
"P-pak, bukannya kita hanya perlu bicara di dalam mobil? Tapi, kenapa anda membawa saya kesini?"tanya Chloe menatap sebuah mansion mewah yang berdiri jumawa dihadapannya. Diam-diam Chloe menelan ludah ketika aura horor dan mencekam keluar dari mansion tersebut. Chloe masih setia duduk bagai patung di atas jok mobil dan tak berniat keluar dari mobil tersebut.
"Aku mau pulang..."cicit Chloe pelan, hampir tak terdengar.
Tak mengubriskan cicitan Chloe, Xander membuka seatbelt, "Keluar, lah kita bicarakan di dalam rumah."perintahnya membuat Chloe diam-diam menelan ludah. Awalnya pria itu mengajaknya bicara di dalam mobil, sekarang di dalam rumahnya, nanti akan bicara dimana lagi? Di dalam kamar? Chloe menggeleng kepala, mengusir fantasi liar yang sering melintas di kepalanya tanpa tahu malu.
Ketika Chloe baru sadar dari fantasinya, Xander sudah membuka pintu untuk Chloe. Melihat perlakuan pria itu, hati Chloe mendadak berbunga. Tapi mendengar ucapan Xander selanjutnya, hati Chloe terasa terpotek.
"Keluar, jangan sampai kupatahkan kakimu sekarang juga."
Chloe tertawa hambar, dalam hati ia menyumpahi pria bermata biru itu. "Bule sialan..."
Walau begitu Chloe segera turun dari mobil, takut pria itu benar-benar mematahkan kakinya. Dari kejauhan Chloe melihat dua baris perempuan bersetelah rapih berdiri disamping kiri dan kanan pintu. Sepertinya mereka adalah pelayan yang bekerja di mansion bak istana itu. Di antara barisan pelayan ini, terdapat satu pria paruh baya yang kalau tebakannya benar adalah kepala pelayan.
Ketika Chloe dan Xander melewati pelayan-pelayan tersebut, semuanya langsung menunduk hormat. Chloe menahan nafas, terkejut dengan tindakan mereka. Dalam hati ia bergumam 'Wah, pasti ini rasanya menjadi seorang putri...'
Pria paruh baya yang tengah berdiri di depan pintu mansion itu tersenyum hangat lalu menunduk kepala sebelum membuka pintu untuk mempersilahkan tuannya masuk.
"Selamat datang, tuan..."salamnya yang diangguki Xander sekenanya. Xander membawa Chloe masuk ke dalam mansionnya. Chloe mengedarkan pandang, sejenak ia tertegun sekaligus merinding melihat interior mansion bak istana itu. Warna hitam dan merah mendominasi perabotan dan tembok seakan pemilik rumah itu fans fanatik dari kedua warna tersebut. Ukiran-ukiran di tembok, perbotan kuno, serta bangku besar bak singgasana sukses menambahkan aura horor dan mencekam. Ketika Chloe larut dalam pikirannya Xander bertanya, "Sebastian, apa Robert sudah membawa gadis itu?"
Sebastian mengangguk, "Sudah, tuan. Tuan Robert sudah datang dari lima belas menit yang lalu."jawab Sebastian mengembangkan senyum Xander.
Ketika dua pria itu tengah berbicara, Chloe mendadak was-was sekaligus cemas. Ia cemas tidak dapat membujuk Xander untuk mengubah permintaannya dan ia cemas tidak dapat keluar dari mansion ini dengan selamat.
__ADS_1
Chloe sempat berniat kabur, tapi mengingat banyak pelayan diluar pintu yang seakan sengaja ditaruh sana untuk menangkapnya, Chloe membatalkan niatnya.
Xander beranjak ke sofa berwarna merah dan duduk disana, sedangkan Chloe memilih untuk diam ditempat.
"Kemari, lah..."pinta Xander menatap Chloe lekat. Dengan ragu Chloe menghampiri pria itu dan berdiri di depannya.
Xander menatap Chloe heran, 'Kenapa gadis itu tidak duduk?'pikirnya. Dengan penuh kesabaran Xander mempersilahkan gadis itu duduk. "Kau liat ada sofa kosong, kan? Kau bisa duduk disana."Ujar Xander dengan nada jengkel. Dalam hati Chloe mencibir mendengar nada bicara pria itu.
Xander menjentikkan tangan, lalu dalam beberapa detik seorang pelayan datang membawa dua cangkir teh. Chloe tidak berniat minum teh itu, ia curiga kalau Xander memberikan obat didalamnya.
Xander tersenyum, "Kau gadis yang pintar."pujinya membuat Chloe heran. Kenapa pria itu tiba-tiba memujinya, ia tidak melakukan apapun. Namun, ucapan Xander setelahnya menjawab pertanyaan Chloe.
"Aku tidak meracuni teh itu, nona. Kau bisa meminumnya..."tutur Xander seraya menunjuk teh tersebut dengan dagunya. Chloe menghela nafas. Ia disini bukan untuk meminum teh ataupun mengikuti tes kepintaran. Ia juga tidak berniat untuk berlama-lama di mansion pria itu. Ia harus membicarakan kesepakatan mereka sekarang!
Xander menyesap tehnya, ia tampak tenang walau dimatanya tersirat rasa tidak suka, "Kenapa tidak bisa?
Chloe meremas celananya merasa terintimidasi dengan tatapan pria itu, walau begitu ia tetap mempertahankan konsentrasinya untuk mencari alasan yang masuk akal.
"A-aku punya banyak urusan... Benar-benar banyak... Kalau aku menjadi pembantumu aku tidak akan punya waktu untuk menyelesaikan urusanku."jawab Chloe asal. Sedetik kemudian Chloe meringis. Ia mengutuk dirinya yang sangat amat bodoh dalam berbohong. Kalau begini ia tidak yakin Xander akan menyetujuinya.
Xander tidak membalas ucapan Chloe yang sudah jelas adalah kebohongan. Ia mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya membuat Chloe meneguk ludah, panik. Entah apa yang akan diucapkan pria itu tapi Chloe yakin pasti bukan hal baik.
"Sebastian, suruh Robert seret gadis itu kesini."perintah Xander pada Sebastian yang berdiri di belakang Chloe. Chloe tidak tau kenapa Xander memberikan perintah itu, namun mendadak perasaannya tidak enak.
__ADS_1
Beberapa lama kemudian pria besar nan botak datang seraya menyeret gadis yang sukses membuat Chloe membelak mata kaget.
"Vero!"Chloe menjerit melihat kondisi Vero yang sangat mengenaskan. Wajahnya babak belur dengan kesadaran yang hampir hilang. Hal itu membuat hati Chlo panas. Ia benar-benar marah dan hendak menghampiri pria bernama Robert itu dan memberinya bogem mentah sebelum dua bodyguard yang entah datang dari mana menarik dan menahannya untuk tetap duduk di kursi.
Chloe memberontak, "Kau iblis, lepaskan dia sekarang!"jerit Chloe menatap Robert dengan tatapan penuh kebencian. Matanya mendadak buram dan basah, ia menggeleng kepala beberapa kali menyadarkan dirinya untuk tidak menangis dan memperlihatkan kelemahannya.
"Kau ingat pria itu?"tanya Xander dengan kaki terangkat angkuh. Chloe menatap Xander dengan pandangan penuh kebencian. Ia benar-benar tidak menyangka kalau pria bermata biru ini adalah jelmaan iblis yang kejam dan tak punya hati nurani. Lalu dalam sekejap memori tentang pria botak, bertato, dan besar bernama Robert itu menyerebak. Dia adalah salah satu dari gerombolan orang yang mengejar Vero malam itu. Chloe memejamkan mata, Robert pasti salah satu korban yang dicuri Vero.
"Sudah ingat, hm?"tanya Xander dengan suara yang sukses membuat Chloe mengepal tangan. Ia tak menjawab pertanyaan pria itu dan memilih menunduk kepala berusaha meredam amarah.
"Aku akan memberimu sebuah pilihan. Ikuti semua perintahku, maka aku akan melepaskan temanmu atau kita cari kompensasi lain, tapi temanmu tetap disini?"Chloe tetap bungkam, terjebak dalam pikirannya. Ia tidak bisa membiarkan Vero disiksa lebih parah dari ini tapi ia juga tidak mau terjebak dengan pria bernama Xander itu! Ia benar-benar bingung.
Di tengah kebingungannya Xander berkata dan perkataan pria itu sukses membuat Chloe ingin membunuhnya.
"Entah apa yang terjadi kalau gadis itu tetap disini. Mungkin dia tidak akan dikenal sebagai pencuri lagi tapi di kenal sebagai seorang p*l*c*r."
---🌹🌹🌹---
17.05
Selamat Sore, pengen curhat sedikit☺, jadi kemarin sebenernya, tuh episode ini sudah hampir selesai dibuat tapi tiba" saya g sengaja ngeclose Aplikasi Noveltoon tanpa di save, lalu hasilnya episode 7 kosong dan keselnya kejadian ini terjadi 2 kali :")
Omong-omong, makasih, ya buat kalian yang mau menyempatkan diri membaca cerita saya. Big Hug!!!😄🥰 Semoga untuk episode ini tidak mengecewakan dan mohon beri kritik dan saran yang membangun, yaaa...
__ADS_1