
Chloe meringkuk diatas kasur. Ia masih tidak percaya bahwa ia telah setuju menukar dirinya demi membebaskan Vero. Mulutnya beberapa kali menyumpahi dirinya, walau begitu hatinya berkata pilihannya sudah tepat.
Ketika mendengar bahwa Vero akan dijadikan pelac*r, Chloe tak kuasa untuk setuju membebaskan Vero. Padahal kalau dipikir-pikir ia sama saja menukar posisinya dengan Vero, kalau Vero tidak dijadikan pelac*r, bisa saja ia yang dijadikan pelac*r. Aish... memikirkan hal itu, kepal Chloe terasa ingin pecah, belum lagi rasa lapar yang melandanya membuat Chloe semakin menyesali keputusannya.
Chloe menekuk wajah. Beberapa menit yang lalu, setelah ia setuju untuk membebaskan Vero, Xander memberinya kamar pribadi dan mengajaknya untuk menikmati makan Sore. Namun berhubung hatinya benci setengah mati pada pria itu ia menolak dan sungguh, ia menyesal sekarang.
"Bule sialan, aku akan kabur dari tempat ini nanti. Lihat saja!"tekadnya dengan mata menyala-nyala. Setelah bergumam begitu, tiba-tiba pintunya terbuka. Hal ini mengingatkannya pada kebiasaan Ceacil yang tidak pernah mengetuk pintu. Diam-diam ia jadi rindu rumah.
Chloe menoleh untuk melihat siapa yang berani memasuki kamarnya tanpa mengetuk, ia hendak memarahi orang tersebut. Namun detik berikutnya omelan yang sudah diujung lidah tertahan begitu melihat si pelaku.
"Kau benar-benar gadis keras kepala."Xander masuk kekamar Chloe lalu menyandarkan punggung setelah menutup pintu
"Dan kau adalah pria yang tidak tau sopan santun."mata Chloe menyiratkan kekesalan, "Apa kau tidak pernah diajarkan untuk mengetuk pintu sebelum masuk ke kamar orang?"sambungnya.
Xander tersenyum tipis, "Jangan bilang kau ingin aku mengetuk pintu sebelum masuk kekamarmu?"tanyanya lalu terkekeh geli. Chloe nampak heran, apa ada yang salah dari ucapannya?
"Ini mansionku. Aku bebas melakukan apapun yang kumau termasuk masuk kedalam kamarmu tanpa mengetuk pintu."katanya sukses membuat Chloe menggretak gigi. Ia tampak kesel apalagi ketika pria tampan itu memberikan senyum mengejek padanya, walau ia sangat ingin memaki Xander, namun alarm dikepalanya memperingati untuk tidak mencari masalah dengan iblis itu.
"Kau mau apa?"tanya Chloe yang tak sabar ingin mengusirnya keluar. Xander menarik punggungnya, "Keluar dan makan denganku sekarang."katanya terdengar seperti perintah. Walau perut Chloe menjerit senang, namun gengsinya tidak menyetujui ajakan pria itu.
"Apa kau tidak punya teman makan sampai-sampai memaksaku makan bersama?"tanya Chloe hampir membuat Xander tersedak. Xander menatap Chloe dengan wajah tak percaya, "Apa aku tampak seperti seseorang yang membutuhkan teman makan?"
Chloe menggedik bahu, "Kalau begitu makan saja sendiri. Aku akan makan setelah kau selesai makan."ujarnya membuat Xander tertawa sarkastik, "Kau pikir aku akan berbaik hati memberimu makan setelah aku selesai makan? Turun sekarang, ini perintah!"katanya sebelum berlalu pergi.
Mendengar hal itu akhirnya Chloe menyerah. Ia turun dari kasurnya lalu menyusul Xander. Ketika sampai dimeja makan, Chloe tak kuasa meneguk ludah saat melihat makanan yang tersaji diatas meja. Banyak makanan yang sebelumnya belum pernah ia lihat tersaji dengan mewah dihadapannya. Buru-buru Chloe menarik kursi dan duduk disana.
Diam-diam Xander menarik salah satu sudut bibirnya keatas ketika melihat tingkah Chloe, "Semenit lalu kau bilang tidak mau makan, tapi lihat tingkahmu sekarang."Xander menyindir halus. Chloe tak menanggapi sindiran itu, ia lebih memilih untuk mengambil piring dan menyendoki makanan yang terlihat menggiurkan dan mahal. Ketika ia menikmati hidangan itu, Chloe sadar sedari tadi Xander hanya memperhatikannya tanpa menyentuh makanannya.
"Kenapa kau tidak makan?"tanyanya heran. Xander tersenyum tipis, "Aku sudah kenyang dengan melihatmu makan. Selain itu tujuan kita disini bukan hanya makan."setelah berkata begitu, Xander menjentikkan tangan dan Sebastian datang seraya memberikan sebuah dokumen.
Melihat hal itu Chloe berhenti makan, "Seharusnya aku curiga kalau kau ada maksud lain."Chloe meraih segelas air lalu meneguknya, "Aku mau kembali ke kamar. Terima kasih makanannya."
Xander tidak menahan gadis itu. Namun ketika Chloe bangkit dari kursi dan hendak pergi, tiba-tiba saja bodyguard yang awalnya tidak ada disana muncul dan menghalangi jalannya.
__ADS_1
Chloe menahan jeritan frustrasinya. Ia memutar badan lalu berteriak, "Apa, sih maumu?!"
Xander terkekeh, "Duduk, lah."
Chloe menarik kursi lalu duduk ditempatnya kembali. Ia menatap Xander dengan kepala berasap, sedangkan Xander memilih untuk membaca ulang dokumen itu sebelum memberikannya pada Chloe.
"Baca..."
Chloe menerima dokumen itu dengan ragu. Ia membaca dokumen itu hingga beberapa menit kemudian, keningnya berkerut.
"A-apa ini?..."Chloe meneguk ludahnya ketika matanya menangkap satu baris kalimat yang cukup mengusiknya.
'Pihak pertama: Xander O'Pry
Pihak kedua: Chloe Alexandra
Pihak pertama bebas melakukan dan menyuruh pihak penandatangan untuk melakukan apapun yang dia suruh.'
"Kontrak konyol!"
Xander mengangkat sebelah alisnya, "Aku tidak minta pendapatmu."ia tersebyum tipis sebelum wajahnya kembali menjadi datar, "Tanda tangan..."suruhnya dengan suara berat nan tajam.
"Aku tidak mau!"
"Aku tidak menerima penolakan."
Chloe menjerit, "Kau pedofil...!"
Xander terbatuk, semua orang yang berada di sekitar mereka tak terkecuali body guard, maid, atau Sebastian dibuat terkejut mendengar ucapan Chloe. Beberapa dari mereka tampak menahan senyum geli.
Xander menatap Chloe dengan tatapan tak percaya, "Aku? Pedofil? Buang pikiran kotormu sekarang!"tegasnya dengan wajah kesal. Ia mengedarkan pandang dan menatap mereka yang menahan senyum geli dengan tatapan tajam. Alhasil mereka semua menunduk terdiam.
Chloe menatap Xander dengan tatapan shock, "Harusnya aku yang berkata begitu!"Chloe berdiri dari kursi, "Bule mesum!"teriaknya sebelum berlari—kembali ke kamarnya. Ketika body guard hendak menghalanginya, Xander mengode mereka untuk membiarkan gadis itu pergi.
__ADS_1
Tak lama kemudian, setelah terdengar bunyi pintu dibanting, Xander memanggil Sebastian, "Aku akan pergi kebawah. Siapkan semuanya..."setelah berkata begitu, Sebastian langsung membungkuk hormat lalu mengode pada semua pelayan dan bodyguard. Mendapat kode itu, semua pelayan langsung pergi dan salah satu dari mereka menghampiri Xander lalu memberikan sapu tangan. Xander memasang sapu tangan itu lalu pergi ke ruangannya.
Ia masuk ke ruangan bernuasa hitam lalu berdiri didepan sebuah lemari. Ketika ia menggeser sebuah patung dari rak tersebut, sebuah jalan rahasia terbuka. Sebuah tangga menuju ruang bawah tanah dengan hawa yang mencekam dan membunuh langsung menyerebak keluar. Xander menuruni tangga.
Banyak sel layaknya penjara diruangan bawah tersebut. Begitu, langkahnya terdengar, penghuni sel langsung berlari kedepan sel lalu berusaha menggapai Xander dengan derai tangis.
"Tuan, tolong lepaskan aku!"
"Tuan, maafkan aku!"
"Tuan..."
"Tuan..."
Xander memasang wajah datar. Ia menghampiri sebuah sel paling pojok yang paling gelap. Seorang pria paruh baya meringsut dengan wajah takut ketika melihat Xander. Ia berteriak histeris sembari memeluk tubuhnya saat Xander membuka sel itu dengan kunci.
"Aku tidak tau! Aku tidak tau...!"pria itu berteriak ketika Xander mendekatinya. Ia semakin memojokkan dirinya ke dinding ketika Xander berjongkok di depannya.
"Mr. Alex, aku tidak suka menunggu."
Alex tampak mengigil. Jas hitam yang awalnya tampak mewah di tubuhnya sekarang tampak lusuh setelah dua minggu terkurung di ruang bawah tanah. Ia hampir gila ketika setiap malamnya mendengar jeritan dan tangis penghuni sel ketika Xander mulai menyiksa mereka.
"Kau tau Mr. Alex, aku sudah bermurah hati padamu. Tapi kalau kau tidak bisa diajak bekerja sama, aku tidak punya pilihan lain selain membunuhmu."setelah berkata begitu, Alex semakin histeris. Wajahnya seperti orang gila, tubuhnya bergetar hebat. Ia sujud dihadapan Xander, "A-aku bukan pembunuh ayahmu. Tolong percayalah..."
Xander mengetuk-ngetuk jarinya di tembok, "Lalu, siapa pelakunya?"
Alex menangis, "A-aku tidak tau..."ia menyentuh sepatu Xander lalu menempelkan dahinya. Melihat hal itu, Xander menatapnya dengan tatapan jijik. Ia berdiri lalu menendang tubuh pria itu sampai tubuhnya menubruk tembok. Alex tampak kesakitan. Ia terbatuk sembari meringkuk dengan tangis semakin menjadi-jadi.
Suasana hati Xander semakin buruk. Ia menatap Alex dengan tatapan membunuh lalu menginjak dada pria itu sampai membuatnya terbatuk-batuk. Mata pria paruh baya itu berair ketika ia sulit bernafas.
"Beri aku satu nama atau hidupmu akan berakhir hari ini."Xander semakin menekan kakinya pada dada itu.
"Akhh... Akh..."Alex mencengkram kaki Xander berusaha melepaskannya. Ketika ia sudah hampit kehabisan pasokan udara, ia berkata, "Wi...akh William..."
__ADS_1