Pewaris Sebenarnya

Pewaris Sebenarnya
ada yang membuntuti


__ADS_3

Dafi kembali menemui Aman untuk menepati janjinya. Meski tak banyak, Dafi memberikan lebih dari setengah upah yang diterimanya. Dafi berjanji akan kembali jika memiliki uang lagi, ia juga mengunjungi makam kedua orang tuanya sebelum berlalu dari tempat itu.


Di bawah teriknya mentari, Dafi menyusuri trotoar sambil memperhatikan sekitar tak terkecuali saat melewati cermin tikungan. Dari pantulan pada cermin itu, Dafi bisa melihat banyak hal di belakangnya. Tak terkecuali sosok yang di rasanya mengikuti sedari tadi.


Bagaimana tidak, setiap kali ia melihat ke arah cermin tikungan, sosok itu ada di belakangnya. Seorang pria yang kemungkinan besar mengidap gangguan jiwa dengan pakaian lusuh dan wajah yang kumal serta berambut gimbal. Seandainya saja itu sebuah kebetulan, mengapa sosok itu terlihat seperti membuang muka dan berpura-pura memungut sesuatu setiap kali Dafi membalikkan badannya. 


“Jangan-jangan sebenarnya dia nggak gila,” batin Dafi. “Tapi untuk apa juga ngikutin aku?” imbuhnya dalam hati.


Dafi kembali meneruskan langkah. Saat melewati sebuah gang, Dafi sengaja berbelok untuk membuktikan dugaannya. Benar saja, orang itu mengikuti.


Langkah Dafi melambat, lalu berbalik cepat dan berlari mengejar pria itu yang sempat terkejut melihat Dafi yang tiba-tiba berlari ke arahnya. Satu tangan Dafi berhasil meraih tangan pria itu yang kemudian ditekuknya kebelakang dengan sangat cepat, sedangkan satu tangan lainnya menekan tengkuk pria itu dan mendorongnya kuat hingga menabrak dinding.


“Kau siapa, hah? Siapa yang menyuruhmu?” bentak Dafi sambil menarik kuat tangan pria itu hingga bahunya tertarik kebelakang.


Pria itu tak lantas menjawab pertanyaan Dafi. Hanya kekehan yang terdengar di sela ringisan.


“Aku yakin kau tidak gila. Cepat katakan, siapa yang menyuruhmu?” geram Dafi sambil menekan tengkuk pria itu dan membuatnya kesulitan bernapas.


Tapi rupanya hal itu tak lantas membuat si penguntit dengan mudah ‘bersuara’. Satu tangannya justru berusaha menggapai pisau lipat yang terselip di balik pakaiannya.


Diamnya pria itu membuat Dafi merasa kesal. Dafi melepaskan cengkramannya, membalik badan pria itu, lalu … bugh.


Satu tinjuan cukup kuat dilayangkan Dafi ke wajah pria itu.


“Sial. Rupanya kau memilih dipukul, heh!” geramnya. Dafi berjalan cepat menghampiri lawannya yang sempat terhuyung. Akan tetapi saat Dafi hendak melayangkan tinjunya lagi, kepalan tangan itu tertahan di udara manakala ujung pisau yang dipegang pria itu diarahkan padanya.


“Kau disuruh membunuhku?" todong Dafi.


Lagi-lagi tak ada kata yang terucap dari bibir pria itu. Dafi pun mulai berpikir bahwa tuan dari pria itu pastilah orang yang pernah menjebaknya dahulu.


Dafi tersentak dan sontak mundur saat pria itu dengan cepat menggerakkan pisau yang dipegangnya. Setiap kali Dafi mencoba untuk maju, pisau itu siap menghadangnya. 


“Hei, Kau!” seru Dafi sambil menunjuk ke belakang pria itu. Seruannya tadi tak lain hanyalah sebuah cara untuk membuat pria itu lengah.

__ADS_1


Benar saja, pria itu sempat melirik ke samping. Di saat itulah Dafi bergerak cepat menyambar tangannya yang memegang pisau dan menariknya. 


Bugh. 


Satu tinjuan lagi-lagi dilayangkan ke wajah pria itu. Namun rupanya perlawanan masih terjadi karena pria itu berusaha mengarahkan pisaunya ke wajah Dafi yang kemudian memberikan satu pukulan di pangkal tangannya.


Pukulan Dafi cukup ampuh untuk melemahkan genggaman pisau di tangan pria itu. Dafi mengambil paksa pisau dan balik mengarahkan pada lawannya.


“Katakan atau kau akan mati konyol di tanganku. Siapa orang yang menyuruhmu mengikutiku? Siapa?” bentaknya.


Pria itu masih saja bungkam, membuat Dafi berpikir lawannya seorang tuna wicara. “Kau bisu?” tanyanya dengan ujung mata yang dipicingkan.


Sejujurnya Dafi mulai goyah saat menanyakan hal itu. Jika benar pria itu bisu, ia tak sampai hati jika harus menyakiti seseorang yang bahkan tak bisa berteriak meminta pertolongan. Namun tanpa diduga tiba-tiba saja … bugh!


Satu hantaman keras di bagian tengkuknya membuat Dafi merasakan sakit yang luar biasa. Sambil memegangi tengkuknya, Dafi berusaha untuk menoleh ke belakang. Tapi lagi-lagi hantaman yang sama kerasnya diterima punggungnya.


Dafi merasakan kepalanya sakit luar biasa. Penglihatannya juga mulai kabur, kemudian … brugh.


**


Di tempat lain ….


Mobil yang dikendarai Monica baru saja meninggalkan area proyek menara kembar Biantara. Monica menelpon ibunya untuk memberitahukan dirinya akan mengunjungi sang kakek di vila.


“Monic nggak lama kok, Ma. Cuma nengok bentar aja,” ujarnya.


“Papa tau nggak kamu ke sana?” tanya Ajeng di ujung ponsel Monica.


“Enggak. Lagian hari ini ulang tahun Opa. Sekali-kali kita kunjungi dong, Ma. Kasihan Opa, udah sakit, sendirian pula.”


“Nggak usah sok perhatian deh. Kamu tau ‘kan kenapa papa ngelarang kita menjenguk Opa? Lagian mama udah nyuruh si Risa ke sana. Ngirim kue ulang tahun sama makanan kesukaan Opa. Jadi udah deh putar balik aja,” titah Ajeng.


“Nggak mau. Pokoknya Monic mau jenguk opa, titik. Kalau mama ngaduin ini ke papa, berarti mama nggak sayang Monic.”

__ADS_1


Monica mengakhiri sepihak panggilan itu. Ia merasa kesal terhadap keputusan ayahnya yang melarang siapapun dalam keluarga mereka menemui sang Kakek, Biantara. 


Monica cukup mengerti alasan dibalik keputusan ayahnya tersebut. Menurut Renaldi, Biantara telah pilih kasih terhadapnya dengan memberikan semua harta pada Mahesa, mendiang adiknya.


Tak hanya itu saja, atas bujukan Mahesa, Biantara mencoret nama Renaldi dari kartu keluarga hanya karena pernah menentang keputusannya tersebut. Bagai mendapat hukuman dari Sang Pencipta atas perbuatannya, Biantara mengalami kecelakaan yang membuat pria tua itu lumpuh dan juga syok hingga tak mampu bicara seperti seseorang yang hanya bisa pasrah menunggu ajalnya.


Sementara itu, Risa yang diminta membawakan kue dan juga makanan ke rumah Biantara baru saja menepikan mobil yang dikemudikannya. Rumah yang dihuni Biantara merupakan sebuah vila mewah di kawasan puncak, Bogor-Jawa Barat.


Risa sengaja tidak memasukkan mobilnya. Ia ingin memberi kejutan ulang tahun sederhana untuk Biantara.


Risa berjalan menuju pintu gerbang yang mana di sana terdapat pos security. Satu tangannya membawa kue dalam dus, dan satu tangan lainnya menjinjing rantang makanan.


“Mbak Risa, kenapa mobilnya berhenti di luar?” tanya security yang sudah familiar dengan wajah Risa. 


“Ssstt. Saya mau ngasih kejutan untuk Kakek, Pak,” ujar Risa sambil masuk ke dalam pos security untuk membuka dus kue.


“Pak, rantangnya tolong dibawa ke dapur ya. Saya mau ke kamar kakek dulu,” ujar Risa sambil memasangkan beberapa lilin di atas kue ulang tahun yang dibelikan Ajeng untuk mertuanya. 


Risa memang sering datang ke sana untuk sekedar menjenguk, tak hanya saat diperintahkan Ajeng, tapi juga setiap kali ada kesempatan. Risa bahkan tak jarang bolos kuliah jika mendapat kabar Biantara sedang tak napsu makan. Beruntung Risa selalu bisa membujuk Biantara. Risa juga tak segan berceloteh menceritakan banyak hal meski ia tahu Biantara tak mengacuhkannya.


Risa berjalan beberapa meter dari pos security untuk sampai di teras vila. Ia mengendap masuk ke dalam vila dan tersenyum lebar melihat pria yang duduk di kursi roda itu ada di teras belakang seorang diri, tanpa perawat yang biasa menemaninya.


“Kau sudah mendapatkannya?”


Deg.


Langkah Risa terhenti di dekat pintu keluar. Ia tertegun mendengar Biantara yang selama ini diketahui tak bisa berkata-kata ternyata sedang ngobrol di telpon dengan seseorang yang entah siapa. Karena tak ingin kedatangannya mengganggu, Risa mundur perlahan dan memilih bersembunyi di dekat gorden. Meski tak berniat menguping, percakapan itu tentu saja terdengar olehnya.


“Jalankan sesuai rencana. Bawa anak itu ke Singapura. Perintahkan juga orang kita untuk menyiapkan dokumen yang nanti akan dibutuhkannya.”


Risa tertegun. Ia yang berniat memberi kejutan untuk pria tua itu, justru lebih dulu dikejutkan oleh kebenaran yang selama ini dirahasiakan.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2