
Potongan klise dari ingatan kelam masa lalu merebak memasuki kepala Ren dengan rasa sakit yang menyertai. Bau darah tercium di udara. Ekspresi wajahnya memburuk. Orang orang di sekitar Ren mulai mengerubungi orang yang tertabrak truk itu.
Ren hanya berdiri diam membeku di pinggir jalan. Sebagian gambaran buram mulai terlihat jelas. Seiring waktu berjalan, ingatan tersebut terus menyiksa dirinya akibat rasa sakit yang muncul.
"Uh .. " Ren memijat pelipis kepalanya. Saat rasa pusing membuat dunia seakan berputar di matanya, Ren yang berdiri sempoyongan akhirnya terduduk di tanah kotor memegang kepalanya yang terasa ingin pecah.
"Ugh... Jangan..." racaunya dengan nafas yang mulai terengah engah. Wajahnya memucat seluruh tubuhnya gemetaran.
Tangan kanannya meremas seragam yang dia pakai. Ren mulai meracau tidak jelas. Ingatan itu nampaknya sudah membawa kenangan yang amat sangat buruk hingga membuat dia trauma berat.
Ingatan yang menampakkan sebuah ruangan gelap dan seseorang yang membawa sebuah pisau lipat di tangannya. Ren mencoba mengambil handphone di sakunya. Dia harus menelpon seseorang siapa pun itu. Di sudah tidak tahan lagi. Dia akan mencapai batas kewarasan nya.
Namun tangannya yang gemetaran tak bisa menahan berat handphone itu. Ren menjatuhkannya ke jalan aspal yang dipenuhi bercak darah. Dia mencoba mengambilnya kembali namun yang terasa di tangannya adalah sebuah benda bulat aneh. Itu bukan handphone miliknya.
"Arg! Uh... ugh" Ren memegang kepalanya erat saat suara sirine polisi terdengar. Dia tifak ingin mendengar suara itu. Kepalanya terasa ingin pecah. Ingatan yang mengerikan menyerbu masuk. Dan itu sangat menyakitkan. walau sebagian buram tapi ini melibatkan teman masa kecilnya Mira!
Suara itu bagaikan sebuah kunci yang membuka sebagian kenangan gelap lainnya. Ingatan yang berusaha Ren oendam jauh di dalam dirinya untuk melupakan segala kejadian itu.
Orang orang mulai berkerumun di sekitar Ren karena melihat dia yang entah kenapa berbaring di sana kesakitan.
Seorang polisi berjalan menyingkirkan kerumunan massa di bantu seorang lainnya. Dia mulai mendekati Ren. Perlahan polisi itu berjongkok kemudian menanyakan keadaan Ren.
"Kau baik baik saja?" Tanya seorang polisi.
"... " Ren menggertakkan gigi nya. Ini menyiksanya. Dia membutuhkan obat atau apapun itu yang bisa membuat dia tenang.
"Hei! Bawa dia juga!" Teriak Polisi itu mengerahkan petugas untuk mengikut sertakan Ren ke rumah sakit. Ren di papah masuk ke dalam mobil. Dia di bawa oleh petugas rumah sakit karena semua orang di sana khawatir dengan kondisinya.
Para wartawan datang ke lokasi menyiarkan berita tentang kecelakaan itu di tv langsung di tempat kejadian.
Setelah di bawa ke rumah sakit Ren beristirahat sejenak. Setelah itu dia memasuki sebuah tempat di mana seorang dokter duduk di kursi menanyakan beberaoa pertanyaan padanya. Dia dokter spesialis psikologi.
Pertanyaan nya terkait hal hal yang mengganggu pikiran Ren mulai dari kapan terakhir kali Ren marah atau menanyakan apa dia pernah kecelakaan sebelumnya.
__ADS_1
"Aku baik baik saja." Jawab Ren. Dokter hanya mengangguk mengerti. Ren tidak ingin menceritakan apapun tentang dirinya pada dokter itu karena berbagai alasan.
Setelah melakukan sesi tanya jawab tersebut, Ren di perbolehkan keluar dari ruangan itu dan berjalan di lorong rumah sakit mrmandangi gambar anak anak, dinding putih marmer putih, orang sakit yang berlalu lalang, juga kursi yang di peruntukan untuk anggota keluarga dari pasien untuk menunggu.
Drttt drttt drttt
Telepon masuk ke handphone Ren. Nama yang tertulis di sana adalah Reva. Reva orang pertama yang menelpon nya sejak liburan 2 bulan yang lalu.
"Apa?" Tanya Ren dengan muka yang datar.
[Ren! Sumpah lu beneran gpp kan?!] Teriak Reva di telpon membuat Ren refleks menjauhkan Handphone nya.
"..." Ren terdiam mengernyitkan dahi bingung mendengar Reva yang tiba tiba berteriak saja membuat dia keheranan.
[ Woy jawab! Jan diem Mulu bg ] Perintah Reva sambil berteriak.
".. yaa gpp...kali?" Jawab Ren masih berjalan di lorong Rumah sakit.
[Jan nanya balik lu.] Jawab Reva kembali berteriak.
Dia menjambak rambut nya sendiri di balik telepin berusaha memaklumi tingkah Ren. Dia harus sabar menghadapi teman liciknya yang satu ini.
[Aku melihat mu di TV di bawa ke dalam mobil ambulance]
Ren ber-oh pelan. Ternyata para Wartawan datang lebih cepat dari yang dia kira. Mendengar reaksi dari Ren yang hanya itu saja, Reva kembali kesal. Kali ini dia membenturkan kepala nya di dinding membuat Ren bertanya tanya.
"Barusan suara apaan?"
Seorang anak kecil memegang sebuah boneka beruang coklat berlari di lorong rumah sakit. Karena tidak mengetahui bahwa ada anak kecil yang berlari dari arah belakang, anak kecil itu tidak sengaja menabrak kaki kirinya.
Bruk!
Dia terjatuh sementara anak kecil itu juga terjatuh tidak jauh dari nya. Anak kecil itu langusng mengambil boneka beruang nya.
__ADS_1
Hp Ren terlempar dan jatuh ke bawah kursi tunggu di depan sebuah ruangan.
"Ouch..." Ren mengaduh kesakitan dia mencoba untuk bangun. Tmdia baru sadar sesuatu. Tangan kirinya memegang sebuah benda bulat keras.
"?!" Ren terkejut. Sejak kapan dia memegang benda itu?!
Anak kecil yang menabraknya tiba tiba menyentuh pelan pundahnya. Dia menoleh mendapati seorang gadis kecil dengan rambut yang di kuncir dua menggunakan pita pink itu ragu.
"Aku pinta maaf sudah menabrak... Kakak" ucapnya malu malu bersembunyi di balik boneka beruang miliknya. Handphone nya masih bersuara omongan Reva tapi Ren mengabaikannya.
Ren tersenyum melihat gadis itu dan mengelus pelan kepalanya karena dia sangat imut.
"Tidak apa apa. Pergilah." Ucap Ren di jawab dengan anggukkan anak itu.
Gadis kecil itu berbalik dan kembali berlari menjauh dari Ren. Mengabaikan Banda yang ada di tangan kirinya, Ren mengambil handphone yang tadi terjatuh di bawah kursi.
[Halo?! Ren? WOY! REN! Jawab bg tadi itu apaan Trak! Gitu Reeennn. ANDREE] teriak Reva berilang kali hingga ada suara sayup di balik telepon.
['Berisik! Reva.' Eh eee maap Tante. B-besok saya bayar kok yah .. hhe.] ibu ibu yang baik ramah dan bersahabat ini berteriak di depan kamar Reva.
"Pfft..." Ren menahan tawa nya mendengar Reva meminta maaf pada ibu ibu itu.
[?! Lu ketawa ya kan?]
"Gaa” jawab Ren sembari tersenyum penuh makna. Sayangnya Reva tidak bisa melihat senyumannya.
[Kan ... Kan! Jangan boong lu. Lu pasti senyum senyum sendiri kan? Yaah pokoknya lu jangan mati. ]
"Iya BD" ucapnya sebelum mematikan Telepon. Rasanya dia dalam seadaan yang baik searang. Ren pun lanjut berjalan ke luar rumah sakit. Benda yang ada di tangannya adalah jam saku yang sangat unik seperti jam antik.
Dia berfikir untuk menyerahkan nya ke polisi karena dia ingat pertama kali menyentuh benda ini saat kecelakaan itu. Jam saku ini mungkin milik korban kecelakaan.
Ren mencari polisi di sekitar rumah sakit. Ada 1 mobil polisi yang terparkir di depan rumah sakit. Di pinggirnya juga seorang polisi berdiri mengecek beberapa peralatan.
__ADS_1
"Permisi, saya menemukan jam ini di tempat kejadian. Mungkin ini barang milik korban." kata Ren menyerahkan Jam saku yang dia pegang.
"Jam??"