja. Akan tetapi pria tua itu bersikeras menolak dengan tidak mengunyahnya dan membiarkan kue itu tetap di mulut hingga terjatuh begitu saja mengotori baju. Melihat hal itu membuat Monica merasa jijik. Sedangkan Risa dengan cepat mengambil tisu lalu menyodorkan gelas air minum yang mana ada sedotan untuk digunakan Biantara.


“Risa siapkan makan siang ya, Kek. Risa bawa sayur kesukaan kakek. Sebentar Risa ambilkan." Risa beranjak untuk berlalu menuju dapur dengan diikuti tatapan Monica. Setelah Risa dirasa cukup jauh, Monica beringsut mendekati Biantara.


“Opa. Bulan depan kan Monic juga ulang tahun, minta hadiah ya. Nggak banyak kok, cuma dua puluh persen saham perusahaan. Ya, Opa? Nanti Monic siapain berkasnya. Jadi Opa tinggal cap jari aja, oke?” Monica mengacungkan ibu jarinya dengan antusias. Tapi kemudian mata kembali mendelik pada Biantara yang menatap kosong ke sembarang arah.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Risa datang menghampiri membawakan semangkuk nasi yang telah dicampur dengan sayur. Selain nasi yang harus lembek, kuah sayur juga harus selalu ada dalam menu Biantara untuk memudahkan pria itu mencerna makanannya. Akan tetapi benarkah itu semua? Setelah apa yang dilihat Risa tadi, ia jadi mencurigai semua pelayan di vila itu.


Mungkinkah mereka bersekongkol dengan sang Tuan untuk mengelabui semua orang? Jika iya, untuk apa?


Banyak tanya bersemayam dalam benak Risa. Tanya tentang motif di balik sandiwara Biantara, juga tanya tentang siapa anak yang dibicarakannya dengan seseorang di telpon.


_bersambung_


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2