
“Apa? Rapatnya jadi jam sembilan? Kamu serius?” Risa terkejut mendapat kabar klien Biantara Group asal Singapura itu mempercepat jadwal rapat yang semula akan diadakan di jam makan siang. Saat ini pukul delapan lebih, dan ia baru bersiap akan berangkat kerja bersama Endra.
Risa menyambar tasnya dan terburu-buru keluar kamar. Di saat yang bersamaan, Renaldi juga keluar dari kamarnya.
Di rumah itu, Risa menempati salah satu kamar yang diperuntukkan bagi tamu di lantai bawah. Hal tersebut karena Monica tak suka bahkan mengancam akan pergi dari rumah jika Risa menempati kamar di lantai atas.
“Arin, bantu aku siapkan ruang rapatnya. Aku tidak mungkin sampai di sana tepat waktu. Kumohon,” pinta Risa pada Arin, sekretaris wakil CEO.
“Terima kasih,” ucapnya kemudian sekaligus mengakhiri percakapan.
“Ada apa? Apa pagi ini ada rapat dan kau terlambat? Aku sudah bilang, pakai motormu! Kangan dengarkan Endra. Kau ini karyawan, bisa-bisanya dia memintamu berangkat bersama,” hardik Renaldi yang secara kebetulan didengar Monica.
“Endra!” seru Renaldi memanggil putranya.
“Pa, ada apa sih teriak-teriak begitu?” tanya Ajeng sambil berjalan dari arah pintu teras samping mendekati mereka.
“Ini si Endra seenak jidatnya aja. Udah dibilangin Risa pergi ke kantor pakai motor. Rapatnya jadi terlambat ‘kan?” omel Renaldi dengan nada tinggi.
“Rapat apa sih, Pa? Pagi ini nggak ada rapat kok. Tanya aja Risa. Rapatnya nanti siang, masih lama,” timpal Endra yang berjalan tergesa-gesa sambil mengancingkan lengan kemejanya.
“Siang?” Renaldi menoleh pada Risa dengan tatapan yang menajam.
“Jadwal rapatnya diubah jadi jam sembilan, Tuan,” ujar Risa gugup.
“Rapat yang mana? Seingatku hari ini cuma ada rapat dengan pihak Cyrilo, dan itu nanti siang.” Langkah Endra berhenti di depan Risa yang tersenyum masam padanya.
“Rapat itu yang dimajukan, Tuan,” ujarnya pelan.
“Apa? Maksudmu rapat dengan pihak Cyrilo?” Endra terperanjat mendengarnya.
“I-iya,” angguk Risa.
“Oh My God! Bagaimana ini?” Endra menepuk keningnya sendiri.
“Saya sudah minta Arin menyiapkan ruangan rapat, Tuan,” ujar Risa.
“Baguslah.” Endra seketika merasa lega mendengarnya.
“Apa kau bilang barusan, bagus? Dasar bodoh!” umpat Renaldi. “Cepat pergi sekarang juga! Kalau sampai klien kita yang satu ini lolos, aku akan membunuhmu,” geramnya.
“Papa. Kalau ngomong itu dijaga,” protes Ajeng.
“Mulai hari ini, Risa berangkat pakai motor. Jangan mendebatku!” bentak Renaldi.
Risa yang mendengar hal itupun bergegas meninggalkan ruangan tersebut. Ia tak menghiraukan tatapan Endra yang seakan keberatan akan keputusan ayahnya.
“Endra. Sarapan dulu,” panggil Ajeng.
__ADS_1
“Aku udah terlambat, Ma. Mama nggak dengar papa maki-maki Endra?”
“Risa udah berangkat, ruangannya juga udah disiapkan. Sebentar aja, sarapan dulu,” pinta Ajeng setengah memaksa.
Endra melirik pada ayahnya, kemudian dengan malas duduk di ruang makan untuk sekedar menyantap satu roti isi yang disiapkan ibunya. Sementara itu, Monica yang baru saja turun juga duduk di kursi lain namun hanya minum teh hijau kesukaannya.
“Monic berangkat duluan ya, Kak,” pamitnya.
“Ma, Monic kok nggak disuruh sarapan? Ah, curang. Endra juga mau pergi sekarang,” gerutu Endra sambari menyuapkan sisa roti ke dalam mulutnya. Melihat hal itu, Ajeng hanya bisa menggeleng pelan sembari membuang kasar napasnya.
Ajeng menoleh pada Renaldi yang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Beberapa saat kemudian, terdengar pembicaraan di telepon entah dengan siapa.
“Kau atur saja lah. Aku akan membayar lebih asalkan proyek itu jatuh ke tanganku. Jangan khawatir, kau juga akan dapat bagian. Kalau sampai proyek itu jatuh ke perusahaan lain, aku akan mempersulitmu. Ingatlah, kartu AS-mu ada padaku. Kau tidak punya pilihan lain selain menggolkan proyek itu untukku. Kau mengerti?”
Ajeng menatap sendu suaminya. Masih saja seperti itu. Ancaman, kekerasan, bahkan lebih dari itu yang selama ini digeluti Renaldi. Seakan tak pernah puas dengan apa yang dimilikinya, Renaldi melakukan banyak cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
Sementara itu di tempat lain ….
“Sejak kapan kau mengambil alih pekerjaan Risa, heh? Apa Risa itu atasanmu?” bentak Monica pada Arin melalui sambungan telepon.
“Kalau aku dengar ruangan itu kau yang menyiapkan, kemasi barang-barangmu hari ini juga,” pungkasnya bernada ancaman.
Monica tersenyum sinis. Ia tak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk menyulitkan Risa. Pasti menyenangkan melihat rencana rapat pagi ini berantakan. Endra akan malu, dan ayahnya pastilah akan murka.
“Aku akan selalu menunggu detik-detik kau ditendang dari rumahku. Sampai saat itu tiba, jangan harap kau bisa bernapas lega,” seringai Monica yang kembali memutar kemudi setelah seratus detik menunggu lampu merah berganti warna.
**
“Apa-apaan orang dari Cyrilo itu, seenaknya saja merubah jadwal meeting. Heh, dasar sok penting,” gerutu Risa. Seingatnya, tak pernah ada klien yang melakukan hal menyebalkan seperti yang dilakukan pihak Cyrilo Pte Ltd.
Keluar dari lift, Risa mengarahkan langkahnya menuju ruang rapat. Ia tertegun melihat ruangan itu belum nampak persiapan sama sekali. Risa menghela dalam napasnya, dan mulai menyiapkan ruang untuk rapat dan semua hal yang diperlukan secepatnya.
Beruntung rapat kali ini hanya antara CEO Biantara Group yang diwakilkan Endra dan perwakilan Cyrilo Pte Ltd.
“Damian Cyrilo,” gumam Risa yang sekilas membaca nama yang akan mengikuti rapat pagi ini.
“Seingatku perwakilan mereka namanya Riko.” Risa tertegun sesaat kemudian terperanjat, “Ya Tuhan. Itu artinya yang datang hari ini Tuan Cyrilo. Pantas saja arogan, seenaknya mengganti jadwal. Huft. Dasar orang kaya. Nggak di Indo, nggak di luar sana. Aarrgh!” Risa menggeleng cepat untuk menyadarkan dirinya yang terus saja menggerutu.
Tepat pukul sembilan, persiapan rapat pun selesai. Risa boleh jadi merasa lega, karena belum ada kabar dari bagian resepsionis tentang kedatangan klien mereka.
“Dia belum datang?” tanya Endra sembari memasuki ruang rapat. Di sampingnya Monica juga ikut masuk ke ruangan tersebut.
“Belum,” geleng Risa.
“Kakak tau hari ini yang datang Tuan Cyrilo?” tanya Monica.
“Maksud lu, bukan Riko? Yang pernah meeting online itu namanya Riko ‘kan?”
__ADS_1
“Iya. Itu Riko. Dan kata Riko yang datang kali ini Tuan Damian Cyrilo, bukan dia,” sahut Monica yang kemudian menoleh pada Risa dan berkata, “Eh, Risa. Mana materi rapatnya? Lu mau Kak Endra kelihatan bego ya? Cepetan ambil!”
“Udah ada file-nya di gue. Lu kenapa sih sensi banget sama Risa?” delik Endra.
“Kamu tunggu aja mereka di lobi,” titah Endra yang diangguki oleh Risa.
Risa berlalu dari ruangan itu sambil membuang kasar napasnya. Semakin hari, ia semakin muak dengan Monica.
**
Tiga puluh menit sudah berlalu, dan Risa masih menunggu di lobi perusahaan. Risa terlihat mondar-mandir dan mulai kesal karena yang ditunggunya belum juga datang.
“Aarrgh. Nyebelin! Dikiranya aku nggak ada kerjaan apa ya?” geram Risa.
Risa benar-benar kesal, terlebih Endra beberapa kali menelponnya untuk menanyakan kedatangan tamu mereka itu. Sampai satu jam, yang ditunggu belum juga kelihatan ‘batang hidungnya’. Tepat ketika Risa hendak membalikkan badannya, sebuah mobil mewah terlihat memasuki halaman perusahaan. Tanpa pikir panjang, Risa berjalan ke luar untuk menyambut si tuan arogan.
“Aku ingin lihat, seperti apa tuan menyebalkan itu,” geramnya di dalam hati.
Risa berdiri tak jauh dari pintu lobi dengan posisi hormat lengkap dengan senyum manis yang dipaksakan.
Tak lama kemudian, seorang wanita cantik turun dari mobil itu. Menyusul setelahnya seorang pria berbadan tegap pun turun dari mobil.
“Apa itu yang namanya Tuan Damian Cyrilo?” batin Risa.
Dua orang itu berjalan menghampiri Risa. Semakin dekat, wajah Damian semakin jelas terlihat. Tanpa sadar Risa bergumam, “Gantengnya.”
Rasa kesal itu seketika menguap. Penantian Risa rasanya tak sia-sia jika yang ditunggunya pria setampan Tuan Cyrilo.
“Selamat pagi. Apa kau perlu tisu untuk mengelap air liurmu itu?” tanya Damian datar.
Risa terperangah dan refleks mengusap bibirnya. “Apaan sih, nggak ada air liur kok?” batin Risa.
Risa jadi salah tingkah saat menyadari pria di hadapannya itu tersenyum mengejek.
“Selamat datang, Tuan. Mari silahkan, Tuan Endra sudah menunggu Anda sedari tadi,” ujarnya dengan hormat. Risa berusaha sebisa mungkin bersikap profesional meskipun ia merasa dongkol terhadap pria tampan di hadapannya itu.
“Apa tuanmu itu marah?” tanya Damian datar sembari melangkah menuju lobi.
“Kurasa wajar jika Tuan Endra merasa kesal. Anda sudah terlambat satu jam dari waktu yang Anda tentukan sendiri,” sahut Risa.
Damian menoleh, kemudian menyeringai tipis. Dari nada bicaranya terdengar jelas bahwa wanita itu juga merasa kesal.
Mereka pun masuk ke dalam lift. Selama di lift, Damian menatap lekat pada Risa yang berdiri di dekat pintu. Risa yang menyadari hal itu jadi salah tingkah dan memilih untuk mematung berpura-pura tak menyadari tatapan Damian.
Semakin diperhatikan, wajah wanita itu mengingatkan Damian pada seseorang. Damian tertegun dan tanpa sadar bergumam, “Ica.”
Wanita itu menoleh dengan cepat. Raut wajahnya terlihat heran, namun kembali tertunduk karena tak ingin dinilai lancang dengan menatap Damian.
__ADS_1
“Apa aku salah dengar ya?” batin Risa.
_bersambung _