
..."The eyes tell more than words could ever say."...
...02.45 AM...
...Xander x Chloe...
...02.45 AM...
Hari semakin larut, namun tidak ada tanda-tanda Chloe akan tidur. Mata gadis itu masih segar. Ia sesekali mengintip jendela luar. Sudah tiga jam semenjak Xander pergi, namun pria itu belum pulang juga. Apa pria itu tidak pulang malam ini?
Chloe menghembus nafas. Ia menekuk kakinya lalu menumpu wajahnya di atas lutut. Alasannya menunggu Xander karena penasaran dengan kondisi Vero. Kemarin, setelah setuju untuk bertukar posisi dengan Vero, Chloe tidak sempat melihatnya lagi. Padahal kemarin gadis itu babak belur. Apa Vero baik-baik saja?
Chloe memicing mata ketika mendengar suara deruman mobil. Xander sudah kembali. Buru-buru, Chloe turun dari kasurnya lalu berlari menuruni tangga–menghampiri Xander.
Xander masuk ke masion dengan kondisi mabuk. Ketika Chloe tepat berada di hadapannya, bau alkohol menyerebak keluar. Chloe mengernyitkan hidung. Ia paling tidak suka bau alkohol. Hal itu selalu mengingatkannya pada Ceacil yang selalu mabuk setelah berjudi.
Xander mengangkat kepalanya kesal karena jalannya terhalang. Begitu melihat wajah Chloe–ia mengernyitkan dahi.
"Hm? Kapan aku memesan wanita?"tanyanya mendadak amnesia. Chloe melonggo kaget. "Kau tidak ingat aku?"tanya Chloe langsung tersenyum gembira. Kalau Xander tidak ingat dengannya, Chloe mau minta izin kabur.
Xander mengerutkan kening sebenatar lalu tertawa, "Oh, aku ingat, Haha... Kau umpanku yang berharga."ujarnya lalu mengelus kepala Chloe. Huh? Umpan apa?
"Kenapa kau belum tidur?"tanya Xander berjalan namun langsung oleng, beruntung Chloe dengan sigap menangkap tubuhnya. Duh, berapa banyak alkohol yang diminum pria ini?
"Berat...!"pekik Chloe memeluk erat tubuh besar Xander agar tidak terjatuh. Dengan sekuat tenaga Chloe menyeret tubuh Xander ke sofa terdekat. Ia membaringkan tubuh Xander lalu langsung terjatuh ke lantai saking lelahnya.
Chloe menghembus nafas, padahal ia ingin bertanya tentang keadaan Vero, tapi yasudah, lah Chloe akan bertanya besok pagi.
__ADS_1
Chloe berdiri hendak kembali ke kamarnya namun sebelum itu ia menyempatkan diri mengamati wajah pria itu.
"Tampan..."kesan Chloe pada Xander masih sama seperti pertama kali Chloe melihatnya. Dalam hati Chloe bertanya, apa pria ini berbahaya? Xander selalu terlihat seram di matanya namun ketika tidur dia tak ada bedanya dari pria normal pada umumnya.
Chloe memicing mata melihat Xander susah bernafas dengan setelan bajunya. Dengan segera, gadis itu membuka dua kancing teratas Xander. Mendadak wajahnya jadi panas ketika tak sengaja tangannya menyentuh dada bidang itu.
"Buang pikiran kotormu, Chloe!"pekiknya dalam hati. Chloe menghembus nafas gugup. Ia hendak pergi namun langsung terkejut begitu melihat tatto di sekujur badannya.Tidak hanya di lengan ternyata di dada pria itu juga ada tatto. Setelah beberapa menit memperhatikan tatonya, Chloe baru sadar kalau ada banyak luka bakar yang sengaja ditutup dengan tato. Ia menutup mulut saking terkejutnya. Tanpa sadar tangan Chloe terjulur hendak menyentuh luka itu, namun tiba-tiba tangannya tercekal.
Chloe menahan nafas ketika Xander membuka mata lalu menatapnya dengan tatapan mengerikan.
"A-ah..."Chloe gugup seketika.
"Apa yang kau lakukan?"tanya Xander setelah mendapatkan kesadarannya. Chloe berusaha menarik tangannya, namun Xander menahannya.
"I-itu, aku hanya membuka kancingmu karena kau terlihat sesak nafas, pak. Maaf kalau aku membangunkanmu."jawab Chloe dengan wajah pucat.
Xander menatap kancing bajunya sekilas sebelum melepaskan cekalannya. "Kenapa belum tidur? Ini sudah larut malam."
Xander mengangkat sebelah alisnya, "Apa?"
Chloe berpikir sejenak. Rasanya salah bertanya tentang Vero di situasi seperti ini. Alhasil Chloe menggeleng.
"Lupakan... Aku mau tidur, dulu. Selamat malam, pak!"Chloe buru-buru berlari pergi, namun Xander kembali memanggilnya.
"Hei..."Chloe langsung berhenti, begitu Xander memanggilya. Ia menoleh, "Boleh tolong bantu aku ke kamar?"pintanya. Walau merasa ragu namun Chloe tetap membantu pria itu. Ia berjalan mendekati Xander lalu membopongnya ke pundak. Bau mint dan alkohol langsung tercampur–menerobos indra penciumannya. Chloe jadi pusing menciumnya.
Dengan arahan Xander, Chloe berhasil menuntun pria itu sampai ke kamarnya. Sesampai di kamar, Chloe membawa Xander ke kasurnya lalu menaruh kepalanya dengan hati-hati. Chloe menahan nafas ketika jarak wajahnya cukup dekat dengan Xander. Buru-buru ia menarik tubuhnya.
Xander membuka matanya ketika Chloe sedang membuka sepatu dan kaus kaki. Setelah selesai dengan semuanya, Chloe melirik Xander lalu tersadar sedari tadi pria itu terus memperhatikannya. Chloe jadi salah tingkah.
__ADS_1
"Aku kembali dulu."ujarnya buru-buru pergi, namun Xander kembali menahan tangan Chloe. Pria itu menatap Chloe lekat membuat kakinya terasa meleleh. "Mulai besok kau jadi pelayan pribadiku."
...---🌹🌹🌹---...
Chloe POV
Aku terbangun dengan hati kesal. Hari ini resmi pekerjaanku menjadi pembantu. Iya, pembantu! Padahal hal yang paling kubenci adalah membersihkan rumah. Aku benci membereskan kamar, mengepel, menyapu, dan lainnya. Padahal aku ingin sekali menolaknya, namun mengingat kontrak yang sudah ku tanda tangani aku tidak bisa berbuat apa-apa. Entah, lah aku harus bersyukur atau tidak. Setidaknya Mr. O'Pry hanya menyuruhku menjadi pelayan pribadinya bukan menjadi hal aneh lainnya. Tapi ukhhhh... aku benci beres-beres!
Aku menyeret kakiku dengan perasaan malas ke kamar mandi. Tugas pertamaku adalah membangunkan Xander dan membereskan kamarnya. Tapi sebelumnya aku harus mandi dulu. Setelah selesai mandi aku berjalan mendekati kamar, mengetuk pintu menunggu jawabannya.
"Masuk."
Aku mendorong pintu lalu masuk ke dalam. Ketika menutup pintu mataku langsung melotot melihat pemandangan di depanku. Xander baru keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan handuk yang di lilitkan di pinggangnya. Pemandangan macam apa ini?! Pipiku terasa panas apalagi ketika Xander melempar senyum mengejeknya.
"Jangan panggil aku kalau belum siap!"pekikku jengkel. Dengan perasaan gugup dan malu segera keluar kamar tapi tak jadi.
"Siapa yang menyuruhmu keluar?"tanyanya menahanku pergi. Aku mengerutkan kening. Apa orang butuh perintah untuk keluar kamar ketika pemilik kamarnya belum pakai baju? Ayo, lah aku tidak mau berdiri di depan pintu sambil melihatmu memakai baju!
Xander mendekatiku. Aku gugup seketika terutama ketika pria itu mengurung tubuhku dengan dua tangan kekarnya yang bertato. Wajahnya begitu dekat sampai nafasnya terasa di wajahku.
Aku memundurkan tubuhku sampai menempelkan pipiku ke pintu. Mata biru pria itu begitu mengintimidasi. Mau tak mau kualihkan pandanganku demi kesehatan jantung. Duh, apa, sih yang diinginkannya? Jauh-jauh sana, dasar bule pedofil!
Xander tersenyum mengejek merasa puas setelah menggoda Chloe. Gadis itu persis seperti anak domba yang ketakutan di makan serigala. Tak ingin lama-lama menjahilinya, Xander manjauhi tubuhnya sukses membuat Chloe bernafas lega. Wajah gadis itu masih merah. Ekspresinya terlihat jengkel namun juga terlihat malu. Baik, lah ekspresi wajah itu jadi favoritnya mulai hari ini. Ia berjanji akan lebih sering menjahili gadis itu.
"Sana, siapkan bajuku."suruh Xander sembari menunjuk lemari dengan dagunya. Tak ingin berlama-lama di kamar Xander, Chloe segera mendekati dan membuka lemari lalu mengambil asal setelan baju disana. Setelah selesai, Chloe menaruhnya di atas kasur.
"Aku akan menunggumu diluar. Panggil aku kalau sudah selesai pakai bajumu."ujarnya lalu segera keluar tanpa mendengar balasan Xander.
__ADS_1
"Ya Tuhan hatiku...!"pekik Chloe tak bisa menolak pesona pria itu. Sadar, lah Chloe pria itu sudah om-om!