Playing With Xander O'Pry

Playing With Xander O'Pry
Episode 9 The Deal


__ADS_3

Chloe meneguk saliva dengan keringat yang bercucuran ditubuhnya. Di tangga, Chloe dapat melihat Xander yang tengah menyerahkan pisau kecil berlumur darah pada Sebastian. Selain pisau kecil, sapu tangannya juga banjir darah. Keningnya mengernyit dengan tubuh meremang takut. Ukh, Chloe menyesal dengan keputusannya mencari Xander.


Padahal, Chloe hanya ingin bertanya pada Xander—apakah pria itu punya handuk dan baju untuknya karena ia ingin mandi. Sialnya ia malah mendapatkan pemandangan mengerikan.


Chloe menggeleng lalu tersenyum kaku mencoba meyakinkan dirinya untuk tidak mempercayai pikirannya bahwa itu darah manusia.


"A-ah... bisa saja ia habis memotong ayam."gumamnya meyakinkan diri sendiri. Chloe ingin percaya, namun untuk apa seorang pria kaya dengan ratusan pelayan memotong ayam? Apalagi aura membunuh yang terasa begitu pekat dari arah Xander membuatnya berpikir berulang kali. Chloe meremas tangannya dengan takut. Ia harus pergi...


Chloe hendak kembali ke kamarnya namun tak jadi ketika matanya saling berpandangan dengan Xander. Sekujur tubuhnya mendadak membeku. Mata biru itu menatapnya dengan tatapan dingin bercampur kaget. Chloe ingin pergi, namun ia tidak mau membuat Xander curiga. Ia tidak mau Xander tau kalau ia melihatnya berlumur darah. Apapun rahasia Xander, Chloe akan menguakan sendiri.


Alhasil Chloe menuruni tangga. Ia berdiri dihadapan Xander dengan wajah kesal seperti biasa. Namun bedanya, ekspresi wajahnya terlihat sangat kaku. Melihat kehadiran Chloe, Xander mengode Sebastian untuk pergi.


"Ada apa?"tanya Xander setelah Sebastian pergi. Ia menatap Chloe dengan tatapan menyelidik dan berhati-hati.


"A-aku ingin mandi-"Chloe menghentikan ucapannya ketika suaranya terdengar kaku dan bergetar. Ia menatap Xander dengan wajah khawatir—khawatir Xander curiga dengan tingkah dan suaranya yang terdengar ketakutan.


Xander menarik satu sudut bibirnya ke atas lalu melangkah mendekati Chloe. Terlalu dekat sampai membuat Chloe harus memundurkan wajahnya.


"Lalu? Kau ingin mengajakku mandi bersama, hm?"goda pria itu sukses membuat wajah Chloe memerah. Ia kesal mendengar ucapan pria itu namun sedikit merasa bersyukur karena Xander tidak bertanya hal lain.


Rasa jengkel membandel di hatinya. Chloe menarik tubuhnya ke belakang, "Tidak!"Wajah Xander masih dengan senyum menyebalkan dan hal itu membuat Chloe geram dan ingin meninjunya.


"Aku tidak keberatan mandi bersama. Tapi aku cukup sibuk sekarang. Jadi, maaf."


Wajah Chloe semakin merah—mendengar perkataan vulgar pria itu, "Tidak ada yang mau mengajakmu mandi bersama!"pekik Chloe merasa malu mengatakan kalimat itu.


Xander terkekeh geli, "Aku bercanda."


Chloe manatap Xander dengan tatapan kesal. Sial, pria itu mengerjainya!


"Kenapa kau menghampiriku?"tanya Xander.


Chloe menjawab, "Itu... Aku ingin mandi. Apa kau punya handuk dan baju ganti untukku?"tanya Chloe merasa malu. Padahal disini ia bukan tamu, melainkan seorang pencuri yang tertangkap. Chloe mendadak panik. Ia tidak tau harus membalas apa kalau Xander menolak membantunya.


"Ikut aku."pinta Xander sukses membuat Chloe heran.

__ADS_1


"Ya?"


Chloe melongo seperti orang bodoh. Hal itu membuat Xander merasa gemas. Tidak menjawab pertanyaan Chloe, Xander melangkah memasuki sebuah ruangan dengan pintu jati. Walau masih bingung, Chloe tetap membuntuti Xander dari belakang.


Ketika Chloe memasuki ruangan tersebut. Aroma mint langsung menyerebak keluar. Aroma ini mengingatkannya pada aroma tubuh Xander. Beberapa detik kemudian Chloe langsung menahan nafas ketika melihat interior kamar pria itu.



'Terlalu mewah!'


Dua kata itu langsung meluncur dari benaknya. Ruangan dengan warna merah yang begitu dominan mendadak mengingatkannya pada kejadian pisau merlumur darah tadi. Chloe bertanya dalam hati, "Apa pria ini cinta mati pada warna merah?"


Ketika Chloe terjebak dalam pikirannya, Xander menghampiri lemari coklat lalu mengambil lalu memberikan handuk tersebut pada Chloe.


"Terima kasih."gumamnya pelan. Setelah itu, Xander duduk di kasurnya lalu mengetik sesuatu dari ponselnya. Chloe penasaran, dimana baju gantinya? Dengan perasaan malu, ia bertanya.


"Umh, apa kau punya baju ganti perempuan?"


Xander tersenyum kecil, "Tidak."


"Kalau mau kau bisa menggunakan kemejaku dulu. Aku sudah menyuruh Sebastian membelikan baju dan dalaman untukmu."


Wajah Chloe langsung berubah merah ketika mendengar kata 'dalaman'.


"Dalaman?!"Chloe tak dapat menahan rasa terkejutnya. "Memangnya kau tau ukuranku?"wajah Chloe memanas.


Xander tersenyum, "Aku bisa tau hanya dengan melihatnya."ujarnya seraya menatap dada Chloe.


Refleks Chloe langsung menutup dadanya dengan handuk. Ia menatap Xander dengan mata membelak.


"Well, sepertinya B cup. Apa aku benar?"tanya Xander menggodanya.


"Tidak, sebenarnya aku C cup! Lihat, kau itu sok tau!"cerca Chloe merasa marah. Namun beberapa detik kemudian ia langsung merasa malu. Astaga, kenapa ia malah memberi tau hal seperti itu pada Xander?


Xander tersenyum, "Aku yakin bisa menebak dengan benar kalau melihatnya lebih dekat."

__ADS_1


Chloe hampir gila. Ia sudah ingin pergi dari kamar pria itu sebelum Xander kembali berkata, "Nona, kau bisa pakai kamar mandiku."Setelah berkata begitu, Xander kembali menghampiri lemarinya lalu memberi kemeja putihnya pada Chloe. "Dan ini bajumu."


Chloe mengambil kemaja itu dengan geram lalu masuk ke kamar mandi dengan perasaan jengkel. Tak lama kemudian, setelah Chloe selesai mandi—ia keluar dengan mengenakan kemeja kebesaran Xander.


Xander yang tengah menikmati shisha diatas kasur menoleh dan tersenyum geli melihat sosok Chloe yang terlihat semakin mungil dengan kemejanya. Xander bangkit dari tidurnya lalu berdiri dihadapan Chloe. Wangi shampoo dan sabun yang biasa digunakannya langsung memasuki indra penciuman Xander.


"Terima kasih telah meminjamkan kamar mandi dan bajumu. Aku akan kembali ke kamar."setelah berkata begitu Chloe hendak pergi, namun tubuh besar Xander menghalanginya. Ketika ia menyingkirkan tubuh dan mengambil jalan lain, Xander kembali menghalanginya.


"Ada apa?"tanya Chloe dengan nada jengkel. Xander berkacak pinggang, "Aku akan membiarkanmu pergi kalau kau menandatangi kontrak yang kuberikan tadi Siang."


Chloe melotot, "Aku bilang kan tidak mau!"mendengar hal itu, Xander langsung menyingkir dan Chloe sukses merasa heran.


Sudah begitu saja? Chloe pikir, Xander akan memaksannya. Tapi bagus, lah kalau tidak.


Awalnya Chloe pikir Xander menyerah, namun ia salah besar. Pria itu justru mengunci kamarnya lalu menyelipkan kuncinya ke saku celananya. Setelah itu, ia mengambil dokumen coklat diatas meja dan kembali menghampiri Chloe dengan senyum iblisnya.


Chloe ingin menangis, "Aku bersumpah tidak akan pernah meminta bantuan padamu lagi."


Xander masih setia dengan senyum menyebalkannya, "Ayo, lah kau akan bekerja denganku selamanya. Aren't you happy?"


"Selamanya?!"Chloe hampir pingsan. Xander tertawa geli, "Aku bercanda."


Chloe memegang dadanya yang terasa ingin copot, "Berapa lama kontrak kita?"tanyanya dengan wajah khawatir.


Xander memasukan tangannya ke saku celana, "Hanya satu tahun."jawabnya enteng."Nah, sekarang cepat tanda tangan."lanjutnya sembari menunjuk dokumen itu dengan dagunya.


Chloe menatap dokumen dengan wajah memelas lalu sebuah ide tiba-tiba muncul, "Aku ingin membuat kesepakatan denganmu."ujarnya lalu menatap Xander dengan semangat. "Tapi, kau harus setuju."


Xander memiringkan wajahnya, "Selama kesepakatan itu tidak merugikanku, aku akan setuju."


Chloe manatap Xander dengan wajah serius, "Aku akan menandatangai kontrak ini dan melakukan apapun yang kau suruh asal kau tidak menyentuhku."setelah berkata begitu, alis Xander terangkat. Ia tersenyum dan tampak menahan tawa, "Okay, you have the deal."


"Tapi kau juga harus ingat. Setelah menandatanganinya, jangan pernah berpikir untuk kabur dariku. Karena kalau kau melakukannya, aku tidak akan segan untuk menghancurkan hidupmu."


Chloe meneguk ludah dengan gugup.

__ADS_1


__ADS_2