Pocket Watch Game

Pocket Watch Game
Chapter 11. Nasib Sial


__ADS_3

Satu malam sudah berlalu begitu saja. Aku berbaring di kasur. Ini hari yang harus aku jalani sekali lagi. Aku harap semua ini hanya mimpi. Aku ingin ini mimpi karena ini semua rasanya tidak nyata sama sekali.


****


Tap tap tap


Ren berjalan di lorong kelas. Dia memakai rambut palsu dan lensa kontak seperti biasanya. Bedanya sekarang orang orang melihatnya dan berbicara datu sama lain sambil memandangi dirinya. Saat dia melihat balik, mereka mengalihkan pandangan ke tempat lain.


Pembullyan di sekolah seharusnya sudah di larang dengan tegas. Di masa modern ini pembullyan seharusnya sudah tidak ada jadi iejadiannyang menimpa Ren adalah kejutan besar di sekolah ini.


Di mana seorang siswa basah kuyup di depan kelas. Di tambah siswa tersebut berambut pirang. Orang akan mengira dia mewarnai rambutnya karena di tempat ini sangat jarang orang berambut pirang selain turis luar negeri.


"..." Ren hanya diam berjalan lurus ke kelasnya. Saat dia masuk, seluruh mata tertuju padanya. Risih.. tidak nyaman itu yang dia rasakan.


Ren berjalan ke bangkunya. Hari ini adalah kali ke dua dia berhasil duduk di kursi kelas. Menghela nafas lega, Ren menatap handphone nya. Dia melihat handphone itu dengan dahi mengkerut.


Satu hal yang sangat membuat dua terkejut adalah jam saku miliknya. Di mana pun dia simpan, jam itu kembali ke sakunya.


"Ren, kemaren...." Seorang wanita yang berteriak di depan pintu saat Ren tiba tiba muncul di udara mendatangi meja tempat Ren duduk.


"kemaren? Apa yang kamu maksud?" Jawab Ren. Dia tahu namun dia tidak ingin menjawab. Ini akan jauh lebih rumut jika dia berbicara sekarang sebelum bertemu wali kelas atau guru BK.


"T-tidak jadi..." Wanuta itu langusng berbalik dan pergi kembali ke bangkunya. Ngomong ngomong dia bahkan belum mengobrol dengan semua murid yang ada di kelas.


Kriiingg kriiingg


Bel masuk berbunyi nyaring. Seorang wanita berjalan mamasuki kelas. Guru baru yang sekarang akan memperkenalkan dirinya.


"Apa ada murid yang bernama Ren Andreas?"


Guru yang seharusnya memperkenalkan diri, pada akhirnya kalimat itu yang pertama dia ucapkan. Ren mengengkat tangan.


"Aku." Ucapnya pendek menjawab pertanyaan guru tersebut.


"Kamu di panggil ke ruang guru."

__ADS_1


Ren hanya ber-oh pelan berduru dari bangku langsung pergi ke luar kelas menuju ruang guru.


....


Di ruang guru. Pak guru yang saat itu menelponnya, duduk di belakang meja menunggu dirinya. Ren tidak tahu siapa namanya namun Ren tahu dia adalah wali kelasnya.


"Ren, sebaiknya kamu menjelaskan itu." Ucap dingin pak guru tanpa memperkenalkan diri.


Ren melihatnya menekuk sebelah halis. Itu yang dia maksud sudah pasti kejadian kemaren namun bagaimana dia menjelaskannya agak sedikit sulit.


Ren berdiri di samping meja. Dia menatap mata pak guru sebelum menghela nafas. Sejujurnya dia tidak takut karena dia tidak salah apapun, walau di keluarkan di sekolah orang tuanya bahkan tidak peduli di tambah sekarang dia tidak kenal guru di hadapannya. Tidak ada alasan dia untuk takut.


"Untuk yang kemaren aku... Sulit menjelaskannya. Percaya atau tidak sejujurnya aku hampir saja mati 3 kali. Jika pak guru percaya takhayul, mungkin anda bisa menyebutnya sebagai nasib sial." Jawab Ren betusaha untuk percaya diri.


Semalaman Ren berfikir keras sesuatu yang berkaitan dengan hal yang muncul tiba tiba di udara kosong secara logis tapi dari semua yang di pikirkan hanya muncul semacam teleportasi atau retakkan dimensi hal hal semacam itu.


Siapa pun akan berfikir itu hanya imajimasi atau deduksi yang bagus. Memikirkannya saja membuat Ren malu setengah mati.


Si pak guru mengerutkan kening. Itu wajah yang mengatakan "ini bukan jawaban yang ku inginkan"


"Lalu rambutmu?" Tanya pak guru.


Ren menarik nafas dalam dalam. Dia tidak bermaksud menyembunyikan apapun. Beberapa detik berlalu, Ren menarik rambut palsu nya. Rambut pirang kekuningan jatuh di balik rambut palsu hitam miliknya.


Dia juga melepas lensa barunya yang juga berwarna hitam lalu menyimpannya di wadah khusus yang dia bawa.


"Pertama ini warna rambut asli. Ayahku orang asing. Warna mataku juga asli. Sekolah melarang menggunakan lensa kontak kan? Aku akan terima hukuman itu. Namaku yang tertera adalah Ren Andreas tapi nama lengkapku Holland Ren Van Andreas. Jika pak guru ingin memanggil orang tua ku, dia tidak di rumah." Ucap Ren terus terang.


Setelah beberapa bsaat berbicara, Ren mengambil kartu yang belum srmpat dia ambil, lalu pergi ke WC untuk memasang nya kembali.


Untuknya bel sudah berbunyi. Tidak banyak orang yang berjalan di lorong. Satu dua orang mungkin adalah guru. Ren masuk ke kamar mandi memasang nya kembali. Setelah selesai dia keluar dan lanjut berjalan ke kelasnya.


Di sana guru sedang menerangkan pelajaran. Pintu di ketuk 3 kali. Saat Ren masuk guru itu berhenti dan bilang "duduk lah kembali di bangku mu."


Ren mengangguk. Dia duduk di kursi. Untung nya murid murid lain mengabaikan dia dan lanjut melakukan aktivitas mereka. Entah itu memainkan pulpen, memutilasi penghapus, atau Corat coret di kertas.

__ADS_1


.


.


.


.


Langkah kaki datang mendekati bangku di mana Ren duduk. Saat ini waktu istirahat. Seseorang yang datang adalah ketua kelas yang merupakan seorang wanita berambut panjang lurus.


"Ren, sebaiknya kamu menjelaskan yang kemarin agar tidak ada yang salah paham. Kalau tidak ingin memberi tahu langsung di depan kelas, biar aku saja yang berbicara." Ucapnya sekali lagi orang ini belum memperkenalkan diri sementara dia duadh tahu siapa namanya.


"Aku hanya bernasib sial. Ketua klub supranatural mungkin bisa menjelaskan yang terjadi??" Ren menaikkan kedua bahunya.


"Rambut mu?"


"Rambutku? Nanti wali kelas akan jelaskan." Ucapku di balas senyuman dan jawaban singkat "oke"


Dia berbalik pergi kembali ke bangkunya. Yang penting aku sudah tahu orang itu ketua kelas.


Ren memeriksa handphone nya. Dia mebekan aplikasi PWG melihat durasi waktu yang berkurang dari waktu ke waktu. Hanya tinggal tersisa beberapa jam lagi sebelum misi selanjutnya.


Perkiraan misi di mulai sekitar malam hari. Ren tersenyum melihatnya. Dia ingin melempar hp nya ke luar jendela sekarang juga.


Apa misi selanjutnya di list hanya tertulis bertahan. Dan di judul dari misi ini adalah 'Kabur'. Jika seperti ini stamina nya harus bagus.


Bekal yang harus dia bawa pasti lah air. Air yang terpenting saat kabur. Durasi nya belum di ketahui. Dia harus mengantisipasi jika durasi nya lebih dari 1-2 jam.


Game terkutuk ini memaksa pemainnya bertahan di situasi yang mengancam nyawa. Selamat tinggal hidup tenang karena hitung mundur akan meneror mu setiap hari.


"Haha..." Ren tertawa menyeramkan. Murid murid yang mendengar suara tertawa Ren hanya memandang dia dengan ekspresi aneh.


Pulpen yang di genggam Ren membuat bolong di buku miliknya hingga menembus 4 lembar kertas.


Sekarang mereka semua berfikir 'jangan sampai membuat dia marah'

__ADS_1


__ADS_2