
Setelah melalui kontrol rutin selama beberapa hari pasca operasi, Damian diperbolehkan pulang. Tentunya dengan beberapa ketentuan yang harus diperhatikan di masa pemulihan, juga kontrol rutin hingga beberapa bulan ke depan.
Sebuah penthouse mewah lengkap dengan pelayan dan beberapa bodyguard telah disiapkan Brata untuk keponakannya, Damian. Di sana juga tentunya ada Andi, dan seorang asisten pribadi Damian yang bernama Olivia.
Sejak tinggal di penthouse, hari-hari Damian tak pernah dilewatkan tanpa belajar. Mulai dari mempelajari bahasa asing, dasar-dasar manajemen bisnis, sampai kemudian akan tiba saatnya Damian datang ke perusahaan dan duduk sebagai CEO.
Cyrilo Pte Ltd, sebuah perusahaan pribadi yang sengaja diciptakan sejak beberapa tahun yang lalu atas perintah Biantara setelah mereka mengetahui keberadaan putra Mahesa. Perusahaan yang bergerak dalam bidang properti dan konstruksi itu selama ini dibesarkan oleh Brata bersama seorang ‘kaki tangan’nya yang bernama Riko.
Untuk memahami banyak hal secara bersamaan tentunya diperlukan waktu yang tidak sebentar. Terlebih Damian tak ada dasar sama sekali dalam beberapa hal itu. Karenanya seringkali ia merasa frustasi dengan tuntutan yang mungkin terkesan berlebihan. Jika sudah seperti itu, Damian akan mengingat tekadnya membalaskan ketidakadilan yang telah menimpa ia dan keluarganya.
“Oliv, apa Tuan Damian sudah-.”
“Ssttt. Beliau tertidur,” sahut Olivia yang datang membawakan selimut dari kamar Damian. Melihat tuannya duduk dengan kedua mata yang terpejam dan sebuah buku yang hampir terjatuh dari tangannya membuat Andi cepat-cepat membetulkan posisi Damian. Ia juga meminta selimut itu dan menyelimuti setengah badan tuannya.
Damian kelihatannya sangat lelah, sampai-sampai tak terganggu saat Andi melakukannya. Pria itu akan berpindah dari ruang kerja ke ruang tengah manakala rasa jenuh mulai mendera.
“Tuan belum makan malam?” tanya Andi sembari menatap lekat wajah Damian.
“Belum.”
Andi membuang pelan napasnya mengingat beberapa hari ini Damian memang seperti tak berselera makan. “Biarkan saja di sini. Kemarin juga pindah sendiri ‘kan?” tanya Andi mengingat pagi ini Damian keluar dari kamar setelah malamnya tertidur di sofa.
“Iya.”
__ADS_1
“Mulai besok minta pelayan memasak menu makanan khas Indonesia. Kuharap selera makannya membaik,” ucapnya pelan.
“Baik. Menurutku, tuan membutuhkan sedikit hiburan. Aku merasa kasihan jika dia selalu terkungkung di dalam penthouse ini. Misalnya saja jalan-jalan, joging, atau sekedar hangout di lounge and bar,” ujar Olivia yang coba mengutarakan pendapatnya.
“Semua ada waktunya, Oliv. Tuan Brata tidak sekeras itu,” timpal Andi yang diangguki samar oleh Olivia.
Keduanya meninggalkan Damian dalam keremangan. Mereka tidak mengetahui jika menjelang dini hari, Damian akan terbangun, lalu beranjak ke ruang kerja untuk kembali mendalami hal-hal yang sudah ia pelajari. Selalu seperti itu setiap malam. Damian seakan tak punya tujuan lain dalam hidupnya selain membalaskan dendam pada seseorang yang sudah berani berbuat curang.
Sampai kemudian semua kerja keras dan juga lelah yang dirasa Damian terbayar ketika Brata memperkenalkan Damian sebagai CEO baru Cyrilo Pte Ltd menggantikan dirinya. Seiring kebersamaannya dengan Riko, Damian mengerti banyak hal tentang dunia bisnis yang mereka geluti. Dunia yang sebelumnya tak pernah terpikirkan sama sekali oleh seorang Dafi.
Beberapa bulan kemudian ….
-Jakarta, Indonesia-
Suasana romantis seketika terasa manakala musik bernuansa slow romance sengaja diputar untuk mengiringi sesi dansa dalam sebuah restoran mewah yang sengaja disewa. Malam itu ada perayaan hari jadi pernikahan seorang klien Biantara Group. Para tamu undangan yang sebagian besar datang dengan pasangannya diminta untuk tak sungkan memamerkan kemesraan di hadapan tamu lainnya. Bagi yang datang dengan istri ataupun pacar, mungkin sesi dansa akan sangat dinantikan. Tapi tidak dengan mereka yang datang bersama sekretaris ataupun setingkatnya. Ada rasa canggung, juga kesan baik yang dipertaruhkan jika mereka berdansa dengan bawahan secara terang-terangan seperti itu.
Mau tak mau Endra pun kembali menarik tangannya dan meletakkan di atas meja. “Kau ingin berdansa?” tanyanya. “Aku tidak keberatan melakukannya jika memang kau mau,” imbuh Endra. Sedari tadi pria itu menatap Risa yang sedang memperhatikan sekitarnya seakan menghindari obrolan dengannya.
“Kau tau ‘kan aku ini hanya anak pelayan, dansa seperti itu aku mana bisa,” sahut Risa sekenanya. Wanita itu seakan ingin mengingatkan pada Endra bahwa mereka berbeda kasta. Bukan tanpa alasan, Risa mulai jengah dengan sindiran yang sering dilontarkan Monica. Monica mengira dirinya mengincar posisi menantu di keluarga itu. Padahal yang sebenarnya, ia sangat ingin terbebas dan berdiri di kakinya sendiri.
“Risa. Aku tau selama ini kau dalam dilema,” cetus Endra.
“Dilema? Tentang apa?” Kening Risa berkerut mendengar ucapan Endra yang menurutnya sok tahu.
__ADS_1
“Kau tau ‘kan aku menyukaimu?”
“Lalu, apa urusanku? Itu hakmu, dan aku tidak peduli,” ucapnya enteng. Jika tidak sedang di kantor, Risa dan Endra terbiasa berbicara layaknya teman. Karena bagaimanapun mereka tumbuh di rumah yang sama.
“Kau pasti berpikir, kalau kau menerima cintaku, orang akan berpikir buruk tentangmu. Tapi jika mengabaikanku, kau akan merasa tersiksa karena sebenarnya kau juga punya rasa yang sama. Gimana, aku benar ‘kan?” tanya Endra dengan percaya diri.
“Ish, sok tahu. Maaf ya, Tuan. Aku ini upik abu yang tidak pernah berangan jadi cinderella. Aku cukup senang dengan keadaanku yang sekarang ini, dan tidak pernah membayangkan seujung kuku pun akan bersanding denganmu.” Risa memutar bola mata malas melihat ekspresi Endra yang sedang meragukan ucapannya.
“Kalau aku memaksa bagaimana? Aku tidak keberatan kalau kita backstreet.”
“Tidak, Tuan. Terima kasih. Oh iya, kudengar kau akan dijodohkan akhir pekan ini. Saranku berhentilah mengatakan hal konyol seperti itu,” ujar Risa sembari menyesap koktail dalam gelasnya.
“Pertunangan itu tidak akan terjadi sampai aku bisa buat kesepakatan dengan klien kita.”
“Dan pastinya kau akan membuat kesepakatan itu. Iya, ’kan?”
Endra berdecak kesal, sementara Risa menyeringai tipis sambil meletakkan kembali gelasnya di atas meja.
-Singapura-
“Tuan sudah memutuskan kau yang akan ke Jakarta. Kenapa masih di sini? Pulang dan tidurlah, Damian. Besok kau harus melakukan penerbangan, jangan sampai alkoholmu itu terdeteksi oleh petugas bandara. ‘Kan nggak lucu,” seloroh Riko yang mulai terpengaruh alkohol. Damian tersenyum tipis sambil meletakkan gelas whiskey di atas meja bar.
Jakarta. Setelah hampir satu tahun, akhirnya besok ia akan kembali ke Jakarta. Bukan sebagai Dafi–eks narapidana kasus peredaran narkoba, tapi sebagai Damian–sang CEO dari perusahaan yang merupakan klien Biantara Group.
__ADS_1
Damian sudah menantikan moment ini. Moment di mana ia akan bertemu dengan orang yang di malam kejadian itu menyembunyikan wajahnya di balik kaca mobil. Seseorang bermental pengecut yang bahkan tak berani menampakkan wajahnya pada remaja yang kala itu tidak tahu apa-apa.
_bersambung_